Dari FOMO ke JOMO: Merayakan Keberanian untuk ‘Ketinggalan’ di Era Hiperkonektivitas

oleh -371 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

Oleh: Petrus Selestinus Mite

Pada pusaran scroll yang tidak berujung dan notifikasi yang berkedip, lahir sebuah istilah yang merangkum kecemasan kolektif digital masa kini; FOMO atau Fear of Missing Out. Ketakutan abadi akan ada pengalaman yang lebih baik, pakaian yang lebih baik, pesta yang lebih seru, atau peluang karier yang lebih menjanjikan, yang terjadi tanpa kita di momen itu. Persis seperti ulasan dalam Social Media and Public Relations (Judy Motion, 2016) memperlihatkan bagaimana tekanan ini berakar dari kebutuhan manusia untuk terus memantau respons sosial di ruang digital seperti likes, followers, komentar, dan check-in menjadi “termometer” keberhasilan relasi dan penerimaan diri.

Pengguna media sosial, “tak sabar menunggu hasil” dari setiap unggahan, seakan-akan identitas mereka diuji setiap detik oleh penilaian publik digital. Pada konteks seperti inilah FOMO menemukan tanah suburnya; ketika partisipasi, pengakuan, dan rasa menjadi bagian dari kelompok terikat pada ritme platform sosial yang tak pernah diam. Di era hiperkonektivitas, FOMO tumbuh dan berkembang biak secara pesat. Lingkungan yang selalu terhubung inilah yang menciptakan rasa takut ketinggalan, karena kita terus-menerus dihadapkan pada cuplikan “kehidupan terbaik” orang lain dan informasi yang berjalan sangat cepat.

Saat Gen Z dan Milenial, yakni mereka yang baru lulus dari dunia pendidikan, memasuki dunia kerja, atau mulai membangun keluarga baru (pasangan suami-istri baru) menghadapi krisis mental health global, tampaknya sebuah narasi tandingan mulai menguat: JOMO, Joy of Missing Out. Pertanyaannya, dalam masyarakat yang didorong oleh hype dan validasi instan, mampukah generasi baru ini benar-benar menemukan kebahagiaan dalam “ketinggalan”?

Jerat “Hidup Terbaik” di Medsos

Generasi masa kini yang tumbuh dewasa di bawah bayang-bayang influencer dan algoritma dirancang untuk menimbulkan perbandingan. Setiap unggahan media sosial adalah etalase kesuksesan yang dikurasi: traveling ke destinasi eksotis, capaian profesional di usia muda, dan circle pertemanan yang selalu ramai.

FOMO bukan lagi sekadar tentang melewatkan acara; ia telah bermetamorfosis menjadi FOMO Ekonomi (ketakutan ketinggalan investasi/tren keuangan seperti crypto atau stock market) dan FOMO Karier (ketakutan ketinggalan jabatan/gelar bergengsi). Tekanan untuk menjadi “pemuda sukses” yang ideal ini menghasilkan tingkat stres dan burnout yang mengkhawatirkan. Lantas, JOMO pun hadir bukan sebagai tren baru, melainkan sebagai mekanisme pertahanan diri.

JOMO: Bentuk Protes terhadap Keterbatasan Energi

JOMO, pada intinya, adalah tindakan radikal penerimaan diri. Ini adalah afirmasi bahwa energi, waktu, dan fokus seseorang adalah sumber daya yang terbatas dan berharga. Bagi Generasi Z dan Milenial, JOMO adalah tindakan yang dipilih untuk mematikan notifikasi, menolak undangan yang tidak resonan, atau sekadar menghabiskan Sabtu malam tanpa perlu memamerkannya di story. Hal ini terlihat dalam beberapa pergeseran perilaku yang aktual, seperti: Pertama, Prioritas Kesehatan Mental. Semakin banyak pemuda secara terbuka membicarakan pentingnya rest day dan digital detox. Mereka memilih istirahat yang bermakna daripada partisipasi yang melelahkan.

Kedua, Penghargaan terhadap Kualitas. Fokus beralih dari memiliki banyak relasi (networking ekstensif) ke memiliki relasi yang mendalam dan bermakna (deep connection). Ketiga, Definisi Ulang Sukses. Generasi ini mulai mendefinisikan sukses bukan hanya dari capaian eksternal (gaji, gelar), tetapi dari keseimbangan hidup dan otonomi pribadi. Mereka bersedia “ketinggalan” gaji besar jika harus mengorbankan waktu untuk keluarga atau hobi.

Tantangan Generasi JOMO

Pergeseran ini tentu tidak mudah. Masyarakat kita, terutama di Indonesia, masih sangat menghargai partisipasi, kehadiran fisik, dan pencitraan. Bagi seorang pekerja muda, menolak pertemuan sosial kantor atau tidak ikut tren terkini bisa disalahartikan sebagai ketidakpedulian atau kurangnya ambisi. Bahkan, dalam budaya kolektif seperti di Indonesia, tindakan ‘menolak’ ini sering dianggap sebagai pengingkaran terhadap norma sosial. Tekanan untuk selalu tampak sibuk dan terlibat begitu kuat, sehingga keberanian untuk memilih ‘tidak hadir’ justru membutuhkan keyakinan diri yang lebih besar daripada sekadar ikut arus. Inilah medan perang yang sebenarnya: melawan anggapan bahwa nilai seseorang setara dengan visibilitasnya.

Di sinilah kita perlu mulai menggeser paradigma, dari yang semula mengagungkan kehadiran fisik menjadi menghargai keberadaan yang bermakna. Bukan tentang seberapa sering seseorang muncul, tetapi seberapa fokus dan berkontribusi orang tersebut ketika akhirnya hadir. Perjalanan menuju JOMO bukanlah pelarian, melainkan sebuah deklarasi untuk berani hidup berdasarkan ukuran sendiri, meskipun dunia sekitar masih bersikeras mengukur kita dengan takaran yang sudah usang.

Bahkan seorang Cal Newport dalam Digital Minimalism (Newport, 2019) memberikan landasan kuat bagi perubahan paradigma ini dengan menunjukkan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh tingkat keterlibatan manusia dalam hiruk-pikuk sosial, tetapi oleh kemampuan seseorang dalam mengarahkan perhatian pada hal yang benar-benar penting. Cal Newport menekankan bahwa budaya konektivitas tanpa henti, baik melalui pertemuan, aktivitas kantor, maupun media sosial sering kali hanyalah ilusi produktivitas yang justru menggerus makna, fokus, dan otonomi pribadi.

Dalam konteks Indonesia yang sangat menekankan kehadiran fisik, gagasan Newport memberi pembenaran moral bahwa memilih untuk tidak selalu hadir bukanlah bentuk pengingkaran sosial, melainkan upaya sadar untuk menjaga kualitas kontribusi dan kesehatan mental. Justru dengan mengurangi keterlibatan yang tidak esensial, seseorang dapat menghadirkan diri secara lebih penuh, lebih fokus, dan lebih bermakna. Dengan kata lain, JOMO bukan sekadar keberanian “menolak hadir,” tetapi wujud digital minimalism yang memulihkan kembali kontrol atas hidup kita dan menegaskan bahwa makna jauh lebih berharga daripada sekadar visibilitas.

Mengubah Narasi “Ketinggalan”

Generasi masa kini memiliki peluang unik untuk mendefinisikan ulang makna “ketinggalan”. Ketinggalan bukanlah kegagalan; ia bisa menjadi ruang kosong yang diciptakan untuk pertumbuhan personal. Ia adalah kesempatan untuk pause dan bertanya: “Apakah ini benar-benar yang saya inginkan, atau hanya yang diharapkan dari saya?” JOMO mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam mengejar semua yang ditawarkan dunia, melainkan dalam menghargai apa yang sudah kita miliki dan menghabiskan waktu untuk hal yang benar-benar kita yakini.

Mampukah generasi ini mewujudkannya di era hiperkonektivitas ini? Era di mana individu atau masyarakat terhubung secara terus-menerus dan intens melalui berbagai platform digital dan jaringan komunikasi.  Jawabannya adalah ya, selama ada ruang dan validasi dari lingkungan sosial untuk pilihan hidup semacam ini. Tantangannya adalah berhenti menuntut kesempurnaan di ranah digital dan beralih untuk merayakan keotentikan yang tidak sempurna.

Si Gen Z dan Si Milenial mungkin tidak akan “memiliki segalanya” seperti yang sering digembar-gemborkan di media sosial, namun potensinya justru terletak pada menjadi generasi pertama yang sungguh-sungguh memegang kendali atas hidupnya. Dan pada akhirnya, kebahagiaan semacam ini nilainya jauh melampaui segala bentuk like dan validasi eksternal lainnya.

Penulis adalah Dosen Sosiologi FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.