Petuah Mulyono

oleh -89 Dilihat
banner 468x60

Wahai Anakku, sesungguhnya bangsa ini tak ubahnya masyarakat Jahiliyah di era Muhammad, yang masih sibuk menyembah berhala-berhala dalam bentuk benda pusaka, dewa-dewi leluhur, Nyi Roro Kidul hingga kodok-kodok yang sengaja dipelihara berkat petuah Sang Dukun dari gunung-gunung keramat.

Mereka mengaku menyembah Allah, bersyahadat, bahkan berpolitik dengan rajin melakukan sembahyang. Namun, percayalah Anakku, kau masih bisa berkuasa dan memimpin mereka yang masih sibuk memberhalakan harta-benda, kenikmatan duniawi, popularitas dan keuntungan materialisme.

Sebab para pendahulu dan elit Orde Baru, telah berkuasa selama 32 tahun dengan memanfaatkan para pakar dan akademisi Barat, dengan bermodalkan tirakat dan bersemedi dari satu gunung ke gunung lain.

Bahkan, bapakmu ini sanggup bekerjasama dengan kekuatan kapitalisme lokal, membentuk kabinet baru sambil merekrut mereka yang berideologi dan berpandangan Baratsentris, kemudian melompat lagi menerima tawaran hutang dari para pemodal dan investor Cina.

Ya, ketahuilah Anakku, selama kau mengikuti jejak bapakmu ini, rajin mendengar kodok bertalu-talu di kegelapan malam, mendengar petuah dan menuruti kemauan mereka, maka kau akan sanggup memikul singgasana kekuasaan, serta kembali mengikuti derap langkah kami dalam merekrut orang-orang yang masih menghamba pada materialisme dan kapitalisme, seberapa panjang pun jabatan dan titel mereka sebagai pakar intelektualisme asing.

Jangan ragu-ragu, lompatlah seperti kodok, Anakku, ingatlah petuah leluhur dan pendahulumu. Kau akan sanggup berkuasa selama bangsa ini hanya mengandalkan rasionalitas, diselubungi keangkuhan intelektual, serta dibutakan dan dininabobokan oleh program-program ekonomi-politik dan kebudayaan yang cenderung Baratsentris.

Mereka hanya mengutamakan kenikmatan duniawi, ketimbang kepentingan akhirat yang abadi dan sejati. Kecuali orang-orang Indonesia yang mengalami kebangkitan spiritual, sanggup mengabdi selaku khalifah di muka bumi, serta menjalani hidup bersahaja dengan penuh keikhlasan. ***

Oleh: Hafis Azhari

(Peneliti historical memory, pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.