Di antara amuk dan sumpah kebinatangan kepada yang pantas menyandang,
Seorang lelaki disemai debu berdiri dengan niat kotak nasi.
Di antara jiwa-jiwa yang lelah dengan liku kejujuran dan pengharapan,
Lelaki itu menggelincir oleh sapuan jingga cahaya pengayoman,
Jatuh.
Kemudian pekik meledak lebih dahsyat.
Huru hara keberingasan, terdesak, didesak hingga enyahkan apa itu kemanusiaan.
Purnama di langit Jakarta
Lautan manusia bersama kebosanan yang menjelma topan.
Libas melibas sebagai anak semua bangsa.
Peradaban mulai dibentangkan dari jogetan setan.
Beradu bengis kini tak pandang apa itu warna kulit hingga baju.
Tumpah ruah jadi satu.
Lalu seekor hewan tengah virtual sematkan duka cita.
Yang lain cukup bilang “jogetin saja.”
Purnama di langit Jakarta.
Seorang lelaki disemai debu berdiri dengan niat kotak nasi.
Huru hara keberingasan, terdesak, didesak hingga enyahkan apa itu kemanusiaan.
Dari upeti sebulir nasi,
menjelma gaji emas sehari.
Peradaban mulai dibentangkan dari jogetan setan.
Rumor itu benar memang,
Kumpulkan binatang dalam satu kubangan.
Lalu merahkan langit Jakarta,
tanpa secuilpun keraguan.
(Dalam geramku) Pelaihari, 30 Agustus 2025
Oleh: Heri Haliling







