Guruku Prof. Jay Berpulang

oleh -91 Dilihat
banner 468x60

๐‘ท๐’“๐’๐’‡. ๐‘ฑ๐’‚๐’š-๐‘ฎ๐’–๐’“๐’– ๐’Œ๐’–-๐‘ป๐’†๐’๐’‚๐’‰ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‘๐’–๐’๐’‚๐’๐’ˆ

Pada tahun 2013, saya menginjakkan kaki di Kota Pahlawan, Surabaya, untuk melanjutkan studi magister. Langkah itu seakan membawa saya kembali pada kenangan tujuh tahun sebelumnya-tahun 2006-ketika saya masih menjadi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) dan mengikuti kegiatan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) di kampus FKM Universitas Airlangga (Unair).

Di sana, saya tidak hanya bertemu kembali dengan atmosfer akademik yang pernah saya rasakan, tetapi juga menemukan 13 sahabat seperjalanan dalam menempuh pendidikan Magister Kesehatan Lingkungan selama dua tahun. Lebih dari itu, saya berjumpa dengan para dosen yang membentuk fondasi keilmuan kami.

Di antara mereka, ada satu sosok yang mencuri perhatian kami semua: ๐๐ซ๐จ๐Ÿ. ๐ƒ๐ซ. ๐’๐จ๐ž๐๐ฃ๐š๐ฃ๐š๐๐ข ๐Š๐ž๐ฆ๐š๐ง, ๐๐ซ., ๐Œ.๐’., ๐๐ก.๐ƒ. Seorang ilmuwan dengan keluasan keilmuan yang melintasi filsafat ilmu, toksikologi lingkungan, analisis dampak lingkungan, monitoring lingkungan, analisis risiko kesehatan lingkungan, manajemen kesehatan lingkungan, hingga biomolekuler.

Cara mengajarnya unik. Ia menghidupkan kelas dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam di tengah penjelasan, lalu menutupnya dengan celetukan khas Suroboyoan:

“PR yoโ€ฆ kamu dari mana sih kok nggak pintar-pintarโ€ฆ nanti kamu sendiri yo yang nggak lulus.”

Awalnya kami terhenyak, wajah tegang, hati berdebar. Namun seiring waktu, kami memahami: itu bukan ejekan, melainkan cara beliau memantik kesadaran bahwa belajar tidak pernah selesai. Celetukan itu justru mencairkan suasana, menghadirkan tawa, sekaligus menumbuhkan kerinduan untuk kembali ke kelasnya.

Secara pribadi, saya โ€œjatuh cintaโ€ pada sosok beliau-pada keluasan ilmunya dan integritasnya sebagai pengajar. Ia menjadi figur yang saya teladani dalam perjalanan saya sebagai dosen.

Dalam salah satu perkuliahan biomolekuler, beliau memperkenalkan metode pengambilan sampel pada manusia untuk mengkaji dampak pencemaran udara: Nasal Lavage. Ia menantang kami untuk berani menggunakan metode ini dalam penelitian untuk tesis.

Saya adalah satu-satunya yang mengambil tantangan itu.

Saat seminar proposal tesis, banyak dosen mempertanyakan pilihan saya. Metode tersebut dianggap invasif dan tidak lazim bagi peneliti berlatar belakang kesehatan masyarakat. Namun saya bertahan. Dengan argumentasi yang saya yakini, akhirnya topik itu disetujui dan saya menjadi orang pertama yang menggunakannya dalam penelitian toksikologi lingkungan di konteks tersebut. Beliau menjadi pembimbing utama saya.

Sejak itu, hubungan kami semakin dekat. Saya tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga memahami karakter, prinsip, dan keteguhan beliau sebagai ilmuwan.

Tahun 2022, saya kembali ke Surabaya, ke FKM Unair, untuk melanjutkan studi doktoral. Saya memilih topik yang sejalan dengan bidang kepakaran beliau dengan harapan bisa kembali dibimbing olehnya. Harapan itu terwujud. Ia menjadi kopromotor saya.

Namun waktu telah mengubah kondisi fisiknya. Awalnya beliau masih berjalan dengan bantuan tongkat, kemudian beralih ke kursi roda. Meski demikian, semangat dan ketajaman intelektualnya tidak pernah surut.

Satu hal yang paling saya kagumi adalah ketelitiannya. Ia akan selalu baca naskah tulisan dari cover hingga halaman terakhir dan memberikan catatan pada setiap bagian yang dikoreksi. Dalam setiap ujian, ia berdiri teguh pada prinsip keilmuannya, bahkan ketika harus berbeda pandangan dengan penguji lain. Ia memahami situasi saya, dan dengan caranya sendiri menjaga agar ruang ujian tetap โ€œdinginโ€ dan kondusif.

Beliau tegas, suaranya keras dan gaya celetukannya tetap ada dengan logat Suroboyoan, tetapi penuh kendali dan kebijaksanaan.

Beliau mengantar saya dari ujian proposal hingga ujian kelayakan, ujian ke-11 dari 13 tahap dalam perjalanan doktoral saya.

Pagi ini, saya bangun sedikit terlambat. Seperti biasa, setelah berdoa, saya membuka WhatsApp. Di sana, saya membaca kabar: beliau telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.

Hati saya tersentak. Meski saya telah mendengar bahwa kondisi beliau kritis dalam sebulan terakhir, kabar itu tetap terasa menghentak.

Pertemuan terakhir kami terjadi pada September 2025, saat ujian kelayakan. Setelah ujian, saya mengantar beliau ke kendaraan. Saat itu beliau berkata:
“Willyโ€ฆ kamu harus cepat selesai. Jangan lama-lama.”

Nada suaranya berbeda, lebih pelan, dengan senyum tipis dan mata yang berkaca-kaca.

Saya menjawab, โ€œBaik, Prof. Saya akan berupaya agar publikasi saya segera selesai dan bisa ujian tertutup.โ€

Beliau menimpali, โ€œIyaโ€ฆ semoga bisa cepat ya.โ€ Saya menjawab, โ€œBaik, Prof.โ€
Dan kata terakhir beliau, โ€œOke, sukses ya, Willy.โ€

Untuk pertama kalinya, saya menutup percakapan dengan kalimat yang tidak biasa:
โ€œProf juga sehat yaโ€ฆ tetap semangat, Prof.โ€

Hari ini, Senin (4/5/2026) kata-kata itu kembali terngiang. Ternyata di situ perjumpaan dan percakapan terakhir dengan beliau.

Selamat jalan, guru dan inspiratorku.

Saya tidak akan pernah mampu membalas jasamu Prof. Namun teladan mu akan terus hidup dalam cara saya berpikir, mengajar, dan menjalani kehidupan.

Semoga Tuhan menganugerahkan kedamaian abadi bagimu.

Oleh: William W. Lamawuran

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.