Pada 14 Juni 1986, di Jenewa, Swiss, Jorge Luis Borges mengembuskan napas terakhirnya. Raksasa sastra Argentina itu pergi dalam keheningan, meninggalkan dunia yang dibentuk oleh labirin, perpustakaan tak berujung, dan cermin-cermin ilusi dalam karya-karyanya.
Kisah paling terkenal tentang labirin adalah penjara labirin yang dibuat oleh Daedalus untuk memerangkap sang Minotauros, monster bertubuh setengah manusia setengah banteng. Tujuh pemuda dan tujuh pemudi mesti dikorbankan untuk sang Minotauros setiap sembilan tahun. Sang monster kemudian mati dibunuh oleh Theseus, pahlawan Athena, yang lolos dari jebakan labirin dituntun benang Ariadne. Borges menulis cerpen “Rumah Asterion” berdasarkan kisah labirin tersebut, menggunakan perspektif Asterion, sang Minotauros.
Borges, yang oleh Buenos Aires Times dijuluki sebagai “the most British of America’s writers” (penulis dari Benua Amerika yang paling Inggris), menghabiskan seluruh hidupnya untuk memuja khazanah sastra Anglo-Saxon.
Borges tumbuh besar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris di perpustakaan ayahnya. Bagi Borges, bahasa Inggris bukan sekadar alat komunikasi, melainkan lanskap mental. Evelyn Fishburn, penulis buku Kamus Borges dan mantan pengajar sastra Amerika Latin di Inggris, menegaskan betapa besarnya warisan kebudayaan Inggris dalam diri sang maestro.
“Kecenderungannya terhadap William Shakespeare sebagai penulis fiksi yang unggul, setara dengan Tuhan, merupakan indikasi tidak langsung tentang pentingnya bahasa Inggris bagi mentalitas Borges,” ungkap Fishburn.
Pengaruh itu begitu kuat hingga akhir hayatnya. Cerita pendek terakhir yang ditulis Borges berjudul La Memoria de Shakespeare (Memori Shakespeare), menggunakan nama sang sastrawan besar Inggris. Bahkan, dalam tahun-tahun senjanya, Borges dengan gigih berusaha membaca Beowulf, epik penting sastra Inggris kuno, menggunakan kamus Inggris Tua, mengecek kata demi kata demi merasakan ritme epik tersebut. Salah satu fiksi terkenalnya, Tlön, Uqbar, Orbis Tertius, juga lahir dari inspirasi karya-karya penyair Inggris, Samuel Taylor Coleridge.
Jika Borges masih hidup hari ini, apakah dia akan menyaksikan gegap gempita menjelang laga Argentina vs Inggris di Piala Dunia 2026? Jawabannya tegas: ia akan mengunci diri di perpustakaan dan mengabaikannya. Borges terkenal sangat membenci sepakbola. Baginya, sepakbola itu adalah bentuk histeria massa yang dangkal. Borges pernah melontarkan kalimat sinis terkenal: “Sepakbola begitu populer karena kebodohan pun populer.” Bagi Borges, sepakbola adalah perpanjangan dari nasionalisme buta, sebuah ilusi kolektif yang menjauhkan manusia dari pencarian intelektual.
Borges boleh membenci sepakbola, tetapi drama yang tersaji setiap kali Argentina berhadapan dengan Inggris di lapangan hijau sangat Borgesian: penuh drama dan lika-liku, seperti obsesi sang penulis Argentina terhadap labirin, cermin, dan ilusi yang turut dibentuk oleh khazanah sastra Inggris. Seperti juga gagasannya tentang teks: tulisan yang jadi tidak lebih dari satu kemungkinan draft. Seperti sejarah, teks bisa ditulis ulang. Dalam proses penulisan, sebuah draft dikerjakan untuk menghasilkan sebuah teks original. Sedangkan, dalam proses penerjemahan, terjemahan dikerjakan berdasarkan teks original tersebut.
Delapan hari setelah kematian Borges, 22 Juni 1986, di Mexico City, labirin lain tercipta dari dua aksi paling dikenang dari Diego Armando Maradona. Namun, perseteruan panas Argentina dan Inggris di lapangan hijau sendiri tidak dimulai dari “gol tangan Tuhan” dan liukan labirin Maradona di Meksiko. Drama tercipta dua dekade sebelumnya, di tanah Inggris, pada Piala Dunia 1966. Laga perempat final di Stadion Wembley, 23 Juli 1966, adalah awal mula rivalitas kedua kesebelasan di panggung Piala Dunia.
Piala Dunia 1966 adalah turnamen terakhir sebelum FIFA memperkenalkan kartu kuning dan kartu merah. Meski demikian, hanya dalam 35 menit babak pertama, Rudolf Kreitlein, wasit asal Jerman Barat, memperingatkan dua pemain Argentina bermain keras. Ketegangan mencapai puncaknya ketika kapten Argentina yang berpostur tinggi tegap, Antonio Rattin, diusir keluar lapangan. Rattin dianggap melontarkan kata-kata kasar dan menarik lengan wasit.
Butuh waktu empat menit yang penuh ketegangan bagi Rattin untuk akhirnya berjalan menuju terowongan stadion, diiringi cemoohan dan sorakan riuh publik Inggris yang memenuhi Wembley. Sebelum masuk lorong, dengan gestur menantang, Rattin meremas bendera Inggris sebagai protes. Pertandingan terhenti total selama enam menit sebelum tensi mereda. Inggris akhirnya menang tipis 1-0 lewat sundulan Geoff Hurst di menit ke-78, memanfaatkan umpan dari sisi kiri lapangan. Inggris lalu melaju hingga menjadi juara dunia setelah menumbangkan Jerman Barat 4-2.
Perang yang tidak berhenti di lapangan hijau. Dalam konferensi pers, pelatih Inggris, Alf Ramsey, menyiramkan bensin ke dalam api dengan menyebut para pemain Argentina sebagai “animals” (binatang).
Di Buenos Aires, amarah membakar massa. Sentimen anti-Inggris meledak. Kedutaan Besar Inggris di Argentina harus dijaga ketat oleh militer bersenjata demi menghindari amuk massa. Kata “binatang” dari Ramsey menjadi bahan bakar narasi nasionalisme Argentina selama bertahun-tahun: sebuah bukti arogansi colonial gaze yang memandang rendah bangsa Amerika Latin.
Dua puluh tahun kemudian, labirin waktu mempertemukan kedua tim di babak dan turnamen yang sama, perempat final Piala Dunia 1986 di Mexico City. Inilah salah satu pertandingan paling dibicarakan, yang membentuk mitos tentang Diego Armando Maradona, El D10s. Hanya dalam rentang waktu empat menit, menit 51 dan 54, Maradona menunjukkan dua kualitasnya: licik dan tak terhentikan.
Gol pertama lahir dari kecerdikan, atau kecurangan, tergantung dari sisi mana Anda melihatnya. Gol berawal dari pergerakan Maradona dari luar kotak penalti, menyodorkan umpan ke rekannya di depan kotak penalti. Bola tidak terkontrol dan dihalau oleh pemain Inggris ke arah gawang. Maradona melompat menyongsong bola liar tersebut, mendahului kiper Peter Shilton yang jauh lebih tinggi, lalu meninju bola masuk ke gawang. Wasit Tunisia, Ali Bin Nasser, mengesahkan gol itu, karena tidak melihat pelanggaran yang dilakukan Maradona. Dalam konferensi pers, Maradona melontarkan komentar paling ikonik tentang gol tersebut:
“Saya mencetak gol itu sedikit dengan kepala Maradona, dan sedikit dengan tangan Tuhan.”
Empat menit kemudian, Maradona membayar kontroversi itu dengan salah satu gol paling indah dalam sejarah sepakbola. Menerima bola di paruh lapangannya sendiri, Maradona meliuk-liuk, melewati lima pemain Inggris, mengecoh Shilton, sebelum menceploskan bola ke gawang. Lineker membalas pada menit ke-81, tetapi tidak cukup untuk mencegah kemenangan Argentina.
Bagi sebagian masyarakat Argentina, tanggal 22 Juni bukan lagi sekadar tanggal kalender. Dua belas tahun kemudian, Hector Campomar, Alejandro Veron, dan Hernan Amez mendirikan Iglesia Maradoniana (Gereja Maradona) di Rosario. Bagi para pengikut kultus ini, tanggal 22 Juni dirayakan dengan khidmat sebagai Hari Paskah mereka.
“Bagi kami, pertandingan itu adalah final. Soalnya bukanlah menang. Soalnya adalah kami menyingkirkan Inggris,” ujar Maradona.
Enam puluh tahun setelah Rattin meremas bendera Inggris, dan empat puluh tahun setelah Maradona berdansa di Azteca, Argentina dan Inggris kembali bersiap untuk saling berhadapan di Piala Dunia 2026. Pertandingan antara kedua tim tetaplah sebuah teks sejarah, dalam pengertian Borgesian, yang bisa terus ditulis ulang.
Inggris datang dengan sepakbola modern yang mengandalkan kecepatan, sistem presisi, dan intensitas tinggi, di bawah kendali sang arsitek Jerman, Thomas Tuchel. Sementara Argentina membawa warisan ketangguhan mental, kreativitas jalanan, dan fanatisme yang tak tertandingi, dan tetap percaya bahwa berkat sang Messi-as masih manjur menyertai.
Borges mungkin benar bahwa sepakbola adalah bentuk kebodohan massal. Namun, setiap orang butuh mitos, butuh pahlawan, butuh cerita. Dan sepakbola menyediakannya.
Atlanta Stadium adalah labirin baru akan terbuka dini hari nanti. Para pemain kedua kesebelasan akan memasukinya. Di labirin itu tidak ada lagi sang Minotauros yang mengancam nyawa. Tetapi tetap ada para pemuda yang bersedia berkorban nyawa, bertarung habis-habisan, demi dendam, sejarah, rivalitas, dan harga diri bangsa, karena kekalahan akan terasa sama menyakitkan dengan kematian.
Oleh: Mario F. Lawi







