Wanita Senewen di Stasiun Cilegon

oleh -317 Dilihat
banner 468x60

PONSEL saya biarkan tergeletak dan beberapa kali berdering, namun saya malas mengangkatnya. Beberapa buku yang saya beli di toko beberapa hari lalu juga hanya satu yang saya baca hingga selesai. Selebihnya, cuma dibaca beberapa halaman saja, apalagi yang satu hanya karya terjemahan yang membuat saya jengkel karena penerbit seakan asal-asalan menunjuk seorang penerjemah. Dering ponsel terus berlanjut seperti memaksakan kehendak, sampai akhirnya saya bangkit untuk mengangkatnya.

Tadinya saya mengira dari Syakira anak saya yang kuliah di semester kedua UGM. Atau dari ibu saya yang rada-rada ganjen dengan teknologi mutakhir, dan segala model ponsel dicobanya jika ia sedang berbelanja ke Pasar Baru, lalu mampir ke toko ponsel milik Ci Narti, teman karibnya sejak dulu.

Tapi, suara milik siapakah yang menghubungi nomor saya kali ini? Terdengar begitu merdu dengan tarikan nafas yang lembut dan anggun?

“Halo?”

“Ya, siapa ya?”

“Halo?”

“Ya, saya dengar.”

“Rinto, ya? Ini Monic… Monica… masih ingat kan?”

Saya terdiam, hening sejenak, seraya mengingat-ingat nama yang disebutkan. Monica, siapakah dia? Sepertinya saya belum pernah kenal dengan seorang wanita bernama Monica? Dari nada suaranya, sepertinya dia bukan orang Indo, Jawa atau Madura?

“Bisa bicara dengan Rinto?”

“Ya, saya sendiri,” tegas saya lagi.

Dari aksennya, suara ini seperti seorang wanita Sunda Parahyangan. Tapi ada sedikit medoknya seperti logat Bali. Secara pribadi, saya memang tak pernah merisaukan wanita dari suku manapun. Bagi saya sama saja, Sunda, Jawa, Makassar, Bali, atau Indo sekalipun. Saya selalu akrab bicara dengan siapa pun, bahkan golongan kasta dan kelas apapun. Tapi di sisi lain, saya juga termasuk sebal dan gak tahan berlama-lama bicara dengan orang yang berbeda pendapat atau berseberangan paham dengan saya.

Ada saja orang menilai bahwa saya termasuk orang yang obsesif terhadap suatu kehendak dan keinginan. Meskipun tidak sedikit orang menilai saya lembek dan lamban, padahal saya termasuk orang yang gampang marah juga. Bahkan, kadang saya tega menghina lawan bicara, sampai akhirnya saya sadar bahwa kata-kata itu sebentuk penghinaan. Kalau saya berjalan melintasi perempatan, atau menuju minimarket, tidak sedikit orang yang mengenal dan menyapa saya. Hal itu bukan lantaran kepintaran saya dalam bergaul, tapi mungkin karena model rambut saya yang agak ikal dan keriting berombak, atau warna bola mata saya yang agak kebiruan.

Seorang bos di restoran masakan Padang pernah menepuk pundak saya, “Pak, wah enggak salah lagi, saya pernah lihat penampilan Bapak waktu baca puisi di alun-alun beberapa tahun lalu, iya kan?”

Dengan berlagak wibawa, saya mengangguk pelan mengiyakan. Padahal, boro-boro membaca puisi, wong meniru-niru gaya Afrizal, Sutardji dan Jokpin, serta menulis puisi gaya sufi model Abdul Hadi dan Ahmadun saja kelimpungan setengah mati? Lalu, siapa sih Monica ini? Teman kuliah sayakah? Atau teman di perpustakaan daerah atau lembaga kebudayaan yang sering saya kunjungikah? Atau, boleh jadi temannya Lusi, mantan istri saya?

“Wah, sulit sekali saya dapat nomor kamu, Rinto Mulyana. Saya sudah menghubungi beberapa nomor yang diakhiri dengan kata Mulyana, seperti R. Mulyana, Roni Mulyana, bahkan juga Rinto M. Ternyata bukan kamu.”

“Lalu?”

“Saya mengenal seorang wanita di acara pameran buku, lalu saya tanyakan nama Rinto Mulyana. Walaupun tadinya dia keberatan, tapi akhirnya dia kasih juga nomor ini.”

“Jadi, di mana kamu sekarang?”

“Di sini, stasiun Cilegon, setelah menempuh hampir lima jam perjalanan dari Jakarta. Waduh, panas sekali di stasiun sini.”

“Maklumlah, di sini kan kota industri. Jadi, sama siapa kamu ke sini?”

“Sendirian, Rinto! Waduh, gerah sekali… semua badan saya berkeringat, sampai ke bawah-bawah hihi… halo?”

“Ya, saya dengar.”

“Jadi, bagaimana Rinto? Apakah kamu kaget saya datang ke stasiun Cilegon ini sendirian, tanpa memberitahu kamu sebelumnya?”

Saya diam terpaku. Selembar tisu saya ambil dari atas meja, lalu saya menyeka kening yang mulai berkeringat. Bagaimana pun, suara wanita ini begitu merdu, mendesah bahkan menantang. Tapi di sisi lain, saya harus terus mengulik siapa perempuan sinting ini kok tiba-tiba menelepon saya, tanpa saya kenal sebelumnya.

“Apa yang bisa saya bantu, Moni…”

“Monica!”

“Ya, Monica.”

“Jadi begini, Rinto… wah, beruntung sekali, akhirnya saya ketemu juga dengan kamu. Selama ini, saya mencari-cari kamu, saya betul-betul ingat, terpesona, dan selalu mengenang nama kamu, bahkan dalam tidur saya sekalipun… Rinto?”

“Ya, terus aja ngomong, saya dengar kok.”

Sekali lagi saya menyeka wajah dengan dua lembar tisu. Selama ini, saya memang bicara dengan siapa saja, perempuan mana saja. Meskipun saya terbilang ketus ketika menghadapi lawan bicara, itu pun ketika saya menghadapi sosok laki-laki. Tetapi, dengan perempuan, saya termasuk pantangan melukai hati perempuan. Kalaupun pernah sesekali saya lakukan dengan mantan istri dulu, rasa menyesal pada diri terus berlanjut sedemikian lamanya.

Di sisi lain, saya termasuk tipikal pemalas, tak suka keluyuran atau mencari-cari tempat hiburan. Hampir semua urusan, selama masih bisa diselesaikan melalui ponsel, tak mau saya keluar meninggalkan rumah.

“Rinto, tolong jemput saya dong,” pinta wanita itu lagi.

“Kapan?” tanya saya.

“Kok kapan? Ya sekarang, di stasiun Cilegon.”

“Sekarang? Tapi… nanti dulu….”

Saya agak ragu dan gerogi. Pikiran saya diselimuti kekalutan untuk menimbang-nimbang, apakah harus ke stasiun atau tidak? Cuaca siang itu sedemikian panasnya. Terik matahari menggantung di atas langit. Sepertinya wanita ini begitu meyakinkan, seakan tak percaya kalau saya merasa segan untuk keluar rumah.

“Jadi, di mana kita mesti ketemu?” tanya saya agak ragu.

“Oh, terima kasih banyak, Rinto, kamu memang baik sekali. Selalu tepat dugaan saya selama ini. Bisa kan kamu jemput saya sekarang?”

“Oke, di mana?”

“Oh, Rinto, saya enggak begitu kenal wilayah kota Cilegon. Kita ketemu di depan stasiun saja… persis di depan stasiun Cilegon, oke?”

“Baik, saya ke situ sekarang.”

“Ooh, Rinto.”

Aneh sekali? Siapa sih perempuan ini? Kalaupun dia seorang senewen, saya cukup sering mengenal perempuan senewen yang sedang dimabuk cinta? Untuk itu, Lusi mantan istri saya, sering kalap dan uring-uringan kalau berurusan dengan perempuan semacam itu. “Kalau ada perempuan sableng mengetuk pintu malam-malam, selalu saja yang ditanyakan itu kamu! Dasar laki-laki gila… kalian memang sama-sama gilanya!”

“Tapi Lusi, dia itu penulis muda yang mau merundingkan naskah sastra yang mau ditayangkan melalui media massa?”

“Taik kucing! Apa enggak ada waktu siang? Lalu, buat apa Tuhan menciptakan siang dan malam kalau begitu? Apakah mau dibolak-balik, malam dijadikan siang, begitu? Bagaimana pun, dia itu perempuan celamitan yang tergila-gila sama kamu, yang sama-sama orang senewen!”

Sambil mengendarai mobil kijang tua yang saya miliki, saya meluncur ke stasiun Cilegon. Di sepanjang jalan saya mencoba menghimpun serpihan-serpihan memori mengenai Monica yang suaranya merdu dan mendesah itu. Katanya, dia datang dari ibukota Jakarta, tak mengenal wilayah Cilegon? Dari logatnya nampak lembut kesunda-sundaan?

Sepertinya, dia membutuhkan pertolongan atau perlindungan, atau, ah sudahlah.

Selama ini, hanya Syakira-lah Tuhan mengaruniai anak semata wayang dari istri saya, Lusi, yang kemudian dibesarkan oleh keluarganya. Tapi, kami berhubungan baik dengannya bahkan hingga ia melanjutkan kuliah di UGM. Bahwa saya kadang bersahabat dengan beberapa wanita sinting yang bergiat di bidang teater, fotografi maupun sastra, hal itu menjadi lumrah adanya. Namun, boleh jadi itu bukan sesuatu yang wajar bagi Lusi dan pihak keluarganya. Tak apalah.

Tapi suara Monica yang saya dengar ini, sepertinya bukanlah salah satu dari tipikal wanita sinting yang pernah saya kenal itu? Lalu, siapakah dia?

Mestinya, tadi saya ganti baju dulu sebelum berjumpa dengan Monica. Saat itu, saya merasa kurang puas dengan penampilan seadanya. Hanya mengenakan kemeja abu-abu yang agak lusuh, celana hitam dan sandal swallow. Dulu, ketika saya bercerai dengan Lusi, Ibu merasa jengkel pada saya sambil menyemprot ketus, “To, orang seperti kamu itu pantasnya kawin sama tukang laundry saja deh.”

Lusi sendiri adalah anak seorang karyawan di perusahaan BUMN terkenal, dan dia sendiri adalah PNS yang kadang saya menyebutnya sebagai “kuli” jika terjadi pertengkaran sengit dengannya. Sebagai pekerja seni yang cenderung independen, dan selalu mencari kemerdekaan dalam berkarya, saya mengenal tipikal orang-orang rigid yang bekerja sebagai pegawai yang tak beda perannya dengan kuli panggul yang berkasta sudra. Pernyataan ini pantang saya lontarkan kecuali jika percekcokan kian memuncak, yang kadang melibatkan pelampiasan amarah kepada anak kami, Syakira.

Daripada menghadapi situasi berlarut-larut, lebih baik saya mengalah dan mencari pelampiasan lain dengan mengunjungi perpustakaan atau lembaga kebudayaan, kemudian saling bertukar pikiran dengan sahabat-sahabat seniman dan wartawan di sana.

Kadang saya juga meluncur ke arah barat di Pelabuhan Merak, sambil menenteng kamera dan mengambil gambar-gambar suasana laut di sore hari, ketika sinar mentari senja berikut kapal-kapal nelayan begitu enak dan asyik dipandang mata. Singkat cerita, kisah kami berakhir dengan perceraian, setelah tujuh tahun hidup bersama sebagaimana layaknya pasangan yang kadang diselimuti rasa benci dan caci-maki, tapi seringkali juga dihiasi rasa cinta dan rindu.

Kini, bangunan stasiun kota Cilegon sudah kelihatan. Pelan-pelan saya mengendarai mobil untuk sampai di depan pintu utama. Siapa sih sebenarnya wanita ini? Rasa penasaran terus berkecamuk: kalau nanti saya tidak mengenalnya, lantas bagaimana? Atau barangkali saya pernah kenal tapi raut mukanya berubah dan sulit untuk dikenali lagi? Apalagi disebabkan varian-varian Corona belakangan ini, yang menimbulkan pandangan mata agak buram dan kabur. Ataukah memang raut muka yang kian berubah, hingga saya agak sulit mengenali beberapa teman lama yang sudah bertahun-tahun tak berjumpa?

Saya turun dari mobil dan melangkah menuju pintu utama dengan badan agak membungkuk. Kedua tangan saya masukkan ke kantong celana. Wanita itu segera berdiri, keluar pintu stasiun, dan menghambur memeluk saya, “Rinto! Ya ampuuun, sudah lama sekali saya pengen ketemu kamu… akhirnya kita kesampaian juga….”

Saya jadi gelagapan sendiri. Hanya beberapa detik saya terkesima. Sekelebat ingatan masa lalu terlintas di pikiran saya.

Monica ini memiliki nama lengkap Monica Rizkia. Dia adalah istri Arya Permady, seorang orator dan tokoh filsafat politik di Indonesia yang suaranya vokal dan lantang bila tampil di layar teve. Ia juga dikenal dengan bukunya, “Filsafat Barat dan Kejayaan Machiavelli”. Secara akademik, ia juga dikenal sebagai profesor di bidang politik dan filsafat Indonesia. Saya pernah berjumpa Monica di acara makan siang, ketika rehat acara seminar di mana Arya suaminya bertindak selaku pembicara tunggal. Acara seminar itu bertajuk, “Peran Filsafat Israel untuk Kemajuan Politik Indonesia”.

Saat itu, saya diminta panitia untuk bertugas sebagai fotografer, yang kemudian menyempatkan diri bercakap-cakap dengan Monica setelah acara makan siang.

Bagaimanapun, Monica Rizkia adalah seorang wanita terhormat, istri seorang guru besar yang banyak mendalami pemikiran politik dan filsafat eksistensialisme, juga gandrung pada pemikiran Albert Camus, Jean Paul Sartre, Machiavelli, hingga sejarawan Yahudi, Yuval Noah Harari. Beberapa tahun terakhir, ia dikenal di kalangan mahasiswa berkat buku filsafatnya yang langsung masuk dalam jajaran best seller. Saya pernah membeli bukunya di sebuah toko buku di samping kampus Untirta, Banten.

Seketika itu, saya terkesiap sambil menggaruk-garuk tengkuk berujar, “Tapi Bu Monic, bagaimana Ibu bisa sampai ke stasiun Cilegon ini, lalu…”

Wanita itu memotong perkataan saya. Dia meraih lengan saya, lalu menatap saya dengan kedua matanya yang cokelat, terpoles indah dengan maskara. Dulu, rambutnya hitam legam dan mengkilap, tetapi kali ini ia berambut agak pirang seperti wanita 30-an tahun. Bibirnya merah bergincu, dan postur tubuhnya terlihat begitu seksi.

Sekilas saya melihat tas dan koper besar yang dibawanya, masih tergeletak di bawah bangku stasiun, yang tadi didudukinya.

“Bagaimana, kamu baik-baik saja kan, Rinto? Sekarang saya memutuskan hidup sendirian. Bagaimana dengan kamu, enggak pernah rujuk dengan istrimu, kan?”

Saya tidak menjawab. Hanya bertanya dengan heran, kenapa dia bisa datang sendirian dengan membawa tas dan koper besar itu.

“Waduuh, berat sekali , Rinto. Punggung saya capek banget membawa koper besar itu.”

Saya mengajaknya duduk di bangku, agar dia lebih leluasa menjelaskan apa yang sedang terjadi.

“Jadi begini, saya ini kabur dari rumah, Rinto. Saya selalu ingat kamu, ingat nama kamu, meskipun saya enggak tahu alamat kamu di mana, tapi saya yakin suatu saat akan berjumpa dengan kamu, dan impian itu pun akhirnya tercapai sudah.

Ia menarik nafas, berdehem beberapa kali, dan lanjutnya, “Apa yang kita bicarakan setelah makan siang itu benar, Rinto. Waktu itu, kamu membaca kepribadian saya yang menyukai petualangan, cinta dan eksotisme. Ya, persis sekali, semua itu ada pada diri saya. Bagi saya, enggak ada laki-laki yang bisa mengerti saya kecuali kamu, Rinto. Kalau saja saya enggak kawin dengan laki-laki bajingan itu, maka mekarlah sang gadis bidadari cantik dengan segala keelokannya. Sebagai gadis cantik yang merupakan anugerah terindah dari semesta dan jagat raya ini. Tetapi dia, si Arya brengsek itu, tahu-tahu hanya mencintai buku-bukunya, mencintai komputernya, juga mobil-mobilnya. Politisi dan profesor sinting itu cuma laki-laki menyebalkan dan menjengkelkan. Topik pembicaraannya selalu yang itu-itu saja. Lagi-lagi soal politik dan suksesi pemilu, ditambah bumbu-bumbu pemanis tentang tetek-bengek filsafat politik Israel. Dia memang dihormati oleh banyak orang, anak-anak mahasiswa juga, kecuali saya. Seminar, dialog dan segala debat-debat kusir, sudah membosankan. Sebenarnya, saya menikah dan dijadikan istri, cuma untuk menemani dia di acara-acara brengsek semacam itu.”

Dia menyandarkan kepala di bahu saya, dan lanjutnya dengan suara mengiba, “Tapi, Rinto, kamu ngerti kan seberapa lama saya bisa bertahan menghadapi segala dusta dan kepura-puraan ini? Oh, Rinto, kamu bisa melihat wajah saya kalau kita bicara, tetapi dia? Kamu pasti paham bagaimana orang macam dia memperlakukan perempuan di negeri ini, di dunia ini. Waktu itu, ketika kita bercakap-cakap setelah acara makan siang, kamu duduk di sebelahnya. Tapi, saya melihat bahwa kamu tidak seperti yang lainnya. Orang-orang merasa tertarik sama dia, tetapi saya… terus terang, Rinto, saya hanya tertarik sama kamu. Itulah yang membuat saya sampai datang ke stasiun ini, saat ini juga….”

“Tapi, kamu datang ke sini dengan membawa tas dan koper besar seperti itu. Apakah kamu mau lama bermain-main di sini, lalu tinggal di penginapan, begitu?”

“Bukan begitu, tolonglah mengerti, Rinto.” Monica menarik tangan saya keras-keras. Nada bicaranya semakin sendu dan mengiba.

“Jadi, tujuan kamu datang ke sini…”

“Hanya karena kamu, Rinto, tolonglah mengerti, saya ke sini hanya ingin ketemu sama kamu…”

“Jadi, maksud kamu?”

“Ingin hidup bersamamu, Rinto! Karena enggak ada laki-laki lain di hati saya kecuali hanya dirimu, oh Rinto….”

Ia memeluk saya erat-erat, dan saya pun gelagapan untuk ke sekian kalinya. Sambil menarik nafas panjang, saya menangkupkan kedua tangan di atas kepala. Sepintas saya mengenang kembali suami Monica saat pertemuan itu. Dia seorang pakar politik dan filsafat Barat, juga pengagum berat pemikiran eksistensialisme. Sedangkan Monica, seorang wanita ekstrovert yang menyukai eksplorasi dan petualangan. Keduanya adalah pasangan yang kontras, karena di satu sisi cantik, ayu nan menawan, tetapi di pihak suami berwajah garang, angkuh, berkacamata tebal dan kepalanya agak botak. Mereka tak memiliki anak, selama sebelas tahun berumah-tangga.

Seketika muncul berbagai teka-teki yang menyelimuti benak saya. Apakah suaminya tahu dia kabur dari rumah? Ataukah dia hanya meninggalkan selembar kertas di atas meja? Apakah suaminya yang profesor dan orang terhormat itu, pantas ditinggalkan begitu saja? Kenapa perempuan ini seakan tidak merasa bersalah, sebagaimana tokoh Amy dalam film Gone Girl?

Untuk mengimbangi keadaan, saya pun mengingat tipikal suaminya yang kata-katanya ketus dan blak-blakan dengan siapa saja. Sebagai pakar filsafat tentu ia berpikir rasional dalam segala hal. Sebagai politisi kawakan, keangkuhan intelektualnya kadang terkesan meremehkan, termasuk aksennya yang janggal dalam gaya bahasa yang dituturkannya.

Lalu, apa alasan Monica menikah dengan laki-laki perlente dan menyebalkan semacam itu?

Tapi bagaimana pun, saya tak berhak mendikte secara berlebihan, namun di sisi lain saya juga enggak mau mengambil risiko terlalu jauh. Suaminya yang vokal dalam berbicara, punya jawaban atas segala pertanyaan, juga punya banyak murid yang menghormatinya. Koneksinya juga cukup banyak, terutama dengan pengacara terkenal dari Medan yang bernama Herman Francais. Cukup banyak mahasiswa semester awal yang mengenali pemikirannya, bahkan mengikuti ajarannya.

Saya terdiam sesaat, lalu tanya saya lagi, “Jadi, kamu membawa koper dan tas itu karena ingin hidup dengan saya, dan tinggal di kota Cilegon ini?”

“Iya, seperti itu, Rinto,” jawabnya sendu dan genit.

Lalu, saya pun segera menghardik, “Kenapa kamu sampai nekat begitu? Apa kamu enggak paham risikonya bagaimana nanti?”

Ia menarik nafas dan menghempaskan punggungnya. Senyuman di wajah Monica tiba-tiba memudar. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan ekspresi yang kaku dan ringkih. Tampaknya, ia semakin mengerti apa yang saya maksudkan.

“Tapi, saya pengen hidup bersama kamu, Rinto,” rengeknya lagi.

“Enggak bisa, Monic, dan enggak mungkin,” kata saya menggeleng, “bagaimana pun kamu punya suami, dan suamimu itu bukan sembarang orang? Dia dikenal publik secara luas, ngerti enggak kamu?”

Tak berapa lama, saya mengantarnya masuk kembali ke dalam stasiun. Segera saya membelikannya tiket untuk jadwal keberangkatan kereta berikutnya. Wanita itu berjalan sempoyongan seperti tak sadarkan diri. Semua kekuatan yang ada padanya seakan musnah dalam sejekap. Rambutnya yang tertata rapi kini terurai berantakan. Lipstik yang terpoles di bibirnya kian memudar.

Monica naik ke dalam gerbong kereta tanpa menoleh ke belakang lagi. Saya mengangkat tas dan koper yang berat itu, dan menaruhnya di atas bagasi. Seketika saya membayangkan, bahwa dalam beberapa jam ke depan, profesor di bidang politik dan filsafat Israel itu akan menerima istrinya kembali dalam pelukan. Saya menatap kepergian kereta itu dengan perasaan iba. Monica duduk terpaku di dekat jendela. Ia bahkan tidak melambaikan tangan dan tak mengucapkan salam perpisahan sama sekali.

Beberapa tahun kemudian, setelah era pandemi Covid-19, saya berjumpa kembali dengan keduanya dalam suatu seminar yang bertema, “Filsafat Barat yang Mengakibatkan Resesi Seks di Indonesia.”

Ketika Profesor Arya Permady membahas tema itu dengan susah-payah, Monica menghampiri tempat duduk saya sambil berkata pelan, “Rinto, maafkan saya atas kejadian di stasiun itu.”

“Iya, enggak apa-apa,” kata saya mengangguk.

“Tapi, ngomong-ngomong, apakah kamu masih sendirian?”

“Lho? Emang kenapa?”

Monica mengambil posisi duduk, mendekatkan wajahnya ke arah saya, sambil berbisik,” Sebenarnya saya sudah bercerai resmi sejak dua tahun lalu. Saya disuruh datang ke sini hanya untuk menemani dia, juga untuk menunjukkan ke publik bahwa status kami masih suami-istri.”

“Adduh biyuuung!”

***

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Peneliti dan pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten, juga aktif menulis prosa dan esai sastra di berbagai media nasional, luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.