Aku adalah jendela di rumah veteran buta,
kaca berembun oleh ingatan yang terlalu tajam.
Di luar sana, anak-anak mengecat wajahnya dengan dwi warna
sementara ia mengecap luka dengan ujung lidahnya sendiri.
Kakinya—sepasang tiang bendera yang kini lapuk,
tangannya—sebuah peluit yang kehilangan udara.
Tiap sorak kemenangan adalah gema yang menelusup ke perutnya
seperti bayonet yang tertinggal dalam perang tak pernah selesai.
Bahkan langit tampak tak tahu,
bahwa di balik tirai ini ada tubuh yang pernah menjadi tanah tempat negara tumbuh,
dan kini ditinggalkan seperti puisi yang terlalu panjang
untuk dibaca di panggung hari puisi.
Agustus 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung






