Segenggam Pagi untuk Kekasih

oleh -132 Dilihat
banner 468x60

Aku selalu percaya bahwa pagi adalah sesuatu yang bisa digenggam, meski orang-orang di kota ini menganggapnya hanya sebagai jeda singkat sebelum deru mesin kembali mengambil alih dunia. Keyakinan itu datang diam-diam, seperti embun yang tidak pernah meminta perhatian. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang tak disadari orang lain. Dari cara cahaya merayap pelan di sela jendela posku. Dari cara udara menyentuh kulit dengan kejujuran yang tak dimiliki siang.

Setiap hari, dari balik pos palang pintu kereta yang catnya mengelupas seperti kulit waktu yang kelelahan, aku menyaksikan pagi lahir dengan ragu-ragu. Ia tidak pernah benar-benar
datang utuh, seperti seseorang yang setengah hati mencintai hidupnya sendiri. Sebagian tubuhnya tertahan oleh asap pabrik yang menggantung rendah di langit. Sebagian lagi terjebak di sela gedung-gedung tinggi yang rakus cahaya. Sisanya jatuh ke tanah, diinjak oleh langkah-langkah yang terburu-buru.

Aku berdiri di sana, seperti penjaga perbatasan antara terang dan gelap, antara harapan dan pengulangan yang melelahkan. Tanganku terbiasa mengangkat dan menurunkan palang, seolah-olah aku sedang mengatur nasib orang lain. Namun aku sendiri tidak pernah tahu ke mana hidupku bergerak. Aku hanya tahu kapan kereta datang dan kapan ia pergi. “Selebihnya, aku hanya menunggu,” bisikku suatu pagi.

Kereta pertama melintas pukul lima lewat dua belas menit, dengan suara yang seperti doa yang terburu-buru. Dentangnya mengguncang udara, memecah kesunyian yang masih setengah utuh. Orang-orang berlarian, menyeret koper, menyelipkan kecemasan ke dalam saku mereka. Tak ada yang sempat menoleh ke langit yang sedang berusaha menjadi indah. Mereka terlalu sibuk mengejar sesuatu yang bahkan mereka sendiri tak pernah benar-benar mengerti.

Mereka lupa bahwa langit masih mencoba berbicara dengan bahasa yang lebih jujur dari angka dan jadwal. Mereka lupa bahwa bahagia tidak selalu datang dalam bentuk keberhasilan. Dan aku, yang setiap hari menyaksikan semua itu, mulai merasa bahwa hidup ini hanyalah rangkaian palang yang naik dan turun. Ia memberi jalan bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar tiba. “Seperti hidupku,” gumamku lirih.

Kekasihku, Dewi Kusuma. Ia pernah berkata kepadaku bahwa aku terlalu lama berdiri di tempat yang sama. Ia mengatakan bahwa aku telah menjadi bagian dari rutinitas yang kutonton sendiri. Katanya, dunia tidak sesederhana rel lurus yang hanya mengenal arah maju. “Kau bukan palang pintu, kau manusia,” ucapnya suatu sore. Kata-katanya menetap lebih lama dari suara kereta mana pun.

Ia selalu begitu, penuh gagasan seperti buku yang tak pernah selesai dibaca. Matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Seakan-akan ia tahu bahwa hidup ini lebih luas dari sekadar jadwal keberangkatan dan kedatangan. Suaranya seperti angin yang menyentuh bagian terdalam dari pikiranku. Ia tidak mengubah hidupku, tetapi ia menggoyahkan cara aku memandangnya.

Aku jatuh cinta padanya bukan karena ia membuat hidupku indah seperti cerita. Aku jatuhcinta karena ia membuat hidupku terasa mungkin untuk diubah. Ia membuka celah kecil didalam diriku yang selama ini tertutup rapat. Dari celah itu, cahaya masuk perlahan. “Kalaukau mau, kau bisa pergi dari semua ini,” katanya suatu kali, dan aku tidak pernahbenar-benar menjawabnya.

Suatu hari, ketika langit masih setengah tertidur dan cahaya pertama menyelinap seperti anak kecil yang takut dimarahi, aku membuka jendela kecil di pos penjagaan. Udara masuk perlahan, membawa bau logam, asap, dan sesuatu yang lebih lembut. Sesuatu itu tidak bisa dijelaskan, tetapi bisa dirasakan. Aku mengulurkan tangan, ragu-ragu seperti seseorang yang mencoba percaya lagi. “Kalau pagi ini bisa kugenggam, akan kuberikan padamu,” bisikku.

Ia hangat, tipis, dan berkilau samar seperti kenangan yang belum sempat menjadi masa lalu. Aku menggenggamnya dengan hati-hati, takut ia akan pecah seperti mimpi. Ia berdenyut pelan, seperti jantung yang baru belajar berdetak. Aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Seperti hidup yang akhirnya menyentuhku balik.

Dengan hati-hati, aku memasukkannya ke dalam sebuah tupperware bening yang biasa kupakai untuk bekal. Wadah itu kini terasa seperti peti kecil untuk sesuatu yang sakral. Aku menutupnya perlahan, seolah-olah sedang menjaga rahasia besar. Di dalamnya, pagi berpendar seperti harapan yang akhirnya punya bentuk. “Ini untukmu, Dewi,” kataku pelan, meski ia tidak ada di sana.

Aku membayangkan wajahnya ketika menerima hadiah itu, dan bayangan itu membuat dadaku terasa penuh. Mungkin ia akan tertawa kecil, menganggapku gila dengan cara yang lembut. Mungkin ia akan diam, lalu menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar benda. Aku tidak tahu pasti bagaimana reaksinya. Namun untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku memiliki arah. Namun kota tidak pernah membiarkan sesuatu yang indah bertahan terlalu lama dalam genggaman manusia.

Ketika aku menutup jendela, sebuah bayangan melintas cepat di atas kepala. Dari gedung pencakar langit yang menjulang seperti ambisi yang tak pernah puas, sebuah jala dilemparkan. Jala itu berkilau seperti keserakahan yang terorganisir. Dan dalam sekejap, ia merenggut isi tupperwareku. Aku terpaku, seperti seseorang yang kehilangan masa depan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Tanganku kosong, dan kekosongan itu terasa lebih berat dari apapun. “Kembalikan!” teriakku, suaraku pecah seperti kaca yang diinjak. Namun tak ada jawaban yang kembali kepadaku. Hanya tawa samar dari ketinggian yang terasa seperti ejekan terhadap harapan.

Aku berlari, meninggalkan pos palang, meninggalkan tugas, meninggalkan segala sesuatu yang selama ini menahanku. Kakiku menghantam aspal dengan ritme yang tak teratur. Nafasku memburu waktu yang terasa semakin tipis. Orang-orang menatapku seperti aku adalah gangguan dalam rutinitas mereka. Mereka tidak tahu bahwa aku sedang mengejar sesuatu yang lebih dari sekadar benda.

Aku menyusuri gang sempit yang dipenuhi bau sampah dan sisa kehidupan yang terbuang. Genangan air memantulkan langit yang retak oleh asap. Di ujung jalan, aku melihat lelaki itu berdiri di bawah bayangan gedung. Ia memegang jala itu dengan santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Di dalamnya, pagi berpendar lemah seperti cahaya yang hampir menyerah. “Berikan itu kembali,” kataku, mencoba menahan gemetar dalam suaraku. Lelaki itu menoleh dengan wajah yang terlalu biasa untuk diingat.

Ia tertawa kecil, seperti seseorang yang tidak pernah merasa kehilangan. “Pagi tidak punya pemilik,” katanya ringan. Aku mendekat perlahan, seperti seseorang yang berjalan menuju dirinya sendiri. Aku mengatakan bahwa aku tidak ingin memanfaatkannya. Aku ingin memberikannya. Ia tampakbingung, seolah-olah kata-kataku tidak masuk akal. “Memberikan sesuatu yang tak bisadimiliki?” katanya, hampir mengejek.

Aku menerjangnya tanpa berpikir panjang, seperti naluri yang akhirnya mengambil alihlogika. Jala itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke aspal. Kami bergulat dalam kebisingan kota yang tidak peduli pada apa pun. Suara klakson dan teriakan menjadi latar yang kabur. Yang ada hanya aku, dia, dan pagi yang hampir padam. Akhirnya aku berhasil merebutnya kembali, dan pagi itu kembali ke tanganku.

Aku tersenyum, dan senyum itu terasa utuh untuk pertama kalinya. Tidak ada jadwal yang memotongnya. Tidak ada kecemasan yang mencurinya. “Aku mendapatkannya kembali,” bisikku, hampir tidak percaya. Namun ketika aku tiba di stasiun, sesuatu terasa berubah tanpa bisa dijelaskan. Palang pintu terbuka tanpa aku yang menggerakkannya. Kereta melintas tanpa menunggu perintahku. Orang-orang tetap datang dan pergi seperti aku tidak pernah ada. Dunia berjalan tanpa menyisakan ruang untukku.

Aku memasuki pos penjagaan dan menemukan kekosongan yang aneh. Tidak ada jaketku, tidak ada termos kopiku. Tidak ada jejak keberadaanku yang tersisa. Aku berdiri di sana sambil memegang tupperware, mencoba memahami apa yang terjadi. “Apa aku…terlambat?” gumamku. Seorang petugas baru muncul di belakangku dan bertanya dengan nada bingung. Ia mengatakan bahwa pos itu sudah lama kosong. Ia menyebut penjaga sebelumnya hilangtanpa kabar. Kata-katanya jatuh seperti batu ke dalam pikiranku. Dan aku mulai menyadarisesuatu yang tidak ingin kuakui.

Aku berjalan keluar dengan langkah yang terasa ringan sekaligus hampa. Langit sudahsepenuhnya terang, tetapi cahaya itu terasa asing bagiku. Seolah-olah aku tidak lagi menjadi bagian dari pagi. Aku menuju rumah Dewi Kusuma dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Setiap langkah terasa seperti perpisahan. Rumah itu sunyi ketika aku masuk, seperti waktu yang berhenti di tengah kalimat. Di atas meja, ada foto kami berdua yang sedang tertawa. Di sampingnya, sebuah lilin yang hampir habis menyala. Di bawah foto itu, ada tulisan kecil yang membuat nafasku terhenti. Tulisan itu seolah-olah berbicara langsung kepadaku.

Tupperware di tanganku terbuka dengan sendirinya, dan pagi keluar perlahan. Ia tidak lagi berbentuk, melainkan menjadi cahaya yang memenuhi ruang. Aku mencoba meraihnya, tetapi tanganku menembusnya. Aku mulai memahami bahwa aku tidak lagi menggenggam apa pun. “Atau mungkin sejak awal aku tak pernah menggenggamnya,” kataku lirih. Di ambang pintu, Dewi Kusuma berdiri dengan senyum yang tenang. Ia mengatakan bahwa ia telah lama menungguku. Aku mengatakan bahwa aku membawa pagi untuknya. Namun ia menggeleng pelan, seperti seseorang yang memahami sesuatu yang tidak kupahami. “Kau bukan membawa pagi,” katanya lembut. Aku adalah pagi itu sendiri. Segala sesuatu runtuh dalam kesadaran yang sunyi. Aku menatapnya dan bertanya apakah ini akhir dari segalanya. Ia mengatakan bahwa ini bukan akhir, melainkan saat di mana aku akhirnya benar-benar hadir. Kata-katanya tidak menenangkan, tetapi juga tidak menyakitkan. Ia hanya terasa benar. Aku menghela nafas yang terasa ringan, seperti beban yang akhirnya dilepaskan.

Aku mengatakan bahwa aku lelah. Ia mendekat dan menggenggam sesuatu yang tersisa dariku. “Kalau begitu, berikan saja,” bisiknya. Aku menutup mata dan berkata dengan suara yang hampir hilang. “Ambillah seluruh pagiku,” kataku perlahan. Cahaya itu menyebar tanpa suara, memenuhi ruang dengan keheningan yang hangat. Tidak ada ledakan, tidak ada kehancuran. Hanya keberadaanyang akhirnya menemukan bentuknya. Dan di luar sana, di kota yang tak pernah berhenti berlari, seseorang mungkin berhenti sejenak. Ia menoleh ke langit tanpa alasan yang jelas. Ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan untuk sesaat, ia percaya bahwa pagi adalah sesuatu yang bisa digenggam. (*)

Oleh: Fileski W Tanjung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.