Sajak-Sajak tentang Lie

oleh -149 Dilihat
banner 468x60

Lie selalu percaya bahwa manusia menyimpan ruang yang tidak akan pernah bisa dimasuki siapa pun. Bahkan, oleh orang yang paling mencintainya. Ada bagian dalam diri seseorang yang tetap menjadi rahasia, seperti halaman terakhir sebuah buku yang sengaja dikosongkan oleh penulisnya agar pembaca memiliki tempat untuk menebak-nebak akhir cerita.

Mungkin sebab itu Lie tidak pernah terlalu percaya pada cinta yang datang dengan suara keras. Ia tidak percaya pada bunga yang dikirim setiap minggu, pesan-pesan panjang yang berisi janji, atau kata-kata yang terlalu mudah mengucapkan selamanya.

Menurutnya, sesuatu yang benar-benar dalam biasanya tidak banyak bicara. Seperti laut. Ia luas, tetapi tidak pernah menjelaskan kedalamannya. Lie bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan sastra. Setiap hari ia membaca puluhan tulisan tentang cinta. Tentang orang-orang yang kehilangan. Tentang seseorang yang menunggu seseorang lainnya. Tentang hati yang patah lalu mencoba disatukan kembali.

Namun, semakin banyak membaca kisah cinta, semakin ia merasa bahwa manusia sering keliru memahami cinta. Banyak orang mengira cinta adalah memiliki. Padahal, mungkin cinta adalah kemampuan untuk menjaga sesuatu tetap hidup, meskipun tidak pernah menjadi miliknya.

Pemikiran itu membuat Lie bertahan hidup dengan tenang. Sampai suatu pagi, sebuah sajak datang kepadanya. Selembar kertas putih terletak rapi di atas meja kerjanya. Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada pesan selain beberapa baris:

“Lie, aku tidak tahu kapan seseorang menjadi alasan seseorang lain tersenyum. Tetapi aku tahu, ada nama-nama tertentu yang ketika disebut, semesta seperti berhenti sebentar untuk mendengarkan.”

Lie membaca sajak itu dua kali. Kemudian ia meletakkannya kembali. Ia mengira seseorang sedang bercanda. Barangkali salah satu teman kantornya. Barangkali seseorang yang diam-diam menyukainya.

Namun, ia tidak menemukan siapa pun yang terlihat mencurigakan. Dan yang paling aneh, tidak ada seorang pun yang tahu kebiasaan-kebiasaan kecil tentang dirinya yang tertulis dalam sajak-sajak itu. Sebab setelah hari itu, sajak-sajak terus datang. Setiap pagi. Selalu di atas meja kerjanya. Selalu tanpa nama.

Pada awalnya, Lie merasa terganggu. Ia merasa seperti sedang diperhatikan oleh seseorang yang tidak terlihat. Tetapi perlahan, perasaan itu berubah. Ia mulai menunggu. Ada sesuatu yang berbeda ketika pagi datang bersama selembar kertas putih.

Sajak-sajak itu tidak pernah meminta apa pun. Tidak pernah mengatakan: “Aku ingin bertemu denganmu.” “Aku ingin kau menjadi milikku.” “Aku ingin kau membalas cintaku.” Tidak. Sajak-sajak itu hanya hadir. Seperti cahaya pagi yang masuk melalui celah jendela. Seperti angin yang menyentuh daun tanpa pernah meminta daun itu mengingatnya. Suatu hari, Lie menemukan tulisan:

“Lie, aku mencintaimu bukan sebab wajahmu yang mungkin berubah dimakan waktu. Bukan sebab senyummu yang suatu hari akan menjadi kenangan. Aku mencintaimu sebab ada bagian dari dirimu yang tetap tinggal, bahkan ketika semua hal di dunia ini memilih pergi.”

Lie terdiam cukup lama. Ia tidak pernah menerima kalimat seperti itu. Bukan sebab kalimat tersebut indah. Tetapi sebab kalimat itu seolah memahami sesuatu yang selama ini tidak ia katakan kepada siapa pun. Bahwa sebenarnya ia lelah. Bahwa di balik ketenangannya, ada banyak hal yang ia sembunyikan. Bahwa kadang ia hanya ingin seseorang berkata, “Aku tahu kamu sedang berusaha.”

Bulan berganti. Sajak-sajak itu menjadi bagian dari hidup Lie. Ia menyimpan semuanya dalam sebuah kotak kayu kecil. Bukan sebab ia yakin bahwa penulisnya adalah seseorang yang mencintainya. Tetapi sebab setiap sajak membuatnya merasa bahwa dunia masih memiliki kelembutan.

Ia mulai berpikir untuk mencari tahu siapa penulisnya. Namun, setiap kali keinginan itu muncul, ia mengurungkan niatnya. Sebab ia takut. Takut jika mengetahui siapa penulisnya, sesuatu yang indah akan berubah menjadi sesuatu yang biasa. Barangkali misteri adalah cara cinta menjaga dirinya sendiri. Barangkali tidak semua cahaya harus diketahui berasal dari lampu yang mana.

Suatu sore, ketika kantor sudah sepi, Lie duduk sendirian di depan meja kerjanya. Hari itu tidak ada sajak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, meja kerjanya kosong. Ia merasa kehilangan sesuatu. Ia membuka kotak kayu tempat ia menyimpan semua tulisan itu.

Ratusan sajak. Ratusan halaman. Ratusan cara seseorang berbicara tanpa pernah hadir. Ia membaca kembali satu per satu. Ada sajak tentang pagi yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ada sajak tentang hujan yang selalu membuatnya diam di depan jendela. Ada sajak tentang secangkir kopi yang selalu ia tinggalkan setengah penuh, seolah ada percakapan yang belum selesai antara dirinya dan sesuatu yang tidak terlihat.

Semakin ia membaca, semakin ia merasa bahwa sajak-sajak itu bukan sekadar tulisan. Mereka seperti jejak. Seperti seseorang yang berjalan sangat jauh, meninggalkan tanda-tanda kecil agar suatu hari ia dapat ditemukan. Kemudian Lie menemukan sebuah kertas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Entah bagaimana, kertas itu terselip di antara sajak-sajak lama.

Kertas itu berbeda. Warnanya sedikit kekuningan. Lebih tua dibandingkan kertas-kertas lainnya.

Tulisan tangannya pun berbeda. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Seolah orang yang menulisnya sedang berbicara kepada seseorang yang sangat ia takutkan akan kehilangan.

Lie membuka lipatan kecil itu. Hanya beberapa baris.

“Lie, jika suatu hari kau lupa kepadaku, jangan salahkan ingatanmu. Barangkali ada hal-hal yang sengaja dihapus waktu, agar cinta menemukan caranya sendiri untuk tetap tinggal. Aku akan menunggumu di tempat pertama kali langit membawamu pergi. Jangan takut jika kau tidak mengingatku. Sebab aku telah mengingatmu cukup lama untuk kita berdua.”

Tangan Lie bergetar. Ia membaca kalimat terakhir berulang kali. “Tempat pertama kali langit membawamu pergi.” Ada sesuatu yang bergerak dalam ingatannya. Sesuatu yang selama ini seperti pintu tertutup. Bandara. Tiba-tiba sebuah bayangan muncul. Suara pengumuman keberangkatan. Roda koper yang bergesekan dengan lantai. Aroma kopi dari kedai kecil di sudut ruang tunggu. Dan seseorang. Seorang laki-laki berdiri di dekat kaca besar yang menghadap landasan. Menunggu.

Lie menutup matanya. Mengapa ia bisa lupa? Bagaimana mungkin seseorang yang begitu dekat pernah hilang dari ingatannya? Ia mencoba mengingat wajah laki-laki itu. Tetapi wajah itu seperti kabut. Semakin ia mengejarnya, semakin jauh ia menghilang. Yang tersisa hanya satu hal. Sepasang mata. Mata seseorang yang tidak sedang menunggu kedatangan, melainkan menunggu kepulangan.

Keesokan harinya, Lie tidak masuk kerja. Ia pergi ke bandara. Ia sendiri tidak tahu mengapa. Tidak ada alamat. Tidak ada pesan. Tidak ada kepastian. Hanya sebuah kalimat dalam selembar kertas tua yang membawanya ke tempat itu. Di ruang tunggu keberangkatan, Lie berdiri cukup lama. Orang-orang berjalan melewatinya. Ada yang menangis karena perpisahan. Ada yang tersenyum karena pertemuan. Ada yang membawa koper penuh pakaian. Ada yang membawa hati penuh kenangan.

Tetapi Lie hanya berdiri. Mencari seseorang yang bahkan tidak ia tahu apakah masih ada. Lalu ia melihatnya. Seorang laki-laki duduk di kursi dekat jendela. Tempat yang sama. Posisi yang sama. Seperti seseorang yang tidak pernah pergi. Laki-laki itu tidak melihat ke arahnya. Ia hanya membaca sebuah buku kecil. Sebuah buku yang sampulnya tampak sangat dikenalnya.

Lie melangkah perlahan. Namun, ketika ia hampir sampai, laki-laki itu menghilang di antara kerumunan orang yang baru turun dari pesawat. Tidak ada kejar-kejaran. Tidak ada adegan dramatis. Hanya ruang kosong. Dan sebuah buku kecil yang tertinggal di kursi. Lie mengambilnya. Di halaman pertama tertulis, “Sajak-Sajak tentang Lie”


Esok hari Lie kembali ke bandara. Bukan karena ia yakin akan menemukan seseorang. Bukan karena ia percaya pada janji yang tertulis dalam selembar kertas tua. Ia datang hanya karena ada sesuatu dalam dirinya yang terus memanggil tempat itu. Barangkali ingatan memiliki jalannya sendiri untuk pulang. Barangkali ada bagian dari manusia yang tidak pernah benar-benar lupa, hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuka kembali pintu yang lama tertutup.

Lie duduk di kursi dekat kaca besar yang menghadap landasan. Tempat itu. Tempat yang disebut dalam sajak. Tempat yang selama bertahun-tahun hanya menjadi bayangan dalam kepalanya. Pesawat datang dan pergi. Tetapi Lie tetap duduk.

Ia tidak membawa koper. Tidak membawa rencana perjalanan. Ia hanya membawa sebuah buku kecil berisi sajak-sajak. Sajak-sajak tentang dirinya yang ditulis oleh laki-laki itu. Waktu berjalan perlahan. Satu jam. Dua jam. Lima jam. Langit berubah warna.

Pagi bergeser menjadi sore. Sore perlahan tenggelam menjadi malam. Namun, Lie masih di sana. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memahami arti menunggu. Bukan menunggu seseorang datang, melainkan menunggu sesuatu yang selama ini hilang dalam dirinya kembali ditemukan.

Ia tidak lagi bertanya siapa laki-laki itu. Ia tidak lagi bertanya mengapa ia dilupakan. Ia hanya ingin mengatakan satu hal jika laki-laki itu benar-benar datang. Terima kasih karena pernah mencintaiku dengan cara yang tidak membuatku merasa harus membalas.

Malam semakin larut. Petugas bandara mulai mengurangi beberapa lampu di ruang tunggu. Orang-orang semakin sedikit. Suara langkah kaki terdengar lebih jelas. Lie hampir menyerah. Bukan karena kecewa. Tetapi karena ia mulai memahami bahwa beberapa penantian tidak selalu berakhir dengan pertemuan.

Ia membuka buku kecil itu sekali lagi. Pada halaman terakhir, ada sebuah sajak yang belum pernah ia baca. Barangkali baru muncul. Barangkali selama ini tersembunyi. Barangkali memang menunggu saat yang tepat. Tulisan itu pendek.

“Lie, jika kau sampai di tempat ini, berarti kau telah menemukan jalan pulang. Aku tidak pernah meminta kau mengingatku. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa pernah ada seseorang yang melihatmu, bukan sebagai seseorang yang sempurna, tetapi sebagai seseorang yang tetap indah meskipun membawa luka. Jika aku tidak datang hari ini, jangan mengira aku tidak mencintaimu. Sebab cinta tidak selalu hadir dalam bentuk pertemuan. Terkadang ia hanya duduk di kejauhan, menjaga seseorang tetap percaya bahwa dunia masih memiliki keajaiban.”

Lie menutup buku itu. Ia tersenyum kecil. Ada air mata yang jatuh, tetapi tidak terasa menyakitkan. Ia berdiri. Mungkin sudah waktunya pulang. Mungkin, memang tidak semua cerita harus menemukan jawabannya. Namun, ketika ia melangkah beberapa langkah menjauh dari kursi itu, sesuatu membuatnya berhenti.

Sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Seperti seseorang memanggil namanya tanpa suara. Lie menoleh. Di ujung ruang tunggu, di antara cahaya lampu yang redup dan bayangan orang-orang yang berjalan pulang, seseorang berdiri. Seorang laki-laki. Tidak jelas wajahnya. Hanya siluet. Tinggi tubuhnya. Cara ia berdiri. Cara ia memandang ke arahnya.

Ada sesuatu yang membuat dada Lie bergetar. Bukan karena ia mengenalnya. Tetapi karena bagian terdalam dari dirinya seperti telah mengenalnya sejak lama. Laki-laki itu tidak berjalan mendekat. Lie pun tidak bergerak. Mereka hanya saling melihat dari kejauhan. Seperti dua orang yang pernah terpisah oleh waktu yang panjang. Seperti dua doa yang akhirnya menemukan jalan untuk bertemu.

Perlahan, laki-laki itu tersenyum. Senyum yang entah mengapa membuat Lie merasa pernah melihatnya. Pernah merasa dekat dengannya. Mungkin dalam mimpi. Mungkin dalam kenangan. Mungkin dalam ratusan sajak yang selama ini datang kepadanya.

Lie memandang laki-laki itu sekali lagi, dan dalam diam ia mengerti, ada cinta yang sangat dalam di mata laki-laki itu. Sebab sejak awal, Lie memahami bahwa laki-laki itu bukan sekadar seseorang yang mencintainya, melainkan bagian dari perjalanan yang membuatnya mengerti bahwa dirinya layak dicintai.

Oleh: Heri Isnaini

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisan telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.