Saya menjadi moderator satu diskusi literasi di Yogyakarta, Kamis, 12 Februari 2026 dengan nara sumber tunggal dr. Ryu Hasan. Ryu Hasan menjadi nara sumber untuk berbagi pengalaman membaca. Dia konon sudah membaca 32.000 buku.
Saya mengawali dengan menjelaskan kepada audiens perjumpaan saya dengan Ryu Hasan yang ahli neorosains itu. Pada sekira 2015 ketika isu LGBT marak, saya sebagai Direktur Pemberitaan Media Indonesia menugasi redaktur rubrik humaniora mewawancarai Ryu Hasan ihwal fakta LGBT. Ryu Hasan menjawab LGBT variasi orientasi seksual, bukan penyimpangan seksual. Jawaban ini menjadi judul headline halaman humaniora.
Di rapat redaksi, saya serupa “disidang” teman-teman redaktur karena menampilkan berita yang bertentangan dengan keyakinan umum LGBT penyimpangan, penyakit.
Saya mengutip pernyataan Ryu Hasan bahwa LGBT variasi orientasi seksual di buku saya “Jurnalisme Keberagaman” (2016)
Jawaban Ryu Hasan bukan barang baru bagi saya. Ketika menjadi Kepala Biro Metro TV dan Media Indonesia Jawa Timur, Metro TV mewawancarai Dede Oetomo yang dikenal sebagai presiden gay Indonesia di Surabaya pada 2004. Dede di Surabaya “berhadapan” dengan psikolog Sartono Mukadis di Jakarta secara live. Dede mengatakan LGBT variasi orientasi seksual. Sartono memvonisnya penyimpangan seksual. Dede menyatakan akan menuntut Sartono atas pernyataannya itu. Sartono menantang dengan mengatakan bakal melayani gugatan itu.
Perjumpaan kedua saya dengan Ryu Hasan berlangsung pada 2019 ketika saya mengundangnya menjadi nara sumber training untuk juru bicara Tim Kampanye Jokowi-Amin. Saya waktu itu Direktur Komunikasi Politik sekaligus kordinator juru bicara Tim Kampanye Jokowi-Amin.
Setelah menceritakan perjumpaan saya dengan Ryu Hasan, saya memintanya mengisahkan pengalamannya membaca sampai 32.000 buku. Ryu Hasan fasih bercerita tentang serial Kho Ping Ho, Babad Tanah Jawi, Pangeran Diponegoro, hingga fenomena antropi dalam teori termodinamika.
Diskusi yang awalnya berlangsung di outdoor harus pindah ke indoor ketika hujan tiba-tiba turun. Ruangan tempat diskusi tak cukup menampung seratusan peserta diskusi sehingga sebagian mendengar daru luar ruangan.
Ryu melanjutkan kebiasaan membaca baginya adalah kutukan. Dia sukar tidur pada pada malam hari dan dia mengisinya dengan membaca, tidsk serupa kita yang mengisinya dengan main game online.
Ryu bercerita dalan satu podcast dia ditanya mengapa literasi orang Indonesia rendah serupa tentara tiarap. Ryu menjawab itu karena orang Indonesia sibuk bekerja banting tulang menyambung kehidupan sehingga tak punya waktu membaca. Indonesia termasuk negara papan atas dalam urusan jam kerja.
Karena saat diskusi berlangsung, bulan puasa hadir sepekan mendatang, Ryu Hasan mengatakan bulan puasa sebetulnya bulan kuliner. Kita cuma menggeser waktu makan dari siang ke sehabis magrib sampai menjelang subuh.
Pernyataan Ryu ada benarnya. Puasa yang mestinya membuat kita berhemat, malah membuat kita boros dalam perkara kuliner. Kita berburu ta’jil aneka rupa alias ta’jil war. Apalagi noni alias non-Islam ikutan berburu ta’jil. Konsumsi nasi mungkin berkurang, tetapi konsumsi bubur kacang hijau, kolak pisang, gorengan, dan es teler, es campur, es cincau, es cendol, meningkat.
Namun, kata Ryu, itu memutar roda ekonomi. Persis yang dikatakan Weber, agama ada kaitannya dengan spirit kapitalisme. Dalam istilah McClary dan Barro inilah yang disebut “Wealth of Religion.”
Bahwa bulan puasa sesungguhnya bulan penuh berkah kuliner mengingatkan saya pada kolom Sukidi di Majalah Tempo menjelang Lebaran 2023. Sukidi menulis Hari Raya Idul Fitri sebetulnya hari makan-makan.
Di negara-negara muslim lain, Idul Fitri dirayakan dengan makan-makan. Mungkin cuma di Indonesia Idul Fitri dirayakan dengan bermaaf-maafan, makan-makan juga tentu. Kesalahan dikoleksi setahun dulu baru saling bermaafan. Kita pun menerima maaf orang tanpa tahu dia meminta maaf atas kesalahan yang mana. Ini permintaan maaf borongan. Bukankah semestinya permohonan maaf langsung disampaikan begitu berbuat salah?
Akan tetapi, bukankah saling memaafkan bagaimanapun sangat baik? Bukankah kita bangsa pemaaf sampai koruptor pun dimaafkan asalkan mengembalikan duit hasil korupsi (sebagian boleh atau harus seluruhhya?)? Terpidana korupsi yang merayalan Idul Fitri mendapat maaf, dikurangi masa hukumannya. Bukan cuma bangsa pemaaf, kita juga bangsa pelupa. Beliau mungkin lupa beberapa waktu sebelumnya bilang koruptor bakal dikejar sampai ke Antartika. Eh tak lama kemudian, katanya, koruptor bakal diampuni.
Apalagi, ada manfaat ekonomi yang kita peroleh dengan bermaafan. Orang mudik membawa uang, membelanjakannya di kampung halaman sambil bersilaturahim, bermaafan, dengan sanak keluarga.
Selamat menikmati bulan penuh kuliner.
Selamat merayakan hari makan-makan yang tinggal 25 atau 26 hari lagi sejak tulisan ini diunggah.
Oleh: Usman Kansong
Penulis adalah Jurnalis Senior


