Apa yang harus kutuliskan
setelah puluhan tahu melanglang buana dengan kata
berkeluh kesah menulis bait-bait puisi
tentang para penguasa yang dungu dan serakah.
Apa pula yang harus kukatakan
ketika donatur yang memerintahkan aku menerima hadiah
pada akhirnya bekerjasama dengan penguasa zalim
yang selama ini menjadi alasan
dari tiap kata dan kalimatku terus mengalir.
Ketika kezaliman dan kesewenangan merajai dunia
justru di situlah nyawa dan ruhku mewujud
melalui untaian kata dalam ribuan lembar kugoreskan.
Lalu, apa yang akan kutuliskan
ketika sang penyandang dana menyatakan dirinya bertobat
di hadapan mursyid sang juru selamat
hingga memasuki usia 80-an ia merasa mendapat pencerahan.
Lalu, apa yang harus kutuliskan ketika kezaliman dan kekafiran
menyatakan dirinya bertobat dan berserah diri pada Tuhan.
Ya, apalah kini yang harus kutuliskan
kecuali soal kepasrahan dan penyerahan diri,
sebab penyair juga sama-sama membutuhkan pertobatan
sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa-dosa. ***
Oleh: Supadilah Iskandar







