Batang Toru, Mansur Samin dan Harapan yang Tak Pernah Tenggelam

oleh -852 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Vitalis Wolo

Di Batang Toru, tempat kelahiran seorang penyair bernama Mansur Samin, hidup dulu pernah begitu sederhana. Orang mengenal tanah sebagai rumah, hutan sebagai pelindung, sungai sebagai berkah — bukan sebagai sumber keuntungan yang harus dikikis sampai akarnya berdarah. Namun kini, Batang Toru harus menulis bab baru dalam sejarahnya: air bah, tanah longsor dan nyawa manusia yang hilang.

Entah sejak kapan bencana alam kehilangan bentuk alaminya. Longsor tidak lagi sekadar hujan yang turun terlalu deras, tetapi hasil perhitungan bisnis yang terlalu rakus. Banjir bukan lagi soal air naik, tetapi soal pohon ditebang. Tidak perlu gelar akademik untuk memahami itu — yang kita butuhkan hanyalah kejujuran, sesuatu yang sayangnya sudah jarang ditemukan di ruang-ruang kekuasaan.

Jika Mansur Samin masih hidup untuk menyaksikannya, mungkin ia akan mengubah puisinya. Dulu ia menulis tentang gubuk sederhana, kerinduan pada kampung halaman, dan manusia yang berjuang melampaui kemiskinan. Kini ia mungkin akan berkata dengan satire pahit:

“Rumahku hanyut bukan oleh air, tetapi oleh para pemilik proyek.”

Karena begitulah tragedi bekerja di negeri ini: yang menebang tidur nyenyak; yang tertimbun menjadi statistik.

Sementara pejabat berdiri di depan kamera, mengulang kalimat standar: “Ini musibah. Kita harus tabah.” Padahal mereka lupa menyebut bagian paling penting: bencana ini adalah hasil kelalaian kolektif, bukan takdir semata. Takdir tidak pernah menandatangani izin pembalakan. Takdir tidak pernah menutup mata terhadap suap. Takdir tidak pernah memerintahkan hutan dijual demi grafik investasi.

Di balik setiap jenazah yang ditemukan, ada pohon yang ditebang bertahun-tahun sebelumnya.

Di balik setiap rumah yang tersapu, ada rapat anggaran yang terlalu berisik untuk mendengar suara masyarakat. Dan di balik setiap tangisan, ada tumpukan proposal proyek yang dielus lebih lembut dibanding nasib warga.

Tetapi meski begitu banyak yang tenggelam — harapan menolak ikut tenggelam. Inilah ironi yang justru menjadi kekuatan manusia kecil: meski paling sering disakiti, merekalah yang paling gigih bertahan.

Ketika bencana datang, rakyat saling menguatkan bahkan sebelum pemerintah selesai menyiapkan pidato. Orang-orang mengevakuasi korban dengan cangkul dan tangan kosong, karena alat berat datang terlambat — tapi kamera tidak. Anak-anak kehilangan buku sekolah, tetapi masih menghafal nama-nama teman yang belum ditemukan dengan cinta. Perempuan menanak nasi untuk dapur umum, walaupun rumah mereka sudah rata dengan tanah. Di tengah kehancuran, lahirlah solidaritas — sesuatu yang tidak pernah bisa dipesan oleh kontraktor dan tidak pernah dimasukkan dalam laporan proyek.

Di sinilah harapan itu tinggal, bukan di papan reklame pembangunan. Harapan tinggal di mata orang-orang yang berduka, yang percaya bahwa luka tidak boleh dibiarkan menjadi kebiasaan.

Batang Toru boleh retak, boleh roboh, boleh menangis — tetapi ia tidak menyerah. Dan barangkali di sanalah roh Mansur Samin paling hidup: bukan dalam bait-bait puisinya, tetapi dalam keyakinan bahwa manusia selalu punya kemampuan bangkit, sekalipun dunia berkali-kali menjatuhkan.

Bencana hari ini harus menjadi batas:
batas untuk keserakahan, batas untuk kebijakan yang membutakan, batas untuk memuji pembangunan tanpa memikirkan manusia.

Karena selama batas itu belum ada, maka air hanya menunggu waktu untuk kembali mengajar kita — dengan harga yang lebih mahal.

Namun kita memilih percaya: bahwa suatu hari Batang Toru tidak lagi dikenal karena banjir bandang, tetapi karena kebangkitannya.

Bahwa nama Mansyur Samin tidak menjadi sekadar nostalgia, tetapi kompas etika: hidup sederhana tanpa merampas hak alam dan sesama.

Bahwa tanah kelahiran penyair ini berhak mendapatkan masa depan yang damai — bukan kuburan massal akibat kezaliman yang diabaikan.

Banyak hal telah hanyut dalam bencana — rumah, ladang, masa depan, bahkan rasa aman. Namun selama harapan masih mengakar di hati orang-orangnya, Batang Toru tidak akan pernah tenggelam.

Penulis adalah Pegiat PRB di Kupang NTT

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.