Aku ini tubuh yang dipetak-petak,dipahat atas nama cinta dan tambang.Anak-anakku menciumku dengan sepatu proyek dan menyebutnya pembangunan. Dulu, aku mengajari kalian mengeja
Tag: Fileski Walidha Tanjung
Lantai Sejarah yang Disapu
Aku adalah waktu.Aku tak berwajah,tapi aku pernah berdiri di belakang Soekarnodan menyaksikan kata “merdeka”lahir seperti api yang jatuh dari angkasa.Aku juga pernah
Di Bawah Langit yang Pernah Terbakar
(Suara tanah yang menyimpan jejak Proklamasi) Langit waktu itu tidak biruia merah seperti dada yang disobek janji.Tanahku, belum sempat mekar mewangidisulut arwah
Karnaval yang Menyapa Jendela
Aku adalah jendela di rumah veteran buta,kaca berembun oleh ingatan yang terlalu tajam.Di luar sana, anak-anak mengecat wajahnya dengan dwi warnasementara ia
Hening, Bahasa Tanah Leluhur
Aku adalah tanah di bawah kaki anak-anak yang melompat riang,tanah tempat nenek moyang dibaringkan tanpa batu nisan.Di hutan yang dicabut dari akarnya
Yang Tak Pernah Diundang
Aku adalah pohon tua di pekarangan panti jompo,akar-akar ku bersilang seperti tangan para ibuyang menunggu pulang anak-anaknyadengan suara doa yang patah.Setiap 17
Waktu yang Terlupakan
Aku adalah lonceng tua di menara balai kota,perutku retak, suara tak lagi melompat dari dada.Bulan ini, barisan langkah merayakan bebasnya tanah air,sementara
Elegi Karbon dan Jerami
Aku adalah karbon dari mesin-mesin,yang menggantikan embusan napas kerbau tua. Ladang kini bergelora dengan dengung,namun bukan gemuruh doa-doa.Kupeluk batang-batang padi, tak ada
Surat Laut kepada Konsesi Tambang
Ayah,laut tempat kau ajari aku berenangtelah menjadi telaga lumpur.Ikan-ikan yang dulu kau juluki “kawan kecilmu”,kini tinggal gambar di buku paket sekolah.Kau bilang
Paradoks Surga dan Keadilan yang Terlupakan
Kemarin saya duduk diam menyimak khutbah seorang ustaz. Suaranya mantap, nadanya yakin, dan isi pesannya tegas: umat Nabi Muhammad adalah umat terakhir
Pertanian adalah Masa Depan, Menimbang Martabat Petani dan Luka Sejarah
Di sebuah sekolah dasar di Prefektur Niigata, Jepang, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya: “Siapa yang ingin menjadi petani?” Beberapa tangan terangkat, tanpa
- Sebelumnya
- 1
- 2
- 3
- 4
- …
- 6
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











