Epilog Negeri Karang Kadempel

oleh -878 Dilihat
banner 468x60


Di negeri Karang Kadempel, angin adalah juru bicara,
membawa kabar dari utara ke selatan,
tentang Bagong, si anak bungsu yang kini duduk di singgasana.
Ia bukan sekadar bayang-bayang ayahnya,
tapi arus deras yang mencari celah di antara batu.
Dulu, Gareng dan Petruk menertawakan meja-meja birokrat
di mana sumpah setia hanya tinta yang menguap di udara.
Dulu, seragam menyusuri gang-gang gelap,
mencatat nama di buku yang tak pernah diterbitkan.
Kini, Bagong memegang palu,
menggedor pintu-pintu kekuasaan,
menjebol sarang mafia yang bersarang di sumsum negeri.
Tapi palu juga bisa jadi senjata,
bisa mengetuk atau menghantam.
Dan sejarah selalu mencatat,
tangan yang menggenggam kekuasaan terlalu erat
akan melahirkan api yang tak bisa dipadamkan.
Lalu angin bertanya:
Haruskah pisau hukum diberikan kepada tangan yang dulu melukai?
Ataukah cukup pada tangan sipil yang gemetar di meja negosiasi?
Di langit Karang Kadempel, burung-burung menertawakan jawaban.

Maret, 2025

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.