Ego dan Kepribadian Leluhur Kita 

oleh -654 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alim Witjaksono

“Bangsa ini harus membersihkan dan meruwat peninggalan leluhur yang penuh luka, disertai ego kekuasaan yang diwariskan Orde Baru sejak tahun 1965.” (Hafis Azhari, penulis buku Pikiran Orang Indonesia)

Ada hukum-hukum semesta di alam raya ini yang tak kasatmata, namun sangat mengikat dan menentukan hajat hidup manusia. Salah satu hukum semesta yang mengikat, dapat disebut sebagai “karma leluhur” yang seakan membayangi hidup, bahkan mengatur dan menentukan pola hidup manusia. Tanpa kita sadari, dalam pencarian penghidupan, baik untuk nafkah lahir maupun batin, kita semua dituntut agar sanggup berdamai, bahkan harus mendapat restu dari para leluhur kita.

Dalam ilmu nasab, manusia sebagai anak-anak biologis dari pendahulunya, harus pandai menyelaraskan diri dengan vibrasi dan getaran leluhur. Ini bukanlah pengetahuan mistik agar manusia “menyembah” leluhurnya. Meskipun dalam banyak hal, termasuk dunia karier dan bisnis, kualitas rizki akan tertarik manakala manusia sudah selaras dengan frekuensi dan amanat leluhurnya.

Dalam terminologi Islam, terdapat hadis Nabi yang memperingatkan, bahwa para malaikat tidak akan memasuki rumah yang berisi berhala-berhala, serta kosong dari nilai-nilai religiositas. Ini mengindikasikan, bahwa rumah tangga yang belum membersihkan dirinya dari beban dosa masa lalu, mereka akan sulit mendapat keberkahan dari Tuhan. Begitu pun halnya dengan kualitas rizki, ia harus disambut dengan frekuensi yang tepat dan selaras dengan amanat para leluhur. Namun, jika belum berdamai dengan energi leluhur, maka nilai keberkahannya belum direstui secara spiritual.

Kita sebagai umat beragama, harus sanggup menjadi penyembuh dari vibrasi leluhur yang penuh luka, seperti ketakutan, kepanikan dan kecemasan, termasuk kerugian bisnis dan perdagangan. Misalnya, pada generasi kakek atau buyut yang dulunya pernah tertipu, konsekuensinya generasi ayah-ibu akan mengalami trauma masa lalu yang memproteksi anaknya untuk berkembang.

Luka masa lalu bagaikan warisan dinasti yang seakan turun menurun melalui garis darah dan DNA. Jika batin belum selaras, rizki akan selalu macet dan hanya berputar-putar di satu tempat. Seakan ada tabungan karma kolektif yang turun dari leluhur ke keluarga kita. Di sisi lain, ada juga warisan negatif seperti ego dan kesombongan, hingga karier dan prestasi orang tua tak mau dikalahkan oleh generasi anak. Ini mengakibatkan banyak beban dan problema pada generasi penerus, seakan sulit dinalar dengan akal sehat. Misalnya, perabot rumah-tangga yang selalu mengalami kerusakan, komputer atau ponsel yang selalu ngadat, partner bisnis yang bawel dan cerewet, atau munculnya pesaing-pesaing bisnis yang egois dan keras kepala.

Ini bukan semata persoalan mistik, juga bukan berarti saya menganjurkan Anda agar melawan leluhur yang banyak mewarisi DNA inlander dan para terjajah (oleh Hindia Belanda). Bagaimana pun harus diakui, bahwa leluhur kita minim pendidikan, karenanya tak boleh mengklaim mereka sebagai salah dan sesat. Cukuplah bagi kita untuk memperbaiki pola energi, tanpa harus menyalahkan dunia luar, tetapi dengan peka dan kreatif membenahi dan menyembuhkan dunia dalam, muhasabah dan introspeksi diri.

 Untuk itu, agar kita dapat membebaskan diri dari gema masa lalu yang belum selesai, hendaknya kita memaafkan dan mendoakan mereka, dan selalu terkoneksi (zikir) pada kebesaran dan keagungan Sang Pencipta. Dalam aktifitas zikir terkandung nafas sabar dan syukur sebagai ujung tombak dan pangkal kesuksesan. Dengan zikir secara intensif, kita dapat menetralkan energi negatif melalui penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), ibarat saluran-saluran kabel listrik yang sudah keropos hingga harus segera diganti, agar sinar lampu tetap konsisten dan stabil. Di sisi lain, jika rizki yang diperoleh sudah membawa keberkahan, ia harus dikelola dengan frekuensi yang tepat dan selaras dengan kehendak semesta.

Di zaman kenabian sekitar 1500 tahun yang lalu, Rasulullah pernah mendapat tawaran dari Malaikat Jibril, agar mereka yang menyakiti Rasulullah di daerah Thaif (Arab Saudi) hendaknya dibinasakan seperti halnya kaum Luth dan Nuh di masa lalu. Namun demikian, Rasulullah justru menolaknya sambil menyatakan bahwa mereka adalah kaum yang “belum mengerti”. Jadi, suatu tindakan jahat dan semena-mena bukanlah tanpa sebab dan akibat. Ia bersifat abu-abu, bukan hanya hitam-putih belaka. Banyak faktor yang melatari kejahatan suatu masyarakat disebabkan bodoh, tidak tahu, ikut-ikutan arus, bahkan juga terpengaruh oleh gema dan suara batin leluhurnya. Untuk itu, Rasulullah berkata kepada Malaikat Jibril: “Jika mereka belum sadar juga, mudah-mudahan anak-cucu mereka menjadi orang-orang yang baik dan beriman.”

Untuk itu, kita sebagai umat akhir zaman, hendaknya meneladani jejak-langkah Rasulullah, sanggup menjadi generasi baru yang menutup kutukan karma leluhur yang membelenggu dan mengikat. Kita sebagai generasi berpendidikan (terpelajar) jangan sampai mengulang-ulang masa lalu yang bersifat negatif dan tidak bermaslahat. Karenanya, prinsip pendidikan yang baik adalah menekan energi negatif yang merugikan, serta mengoptimalkan potensi baik yang sudah ada dan melekat dalam kepribadian anak-didik.

Kita harus jujur mengakui adanya potensi baik pada leluhur kita, seperti sopan santun, ramah-tamah, keberanian, kelembutan hati, jiwa sosialis, dermawan, ketulusan hati dan lain-lain. Kita harus berani menyetel ulang skenario yang dibuat leluhur, meneruskan tongkat estafet sambil menyembuhkan luka kolektif. Kita harus me-reset frekuensi baru, karena bagaimana pun kualitas hidup bukanlah soal siapa yang cepat dan banyak harta dan kuasa. Sementara, getaran frekuensi pada kebanyakan manusia modern belum sanggup berdamai dengan garis darah, sehingga rizki sebanyak apapun tidak membawa kebahagiaan batin.

Kita harus berani menjadi pemula, yang dapat menyembuhkan dunia dengan tak perlu merasa jadi korban dari luka sejarah. Akan tetapi sanggup membantu semesta sambil konsisten menyembuhkan orang-orang yang skeptis (su’udzan) pada kebesaran dan kasih sayang Tuhan. Kita harus ikhlas menyelaraskan diri dengan getaran leluhur, serta memutus ikatan energi yang tak sehat. Kita harus sanggup menyalurkan rizki sebagai titipan dan amanat Tuhan, karena sifat rizki bagaikan air jernih yang mengalir, dan harus bermaslahat bagi kepentingan umat. Kita harus menjadikan energi yang keluar sebagai magnet bagi lahirnya energi baru, sambil menyatakan doa sederhana: “Ya Allah, maafkan kami, dan kuatkan diriku sebagai penyembuh luka masa lalu.”

Dengan ruwatan batin, kita mengakui kelemahan diri kita, sambil berdoa dan memohon perlindungan Sang Pencipta. Tentu saja masih banyak kekurangan dan kekhilafan, karena tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi paling tidak, kita harus memulai dari diri kita sendiri, saat ini, dan mengharapkan Allah Yang Kuasa menyempurnakan langkah-langkah hidup kita.

Penulis adalah Pengamat sosial politik kebangsaan, menulis esai dan prosa di berbagai media, seperti Republika, Radar Mojokerto, Halo Jember, Radar NTT, Tangsel Pos, bangkapos.com, ruangsastra.com, janang.id, litera.co.idalif.id, dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.