Membaca Langkah Jokowi Pasca Pelantikan Prabowo – Gibran

oleh -1279 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoga Duwarto

Setelah pelantikan Prabowo Subianto sebagai Presiden dan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakilnya pada 20 Oktober 2024 menjadi momen penting dalam sejarah politik Indonesia. Dengan tetap adanya Joko Widodo (Jokowi) sebagai figur sentral yang tak terpisahkan dari keduanya, situasi ini menciptakan dinamika yang rumit dan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Dan posisi Jokowi sebagai mantan presiden yang masih memiliki basis dukungan kuat, tentu Jokowi perlu mempertimbangkan langkah-langkah strategis untuk tetap menjaga pengaruh politiknya.

Jokowi dan kekuatan politiknya

Bagaimanapun juga setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Jokowi tentu tidak ingin begitu saja kehilangan pengaruhnya. Menurut survei terbaru dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada September 2024, terdapat tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Jokowi masih tinggi, yaitu mencapai 67 persen. Namun, upaya Jokowi untuk membesarkan partai PSI yang dipimpin oleh anaknya, Kaesang, hingga sekarang masih belum membuahkan hasil. Dalam pemilu yang lalu, bahkan dengan dorongan dan bantuan Jokowi, posisi PSI hanya meraih 3,2 persen suara, masih jauh di bawah ambang batas parlemen untuk bisa lolos ke Senayan.

Walaupun demikian masih ada kemungkinan bagi Jokowi untuk dapat meraih posisi strategis di partai Golkar, di mana Bahlil Lahadalia yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum berkat adanya dukungan Jokowi. Ini bisa menjadi langkah penting untuk mengamankan kekuatan politiknya pasca kepresidenan.

Menurut data internal Golkar, dukungan Jokowi dapat meningkatkan elektabilitas partai, mengingat Golkar memiliki basis pemilih yang kuat di seluruh Indonesia.
Meski demikian, Jokowi akan menghadapi tantangan besar untuk mendapatkan posisi tersebut. Golkar memiliki banyak faksi dan tokoh kunci seperti Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie, yang mungkin tidak sejalan dengan visi Jokowi.

Selain itu, dalam hal ideologi dan situasi kenyamanan Jokowi bersama PDIP menjadi faktor yang sulit diabaikan. Dalam sebuah penelitian oleh Pusat Penelitian Politik LIPI, terlihat bahwa 58 persen anggota PDIP ada yang masih menginginkan Jokowi sebagai pemimpin, meskipun terjadi ketegangan pasca-Pilpres.

Tantangan bagi Gibran

Di sisi lain, Gibran, dengan posisi wakil presiden, diperkirakan akan menghadapi tantangan cukup keras mempertahankan pengaruhnya. Dengan keberadaan Jokowi yang memiliki rekam jejak kuat, akan ada tekanan dari berbagai pihak dikalangan masyarakat, termasuk dari langkah PDIP yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri. Mengingat pada Pilpres 2024, Megawati telah memposisikan Jokowi sebagai “pengkhianat” karena mendukung pencalonan Prabowo. Ini menunjukkan bahwa meski Gibran berada di posisi tinggi, dukungan politik yang kuat dari partai dan pemilih tetap krusial untuk kelangsungan kariernya.

Demikian juga sejauh ini PDIP tampaknya masih pikir-pikir untuk bergabung dalam koalisi Gerindra dan kabinet Prabowo. Menurut sumber internal partai, keputusan ini sangat dipengaruhi oleh rekam jejak Prabowo yang terasa kental dengan nuansa militeristik maupun kedekatan hubungannya dengan keluarga Suharto.

Merupakan tantangan Gibran harus mampu mengelola hubungan ini, termasuk dugaan sebagai pemilik akun sosmed yang berseberangan dengan Prabowo, diperlukan kecerdikan agar tidak terjebak dalam permainan politik yang merugikan dirinya.

Langkah strategi kembali ke PDIP

Disisi lain masih terdapat satu-satunya partai besar lainnya yang dapat menjadi tempat terbaik bagi Jokowi adalah partai PDIP tempat Jokowi dibesarkan. Sehingga jika Jokowi berhasil kembali mendapatkan posisi di PDIP, hal ini bisa memperkuat posisi Gibran sebagai bagian dari dinasti keluarga Jokowi.

Namun, situasi ini tidaklah mudah. Dengan adanya kemarahan Megawati akibat dukungan Jokowi terhadap Prabowo dalam Pilpres 2024 masih membekas, dan ini bisa menjadi penghalang bagi Jokowi untuk dapat diterima kembali. Meskipun tentu ada kemungkinan Jokowi diterima kembali, hal ini mengingat bagaimana Megawati dan anggota partai lainnya melihat situasi. Menurut analisis politik yang dilakukan oleh sejumlah pengamat, mengamati posisi Megawati sebagai Ibu terhadap para kadernya dan ketua partai dapat menjadi faktor penentu dalam keputusan ini. Maka Jokowi harus tepat dalam melakukan pendekatan yang bijak serta hati-hati agar bisa membangun kembali kepercayaan PDIP dan jajaran anggota pengurusnya.

Dalam konteks politik diatas yang serba tidak pasti ini, dapat disimpulkan Jokowi harus berpikir strategis mempertahankan pengaruhnya. Juga terlihat pada dukungan terhadap calon-calon dari Prabowo dalam Pilkada 2024 menjadi dilema tersendiri bagi Jokowi. Sebagai ayah Gibran disatu sisi, dan Jokowi dihadapkan akan adanya potensi persaingan dengan Prabowo, menunjukkan bahwa meski sudah dilantik sebagai presiden, tantangan politik masih akan terus berlanjut.

Bagaimana Gibran dan Jokowi menavigasi situasi ini bisa jadi menentukan arah politik Indonesia ke depan. Dan dengan semua tantangan dan dinamika ini, satu hal yang pasti, arena politik Indonesia tetap dipenuhi dengan ketegangan dan intrik, turut menciptakan ketidakpastian bagi semua pihak yang terlibat.

Jumat, 1 November 2024

Penulis adalah Peneliti dan Pemerhati Kebijakan Publik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.