Para Naga bersaudara di atas peta, saling menikam di lorong-lorong sejarah. Perdamaian sering diucapkan seperti slogan di Times Square, terang, cepat berganti.
Tag: Fileski Walidha Tanjung
Epistemologi Moksa
Menanggalkan ego seperti mantel musim dingin di Champs-Élysées, dinginnya tetap terasa. Moksa penyucian jiwa bukan pencucian dosa, keberanian menatap cermin tanpa menyunting
Telapak Bumi
Doa menetes dari langitseperti atap bocor di Biara Mont-Saint-Michel,airnya asin—barangkali laut yang ikut sembahyangtanpa imam.Aku bersujud di trotoar Fifth Avenue,aspal mengucap amin
Kemunculan Mesias
Kemunculan mesias dibaca dari debu Al-Qudsdan reruntuhan Gaza.Ia berjalan melewati Tehran dan Mosul,menatap dunia tanpa senjata.Sirine belajar diam.Pedang berubah roti.Manusia menunggu di
Perjalanan Hidup
(Instalasi: meja kerja, laptop/mesin ketik, arit, pacul, kambing, sesek bambu,sepeda unto)Meja kerja menampung bunyi ketukan,setiap huruf jatuhseperti benih yang dilempar ke tanah.Mesin
Perkawinan
(Instalasi: ranjang, nakas, lampu tidur, bunga melati dan mawar merah)Di ranjang itu,dua bantal saling menatap dalam diam—tak pernah tidur, tak pernah benar-benar
Percintaan
(Instalasi: meja bulat, kursi, lilin, bunga, kain putih)Di meja bundar ini,kita duduk berhadapanseperti dua cermin yang saling lupa wajah.Lilin itu meleleh pelan,menyisakan
Kepada Pejuang yang Telah Gugur
Wahai ruh para pahlawan yang telah gugur,demi tanah yang berlumur darahhingga laut yang berlumur doa-doa,kami memanggil namamu:nama yang tak lagi sekadar nama,melainkan
Tak Ada Keadilan di Pasar Malam
Di pasar malam, keadilan dijual murahdi kios sebelah boneka dan permen kapas.Lampu warna-warni menyilaukan mata pembelihingga mereka tak sadar telah membeli tiranidengan
Monumen Tengah Jalan
Monumen yang terbuat dari batu hitambertuliskan nama-nama yang dibungkam.Setiap pejalan yang lewat, memalingkan mukaseolah pahatan itu sekadar hiasan musim.Hujan menitikkan air mata
Monolog dalam Kabut
Kami terlahir dari koneksi Wi-Fi dan warisan luka.Membaca sejarah dari layar retak,dan menulis masa depan dengan jempol jariKami bukan bodoh, hanya dibesarkandalam
- Sebelumnya
- 1
- 2
- 3
- …
- 6
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











