Pemimpin dan Pikiran yang Tenang 

oleh -997 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin

Di balik segala tekanan dan hiruk-pikuk dunia medsos, hanya pikiran tenang dan terkendali yang dapat menghasilkan keputusan-keputusan terbaik. Saat ini, tuntutan keadilan kepada pihak pemerintah telah datang dari berbagai arah, karenanya keputusan politik harus diambil dengan bijak, cepat dan tepat sasaran. Alangkah keliru pendapat yang menyatakan bahwa ketenangan adalah kondisi pasif, tetapi justru kekuatan aktif yang memungkinkan seorang pemimpin (presiden) mampu melihat dan memantau dengan jernih, memahami secara mendalam, bahkan sanggup bertindak dengan tepat dan efisien.

Tanpa ketenangan, ego dan hawa nafsu akan mudah mengambil alih, bahkan membuat seseorang breaksi secara emosional, tidak secara reflektif. Kita menyaksikan dalam perjalanan sejarah, betapa banyak keputusan buruk lahir dari kepala negara yang dipenuhi kegelisahan, dorongan amarah dan ketakutan. Tetapi, jika jiwa sang pemimpin mampu menciptakan ruang batin yang tenang, ia tidak akan terpancing oleh emosi sesaat, serta tidak goyah oleh wacana dan opini yang membuatnya terburu-buru mencari hasil instan.

Pikiran yang tenang bukan berarti bersikap skeptis, acuh tak acuh, tetapi mencerminkan pengendalian diri, kejernihan nalar, dan fokus pada hal-hal priorotas dan urgen bagi kepentingan rakyat banyak. Pandangan ini selaras dengan tokoh-tokoh besar yang dikenang oleh sejarah, misalnya para jenderal perang, negarawan, para filosof hingga para pemimpin bisnis sekalipun. Mereka memiliki kesamaan dalam cara mengambil jeda, menarik nafas panjang, serta menenangkan pikiran sebelum mengambil langkah-langkah besar.

Berkaca pada figur K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Soekarno, Abraham Lincoln hingga Ayatullah Ali Khamenei, mereka senyawa memiliki pendapat bahwa amarah dan ketergesaan adalah musuh utama dari prinsip keadilan dan kebijaksanaan. Bahkan, Rasulullah sendiri pernah menyarankan kepada Ali bin Abi Thalib, agar jangan mengambil keputusan pada saat marah, kecewa dan cemas. Karena bagaimana pun, situasi tenang akan memberi jarak antara respons dan stimulus, hingga ego dan hawa nafsu tak mampu mengambil peran dalam diri manusia.

Bagi sebagian besar bangsa ini, tampaknya ketenangan dianggap sulit diraih. Padahal, jika mau introspeksi dan mendisiplinkan diri, membatasi konsumsi informasi berlebih, hingga terbebas dari gangguan teknologi, kita dapat bersikap tenang dan rileks di tengah badai prahara yang mengepung keseharian kita. Di lembaga pendidikan, lingkungan pesantren hingga dunia kerja, ketenangan menjadi modal penting dalam pengambilan keputusan strategis.

Secara individual, seseorang yang memiliki kualitas ketenangan yang baik, ia akan mudah menjalin relasi, bahkan sanggup meredam konflik dengan mudah. Demikian pula di dunia digital, ketenangan dapat melindungi seseorang dari jebakan impulsif yang seringkali merusak reputasi yang menimbulkan penyesalan dan kekecewaan.

Perlu dicamkan sekali lagi, di tengah kerawanan bagi kredibilitas pejabat dan elit politik kita, di saat distraksi dan persaingan viralitas yang tak terbendung, sesungguhnya ketenangan bukanlah kemewahan melainkan kebutuhan hidup yang harus melekat dalam jiwa dan kepribadian seorang pelayan masyarakat. Ia bukan sesuatu yang harus dimiliki ketika semuanya berjalan lancar, tetapi justru sesuatu yang harus dibangun agar manusia tetap waras di tengah tantangan yang super kompleks ini.

Menurut Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, pikiran tenang dari jiwa seorang pemimpin akan mampu melihat kenyataan hidup secara jernih, hingga ia akan berhasil memilah dan memilih jalan yang tepat bagi kemajuan peradaban, keimanan, dan kedewasaan rakyatnya. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Lebak, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.