Kami terlahir dari koneksi Wi-Fi dan warisan luka.Membaca sejarah dari layar retak,dan menulis masa depan dengan jempol jariKami bukan bodoh, hanya dibesarkandalam

Aku ini tubuh yang dipetak-petak,dipahat atas nama cinta dan tambang.Anak-anakku menciumku dengan sepatu proyek dan menyebutnya pembangunan. Dulu, aku mengajari kalian mengeja

Aku adalah waktu.Aku tak berwajah,tapi aku pernah berdiri di belakang Soekarnodan menyaksikan kata “merdeka”lahir seperti api yang jatuh dari angkasa.Aku juga pernah

Aku adalah pohon tua di pekarangan panti jompo,akar-akar ku bersilang seperti tangan para ibuyang menunggu pulang anak-anaknyadengan suara doa yang patah.Setiap 17

Aku adalah lonceng tua di menara balai kota,perutku retak, suara tak lagi melompat dari dada.Bulan ini, barisan langkah merayakan bebasnya tanah air,sementara

Aku adalah karbon dari mesin-mesin,yang menggantikan embusan napas kerbau tua. Ladang kini bergelora dengan dengung,namun bukan gemuruh doa-doa.Kupeluk batang-batang padi, tak ada

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.