Oleh: Indah Noviariesta
Bagaikan wanita gelandangan yang hamil tua dalam cerpen Danarto (Kecubung Pengasihan), nampaknya tokoh “Yanti” dalam novel Jenderal Tua dan Kucing Belang juga diilhami dari fenomena kaum gelandangan di republik ini. Yanti adalah anak seorang binatu, Halimah, yang bekerja di rumah seorang jenderal militer, setelah ia mendengar kabar kematian suaminya selaku tahanan politik yang dikucilkan di Pulau Buru, di era tahun 1970-an.
Beberapa tahun kemudian, Bu Halimah berhenti dari rumah majikannya untuk membesarkan Yanti, anak semata wayangnya, sambil membuka sebuah warung makan di samping rumahnya. Menginjak sang anak kelas satu SMP, warung makan Bu Halimah mengalami kemajuan pesat dengan mempekerjakan 15 karyawan, termasuk 9 orang tukang masak (koki). Di era tahun 1990-an, Bu Halimah mempercayakan pengelolaan warungnya kepada sang adik, Mbak Susi, karena ia cukup berhasil menyekolahkan Yanti hingga menjadi pramugari di suatu industri penerbangan komersil.
Kemajuan warung makan Bu Halimah bukannya tanpa halang rintang, mengingat di era 1980-an sedang kuat-kuatnya pemerintahan militerisme Orde Baru. Kadang beberapa orang berseragam datang, lalu mengaku-ngaku sebagai intel Hankam. Kadang juga beberapa orang mengaku utusan Kopkamtib lalu menodong harus mengeluarkan sejumlah uang untuk biaya keamanan. Banyak ujian dan cobaan yang dihadapi Bu Halimah dan Mbak Susi adiknya, dalam menjalankan usahanya.
Pasca tahun 2000-an, Yanti semakin merambah profesinya di bidang layanan penerbangan, hingga menjadi seorang pramugari senior yang bergaji puluhan juta. Halimah ibunya telah meninggal dunia pada tahun 2004 di usia 65 tahun. Yanti sempat mendampingi kematian ibunya di rumah sakit, serta mendengar apa-apa yang diwasiatkan olehnya. Meskipun wasiat itu bukan berupa peninggalan harta kekayaan, namun mengandung pesan moral yang mendalam di benak Yanti sebagai anak.
Yanti berhubungan baik dengan keluarga bibinya, Mbak Susi, yang diikhlaskan melanjutkan pengelolaan rumah makan yang ditinggalkan almarhum Bu Halimah. Yanti tinggal sendirian di sebuah rumah besar peninggalan ibunya, ditemani oleh tiga orang pembantu yang mencuci pakaian, memasak hingga menyiram tanaman di kebun dan taman sekitar halaman. Dua kucing belang piaraannya, diurus oleh salah seorang pembantunya yang memberi makan dan minum tiap pagi dan sore hari. Seringkali Yanti menyempatkan diri memandikan dua ekor kucing itu, merawat bulu-bulunya hingga tumbuh dengan lebat dan elok.
Belasan tahun Yanti mengabdi di industri penerbangan, semakin paham ia mengenai profesi yang digelutinya. Ia memahami manajemen perusahaannya, semakin mengenal banyak orang baik, termasuk mereka yang pura-pura baik dan korup. Ia semakin peka memahami apa-apa yang berada di balik peristiwa kecelakaan penerbangan, bahkan sanggup menyelidiki sejauh mana peran politisi dan penguasa dI balik carut-marutnya manajemen layanan penerbangan akhir-akhir ini.
Suatu pagi, sebelum berangkat kerja, Yanti sempat berbincang-bincang sebentar dengan salah seorang pembantunya yang sedang menyiram tanaman di halaman, “Pak Hasan, selama kerja di rumah ini, saya melihat Bapak adalah satu-satunya pegawai kami yang rajin melakukan sembahyang. Apakah Bapak percaya pada Tuhan?”
“Tentu percaya dong, Mbak Yanti,” jawabnya sambil tersenyum.
“Bapak yakin, Tuhan itu menolong Bapak selama ini?”
“Iya dong Mbak, bagaimana pun Bapak selalu berdoa supaya Allah Ta’ala menolong kita semua.”
“Allah Ta’ala? Allah Ta’ala itu siapa?”
Sambil menerawang dan menunjuk ke atas langit, Pak Hasan menjawab, “Allah itu Maha Tinggi, Maha Agung… Maha Menolong kita semua…”
“Maha Pengasih dan Penyayang juga?”
“Iya tentu, Mbak Yanti….”
Pembicaraan sampai di situ. Hanya beberapa kalimat percakapan, namun membuat Pak Hasan tak seperti biasanya duduk tertegun selama berjam-jam, setelah menyelesaikan tugasnya di pagi hari itu.
Yang tak kalah menarik pada novel setebal 250 halaman itu, ketika pada bab 13 Yanti memutuskan hengkang dari pekerjaannya selaku pramugari. Hal itu bermula ketika ia tersentak pada memori masa lalunya, saat mendampingi hari-hari akhir kematian Halimah ibunya. Ia tak sempat menjalankan wasiat orang tuanya agar mengurus dan membiayai anak tetangganya, yang kemudian mati karena depresi dan sakit jiwa (skizofrenia) yang dialaminya selama belasan tahun.
Bermula ketika salah satu pesawat di industri penerbangannya mengalami kecelakaan di perairan Karawang, di atas ketinggian 3.000 kaki. Kecelakaan tragis itu menewaskan sekitar 181 penumpang berikut 8 awak pesawat. Beberapa bulan kemudian, Yanti banting stir untuk turun ke jalanan, merasa terenyuh menyaksikan kaum gelandangan, orang-orang sakit jiwa, termasuk perempuan-perempuan hamil dengan gangguan jiwa yang menggelandang di jalanan.
Pada prinsipnya, novel Jenderal Tua dan Kucing Belang, tidak secara eksplisit menyoal atheisme baru (new atheist) yang kian marak dianut generasi muda milenial akhir-akhir ini. Di sisi lain, nampak pula realisme sosial yang mencolok ketimbang cerpen “Kecubung Pengasihan” yang bertaburan metafora dan simbol-simbol. Yanti benar-benar menghidupi dan merawat para perempuan hamil itu. Bahkan, menghidupi 12 anak bayi yang lahir dari perut para perempuan sakit jiwa tersebut. Mereka diasuh sebagai anak kandungnya sendiri, diberi susu dan asupan makanan bergizi. Ia pun tidak menginginkan bayi-bayi asuhannya tumbuh dengan kekurangan nutrisi, sehingga mengalami stunting seperti kebanyakan dialami bayi-bayi di negeri ini.
“Apakah Mbak Yanti percaya pada Allah? Apakah Mbak Yanti melakukan salat?” Pak Hasan balik bertanya di suatu sore, ketika mentari akan tenggelam. Namun, Yanti tidak menjawabnya secara lugas dan mendetil. Sehingga Pak Hasan memandang majikannya dengan tatapan berkaca-kaca.
Novel tersebut tidak mempersoalkan secara hukum perihal siapa para lelaki yang menghamili perempuan gila di jalanan tersebut. Sang tokoh hanya menemukan puluhan perempuan bunting, yang tentu disebabkan laki-laki brengsek dan “kurang ajar” yang telah menghamilinya. Bukan rumusan metafora dalam kerangka dialog dalam aliran Dadaisme. Juga bukan gambaran dalam cerpen-cerpen Danarto yang surrealis, seakan-akan perempuan itu mengandung rahim semesta lantaran telah menikah dengan para nabi dan rasul.
Hafis Azhari seakan ingin menampilkan ketegaran sosok Yanti yang humanis dan rela berjuang tanpa pamrih. Yanti adalah wanita tegar setegar almarhum ibunya, atau barangkali setegar almarhum ayahnya, Bang Jafar yang dulu pernah menjadi anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) dan wafat selaku tahanan politik di Pulau Buru. Setidaknya, itulah gambaran identitas keindonesiaan yang mewarisi napak-tilas semangat sosialisme hingga nasionalisme religius. Perjuangan Yanti untuk merawat dan membesarkan 12 anak asuhnya, justru mengalami hambatan dan rintangan di zaman reformasi politik modern Indonesia. Hingga terjadilah perdebatan panjang antara dirinya, dengan aparat pemerintah yang mendukung pegawai Dinas Sosial agar menyerahkan bayi-bayi tersebut ke suatu lembaga sosial.
“Apakah Anda akan menggantikan peran Tuhan dengan mengasuh bayi-bayi itu?” secara tendensius seorang pegawai pemerintah melontarkan gugatannya.
“Saya hanya berbuat apa yang bisa diperbuat,” tegas Yanti di hadapan mereka. “Mestinya negara yang bertanggung jawab mengurus para gelandangan dan anak-anak telantar, tapi mana tanggung jawab kalian?”
“Justru itu, kami yang akan mengurus bayi-bayi ini dengan membawa mereka ke lembaga pengasuhan anak?”
“Lalu, di mana peran kalian selama ini? Para wanita hamil itu kami yang menampung, kami yang memberi asupan gizi. Bahkan kami yang membayar tenaga ahli untuk persalinan mereka? Bayi-bayi itu anak-anak kami, biarkan kami yang mengasuh dan mendidik mereka hingga mereka besar.”
“Tapi kamu tak bisa menggantikan peran Tuhan, Yanti?”
“Tak usah bicara Tuhan!” bentak Yanti, “Buat apa kalian mengatasnamakan Tuhan untuk suatu perbuatan yang bisa dikerjakan oleh tangan kalian sendiri? Di mana tanggung jawab kalian?!”
“Lalu, dari mana Anda punya biaya untuk mengasuh mereka semua?”
Pertanyaan ini dibalikkan oleh Yanti dengan tepat mengenai sasaran, “Justru kami yang pantas bertanya pada kalian, dipakai untuk apa uang yang ada di dinas sosial maupun badan-badan pemerintah, kalau tidak dipakai untuk peruntukan yang lebih prioritas, seperti mengurus mereka yang terlantar?” (Gugatan ini boleh saja kita lanjutkan: untuk pemilu-kah?)
Dialog-dialog pada novel tersebut mengalir dengan lancar, apa adanya, bukan dialog-dialog klise yang bersifat metafora (prosa) yang njelimet dan sulit dimengerti. Meskipun para tokohnya datang dari berbagai daerah, namun logat dan dialeknya sangat khas Jakarta, lantaran seting lokasinya juga di sekitar Banten dan ibukota Jakarta.
Di sini nampak wasiat sang ibu (Halimah) yang memberi energi dan menyemangati kemauan Yanti yang menggebu-gebu. Wasiat itu seakan mengejawantahkan mukjizat, yang membuat Yanti bertindak pantang menyerah, tak kenal patah arang. Ia menyiratkan unsur prosaik yang menantang universalitas, lantaran nilai-nilai religiositas yang mendalam. Novel tersebut telah menjawab pertanyaan krusial yang banyak dipersoalkan generasi milenial akhir-akhir ini: di mana peran Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang itu? Apakah kualitas kebaikan itu harus dikerjakan oleh tangan seorang Yanti, sementara Tuhan membiarkan diri-Nya berpangku tangan saja?
Apakah Tuhan terlibat dalam amal perbuatan manusia? Ataukah Tuhan sendiri yang menciptakan perbuatan, serta menciptakan apa yang diperbuat oleh tangan-tangan manusia? Jika segalanya adalah Tuhan, yang mengetuk pintu adalah Tuhan, pintunya adalah Tuhan, bahkan bunyi ketukan itu sendiri adalah Tuhan, lalu apakah makna perjuangan dan pengorbanan manusia selama ini?
Di sisi lain, gugatan terhadap sistem pemerintah yang korup menjadi problem serius juga. Di mana peran dan fungsi mereka sebagai pelayan umat? Kenapa Tuhan membiarkan mereka bertindak koruptif sambil memakai agama sebagai alat legitimasi, bahkan memberhalakan simbol-simbol sebagai alat pemolitikan Tuhan semata? (*)
Penulis adalah pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa).







