Ekosistem Sastrawan Milenial Indonesia

oleh -908 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

Oleh: Enzen Okta Rifai, Lc.

Kini, revolusi teknologi masih terus bergulir, semakin membawa kita pada cara-cara baru dalam menafsir dan memahami dunia sastra dan literasi. Perkembangannya dapat dilihat seperti menyaksikan sekuens film dan video, bukan seperti gambar foto yang mati. Prosesnya panjang, berliku, dan berakar sejak berabad-abad lalu. Jika kualitas sastra dan literasi menurun di masa Orde Baru, berikut para sastrawan yang menginduk pada kekuasaan, kita pun perlu melihat sekuens-nya juga. Pasti ada sebab musababnya, terutama akibat ulah tangan-tangan kotor yang ambisius dan serakah pada kepentingan ekonomi, bukan pada nilai dan kualitas sastranya.

Revolusi kesusastraan saat ini, tentu dipicu oleh maraknya revolusi teknologi juga. Hal tersebut menyebabkan segala sesuatu menjadi lebih mudah terjangkau. Kita bisa membaca karya-karya sastra berkualitas dari para peraih hadiah nobel, termasuk sastra berkualitas di pelosok kampung pedalaman Banten utara sekalipun. Transportasi, distribusi buku, perjumpaan dengan sastrawan terkenal, bahkan menikmati karya sastra mereka di internet, segalanya semakin mudah dijangkau.

Kini, semakin bertumbangan teori dasar sastra dan kebudayaan yang sibuk mengikatkan diri pada ruang dan waktu, dengan segala aksesoris dan praktek skala ekonomisnya.  Karena tidak terikat pada ruang-waktu, maka perubahan fundamental dalam berpikir dan mencipta karya sastra juga mengalami pergeseran yang signifikan. Ditambah problem pandemi kemarin, yang kian mempercepat dan mendesak kreativitas sastrawan, agar segera bangkit, tak lagi terkungkung pada konsep ruang-waktu seperti di era Orde Baru.

“Implikasinya adalah pandangan baru dari para sastrawan yang harus cerdas merevolusi cara berpikirnya,” demikian ujar Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia. Memang bagaimanapun, manusia sebagai makhluk sosial juga tak bisa dibendung. Akibat selama 32 tahun terkungkung dalam sistem militerisme Orde Baru, yang membuat sebagian sastrawan tua terjebak pada pola pikir yang mengandalkan takhayul dan mitos-mitos kekuasaan belaka. (baca kompas.id“Sastra, Takhayul, dan Kebuntuan Ideologis”).

Ekosistem penulis

Para penulis muda milenial semakin marak melalui karya-karya sastranya, dan tak mau mengikatkan diri pada jarak. Ketika pamrih para penulis senior semakin memudar dan kehilangan pekerjaan, para penulis muda kian berinovasi mencari cara-cara baru. Prioritas masih akan berlanjut ke jenis sastra bernuansa filsafat dan antropologis. Meski tantangan milenial bukanlah mudah, terutama hambatan yang dapat menjegal mereka dari kekuatan status quo, yang hanya sibuk memikirkan dapurnya harus ngebul.

Kini, para penulis muda kian terampil mencari pola-pola baru dalam berliterasi. Setidaknya mereka harus punya ketarampilan serta beradaptasi dengan revolusi teknologi yang semakin canggih. Karena manusia selaku obyek vital penelitian sastra, tak lepas dari benda-benda material, maka pergaulan juga harus pintar menyesuaikan diri dengan segala pembaharuan.

Para penulis dan sastrawan lama yang terpolarisasi oleh kepentingan status quo, harus berani keluar dari habitat (maaf) kebun binatang. Pendekatan para penulis muda, kini sudah memakai pola pendekatan ekosistem. Karya terbaik mereka akan segera dilempar ke publik, baru kemudian bermunculan komentar maupun kritik-kritik sastra yang bertanggung jawab. Tak ubahnya suatu bisnis berbasis value creation, yang bermula pada input lalu menuju proses kemudian langsung ke output. Jadi, pasokannya tak lagi mau mengikatkan diri ke dalam ruang dan waktu. Untuk itu, penulis yang sibuk memikirkan ketip demi ketip dari keuntungan kreasinya, (maaf) mendingan ke laut aja deh.

Para penulis dan sastrawan tua tidak jarang masih tetap menyibukkan diri dengan cara-cara kebun binatang (untuk tidak mengatakan ‘barbar’). Dalam pendekatan ekosistem, sang penulis akan menginfakkan kreasinya ibarat menanam pohon di area luas, nanti akan tumbuh mata air, banyak bukit, akhirnya rusa, harimau, dan segala kadal-cebong-kampret akan datang sendiri. Dalam pendekatan ini akan muncul rintisan atau kaderisasi penulis baru (startup).

Para penulis itu akhirnya saling mengorkestrasi ekosistem, karena iklim dan dunia kepenulisan sudah menjanjikan. Masa depan kesusastraan Indonesia, bersama dengan sineas, teater dan jenis kesenian lain, semuanya akan saling terhubung dan saling memberi makan. Bukan dengan cara-cara “parahara budaya” yang saling menjatuhkan, tetapi dengan cara bijak dalam menanggapi polemik kebudayaan.

Sastrawan milenial

Menurut penulis novel Perasaan Orang Banten, Hafis Azhari, sesungguhnya kemajuan teknologi akhir-akhir ini, bukan semata-mata alat yang mempermudah, tapi sekaligus merevolusi mental dan pola pikir para penulis dan sastrawan. Penulis-penulis milenial saat ini berhadapan juga dengan para penulis milenial dari seluruh dunia, yang berani memulai dari titik nol. Jadi, startup ini memang terlihat sederhana dan kecil-kecilan, namun dalam waktu cepat akan merambah memunculkan orkestrasi yang sanggup memanfaatkan ekosistem.

Para penulis dan sastrawan tua tak perlu repot-repot ikut sibuk menonjolkan diri, tapi harus berani menolkan diri (dari titik nol). Bahkan, para penulis yang sudah terkenal (baca: dikenalkan oleh siasat penerbit), kalau mau survive, juga harus punya keberanian untuk menolkan diri. Mereka harus mampu berdiri di luar konsep ruang-waktu, melalui paradigma baru yang eksploratif (explorative mindset).

Perjalanan kesusastraan kita, sejak masa Orde Baru cenderung eksploitatif dan oligarkis. Hanya mengulang-ulang titik jenuh yang tidak produktif dan inovatif. Untuk itu, para sastrawan milenial saat ini – khususnya melalui cerpen-cerpen di media daring – nampaknya terus bergerak untuk mengeksplorasi dan mengubah yang eksploitatif dan oligarkis itu. Pada fase selanjutnya, akan semakin kentara dunia penerbitan turut-serta membongkar diri, jika mereka ingin mencapai skala ekonomis yang menguntungkan.

Penulis novel Perasaan Orang Banten (yang juga kelahiran Banten) sudah mencoba memulai tinjauan analisisnya dari skala kampung dan desa, baik secara filosofis maupun antropologis. Saat ini, desa yang berpotensi maju adalah yang berhasil membaca, introspeksi dan bercermin diri. Dalam dunia literasi dan kepenulisan, kreativitas penulis (work) tidak akan terdisrupsi. Yang akan terpelanting justru ‘job’ yakni penulis yang hanya mau menulis karya, kalau ada bayaran dan keuntungan finansial. Sedangkan ‘work’ akan selalu memunculkan ilham dan gagasan baru, karena terus-menerus diinovasi. Kini, masa depan kesusastraan kita, sudah mulai nampak di lingkungan perkampungan dan pedesaan.

Coba kita bercermin pada proses kreatif penulisan novel Pikiran Orang Indonesia, yang dikerjakan di tengah pesawahan desa Nameng, Rangkasbitung, Banten. Pesantren Al-Bayan kemudian mengadakan acara launching dan bedah bukunya, menyusul pesantren La Tansa, Al-Mizan, Daar el-Qolam dan seterusnya. Kemudian, penulisnya diundang oleh Rumah Dunia pimpinan Gol A Gong (Duta Baca Indonesia) di Serang, dan dihadiri pula oleh para santri, kiai, mahasiswa, akademisi dan wartawan setempat. Setelah itu, bermunculan komentar dan kritik-kritik sastra yang semarak di media-media nasional, baik luring maupun daring (baca: kompas.idMemahami Skizofrenia dari Karya Sastra).

Setelah harian Kompas memperkenalkannya melalui opini “Membangun Akal Sehat” (24 April 2018), maka bersinambunglah media-media luring dan daring membicarakan pemikiran-pemikiran kritis keindonesiaan, mulai dari filsafat kebudayaan Indonesia, karakteristik sastra baru Indonesia, hingga spiritualitas dan religiositas manusia Indonesia. (*)

Penulis adalah Alumni perguruan tinggi International University of Africa (Republik Sudan)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.