Wanita dan Para Politisi 

oleh -1797 Dilihat
banner 468x60

Di hotel Le Dian, Banten, ketika saya mengikuti acara pertemuan sastrawan milenial selama tiga hari, sore itu tepat Pk. 17.00 para penulis muda sedang asyik beristirahat, meski kebanyakan menuju lantai bawah untuk berenang. Angin sepoi-sepoi musim hujan berembus. Saya mengisi acara pada esok hari sebagai salah satu pembicara seminar tentang pendidikan sastra milenial di Indonesia.

Usia saya memasuki dekade ketiga, sedang semangat-semangatnya dengan imajinasi, juga sangat gandrung pada buku-buku sastra, bahkan aktif mengikuti perkembangan sastra, khususnya di Radar NTT.

Sore itu, saya sedang asyik duduk di balkon sambil menyesap kopi, juga membaca ulang sebuah buku menarik tentang hubungan Nabi Sulaiman dengan Ratu Saba (Bilqis), serta kemahiran keduanya dalam menghimpun pundi-pundi kekayaan dan kekuasaan duniawi.

Seketika mata saya mendelik karena merasa ada orang yang memerhatikan saya dari balkon di seberang sana. Saya tutup buku sambil menengadah. Di balkon sana, pada ketinggian yang sama dengan kamar hotel saya, saya melihat seorang wanita muda cantik dengan tubuh sintal dan gemulai, sedang memancangkan pandangannya ke arah saya. Sontak saya mengangkat tangan dan melambai, lalu tiba-tiba dia membalas lambaian seraya masuk menuju kamar hotelnya.

“Ah, sialan,” kata saya membatin. Lalu, saya pun membuka kembali lembaran-lembaran buku. Namun, sekitar lima menit kemudian tiba-tiba wanita itu muncul lagi, serta-merta melambaikan tangannya ke arah saya, sambil asyik duduk-duduk di kursi dek.

Sepertinya, ia pun sedang membuka-buka majalah di tangannya, atau barangkali hanya pura-pura membaca seperti saya. Tak berapa lama, saya mencoba memberi tanda dan isyarat. “Ah, sepertinya dia semakin memberi perhatian,” pikir saya. Tiba-tiba ia berpose supaya saya bisa menikmati tontonan menarik pada tubuhnya yang aduhai. Meskipun saya tak bisa melihat jelas wajahnya, tapi tubuhnya yang gemulai dan sintal, serta rambutnya yang hitam terurai hingga bahu, membuat saya makin penasaran dibuatnya.

Sejenak saya menuju kamar, sambil mengintai lewat daun jendela. Lalu, seketika saya keluar hingga menangkap ia sedang menatap ke arah balkon saya. Maka, saya pun memberi lambaian berikutnya, dan ia pun membalas kembali lambaian saya.

Tentu tak terdetik dalam pikiran saya untuk bercakap-cakap sambil berteriak. Saya hanya mengangkat telunjuk dan menempelkannya ke daun telinga, serta membuat gerakan berputar yang, tentu semua orang paham, bahwa itu adalah isyarat untuk menelpon. Wanita itu membalas dengan menurunkan kepalanya pada bahu, lalu mendongakkan wajahnya seakan-akan ia bertanya. Saya memberi isyarat akan menelponnya sekali lagi, tetapi ia pun membalas dengan gerakan yang sama.

Dengan rasa jengkel, saya masuk ke kamar, mencabut kabel telpon dan membawanya menuju balkon. Seketika saya angkat telpon tinggi-tinggi, lalu terlihat kepalanya mengagguk, seakan memberi isyarat bahwa ia sangat setuju.

Sekarang saya sudah mendapat lampu hijau untuk menelepon si cantik di seberang sana. Tapi masalahnya, berapa nomor telponnya. Maka, saya pun beraksi lagi menggunakan bahasa isyarat. Sekarang dia mulai memberi isyarat balik, dengan menggunakan jari telunjuk, serta mengguratkan hieroglif di udara.

Saya mulai menangkap beberapa nomor, seakan ia tengah membacakannya dengan fasih. Ia mengulang sekali lagi, seolah-olah menantang saya untuk memecahkan kode-kode rahasia, sampai akhirnya saya berhasil mendapatkan sebelas nomor yang dibutuhkan.

Berarti ini nomor ponsel, pikir saya. Maka, saya pun segera masuk kamar, mengambit ponsel dari meja lalu segera memencet sebelas nomor yang dimaksudkan.

Setelah nada sambung terdengar, maka suara pun muncul: “Halooowww!”

Tapi, itu suara laki-laki yang mirip suara bas yang mengguntur. Seketika saya merasa ragu, apakah ada yang salah pada nomor yang diisyaratkan wanita itu?

“Hallow! Siapa ini?” sambung suara laki-laki sember itu, dengan nada antara marah, kesal dan tergesa-gesa.

“Eee… anu… apa di sini nomor 558?”

“Apa? Enggak kedengaran… ngomong yang keras… mau bicara dengan siapa, Bos?”

Ia mengatakan “Bos” yang dimaksudkan sebagai ejekan, bukan sanjungan. Bahkan, dia pun menyuruh ngomong yang keras, bukan menggunakan kata-kata, “tolong suaranya agak keras sedikit”.

Dengan tingkahnya yang angkuh dan emosional, saya pun membalas dengan suara tergagap: “Eee… anu… ini bukan perempuan yang…”

“Perempuan yang mana, tolol!” teriaknya ketus. “Kamu sengaja memencet nomor ini, lalu mau bicara sama perempuan… jadi, cewek mana yang kamu maksud, bangsat!”

Suara laki-laki yang mengguntur itu kini mengandung ancaman. Lalu, bagaimana saya harus menjelaskan sesuatu pada orang yang tak mau mengerti, bahkan orang yang tak mau mendengar omongan orang lain?

“Eh, anu… jadi, ini bukan nomor telpon perempuan yang di seberang itu, ya?”

Laki-laki itu nampak semakin gusar, dan sambarnya lagi, “Perempuan yang di seberang apa? Di seberang kali atau jembatan, bangsat! Yang mau kamu cari pelacur model apa… atau model kamu ini pantasnya main sama perek di jembatan atau banci yang keluyuran di Tanah Abang sana! Coba, jangan ganggu kami, semua orang di sini sedang sibuk, tahu?”

Sepertinya ia menutup ponselnya cepat-cepat. Saya pun meletakkan ponsel di atas meja, sambil merutuk dalam hati perihal orang yang tak mengenal budaya dan peradaban tersebut.

Saya berbaring menyerapahi wanita brengsek yang tak mau repot-repot mengangkat ponselnya sendiri. Atau barangkali saya terburu-buru menelponnya, tanpa memerlukan jeda waktu tertentu. Dengan begitu, laki-laki dengan suara menggelegar itu cepat-cepat mengangkat ponsel wanita cantik itu, dan dengan mudah dapat menjangkaunya, lalu berdalih bahwa mereka semua sedang sibuk.

Tapi, seberapa pentingnya orang sibuk? Saya pun juga sedang sibuk, mengisi acara seminar sebagai pembicara, berbagi ilmu pada generasi muda perihal perkembangan sastra milenial, khususnya mengenai banyak cerpen menarik yang bertebaran di media daring akhir-akhir ini. Tapi, orang itu merasa dirinya paling sibuk di dunia ini. Sebegitunyakah?

Seketika saya berimajinasi, membayangkan laki-laki itu berwajah bulat dan tembem, perut buncit, hidung menonjol seperti kue risol, wajah kemerah-merahan, nafas ngos-ngosan dengan dahi berkerut dipenuhi keringat. Dia seakan telah memberi saya pukulan telak lewat suara lantangnya di ponsel, yang membuat saya merasa tertekan untuk membalas dendam.

Saya mencoba kembali ke balkon, namun wanita cantik itu sudah tidak ada di tempat. Barangkali dia sedang berdiri di samping laki-laki gendut itu, menunggu dengan cemas kemungkinan saya ingin menelpon kembali. Dengan semangat baru, tetapi masih diiringi kegentaran, saya kembali memencet sebelas nomor itu.

“Ya, hallowww! Siapa ini?!”

Kembali saya tutup ponsel dengan perasaan ngeri dan waswas. Seketika saya membatin, kenapa laki-laki jelek dan tembem itu yang mengangkat? Saya mencoba ingin mengulik nama wanita itu, tapi apakah etis bertanya langsung kepada manusia gua yang suaranya menggelegar itu?

Terbersit dalam pikiran saya untuk mencari tahu nomor hotel berikut telpon meja yang ada di dalamnya. Saya pun berhasil menemukan buku panduan dari laci. Namun sayang, dalam buku berwarna hijau itu tak ada halaman mengenai nomor-nomor telpon di seluruh kamar hotel. Tapi, tentu saja perusahaan besar seperti telkom atau bank punya. Nah, kebetulan saya punya teman karib, Yanto, yang bekerja di perusahaan Telkom kota Serang. Saya menunggu sampai waktu jam istirahat, sekitar Pk. 12.00 untuk segera menelpon Yanto, dan dia pun membalas.

“Halo, Fren. Wah, lama sekali kita enggak ketemu, aku kangen banget… ada perlu apa nih, Fren?”

“Weeh, saya juga lama banget enggak denger suaramu, tambah merdu aja… kira-kira kapan kita bisa ketemu lagi, nih?”

“Wah, kalau aku sih kapan saja siap. Kalaupun harus menjemput di depan pintu rumahmu, kapan saja selalu siap, Sobat.”

Teman karib saya itu, yang selama ini saya kenal memang seperti itulah keadaannya. Orangnya ceplas-ceplos, sederhana, dan tidak neko-neko. Secara pribadi, saya tak pernah merasa ragu untuk ngomong apa saja. Bahkan, untuk meminta nomor telpon yang keperluannya tetap saya rahasiakan, dia tak pernah sangsi atas niat-niat baik yang selalu saya tonjolkan di hadapannya.

“Saya ingin minta bantuan lagi nih, Fren…”

“Siap, apa yang bisa saya bantu, Sobat?” sahutnya merdu.

Setelah menarik nafas panjang, saya pun mengutarakan niatan saya agar mencarikan nama pemilik nomor yang kemudian saya sebutkan nomornya satu persatu. Dalam selang lima menit saja, Yanto pun menelpon balik, “Pemilik nomor itu adalah Widya Ratnasary. Widya-nya pake Y, juga Ratnasari-nya pake Y. Ngomong-ngomong, namanya menarik juga, sudah kenal lama nih?”

“Ah, pengen tau aza,” canda saya. “Oke baik, terima kasih, Fren. Mudah-mudahan setelah acara seminar sastra ini, saya akan menyempatkan diri ke rumahmu, sekali lagi terimakasih banyak, ya.”

“Baik, sama-sama, sampai ketemu nanti.”

Setelah menghela nafas dengan tatapan menerawang, saya pun memencet nomor Widya, namun kemudian terdengar suara lagi. “Hallooow!” si manusia gua menggelegar lagi.

Tanpa ragu-ragu, dengan suara nyaring dan melengking, saya sudah mempersiapkan beberapa patah kata yang mengandung perintah dan sindiran sekaligus, “Coba, saya mau bicara dengan Widya Ratnasary. Apakah ponselnya bisa diberikan kepada Widya? Apakah ini sopirnya, atau tukang kebunnya?”

“Siapa ini? Suara yang kemarin itu, ya?”

Kebiasaan menanyakan siapa ini membuat saya merasa jengkel. Supaya dia bingung, saya katakan saja, “Saya ini sejenis homo sapiens atau Imam Mahdi yang diutus untuk memberantas dajjal-dajjal seperti Anda.”

“Sebetulnya siapa Anda ini, Bung, dari kemarin menelpon nomor ini, lalu bicara soal perempuan di seberang sana, apa maksudnya?”

“Saya mau tanya, bukankah ini nomornya Widya Ratnasary, saya mau ngomong sama dia,” tegas saya.

“Wah, maaf Pak,” tiba-tiba suaranya agak tergagap, “Ibu Widya memang tinggal di kamar hotel ini sebulan yang lalu, tapi sekarang saya tidak tahu kabar beritanya…”

“Yang mau saya tanyakan bukan soal kabar beritanya, tetapi ponsel di tangan  Anda ini adalah milik beliau. Ada apa dengan Anda dan tim Anda yang sedang sibuk ini? Apa yang kalian sibukkan?”

Dia menutup ponselnya, kemudian saya telpon balik berkali-kali namun ia tetap tak mengangkatnya. Tak lama kemudian, saya memakai nomor baru, dan ia pun mengangkatnya.

“Hallooowww.”

Saya menutup ponsel dengan sapu tangan, biar suara yang terdengar agak berbeda dari yang sudah-sudah. Lalu, saya pun bertanya dengan suara dibesar-besarkan, “Apakah saya boleh bicara dengan Widya?”

“Widya siapa?” ia pura-pura tidak tahu.

“Widya Ratnasary,” tegas saya.

“Maaf Pak, Widya sudah tidak tinggal di hotel ini sejak sebulan lalu.”

“Apakah ini Pak Salim, Bang Jali atau Pak Majid?”

“Bukan, bukan, Pak. Ibu Widya sejak sebulan lalu sudah tidak lagi tinggal di hotel ini. Mungkin sekarang dia tinggal bersama keluarganya, saya kurang tahu. Sekarang kami enggak berurusan lagi dengan dia…”

“Lho? Kok kami? Saya bicara dengan Anda, bukan dengan tim Anda? Jadi, siapakah Anda ini? Kenapa nomornya Widya Ratnasary berada di tangan Anda?”

Dia terdiam sejenak, kemudian katanya lagi sambil menahan amarah, “Pak, kami ini orang politik. Di sini kami sedang sibuk mengadakan rapat konsolidasi antar partai. Tiba-tiba Bapak menanyakan perempuan di seberang sana, yang tak ada hubungannya dengan fraksi kami, juga tak ada kontribusinya bagi tim sukses kami. Lalu, apa yang Bapak inginkan?”

“Oo, jadi kalian sedang rapat tim sukses untuk pemenangan pemilu mendatang? Jadi, kalian ini dari kubu mana? Apakah cebong, kampret, ataukah kadal gurun?”

Hening sejenak. Ia menarik nafas panjang, bagaikan menarik udara dari atmosfer agar tak kekurangan oksigen. Di puncak kemarahannya, laki-laki itu seakan tercekik oleh kemurkaannya sendiri.

Seperti orang kesurupan ia menjerit-jerit melontarkan sumpah serapah yang berhamburan dari mulutnya: “Setan! Bangsat kamu ini, ya? Sudah enggak ada kontribusinya buat tim sukses kami, lalu kami harus buang-buang waktu untuk meladeni omongan kamu selama ini? He, anjing! Sudah berapa banyak kami habiskan waktu untuk meladeni kamu? Kurang ajar kamu, ya? Berapa banyak energi yang dihamburkan untuk melayani anjing keparat seperti kamu! Di selatan, tim kami sudah keok oleh lawan politik, sementara di utara sedang ketar-ketir menghamburkan dana milyaran, hanya untuk nongkrong di cafe risol dan martabak. Sedangkan, mereka hanya sibuk membicarakan anjing keparat seperti kamu, ngerti?”

Suaranya terus menggelegar, sambil melontarkan segala bentuk ancaman dan sumpah-serapah. Dengan sabar saya terus menunggu, dan membiarkan suasana hening sejenak. Lalu, ia menurunkan nada suaranya dan bertanya, “Sebetulnya apa yang kamu inginkan dengan mendatangi hotel ini?”

Saya pun menjawab spontan, “Saya sedang mengisi acara seminar.”

“Seminar apa?” pancingnya lagi.

“Seminar tentang kita…”

“Tentang kita?”

“Ya, tentang sastra milenial dan pendidikan manusia Indonesia.”

“Maksudnya?”

Saya pun menjelaskan bahwa siang nanti akan menjadi pembicara seminar dengan tema sastra dan pendidikan, bahwa hakikatnya manusia Indonesia itu terlahir dalam keadaan kurang pengetahuan (ignorant) dan bukan bodoh (stupid), namun kemudian pendidikan-lah yang membuat mereka menjadi orang-orang bodoh.

“Apakah benar pendidikan kita membuat orang menjadi bodoh?” tanyanya heran.

“Lebih tepatnya, sistem pendidikan-lah yang membuat manusia Indonesia menjadi bodoh dan dungu. Sedangkan, sistem pendidikan itu didesain oleh orang-orang politik seperti kalian.”

Seketika itu, ia kembali mencaci-maki saya, sampai kemudian saya tak lagi mendengar suara apa pun dari ponselnya. ***

Oleh: Supadilah Iskandar

Penulis adalah peneliti dan penikmat sastra mutakhir Indonesia, karya-karya saya telah menyebar di berbagai media nasional, baik luring maupun daring.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.