Di tanah ini janji sering tumbuh tanpa akar
Kata mereka manis, tapi tangan penuh siasat liar
Rakyat menunggu cahaya dari pintu yang benar
Namun gelap turun lagi oleh tamak yang berputar
Mereka duduk tinggi di kursi yang bukan miliknya
Mengambil lebih dari hak yang dijaga rakyatnya
Tiada kilau emas yang bisa sembunyikan dustanya
Korupsi hanya meninggalkan jejak hampa dan nestapa
Setiap lembar uang yang dicuri adalah napas yang lelah
Suara ibu menahan lapar, anak menunggu sekolah
Negeri ini tidak miskin, hanya dicabik oleh salah
Yang lupa bahwa jabatan bukan tempat menyimpan megah
Keadilan mungkin lambat, tapi langkahnya tak pernah padam
Kebenaran mencari celah di balik tirai yang kelam
Saat topeng jatuh, dunia melihat wajah yang suram
Karena kuasa tanpa moral hanyalah bayang yang tenggelam
Semoga tanah ini belajar dari luka yang berulang
Bahwa negara kuat saat nurani tetap menjulang
Dan koruptor, cepat atau lambat, akan ditulis sebagai ruang
Tentang keserakahan yang menjauhkan bangsa dari terang
Oleh: Aprianus Gregorian Bahtera
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang








