Karyaku dalam Kotak Pandora

oleh -195 Dilihat
banner 468x60

Jutaan rayap memenuhi tiap-tiap sudut kamarku, menggerogoti lemari tua yang terbuat dari kayu-kayu tropis; menggeremet memenuhi seluruh ruang perpustakaan kecilku.

Musnahlah buku-buku yang selama puluhan tahun menjadi koleksiku, serupa raibnya kata demi kata di pojok katalog perpustakaan nasional, yang harus segera dipugar dan direhabilitasi secepat mungkin.

Hal itu mengingatkan aku pada virus-virus corona yang menggerogoti organ-organ tubuh manusia, hingga terkulai lemas kehabisan tenaga dan akal pikiran, sampai kemudian terhentilah setiap gagasan dalam keterbatasan durasi waktu menjemput ajal kematian.

Lalu, pergi ke manakah segala ide dan pemikiran yang selama beberapa dekade telah dihimpun dan diperjuangkan? Ke manakah larinya hasil-hasil perdebatan dan adu argumentasi sepanjang hayat, yang kadang membuat kita berasumsi sebagai pusat kosmos peradaban?

Setelah bersusah payah mencari karya-karyaku yang telah hilang entah ke mana, akhirnya ketemukan juga kotak pandora berisikan lembaran-lembaran sejarah perjuanganku selama hidup di dunia, sebagai khalifah di muka bumi.

Tampak semuanya lengkap, segala yang pernah kugoreskan dengan pena, bahkan setiap huruf yang diketik di atas layar komputer sekalipun.

Terperangah aku menyaksikan kata demi kata yang pernah kutuliskan untuk mengilhami pola pikir manusia agar berjalan dalam koridor kebaikan, kebenaran dan keindahan. Kini, semuanya terpampang jelas di Lauhul Mahfudz, tersusun dengan rapi dalam catatan takdir, justru sebelum aku sempat menuliskannya, bahkan sebelum aku dilahirkan dan dihadirkan ke permukaan bumi.

Tampaknya, otakku memang berbeda dengan aliran plasma maupun kabel listrik konvensional. Ia mengandung sebongkah daging yang memiliki 86 miliar neuron yang saling terhubung dan menghasilkan sinyal bioelektrik melalui perpindahan ion.

Ya, otak kita tak ubahnya semesta mikro tersendiri, mengandung ratusan triliun sinapsis yang saling terkoneksi dan saling mengirim sinyal melalui pertukaran ion, serta dibantu oleh zat kimia bernama neurotransmitter. Meskipun beratnya hanya dua persen dari berat seluruh tubuh kita, namun otak kita sanggup menyedot sekitar duapuluh persen dari total energi tubuh dalam aktivitas keseharian kita.

Pada prinsipnya, secerdas apa pun kita berpikir, dan setinggi apa pun kemampuan IQ yang dimiliki, kita harus menyadari batasan ilmu sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sebenarnya hanyalah setetas air di tengah samudera yang maha luas.

Secerdas apa pun intelektual Nabi Musa sebagai keturunan Nabi Yakub (Bani Israel), pada akhirnya ia takkan sanggup menghadapi kecerdasan spiritual Nabi Khidir, yang banyak mewarisi kebangkitan spiritual pada umat Nabi Muhammad hingga akhir zaman. Ya, di atas langit selalu ada langit-langit lainnya yang lebih tinggi lagi.

Kini, aku semakin menyadari bahwa karyaku hanyalah setitik tinta dari samudera lautan tinta Tuhan. Karya tulis yang kugoreskan dari pemikiranku hanyalah secuil ilmu, dari kebesaran dan keagungan kreasi Tuhan Yang Maha Cerdas. (*)

Oleh: Hafis Azhari

(Peneliti historical memory, penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.