Para Naga bersaudara di atas peta, saling menikam di lorong-lorong sejarah. Perdamaian sering diucapkan seperti slogan di Times Square, terang, cepat berganti.

Menanggalkan ego seperti mantel musim dingin di Champs-Élysées, dinginnya tetap terasa. Moksa penyucian jiwa bukan pencucian dosa, keberanian menatap cermin tanpa menyunting

Doa menetes dari langitseperti atap bocor di Biara Mont-Saint-Michel,airnya asin—barangkali laut yang ikut sembahyangtanpa imam.Aku bersujud di trotoar Fifth Avenue,aspal mengucap amin

Kemunculan mesias dibaca dari debu Al-Qudsdan reruntuhan Gaza.Ia berjalan melewati Tehran dan Mosul,menatap dunia tanpa senjata.Sirine belajar diam.Pedang berubah roti.Manusia menunggu di

(Instalasi: meja kerja, laptop/mesin ketik, arit, pacul, kambing, sesek bambu,sepeda unto)Meja kerja menampung bunyi ketukan,setiap huruf jatuhseperti benih yang dilempar ke tanah.Mesin

(Instalasi: ranjang, nakas, lampu tidur, bunga melati dan mawar merah)Di ranjang itu,dua bantal saling menatap dalam diam—tak pernah tidur, tak pernah benar-benar

(Instalasi: meja bulat, kursi, lilin, bunga, kain putih)Di meja bundar ini,kita duduk berhadapanseperti dua cermin yang saling lupa wajah.Lilin itu meleleh pelan,menyisakan

Monumen yang terbuat dari batu hitambertuliskan nama-nama yang dibungkam.Setiap pejalan yang lewat, memalingkan mukaseolah pahatan itu sekadar hiasan musim.Hujan menitikkan air mata

Kami terlahir dari koneksi Wi-Fi dan warisan luka.Membaca sejarah dari layar retak,dan menulis masa depan dengan jempol jariKami bukan bodoh, hanya dibesarkandalam

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.