Puisi ini kupersembahkan kenapa lentera hidupku, ayah dan ibu yang telah menyalakan cahaya di setiap lorong waktu yang kutempuh dalam kelana yang panjang, di antara kabar dan kisah yang tak terbilang,
Mentari membakar langkah, keringat mengalir dalam rindu yang tak bernama. Di gurun waktu yang tak bertepi, cinta mulai merangkak, mengais makna dari jejak-jejak yang tertanam dalam pasir usia.
Terik tak dihindari, badai tak ditakuti, karena kisah ini telah menjadi candu bagi jiwa yang percaya. Hasrat terus menyesap serpihan harapan, hingga tiba di titik termanis: Sapaan lembut yang tak pernah berubah arah.
Kala oase memanggil dengan janji kesejukan, langkah terus dipacu, bayang cinta dikejar tanpa ragu. Jejak yang sempat hilang dalam waktu, kini menyatu dalam nadi yang tak pernah berhenti berdetak.
Tak ada lelah, hanya keyakinan bahwa terang akan datang di ujung segala keraguan.
Di antara duri kaktus dan badai yang mengguncang, kelembutan cinta mengalir, ditiup angin kenangan. Menghangatkan hati yang pernah beku, Membangunkan rasa yang sempat tertidur.
Saat dunia larut dalam pesta yang memabukkan jiwa. Di sudut sunyi, cinta sejati ditemukan: Harta karun yang tersembunyi di balik butiran pasir. Tulus, abadi, dan tetap segar, menanti dalam dampa yang mengharukan.
Kini, di tahun ke-27 perjalanan ini,
Cinta bukan lagi gejolak yang membakar, melainkan bara yang tetap menyala, pelukan yang tak memerlukan alasan, diam yang saling memahami tanpa kata.
Jika dunia bertanya tentang makna cinta yang tak lekang oleh waktu, biarlah gurun ini menjawabnya: Dengan jejak yang tak pernah hilang, Dengan lentera yang tetap menyala, Dengan nama keluarga yang telah menjadikan cinta sebagai rumah.
Oleh: Bernardus Badj







