Ibu selalu bergegas pagi-pagi butaKami pun acapkali terburu-buruTersedak air pun tak sempat mengunyahLalu kami berangkat pagi-pagiDi sekolah hanya ada tukang kebunKami pulang

Aku adalah penjaga yang kelelahan.Di dadaku retak-retak mulai tumbuh,sarang rayap dari kebodohan manusia.Aku menahan gemuruh air yang murka,menjaga mereka yang lupa daratan,mereka

Aku pernah menjadi sungai besar,mengalir deras seperti urat nadi bumi,tapi aku tersesat,di lorong-lorong beton,di sempitnya belukar pemukiman,di dada yang sesak tanpa oksigen.Aku

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.