Oleh: Chudori Sukra
Seorang ilmuwan dan peneliti bahasa, Mosteller pernah menyangsikan tulisan-tulisan esai di The Federalist Papers apakah betul-betul ditulis oleh James Madisan ataukah Hamilton. Mosteller tidak menganalisis soal ide dan gagasan, melainkan dari penggunaan dan gaya bahasanya. Lalu, di kemudian hari, ia sanggup menebak perbedaan antara karya tulis yang dihasilkan dari buah tangan Hamilton maupun James Madison.
Dalam suatu acara dialog sastra di Rumah Dunia, Banten, seorang penulis Cilegon, Hafis Azhari pernah mengemukakan kesanggupan Bung Karno yang mampu membedakan antara tulisan Hatta, Sjahrir, Natsir hingga Tan Malaka. Biarpun mereka berkarya tanpa mencantumkan penulisnya, atau cukup dengan nama “Hamba Allah” saja. Hal serupa pernah terjadi pada Robert Galbraith yang menulis novel The Cuckoo’s Calling. Setelah dunia semakin akrab dengan novel-novel Harry Potter, kemudian dapatlah dipastikan bahwa ternyata sang penulis The Cuckoo’s Calling tak lain adalah J.K. Rowling. Seorang ahli stylometry membuktikan hasil analisis dan penelitiannya, yang kemudian diakui secara jujur oleh J.K. Rowling sendiri.
Penelitian pakar stylometry juga dilakukan beberapa alumni sastra Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, terutama dalam melacak karya-karya Hafis Azhari di berbagai media luring dan daring, khususnya yang berkaitan dengan karya prosa (cerpen), puisi dan esai-esainya. Tampaknya mereka melacak tentang panjang rata-rata kalimat, ritme, bahkan kata sambung yang disukai Hafis. Sampai akhirnya, beberapa cerpen yang menggunakan nama inisial, akhirnya diakui bahwa ia adalah penulisnya.
Jejak bahasa
Ketika dulu Bung Karno menghitung satu-persatu kata yang digunakan Hatta maupun Sjahrir, kini stylometry sudah melangkah bersama komputer dalam hitungan menit dan detik. Ini semacam seni tersendiri, yang kemudian disebut authorship attribution. Dapat juga dikatakan sains dan pengetahuan baru tentang membaca sang penulis berikut teks-teks yang disukainya.
Misalnya, mengenai kata sambung yang sering dipakai Hafis, seperti “untuk itu”, “jadi”, “dengan demikian” dan lain-lain. Di sini, algoritma machine learning bisa mengenali ciri dan gaya bahasanya yang khas dan unik, seakan melawan kultur berbahasa yang diwariskan oleh formalitas politik Orde Baru selama tiga dekade lebih. Selain itu, model berbasis deep learning juga bisa mengenali pola yang halus dari gaya bahasa Hafis, yang sangat akrab bagi kacamata pembaca karya-karyanya.
Karenanya, kalau ada seseorang yang menulis cerpen atau puisi anonim di internet, dan seorang lainnya menulis komentar melalui kanal Youtube atau Facebook, akan terdapat satu sistem yang dapat memetakan kemiripan dari pola bahasa Hafis dengan akurasi yang sangat menakjubkan. Karena itu, jika pun Anda berkarya mati-matian dengan memakai nama “Hafis Azhari”, maka cepat atau lama, Anda harus bersikap legowo untuk terpental dan terpelanting dari algoritma linguistik yang semakin transparan.
Di era digital ini, di mana setiap status media sosial meninggalkan jejak linguistik, anonimitas tidak lagi soal menyembunyikan nama, melainkan juga soal menyamarkan cara berpikir. Tetapi, menurut Hafis Azhari, “Sebenarnya, ketika nanti bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas, mereka akan memahami, bahwa pola berpikir seseorang adalah soal memori dan ingatan, dan pola ini tak mungkin bisa disamarkan.”
Dalam tulisan-tulisannya mengenai keislaman dan transformasi spiritual, Hafis juga membedakan antara gaya bahasa yang dipakai Al-Ghazali (Ihya Ulumuddin), Ibnu Atha’illah (Al-Hikam), Ali bin Abi Thalib (Nahjul Balaghah), hingga hadis-hadis asli (qawi) maupun lemah (dhaif) yang pernah disabdakan Nabi Muhammad. Begitu pun ketika ia mengutip pernyataan filosof, seperti Descartes, Plato, Immanuel Kant, hingga fisikawan Albert Einstein.
Jejak pikiran
Ketika memasuki jejak pikiran, maka tak lepas dari identitas penulis yang urusannya tak lagi soal linguistik, melainkan kedalaman filosofis. Tulisan-tulisan Hafis tak mungkin dilepaskan dari gaya dan refleksi berpikirnya yang selalu menolak prinsip “kebetulan”, dan karenanya pembaca yang terbiasa akrab dengan gaya sastra eksistensialisme akan dibuat kesal dan jengkel. Tetapi bagi Hafis, setiap karya tulis adalah cermin dari bentuk kejujuran yang tak bisa sepenuhnya dihindari. Ia menyangkut soal latar belakang penulis, kultur yang pernah dihidupi, bahkan tokoh-tokoh yang pernah memengaruhi pikirannya. Karya-karya Y.B. Mangunwijaya, terutama esai-esai di harian-harian nasional selama beberapa dekade, sangat kental dengan nuansa sastra yang banyak mengilhami karya-karyanya.
Kadang Hafis juga memilih kata-kata yang lebih keras dan tegas, meniru gaya Pramoedya Ananta Toer atau W.S. Rendra yang blak-blakan, tetapi sangat obyektif dalam mengkritisi sistem militerisme Orde Baru, berikut kultur yang diwariskannya. Kadang ia memilih ritme dengan pengaturan kontras dan jeda, selalu ada sesuatu yang membocorkan kepribadian, tetapi diniatkan untuk menegakkan prinsip keadilan, bukan semata-mata membuka aib atau menebar gosip dan fitnah.
Kita juga mengenali cara berpikirnya yang cepat tetapi cenderung sufistik. Kadang ia menggunakan pola berputar-putar sebelum mencapai titik inti, meskipun ia tak pernah terpengaruh oleh gaya absuriditas yang cenderung menatap realitas dengan sinis dan melankolis.
Bagi Hafis sendiri, sebagai penulis Indonesia yang pernah menggagas buku Liber Amicorum Bung Karno bersama Noam Chomsky, Peter Dale Scott dan Ben Anderson, menulis adalah tindakan paling jujur dan terbuka yang dapat dilakukan manusia tanpa harus menanggalkan seragamnya. Di sana, semua upaya penyamaran akan berakhir, karena sifat bahasa dan penggunaan kata-kata yang selalu setia kepada pemakainya.
Dalam suatu acara bedah buku di kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Hafis Azhari pernah menampik, “Sebaiknya tanyakan saja pada penulisnya.” Namun, di akhir ceramahnya, ia pun harus mengakui bahwa dalam penulisan karya sastra, orisinalitas karya tulis bukan semata-mata soal nama di sampul, melainkan soal cara berpikir yang menembus struktur kalimat. Sambil tersenyum di hadapan hadirin, ia pun menegaskan, “Seorang sastrawan boleh berpura-pura menjadi siapa saja, tapi tetap akan berbau seperti goresan pena penulisnya.”
Namun, dalam upaya pencerdasan dan kedewasaan rakyat selaku pembaca, kita pun dapat membuktikan ketulusan dan keikhlasan seorang penulis. Jadi, persoalannya bukan siapa yang menyuap dan yang disuap, juga tak perlu meng-counter sambil mencak-mencak, lalu membocorkan rahasia tentang siapa yang menulis atau bicara. Tetapi, punya motif apa, atau diniatkan untuk apa suatu tulisan hendak disampaikan ke publik?
Jika tidak ada persoalan mengenai siapa yang diserang atau yang menyerang, juga tak ada niat-niat untuk mendiskreditkan, mengkerdilkan atau membodohi umat, apalah yang perlu sibuk dipersoalkan? Bahkan, jika pun tulisan itu mencantumkan nama Bjorka, Biyangka, atau Biang Kerok sekalipun?
Dalam suatu wawancara, Hafis sendiri menyadari masyarakat kita yang suatu saat akan melek bahasa, serta memiliki kepekaan tentang pola berbahasa Indonesia yang belum genap berusia satu abad (lahir di tahun 1928). Baginya, dalam setiap kalimat yang digunakan dalam karya sastranya, ada pola-pola kecil yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya seperti pilihan kata, tanda baca, kata sambung atau kata depan yang disukai. Termasuk ritme berpikir yang secara halus menetes ke dalam teks yang disuguhkannya. Ia pun mengungkap soal jejak atau sidik jari linguistik yang tak mungkin terhapus, yang disebutnya sebagai upaya unik dalam membaca “DNA bahasa”.
Hal-hal lainnya yang dapat ditebak dari gaya bahasa Hafis adalah kesimpulan atau pemakaian paragraf akhir yang seringkali memberi solusi dan penyelesaian yang bijak, di samping ciri khasnya dalam penentuan tema. Selain dialek ibukota Jakarta yang sangat kental, ia pun memiliki ciri khas dalam penentuan tema, judul tulisan, penggunaan tanda petik, bahkan ia juga enggan memakai bahasa serapan yang memiliki padanan katanya dalam bahasa Indonesia.
Jika kita menelusuri salah satu novelnya Perasaan Orang Banten, maka detil-detil sederhana yang saya utarakan di atas dapat terbaca secara konstan. Suatu kali, ketika ia mencoba meniru gaya bahasa sastrawan atau jurnalis terkenal, tampaknya ia tetap memiliki aksennya yang khas dan unik. Seringkali ia melontarkan ungkapan yang tendensius, tajam, sekaligus halus. Bahkan, lebih halus ketimbang sidik jari yang menari-nari di depan layar komputernya. (*)
Penulis adalah Pegiat organisasi Mufakat Budaya Indonesia (MBI), pengasuh ponpes Riyadlul Fikar, Banten, juga menulis esai dan prosa untuk harian Kompas, Koran Tempo, Republika, NU Online, Jurnal Toddoppuli, RadarNTT, nusantaranews.co, ruangsastra.com dan lain-lain.







