Hikayat Gelondongan Kayu di Tengah Hutan yang Dibawa Hanyut ke Tengah Laut

oleh -723 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Muhammad Subhan

AKU adalah pohon yang besar di rimba. Rumah bagi margasatwa. Aku dilahirkan dalam keheningan yang menenteramkan, disambut kicau burung di pagi berkabut dan basah berembun, dalam buaian angin subuh, disahut suara Siamang bertembolok besar yang bergantungan di ranting-ranting tubuh ibu dan ayahku—mereka yang lebih dahulu merindangi dunia sebelum aku muncul dari tanah yang gembur dan subur.

Setiap hari, orkestra margasatwa mengiringi pertumbuhanku, senandung senja yang ranum, desir daun-daun yang bersentuhan seperti doa yang tak putus-putus, dan aliran sungai bening yang berhulu di pegunungan, mengalun sebagai latar alam yang menyejukkan jiwa.

Aku tumbuh di tengah belantara, di dunia yang seimbang antara hidup dan kehidupan, antara mengambil dan memberi.

Setiap bagian tubuhku adalah rumah, dahan untuk burung-burung, batang untuk serangga, akar untuk jamur dan cacing tanah.

Aku yang tegak berdiri, menjadi napas bagi bumi, paru-paru yang bekerja tanpa meminta upah.

Setiap helai daun yang kulahirkan adalah sebuah ayat tentang kehidupan, setiap oksigen yang kutebarkan adalah puisi untuk kelangsungan yang jauh lebih besar dariku.

Akar-akarku menjalar seperti tangan-tangan penjaga tanah. Mereka mencengkeram bumi, menahan aliran air yang deras agar tidak mencipta bencana, menjadi resapan yang menyelamatkan lembah dan kampung-kampung di kaki bukit.

Aku berdiri bukan hanya untuk diriku, tetapi untuk dunia yang berteduh di sekelilingku: lumut yang melekat pada batangku, harimau yang melintas dalam senyap, gajah yang berjalan beriringan bersama anaknya, kera yang mencari buah sambil berceloteh riang.

Rimba adalah rumah, dan kami penghuni-penghuninya hidup damai di dalamnya. Berabad-abad lamanya.

Namun, hari nahas itu datang. Hari ketika irama belantara tiba-tiba putus.

Suara gergaji mesin meraung memecah udara. Bau oli dan asap besi mengalahkan wangi tanah basah. Langit yang biasanya dipenuhi kicau burung mendadak sunyi, berganti dengan teriakan-teriakan manusia yang menjajah.

Mereka datang membawa dokumen panjang, peta, alat ukur, dan kata-kata manis bernama “pembangunan”. Di balik janji tentang kemakmuran, tersimpan mata yang hanya melihat kami sebagai komoditas, bukan sebagai kehidupan.

Tubuhku gemetar ketika dihantam besi berputar. Ketika kediamanku, tempat aku tumbuh ratusan tahun, ditaklukkan dalam waktu beberapa menit saja.

Mereka menebangiku tanpa belas kasihan. Oh, Tuhan ….

Aku mendengar jeritan saudara-saudaraku. Pohon-pohon raksasa yang tumbang satu per satu seperti prajurit yang kalah perang, bertekuk lutut, tak mampu melawan.

Burung-burung kehilangan tempat pulang, gajah-gajah berlari panik karena jalur migrasi mereka terputus, harimau tersesat di ladang-ladang manusia, dan kera-kera kebingungan memeluk udara kosong yang dulu adalah dahan tempat mereka bermain.

“Maafkan aku …,” bisikku pada mereka, meski aku tahu bukan aku yang bersalah.

Rimba yang dahulu hijau berkabut kini berganti warna cokelat debu dan bertuba. Tanah yang dulu basah dan sejuk menjadi kering, terpanggang matahari yang tak mendapat lindungan.

Manusia serakah menggunduli hutan atas nama kemajuan, mengganti tubuh rimba dengan ladang-ladang sawit yang seragam, yang tidak memberi tempat bagi suara nyanyian alam.

Sungai-sungai yang dulu jernih tempat anak-anak ikan bersembunyi di balik batu-batu di lubuk kini berubah keruh, membawa sisa tanah yang tak lagi punya akar untuk menahannya.

Di tempat lain, tubuhku dijarah lebih dalam. Perut bumi dibongkar, diporak-porandakan, digali untuk mencari emas dan mineral. Lubang-lubang tambang menganga seperti luka mengerikan, memuntahkan racun ke sungai, membunuh kehidupan lainnya yang tak bersalah.

Hutan bukan lagi hutan, ia berubah menjadi ladang kapital, menjadi angka-angka dalam proposal dan grafik keuntungan.

Ketika tubuhku tumbang …, oh, aku tak lagi tegak menjadi penjaga bumi.

Aku berubah menjadi gelondongan. Gelondongan tak bernyawa, tak berkaki, tak berdaya.

Aku yang dulu menyaring udara kini hanya kayu yang menunggu dibawa entah ke mana. Aku ditumpuk bersama ratusan tubuh lain, saudara-saudaraku yang nasibnya serupa.

Kami, para penjaga alam, kini dianggap sampah yang harus disingkirkan.

Lalu musim hujan datang tanpa diundang.

Tanah yang dulu kukendalikan agar tidak longsor kini kehilangan penopangnya. Air yang dulu kutahan di akar kini meluncur liar dari bukit-bukit, membawa lumpur dan batu. Hujan deras turun berhari-hari, diiringi angin badai, dan bumi yang tanpa hutan tak mampu lagi menahan genangan air.

Longsor besar pun terjadi. Aku, yang sudah menjadi gelondongan tak berdaya ini, terseret oleh air bah. Aku berguling menggelinding dalam kegelapan lumpur, menabrak batu, menghantam pohon-pohon muda yang belum sempat tumbuh.

Tubuhku terbawa arus hingga ke perkampungan.

Aku menghantam rumah-rumah penduduk, manusia-manusia lain yang tak bersalah, yang tak pernah menebangku, yang tak pernah merusak hutan. Aku merobohkan dinding, menghancurkan jendela, dan menakutkan anak-anak yang berlari dalam teriakan histeris. Ada tangis dan jerit. Ada nyawa yang melayang.

Dan aku hanya bisa menangis dalam hatiku.

“Aku tak bermaksud melukai kalian … Aku bukan pembunuh. Aku bukan penjahat. Maafkan aku!” jeritku dalam tangis yang diam.

Air deras membawaku ke sungai yang meluap. Dari sana, aku hanyut ke muara, ke laut luas yang dingin dan asing. Tubuhku mengapung sebagai gelondongan tak berumah, tak berakar, dan tak punya tanah kelahiran lagi.

Aku melaju jauh dari rimba yang dulu menjadi duniamu dan duniaku.

Kini aku mengembara, menjadi saksi bisu kehancuran yang tidak pernah kuinginkan.

Jika saja manusia tahu betapa berharganya satu pohon … Jika saja mereka sadar bahwa hutan bukan musuh, melainkan ibu yang melahirkan kehidupan .…

Aku masih menyimpan harapan dalam serat-serat tubuhku, meski kini terdampar di dunia yang entah. Harapan bahwa manusia akan belajar, bahwa mereka akan menanam kembali apa yang telah mereka rusak, bahwa suatu hari rimba akan kembali rimbun, kembali bernyanyi, kembali menjadi rumah bagi semua makhluk.

Tanpa hutan, bumi hanya tubuh yang sekarat. Dan tanpa bumi, manusia hanyalah makhluk yang menghitung hari menuju kehancurannya sendiri.

Aku adalah pohon yang tak lagi bernyawa. Aku telah tumbang, aku telah terseret jauh dari rumahku, tetapi kisahku belum selesai, dan tak akan pernah selesai.

Kisahku yang menjadi hikayat ini adalah peringatan, sekaligus doa agar manusia mendengar suara rimba sebelum semuanya terlambat.

Tak ada penyesalan paling pedih selain meratapi sesuatu yang sebenarnya bisa diselamatkan. Kini, setelah aku rebah dan terhempas jauh dari akar yang membesarkanku, manusia masih saja menebang dengan alasan pembangunan, sambil menutup telinga dari deru bencana yang mereka ciptakan sendiri.

Biarkan kisahku menjadi bara yang menghanguskan kelalaian itu: bahwa setiap pohon yang tumbang adalah lembar usia bumi yang dicabik tanpa belas kasihan. Dan jika manusia tetap berjalan dengan mata terpejam, maka kelak bukan hanya hutan yang akan hilang, tetapi juga seluruh masa depan yang mereka pinjam dari anak-cucu mereka sendiri. []

Artikel ini sudah terbit di majalahelipsis.id

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.