Puisi Lebaran
Aku adalah detik yang terus berlari,
menghitung nafasmu satu per satu,
mencatat doamu yang lirih di sepertiga malam,
menunggu di persimpangan takdir.
Detik-detik menuju hari raya,
memandang langit dengan harap yang gemetar
“Semoga tahun depan aku bisa sampai di sana lagi,
semoga ada takbir yang masih bisa kudengar,
semoga ada peluk yang masih bisa kurasa.”
Tapi waktu, tidak bisa menjanjikan apa pun.
Aku hanya berputar,
mengantarkanmu dari pagi ke petang,
dari doa ke realita,
dari sekarang ke nanti
yang mungkin tak pernah ada lagi.
Berdoalah, bersujudlah, berbuatlah,
karena tahun depan masih menjadi rahasia,
dan waktu tak pernah berjanji
untuk menunggumu sampai di sana.
April 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung







