Sisi Lain Syekh Nawawi Al-Bantani

oleh -1505 Dilihat
banner 468x60

Ayahnya hanya seorang ustad yang mengajar ngaji, bernama Umar bin Arabi, sedangkan ibunya Zubaidah, hanya seorang ibu rumah-tangga biasa. Syekh Nawawi tumbuh dewasa dalam asuhan mereka, kemudian menikah dengan gadis sekampung halamannya di Tanara (Nasimah) dan dikaruniai tiga orang puteri yang diberi nama Nafisah, Maryam dan Rabi’ah.

Sejak usia lima tahun, Nawawi sudah dibekali ilmu-ilmu agama dari ayahnya. Ia diperintahkan agar mempelajari pengetahuan dasar tentang bahasa Arab, nahwu-sharaf, kemudian meningkat pada kitab-kitab fiqih, tafsir hingga tasawuf. Di usia delapan tahun, Nawawi sudah belajar ilmu-ilmu agama dari Kiai Sahal, salah seorang ulama besar di Banten Utara. Sampai kemudian, ia terus berpetualang menuntut ilmu hingga kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta.

Di usia limabelas tahun, Nawawi sudah berperan selaku ustad dan kiai yang mendidik para santri. Saat itu, ia memutuskan mendirikan saung di pinggir pantai, sambil mengajar santrinya, seakan mengingatkan kita pada petuah dan ajaran Nabi Khidir di kala Nabi Musa berguru kepadanya.

Sambil mendidik para santrinya, Syekh Nawawi tak merasa puas dengan kapasitas keilmuannya, lalu berguru lagi ke berbagai pelosok hingga ke negeri Arab. Ia pernah menimba ilmu dari Syekh Khatib al-Syambasi, Sayyid Ahmad Nahrawi, Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Zainuddin Aceh, Syekh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, hingga Syekh Abdurrahman al-Falimbangi.

Ketika menunaikan ibadah haji ke Mekah, Nawawi pernah memutuskan untuk tinggal di sana. Kedewasaannya semakin tumbuh, wawasan keilmuannya semakin matang. Setelah tiga tahun belajar ke berbagai guru di Mekah, ia pun pulang ke kampung halamannya (Tanara), dan ia merasa kecewa menyaksikan pendudukan Belanda yang semakin menggalakkan eksploitasi terhadap sumber daya manusia, hingga sumber daya alam Banten dan Nusantara. Ia memperhatikan adanya praktik-praktik kesewenangan dan ketidakadilan, bahkan penindasan terhadap rakyat kecil yang dimarjinalkan.

Kini, pengajaran yang bersifat sufistik semakin bergeser kepada upaya pendidikan rakyat agar memahami posisi dirinya yang terpinggirkan. Konsep “jihad” yang dikumandangkan semakin menunjukkan taringnya. Kesadaran rakyat dibangkitkan. Hak-hak dan tanggungjawab sebagai manusia yang berdaulat dikobarkan. Ditegaskan kepada para santrinya, bahwa adil itu identik dengan takwa. Pihak manapun yang memanfaatkan ketidakadilan sebagai motor penggeraknya, harus dilawan dan disingkirkan dari bumi Nusantara. Sebab, bertindak sewenang-wenang, berarti mengabaikan perintah “takwa” yang digariskan dalam teks-teks suci Al-Quran.

Sontak saja pihak penjajah merasa kalang kabut dan kebakaran jenggot. Siapa gerangan pengajar dan intelektual dari Tanara yang bertubuh pendek itu? Kenapa masjid-masjid sebagai sarana ibadah, tidak cukup dengan kegiatan zikir dan aktivitas tarekat saja, akan tetapi Nawawi Tanara memanfaatkan mimbar khotbah untuk bicara soal ketakwaan dan menyoal ketidakadilan?

Syekh Nawawi terus berdakwah keliling Banten, sambil mengobarkan perlawanan terhadap pendudukan kaum penjajah. Sampai kemudian, ultimatum Hindia Belanda memberlakukan “cekal” terhadap siapapun yang mempersoalkan keadilan di masjid-masjid. Bagi siapa yang bicara soal keadilan di “tempat pelanggaran”, maka ia telah melawan pihak Hindia Belanda.

Eksplorasi dakwah terus dikobarkan. Nawawi kemudian dicap sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang telah dibuang dan dikucilkan oleh pihak Belanda (1825-1830 M). Upaya pengejaran dan perburuan diberlakukan, Nawawi dituduh sebagai biang dari maraknya Gerakan Pengaco Keamanan (GPK) di jelujur pantai utara hingga selatan Banten. Di kemudian hari, kita pun mengenal tokoh-tokoh penting dari para kiai dan ulama di sekitar pantai utara Cilegon, yang merupakan murid Syekh Nawawi, termasuk para ujung-tombak pejuang Geger Cilegon (1888 M), di antaranya Kiai Wasid, Tubagus Ismail, Kiai Arsyad Qashir, Haji Haris, Haji Abdurrahman, hingga Haji Aqib.

Sejak itulah marak adanya pelarangan khutbah Jumat di wilayah Cilegon, Serang dan sekitarnya, hingga kemudian masjid diidentikkan sebagai tempat pelanggaran (Langgar), lalu pesantren tempat menimba ilmu dijuluki sebagai “Pondok Rombeng” (Pondok Jelek). Di awal tahun 1830-an, pengejaran dan perburuan atas diri Syekh Nawawi menjadi sia-sia belaka. Pihak penjajah sudah pasang ancang-ancang untuk memblack-list Syekh Nawawi layaknya Pangeran Diponegoro di tempat pengasingan. Ia sudah keburu hengkang dari tanah Tanara, dan memutuskan menetap di Syaib Ali, kota Mekah.

Di daerah Syaib Ali, Syekh Nawawi mulai mengajar para muridnya di halaman depan rumah yang sederhana. Karena kemahiran ilmu dan luasnya wawasan keislaman, muridnya kian bertambah, dari belasan, hingga ratusan murid membanjiri kediamannya. Sejak itulah ia semakin masyhur dikenal sebagai Nawawi dari Banten (Nawawi Al-Bantani). Ia semakin dikenal piawai dalam ilmu-ilmu agama, terutama tentang tauhid dan tasawuf. Nama Syekh Nawawi al-Bantani semakin tersiar hingga di kalangan pejabat dan pemerintahan Arab Saudi.

Lambat laun, ia pun ditunjuk sebagai pengganti Syekh Achmad Khatib Al-Syambasi atau Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Setelah beberapa kali menjadi imam Masjidil Haram, serta kitab-kitab yang ditulisnya, ia pun semakin dikenal sebagai ulama besar di Suriah, Mesir, Turki, hingga ke negeri India (Hindustan).

Di India, ia dikenal sebagai ulama besar dari tanah Jawa (Nawawi al-Jawwi). Karena keluasan pengetahuannya dalam soal keislaman, ia dikenal banyak menginspirasi para ulama yang datang dari berbagai penjuru negeri di wilayah Nusantara juga. Lalu, berdatangan murid-murid yang kemudian dikenal sebagai ulama dan waliullah, di antaranya Syekh Khalil Bangkalan (Madura), Abuya Asnawi Caringin (Labuan), Syekh Arsyad Thawil (Cilegon), hingga pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyekh Hasyim Asy’ari (Jombang).

Selain pelajaran agama, Syekh Nawawi mengajarkan makna kemerdekaan, anti kolonialisme dan Imperialisme dengan cara-cara elegan, sesuai dengan akhlak Rasulullah Saw. Ia pun dikenal banyak mencetak kader patriotik yang di kemudian hari mampu menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan. Perjuangan yang dilakukan Syekh Nawawi memang bukan dalam bentuk revolusi fisik, akan tetapi lewat revolusi pendidikan dalam menumbuhkan semangat kebangkitan dan jiwa nasionalisme.

Upaya pembinaan terhadap komunitas orang-orang Jawa (al-Jawwi) di Mekkah juga menjadi perhatian serius. Hingga komunitas al-Jawwi dikenal terampil dan produktif. Melalui bimbingan dan pembinaan Syekh Nawawi, telah dimunculkan kader-kader yang mumpuni, para alumni yang memiliki integritas keilmuan, agama dan jiwa nasionalisme. Lagi-lagi, pihak Belanda menjadi kalang kabut dan ketar-ketir untuk ke sekian kalinya.

Akhirnya, pemerintah Hindia Belanda tak mungkin menempuh jalan kekerasan, atau bahkan pengasingan seperti yang pernah diberlakukan atas Pangeran Diponegoro. Untuk menghadapi si kancil Nawawi, mau tidak mau mereka mengutus seseorang yang disebutnya “penasihat pemerintah”, yakni Christian Snouck Hurgronje, yang kemudian diutus ke Mekah untuk menyelidiki komunitas al-Jawwi (1884-1885). Ia ingin meneliti dan melihat secara langsung berbagai aktivitas kegiatan yang dilakukan para ulama yang datang dari Jawa dan Nusantara.

Karena kepiawaian dan kecerdasan Syekh Nawawi, pihak Belanda tak dapat berkutik ketika ia dinobatkan berbagai gelar penting di Arab Saudi, di antaranya sebagai tokoh ulama abad ke-14 Hijriyah yang memahami seluk-beluk keislaman secara mendalam (al-Imam wal Fahmil Mudaqqiq), ulama dua kota suci (al-Imam al-Haramain), bahkan Snouck Hurgronje sendiri memberinya gelar “Doktor Ketuhanan”.

Seorang ulama besar dari Mesir, Syekh Umar Abdul Jabbar, dalam kitabnya “al-Durus min Madhi al-Ta’lim wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Haram” juga mengkaji fenomena Syekh Nawawi sebagai manusia langka yang sanggup menulis ratusan judul karya tulis dari berbagai disiplin ilmu, termasuk buku-buku yang mengomentari kitab-kitab klasik.

Kita juga mengenal karya tafsirnya yang genial, yakni “Tafsir al-Munir” yang dikenal sebagai tafsir yang mengungguli kebesaran Tafsir Jalalain. Sementara, karya-karyanya di bidang tauhid adalah Tijan ad-Darary, Nur al-Dhalam, Fath al-Majid. Di bidang ilmu hadis, kita mengenal Tanqih al-Qaul, juga di bidang fiqih sangat fenomenal, yakni Sullam al-Munajah, Nihayah al-Zain, Kasyifah al-Saja, dan yang sangat terkenal di kalangan para santri di Jawa yaitu Syarah ’Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain. Selain itu, karya yang sangat masyhur di bidang sufi dan tasawuf adalah Qami’u al-Thugyan, Minhaj ar-Raghibi, hingga Nashaih al-‘Ibad.

Syekh Nawawi al-Bantani wafat di Mekah pada 1897 Masehi, tepatnya tanggal 25 Syawal 1314 Hijriyah, dan dikebumikan di Jannatul Mu’alla, bersebelahan dengan makam puteri sahabat Nabi, Asma bin Abu Bakar as-Shiddiq. Meski wafat di Jazirah Arab, namun hingga kini selalu diadakan haul akbar, atau peringatan wafatnya Syekh Nawawi, tepatnya di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara di kabupaten Serang, yang diasuh oleh Wakil Presiden, K.H. Ma’ruf Amin.

Salah satu karomah Syekh Nawawi al-Bantani sebagai penulis, pemikir dan intelektual muslim, di antaranya jasad beliau masih utuh hingga saat ini. Di Arab Saudi, biasanya pemerintah memberlakukan kebijakan, bahwa orang yang telah wafat selama setahun, kuburannya harus digali. Tulang belulang diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Kemudian, semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang semula dibongkar dibiarkan tetap terbuka, sampai kemudian jenazah berikutnya datang silih berganti.

Kebijakan tersebut diberlakukan tanpa pandang bulu, hingga tibalah waktunya harus memindahkan tulang-belulang di sekitar pekuburan almarhum Syekh Nawawi al-Bantani.

Namun apalah daya, para penggali kubur merasa takjub dan terbengong-bengong, ketika menyaksikan sesosok tubuh manusia yang masih utuh. Bahkan, kain kafannya masih tetap putih dan bersih. Jasad yang masih utuh itu diperiksa dengan seksama, yang ternyata adalah wajah senyum Syekh Nawawi al-Bantani. (*) 

Oleh: Hafis Azhari / Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.