Menimbang Persoalan Ekologi dalam Perspektif Arne Naess

oleh -119 Dilihat
Cagar Alam Mutis (Foto: RRI)
banner 468x60


Oleh: Aquilio Jeane Windy Putra

Video musik yang bertajuk “Save Our World” karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yodhoyono (SBY) mempunyai pesan yang sarat makna. Seperti judulnya “Save Our World”, lagu ini menyampaikan pesan yang mendalam tentang kesadaran ekologis, harapan baru dan kerja sama manusia untuk merawat dan menjaga ibu bumi. Bersama 35 musisi ternama tanah air, SBY mengundang masyarakat Indonesia untuk menyelamatkan bumi kita ini dari berbagai macam eksploitasi. Lagu yang diluncurkan pada Juli 2025 lalu itu bukanlah dibuat tanpa alasan.

Dilansir dari Kompas.com (01/07/2025), SBY menjelaskan bahwa peluncuran lagu itu tidak hanya pertunjukan musik saja, tetapi lebih kepada sebuah panggilan atau ajakan kepada semua orang agar say something and do something untuk lingkungan hidup yang tengah dalam proses kehancuran. Hemat saya, lagu ini menyuarakan isu lingkungan yang sedang hangat terjadi, secara khusus gejolak problematika tambang di Pulau Gag Raja Ampat dan di tempat lainnya, deforestasi (penggundulan hutan) besar-besaran di Kalimantan dan Papua untuk penanaman sawit. Sementara itu, dalam konteks NTT masyarakat yang tinggal di sekitaran Gunung Mutis khawatir akan perusakan lingkungan dan eksploitasi karena perubahan status Gunung Mutis dari Cagar Alam menjadi Taman Nasional.

Tidak hanya itu, lagu ini menjadi bentuk perlawanan terhadap model kekuasaan struktural yang melanggengkan cara-cara destruktif untuk menghisap ibu bumi demi kepentingan ekonomi semata. Pendekatan semacam ini, agaknya bersifat antroposentris dan terlampau dangkal. Oleh karena itu, dalam coretan sederhana ini, penulis akan mencoba menimbang kerusakan ekologi dalam perspektif Deep Ecology ala Arne Naess.

Deep Ecology ala Arne Naess

Arne Naes, seorang filsuf dan aktivis lingkungan ternama asal Norwegia menelurkan satu gagasan yang brilian mengenai Deep Ecology. Deep Ecology atau ekologi dalam adalah pendekatan yang melihat akar masalah dari persoalan lingkungan hidup. Hal ini muncul sebagai gerakan yang menanggapi masalah lingkungan hidup. Pandangan ini mempunyai cakupan yang holistik untuk menjaga semua keanekaragaman hayati yang ada di bumi ini.

Deep Ecology tidak menyelesaikan masalah lingkungan secara teknis, tetapi merubah pola pikir atau paradigma manusia. Seperti meningkatkan kemampuan manusia dalam menyelesaikan persoalan ekologi, mempertajam kesadaran moral, dan rasa tanggung jawab manusia terhadap seluruh kehidupan. Dengan demikian, pandangan yang mengafirmasi manusia sebagai pusat (antroposentris) tidak lagi bersarang dalam nurani manusia. Sehingga dengan pendekatan ini, persoalan kerusakan lingkungan dapat diselesaikan dari akarnya.

Gerakan ini mempunyai dua hal mendasar yang menjadi acuan dasar untuk melihat persoalan lingkungan hidup. Pertama, setiap mahluk hidup, baik yang berukuran kecil ataupun besar mempunyai nilai yang melekat dalam dirinya. Ia tidak hanya dinilai dari manfaatnya saja. Mislanya sebatang pohon atau sebuah pulau. Ia tidak tidak bisa dilihat dari kayu yang dihasilkan atau dari keindahan pulau tetapi ada satu nilai kehidupan di dalamnya. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa manusia dewasa ini hanya melihat alam atau lingkungan hidup dari spekulasi ekonomi semata.

Kedua, melihat kerusakan ekologi yang semakin masif, rasa-rasanya ada satu pola pikir yang keliru. Bahwasannya, manusia seringkali melihat dirinya sebagai pusat sehingga segala sesuata dinilai hanya dari perspektif manusia saja. Akibatnya manusia cenderung bertindak sebagai penguasa mutlak atas alam. Selain itu, gaya hidup manusia turut menentukan kelangsungan alam, misalnya dengan pola hidup konsumtif.
Melihat kedua prinsip di atas, kita juga perlu mengetahui bahwa pandangan yang berkembangan di belahan bumi lain sebetulnya menunjukan apa yang disebut sebagai gerakan ekonomi dangkal atau shallow ecology. Seperti namanya, pandangan ini sebagai gerakan yang dangkal terhadap ekologi, sehingga bukannya ekologi semakin lestari malah semakin miris.

Shallow Ecology

Shallow ecology atau ekologi dangkal tidak lebih dari pandangan pendek atau dangkal terhadap lingkungan hidup atau alam. Pendekatan ini menekankan perubahan yang didasarkan pada sikap optimisme teknologi, pertumbuhan ekonomi semata dan manajemen ilmiah. Tak pelak relasi antara manusia dan lingkungan hidup tidak begitu diperhatikan. Bagi Arne Naes, ekologi dangkal kelihatannya gagal mengatasi persoalan ekologi karena tidak menyentuh akar dari persoalan ekologi dan krisis lingkungan hidup.

Pendekatan ini hanya melestarikan dan menjaga alam untuk dikeruk atau dengan kata lain hanya dilestarikan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal yang miris dan tragis adalah pemikiran yang dangkal semacam ini justru melahirkan dan mendorong eksploitasi dan penghisapan besar-besar terhadap lingkungan hidup. Akibatnya kelangsungan dan kelestarian alam dilupakan, diabaikan dan dibuang. Hal yang sama dengan nasib anak-cucu kita pada 10 atau 20 tahun mendatang. Apakah mereka akan menikmati kebaikan alam? Atau justru menanggung penderitaan akibat kerusakan yang kita warisi?

Hemat saya, penyelesaikan persoalan ekologi kita saat ini tidak lebih dari gali lubang tutup lubang atau sistem tambal sulam. Tanpa adanya perubahan paradigma antroposentris yang menghalalkan keberadaan manusia sebagai penguasa alam. Sehingga upaya melestarikan lingkungan hidup hanya menjadi mimpi tidur siang. Kemudian kerusakan alam akan berlangsung secara struktural dan sistematis. Arne Naess mengkritisi model pendekatan ekologi dangkal dan menawarkan Deep Ecology sebagai gagasan yang menyeluruh, lengkap dan terpadu.

Catatan akhir

Lagu Save Our World karya SBY menjadi panggilan kepada manusia Indonesia agar bertanggung jawab dan menaruh hati untuk menjaga alam tercinta ini. Lagu ini bukan hanya karya musik biasa tetapi mengandung makna yang dalam. Senada dengan itu, Naess melalui pemikiran yang brillian yaitu deep ecology menunjukan gagasan yang luar biasa. Bahwasannya melestarikan dan menjaga lingkungan hidup sebetulnya dimulai dari perubahan pola pikir atau paradigma yang destruktif dan perubahan pola hidup yang ramah lingkungan.

Secara konkret, Naess menunjukan bahwa semua mahkluk hidup mempunyai nilai di dalam dirinya bukan hanya nilai ekonomi. Lingkungan hidup adalah bagian yang tidak bisa dilepas pisahkan dengan manusia. Manusia tidak berarti tanpa lingkungan hidup. Saat ini nasib lingkungan hidup ditangan kita dan tergantung kita. Jika kita menginginkan lingkungan hidup tetap lestari maka hilangkan paradigma antoposentrisme dan tinggalkan cara hidup yang merusak lingkungan. Save Our World for our life in the future !!!

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.