Meneguhkan Jejak Literasi di SMPK Santu Petrus Atapupu

oleh -1429 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoris Pantrang

Kehadiran kami sebagai peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Fakultas Filsafat Univetsitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang di pusat Paroki Atapupu membawa kami pada sebuah pengalaman yang tidak sekadar bersifat akademik, melainkan juga pada pengalaman manusiawi yang mempertemukan pengetahuan dengan realitas. Hari ini, saat kami melangkah memasuki lingkungan SMPK Santu Petrus Atapupu untuk melaksanakan pelatihan jurnalistik, kami disambut oleh tatapan penuh rasa ingin tahu dari para pengurus OSIS, tatapan yang mencerminkan harapan, antusiasme, sekaligus kesiapan untuk belajar hal baru.

Kegiatan ini lahir dari kesadaran bahwa menulis bukan hanya sebuah keterampilan teknis melainkan bagian penting dari proses pembentukan identitas intelektual. Dalam dunia yang bergerak cepat dan dipenuhi arus informasi yang hampir tak terbendung, generasi muda membutuhkan kemampuan untuk memilah, memahami, dan mengartikulasikan pikirannya dengan jernih. Jurnalistik dalam konteks ini menjadi ruang latihan yang memungkinkan siswa belajar membaca realitas, merumuskan pertanyaan dan menyampaikan pandangan dengan cara yang bertanggung jawab.

Di hadapan adik-adik pengurus OSIS, kami tidak hanya menawarkan pengetahuan tetapi juga mengajak mereka untuk melihat menulis sebagai jalan pencarian. Menulis adalah perjalanan batin, sebuah proses yang menuntut keberanian untuk menggali diri sendiri dan menghadapi dunia dengan lebih terbuka. Menulis mengajarkan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Ia tidak hadir sekaligus tetapi tumbuh perlahan, lapis demi lapis melalui kebiasaan yang dipelihara. Ibarat sebilah parang yang diasah setiap hari, kemampuan menulis menjadi tajam bila dilakukan dengan komitmen dan kesungguhan.

Selama kegiatan berlangsung, kami menyadari bahwa para siswa memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya terungkap. Mereka bertanya dengan antusias, mencatat dengan tekun, dan menunjukkan minat pada praktik jurnalistik. Dalam momen-momen kecil itu, kami belajar bahwa literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis tetapi tentang menghidupkan rasa ingin tahu. Di balik kesederhanaan ruang kelas tersimpan kecenderungan alami manusia untuk memahami dunia melalui kata demi kata yang dirangkai menjadi makna.

Pengalaman ini juga menjadi refleksi bagi kami, para peserta KKN. Kami diingatkan bahwa pendidikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk kurikulum formal yang kaku. Pendidikan sering kali muncul dalam wujud yang lebih sederhana dan manusiawi, dalam percakapan yang hangat, dalam senyum yang menandai pemahaman baru atau dalam selembar kertas yang berisi tulisan pertama seorang siswa yang masih penuh koreksi tetapi sarat keberanian untuk mulai. Melalui perjumpaan-perjumpaan semacam inilah kami melihat bagaimana ilmu ketika disampaikan dengan ketulusan dapat berubah menjadi pengalaman yang menyentuh dan membentuk kehidupan.

Kegiatan pelatihan jurnalistik yang kami lakukan di SMPK Santu Petrus Atapupu bukan hanya dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan teknis tentang cara menulis berita, laporan atau esai yang baik. Lebih dari itu, kami ingin membuka ruang bagi para siswa untuk memahami bahwa menulis adalah kegiatan intelektual yang mampu membentuk cara mereka melihat, memahami dan menafsirkan fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Menulis adalah cara untuk membekukan pengalaman agar tidak hilang, menata pikiran agar tidak berserakan dan merawat ingatan agar tidak lenyap ditelan kesibukan.

Setiap tulisan adalah sebentuk keberanian untuk menampilkan diri. Dalam proses merangkai kata, seseorang menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak ia sadari tentang dirinya sendiri entah itu keyakinan, kegelisahan, ataupun harapan. Menulis bukan hanya mengolah kalimat tetapi juga mengolah kesadaran. Ia adalah tindakan reflektif yang perlahan-lahan membentuk subjektivitas seseorang. Dalam konteks inilah pemikiran Michel Foucault menjadi sangat relevan. Foucault berpendapat bahwa manusia tidak pernah lepas dari hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Setiap kali seseorang menulis, ia tidak hanya menyusun fakta tetapi juga menciptakan suatu bentuk pengetahuan dan pengetahuan bagi Foucault selalu memiliki kekuatan untuk memengaruhi cara kita memahami diri dan dunia. Dengan aktivitas menulis para siswa belajar bahwa mereka memiliki kapasitas untuk menyusun makna, untuk memberi interpretasi terhadap realitas dan untuk mengekspresikan suara mereka sendiri di tengah struktur sosial yang sering kali membatasi.

Lebih jauh lagi, Foucault berbicara tentang konsep “care of the self”. Perhatian terhadap diri sebagai sebuah praktik yang membentuk identitas. Menulis dapat menjadi bagian dari praktik tersebut. Saat siswa menulis, mereka sedang melakukan semacam latihan kesadaran: mengamati diri, merefleksikan pengalaman, lalu mengekspresikannya. Proses ini bukan hanya membangun kemampuan literasi tetapi juga membentuk subjek yang lebih kritis, lebih sadar, dan lebih otonom.

Menulis, dalam pandangan Foucauldian juga menjadi sarana pembebasan. Melalui tulisan, seseorang dapat mempertanyakan struktur yang selama ini diterima begitu saja, mengkritisi kondisi yang dianggap wajar atau mengungkap realitas yang kerap disembunyikan. Para siswa, melalui kegiatan pelatihan jurnalistik ini dapat belajar bahwa sebuah berita atau laporan bukan hanya kumpulan informasi tetapi juga alat untuk menyingkap kebenaran yang mungkin terabaikan.

Dengan demikian, menulis bukan hanya kemampuan akademik; ia adalah tindakan perubahan kecil namun signifikan. Setiap tulisan membawa kemungkinan untuk menggugah, menjelaskan atau bahkan mengguncang cara pandang orang lain. Dalam diri para siswa SMPK Santu Petrus Atapupu, kemungkinan itu mulai tumbuh ketika mereka belajar menulis dengan lebih sadar, lebih kritis, dan lebih reflektif. Kegiatan pelatihan jurnalistik ini juga memperkaya kami sendiri. Kami belajar bahwa pendidikan sejati tidak semata-mata mentransfer informasi melainkan membuka ruang dialog yang memungkinkan kedua belah pihak, pendidik dan peserta didik untuk saling belajar. Dalam momen-momen kecil yang kami alami hari ini, kami melihat bagaimana literasi dapat menjadi jembatan antara pengetahuan dan kemanusiaan, antara struktur dan kebebasan, antara dunia luar dan dunia batin seseorang.

Atapupu mengajarkan kami bahwa setiap kata yang ditulis adalah jejak kecil peradaban dan hari ini, melalui kegiatan pelatihan jurnalistik, kami membantu menyalakan satu jejak itu, sebuah langkah awal yang semoga kelak membentuk generasi yang lebih kritis, lebih peka, dan lebih berdaya dalam menghadapi dunia. Selain itu, kegiatan hari ini tidak hanya menambah wawasan para siswa tetapi juga memperkaya kami sebagai pendamping, di mana kami belajar bahwa pengembangan literasi tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Ia memerlukan ruang, kesabaran, dan perhatian.

Namun, setiap langkah kecil yang diambil setiap kata yang ditulis, setiap cerita yang dibagi adalah bagian dari perjalanan besar membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, dan berkontribusi bagi masyarakat. Atapupu dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan kami bahwa literasi adalah cahaya kecil yang bila dipupuk mampu menyinari masa depan dan hari ini melalui pelatihan jurnalistik, kami merasa telah menyalakan satu pelita kecil yang dengan harapan bahwa semoga terus menyala dalam perjalanan pendidikan adik-adik di SMPK Santu Petrus Atapupu.

Senin, 17 November 2025

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.