Aku adalah waktu.
Aku tak berwajah,
tapi aku pernah berdiri di belakang Soekarno
dan menyaksikan kata “merdeka”
lahir seperti api yang jatuh dari angkasa.
Aku juga pernah berada di dapur seorang ibu 65
yang kehilangan suami
karena sejarah menulis ulang dirinya
dengan tinta ketakutan berwarna merah
Aku duduk di bangku sekolah tahun ‘98
saat mahasiswa mengalahkan ketok palu
dengan teriakan megafon.
Namun aku tersenyum pahit
ketika reformasi lahir
dengan tali pusar yang terbengkalai.
Delapan puluh tahun,
aku menonton bangsa ini
menyapu puing dengan sapu yang patah,
mengecat luka dengan sisa nasionalisme,
dan terus berharap
hadirnya pemimpin yang mengerti makna luka.
Tapi jangan tanya siapa yang benar.
Sejarah bukan tentang siapa yang menang.
Ia tentang siapa yang berani mengakui
bahwa masa lalu tak bisa didekorasi
dengan poster dan baliho pencitraan.
Agustus 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung







