Pada detik-detik terakhir kehidupannya, Nabi Muhammad SAW tidak mengeluhkan kekurangan umatnya atas harta. Justru sebaliknya: yang beliau takutkan adalah saat pintu-pintu dunia dibuka, dan umat berlomba lomba mengejarnya. Ini bukan sekadar sabda, melainkan nubuat tentang bahaya laten dalam sejarah manusia—ketika kemewahan menjadi agama baru dan harta benda berubah menjadi kiblat sosial. Sabda ini telah menjelma menjadi artefak kultural, sebuah memo dari langit tentang retakan dalam fondasi sebuah peradaban.
Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menulis bahwa kehancuran suatu dinasti atau bangsa seringkali diawali oleh fase kemewahan berlebihan, saat “asabiyyah” atau solidaritas sosial mulai digantikan oleh egoisme dan kerakusan. Kehidupan mewah tidak melahirkan ketangguhan, tetapi kehampaan. “Kemewahan,” tulis Ibn Khaldun, “adalah awal dari kemunduran, bukan puncak kejayaan.” Seakan-akan, beliau mengafirmasi pesan sang Nabi: bahwa peradaban yang diselimuti keinginan konsumtif kehilangan jiwanya sebelum kehilangan tubuhnya.
Ketika harta dijadikan poros kehidupan, maka yang lahir adalah generasi yang tidak mampu menderita, generasi yang lemah secara spiritual, namun kuat dalam memoles citra. Fenomena ini sangat nyata dalam kehidupan masyarakat kontemporer: orang berlomba bukan untuk keberkahan, tetapi pengakuan. Hedonisme, dalam bentuknya yang paling subtil, tidak selalu hadir dalam pesta pora. Ia menyelinap ke dalam nalar ekonomi, pendidikan, bahkan spiritualitas itu sendiri. Ketika nilai-nilai agama dikomodifikasi, maka agama pun tak lebih dari sekadar paket estetika: ditampilkan, bukan diamalkan.
Sayyid Qutb pernah menulis bahwa Islam bukan sekadar ajaran ritual, tetapi proyek peradaban yang membebaskan manusia dari perbudakan terhadap dunia. Dalam Ma’alim fi al-Tariq, Qutb memperingatkan: “Bahaya terbesar bagi umat bukanlah musuh dari luar, melainkan penyimpangan orientasi dari dalam.” Ketika umat Islam lebih takut miskin daripada takut kehilangan integritas, maka kita sedang bergerak menuju jurang yang pernah ditakuti Nabi.
Jika kita tilik pemikiran Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, ia menjelaskan bagaimana cinta dunia adalah induk dari segala keburukan (hubb al-dunya ra’su kulli khati’ah). Namun Ghazali tidak semata menyalahkan harta, melainkan bagaimana harta itu menciptakan ilusi kekuasaan dan keabadian. “Dunia,” tulis Ghazali, “ibarat bayangan yang terus menjauh saat dikejar.” Ironisnya, umat Islam hari ini bukan hanya mengejar bayangan itu, tetapi juga menjadikannya kiblat baru: dari kebijakan negara hingga kurikulum pendidikan.
Harta, dalam tafsir sufistik Ibn ‘Arabi, adalah salah satu bentuk hijab (penghalang) antara manusia dan Tuhan. Dalam Futuhat al Makkiyyah, Ibn ‘Arabi menulis bahwa “yang menjadi bencana bukanlah harta itu sendiri, tetapi keterikatan batin manusia padanya.” Di titik ini, kapitalisme kontemporer telah menjelma menjadi sistem spiritual yang menjanjikan keselamatan semu melalui konsumsi dan akumulasi. Ia menjadikan umat manusia lupa pada fitrah keberadaan: bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari memiliki, tetapi dari membebaskan diri dari kepemilikan.
Dalam konteks kekinian, kritik atas “pengejaran dunia” menjadi semakin relevan. Lihatlah bagaimana kesenjangan sosial menjadi hantu global. Lihat pula bagaimana narasi-narasi agama digunakan untuk membenarkan ketimpangan, bahkan menormalisasi kerakusan. Ketika korupsi terjadi atas nama pembangunan, dan kezaliman dibungkus retorika kemajuan, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan sebuah dunia yang disabdakan oleh Nabi: dunia yang dibuka pintu-pintunya, dan manusia berkerumun di depan gerbangnya dengan mata berkilat penuh hasrat.
Namun, lebih dari sekadar kritik moral, sabda Nabi itu juga merupakan undangan untuk merekonstruksi ulang orientasi hidup. Bukan dengan menolak dunia, tetapi dengan memaknai ulang dunia. Di sinilah kita perlu menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran besar dari tokoh seperti Ali Syariati yang dalam karya Tugas Cendekiawan Muslim menolak konsep pasif dari zuhud. Bagi Syariati, zuhud bukan berarti menjauhi dunia, tetapi membebaskan diri dari dikte dunia. Dunia hanya bisa dimenangkan oleh mereka yang tidak tunduk padanya.
Sebagai artefak spiritual, sabda Nabi ini tidak hanya berbicara pada masa lalu, melainkan berdialog dengan zaman kita yang terobsesi pada kuasa visual, kemewahan instan, dan pelarian dari sunyi. Kita hidup dalam era dimana krisis bukan hanya ekonomi atau politik, tetapi krisis makna. Dan krisis makna ini bersumber dari kegagalan kita memahami hakikat: bahwa dunia tidak pernah cukup bagi manusia yang kosong jiwanya.
Apa jadinya peradaban jika yang diwariskan kepada generasi selanjutnya adalah semangat bersaing dalam konsumsi, bukan semangat berbagi dalam keberkahan? Apa jadinya dunia jika manusia kehilangan kemampuannya untuk merasa cukup?
Sabda Nabi ini bukan sekadar peringatan, melainkan diagnosis atas penyakit spiritual umat manusia. Sebuah penyakit yang tak bisa disembuhkan dengan pembangunan infrastruktur atau reformasi kelembagaan, tetapi hanya bisa ditangkal dengan revolusi batin. Kita tidak butuh lebih banyak motivator kekayaan. Kita butuh lebih banyak pembebas jiwa. Kita tidak butuh lebih banyak seminar tentang investasi dunia. Kita butuh lebih banyak wacana tentang investasi akhirat.
Maka, pertanyaannya bukan lagi “seberapa banyak harta yang kita miliki,” tetapi: “seberapa besar kita telah dimiliki oleh harta?”
Dalam sabda Nabi itu, sesungguhnya tersimpan sebuah pertanyaan yang menggema lintas abad: untuk apa manusia hidup, jika seluruh hidupnya hanya ditakar dari apa yang bisa ia miliki? Apakah makna kehidupan semata-mata dapat diringkus dalam angka-angka saldo, properti, dan prestise sosial? Di tengah derasnya arus dunia yang memaksa kita terus berlari, adakah ruang bagi kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: benarkah kita sedang menuju kebahagiaan, atau justru menjauh darinya.
Peradaban yang besar bukanlah yang dipenuhi pencakar langit, tetapi yang ditopang oleh manusia-manusia yang jiwanya menjulang. Dan manusia semacam itu hanya lahir dari tradisi hidup yang sadar bahwa dunia bukan tujuan, melainkan wasilah—jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi. Maka, yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar tafsir tekstual atas pesan Nabi, melainkan keberanian eksistensial untuk menghidupkannya dalam laku dan orientasi.
Dunia memang terbuka hari ini. Pintu-pintunya tak lagi berderit, melainkan menganga lebar-lebar dengan cahaya yang memesona. Tapi justru di sanalah letak ujian paling purba dan paling sunyi: mampukah kita menatap dunia tanpa menjadi budaknya? Mampukah kita menggenggamnya tanpa tergenggam olehnya?
Maka esai ini bukan hanya ajakan untuk membaca ulang sabda Nabi. Ini adalah ajakan untuk membaca ulang diri kita sendiri. Siapa kita dalam pusaran zaman ini? Pemilik dunia, atau justru yang dimiliki olehnya?
Dan jika kelak sejarah kembali bertanya kepada kita, apa yang kita wariskan kepada generasi sesudah kita—akankah kita menjawab dengan harta yang menggunung, atau dengan jiwa yang tak tunduk kepada dunia.
Oleh: Fileski Walidha Tanjung adalah seorang penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional.







