Daya Tarik Kaum Lelaki

oleh -720 Dilihat
banner 468x60

Tadinya saya menganggap biasa-biasa saja. Saya hanya sedang merasakan pubertas yang kedua, atau yang ketiga, entahlah. Ketika saya menginjak usia 41 dan memiliki 2 anak, sementara suami sibuk dengan pekerjaannya, siapapun di antara kita tentu ingin mencari pelampiasaan. Maksud saya, bukan “pelampiasan” dalam pengertian yang negatif, tetapi bagaimana mungkin kita mampu mengerem secara drastis, ketika mobil meluncur sedemikian kencangnya.

Ya, terus terang saja, saya memang sedang kesengsem dengan tingkah para lelaki muda akhir-akhir ini. Terutama bagian lengannya, bahkan hingga pergelangan tangan yang berbulu tipis, dengan urat-urat menonjol di sekitar siku, seperti tangan kekar para petugas kereta api ketika mereka menunjukkan gerbong yang akan kita naiki. Ketika saya mengendarai mobil, saya pun melihat tangan yang serupa pada lelaki yang bertugas di SPBU, juga pada pelayan minimarket hingga pramusaji di California Fried Chicken, hingga penjaga tiket bioskop.

Sebenarnya, bukan hanya pada lelaki muda yang membuat saya merasa terangsang, tetapi juga para lelaki tua yang sudah menginjak usia 50 hingga 60-an. Padahal, boleh jadi para lelaki tua itu berpikir bahwa tak bakal ada lagi perempuan yang menyukai dirinya. Tapi aduuh, rasanya, apalagi mereka yang berwajah sangar dengan rambut yang agak panjang dan tertata rapi. Waduuh, itulah tipikal lelaki tua yang berjiwa muda, yang pasti akan memberi perhatian lebih jika kita menyapanya.

Siang itu, saya sedang duduk di stasiun kereta jurusan Merak-Rangkasbitung. Membuka-buka situs menarik di layar ponsel, sementara di sebelah saya seorang lelaki muda yang sedang serius membaca suatu artikel atau cerpen, atau apalah, karena ia terlihat senyum-senyum sendiri menikmati bacaan di layar ponselnya. Saya memandang ke sekitar untuk memastikan tidak ada orang lain yang memerhatikan saya yang sedang terpesona menatap wajah lelaki muda itu. Saya mencoba melirik sedikit pada layar ponselnya, serasa gemas sekali ingin dibagi-bagi perhatian olehnya, mengenai topik permasalahan yang sedang ia tekuni. Sepintas ia menengadah lalu melihat ke arah saya. Aduuh, indahnya itu mata, bahkan dagunya agak terbelah juga, minta ampun.

Pastilah bacaan yang sedang ditekuni sangat serius, bahkan intelek dan terpelajar. Kalaupun yang dibacanya itu karya fiksi, setidaknya itu karya prosa milenial yang ditulis oleh para penulis muda dan macho seperti cerpen Alim Witjaksono, Muhamad Pauji, Muakhor Zakaria atau Chudori Sukra, yang sering tampil di media-media daring itu.

Saya menikmati roti O sambil menyesap kopi hangat yang saya beli dari salah satu kios makanan di stasiun. Saya pura-pura menawarkan makanan kepadanya, kemudian lelaki itu melirik sebentar, tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Waduuh, itu suara yang keluar dari mulutnya, dengan berhiaskan kumis tipis di antara bibir dan hidungnya yang aduhai. Kemudian, saya pun pura-pura membaca artikel di ponsel yang walaupun perangkat teknologi berharga mahal, namun terlihat lebih murah karena kualitas jari-jari yang menggenggamnya. Sedangkan, ponsel di jemari laki-laki itu, tentu kualitasnya sebagus tangan yang menggenggam serta jari-jemari yang menyentuh layarnya.

Sepintas saya melihat kembali wajah lelaki itu, namun ia tetap serius membaca. Saya berdehem pelan, kemudian mencoba sekali lagi dengan deheman yang agak keras. Bel kereta berbunyi, menandakan kedatangan kereta dari jalur Kota Serang menuju Merak. Saya sudah membeli tiket untuk keberangkatan menuju Rangkasbitung, seraya berdoa agar suara bel masih lama, kalau perlu dua atau tiga jam lagi. Atau kalau bisa, tak usah berbunyi atau gagal berangkat lantaran mesin keretanya rusak atau tabrakan di tengah perjalanan.

“Naik jurusan mana, Mbak?”

Tiba-tiba dia menoleh dan bertanya, hingga saya terkesiap kaget, “Ee, anu… jurusan Rangkasbitung,” jawab saya tergagap.

Saya berharap sekali agar muncul pertanyaan berikutnya, namun ia terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hingga saya tak sabar menanyakan sebagaimana pertanyaan yang dilontarkan olehnya. “Kalau Mas, mau ke mana?”

“Ohh, kebetulan kita sama. Saya juga jurusan Rangkasbitung.”

Hah! Kita? Dia menggunakan kata ‘kita’? Betapa merdunya satu kata itu terdengar di telinga saya. Bahkan lebih merdu dari untaian lirik-lirik lagu gubahan Justin, Drake, Maher Zain, maupun Ed Sheeran. Sepintas saya memberikannya sedikit senyuman. Lalu kembali dia membaca. Saya menggeser posisi duduk, menegakkan punggung serta menyilangkan kaki. Tapi bisakah laki-laki itu memahami, bahwa sikap itu menunjukkan bahwa “aku sedang kesengsem”.

Tak berapa lama, dia memesan kopi dan membawanya dengan muk plastik, menyesapnya sedikit, lalu kembali duduk di samping saya. Pada saat dia memesan kopi tadi, saya berdoa dalam hati, dengan doa paling khusyuk melebihi waktu sepetiga malam, agar Tuhan tidak membiarkan adanya orang lain yang mengambil posisi di tempat duduknya. Lalu, doa itu pun terkabulkan, hingga saya mengucap syukur alhamdulillah, puji Tuhan Yang Maha Mengatur jagat raya ini. Tidak ada sesuatu yang sia-sia dalam penciptaan-Nya. Sekecil apapun.

***

Saya memerhatikan dengan seksama, ketika tangan lelaki itu mengangkat kopi. Tampak bulu-bulu tipis pada lengannya, bahkan urat yang menampak seakan menunjukkan ketegaran dan kekuatan. Sejenak saya tanyakan, ada kabar apa di media sosial, karena terlihat sejak tadi sepertinya senyum-senyum sendiri.

Dia membalas pertanyaan saya dengan tertawa, ya, suatu tawa yang sumringah dan mempesona. Lalu, saya tanyakan lagi tentang apa pekerjaannya. Dia tidak membalas, justru menatap mata saya dengan serius, dan balik bertanya, “Kalau Mbak, kerja di mana?”

Sepintas saya menjawab bahwa saya adalah penulis, juga mengajar sastra untuk sekolah menengah ke atas (SMU). Kemudian, ia menggeser duduknya mengambil dompet dari kantong celananya, lalu menyerahkan secarik kartu nama yang tertera jelas: Aris Hermawan, sebagai manajer di suatu perusahaan komputer. Selain itu, dia pun mengakui bahwa dirinya sedang menggeluti musik bersama grup band yang didirikannya.

Perbincangan selanjutnya, semakin jauh saya mengenalnya sebagai duda dengan satu anak yang ditinggalkan ibunya karena kecelakaan sepeda motor pada saat mudik lebaran beberapa tahun lalu. Mungkin umur lelaki itu sekitar 35-an, meski saya merasa canggung menanyakan perihal umurnya. Kalaulah benar dugaan saya, berarti dia lebih muda sekitar enam tahun di bawah saya.

Dengan hati-hati saya mengulik lebih jauh soal identitas Aris, meskipun menurut saya, suatu identitas diri tidak harus ditentukan oleh apa jenis pekerjaannya. Rambutnya agak tipis dan cepak, persis model rambut seorang perwira muda. Ada kerutan di sudut matanya, meski pergelangan tangannya agak lentur ketika dia mengangkap muk untuk menyesap kopi. Ketika saya menjawab pertanyaannya, sedapat mungkin saya banyak tersenyum untuk menunjukkan lesung pada kedua pipi saya.

Untuk memperpanjang percakapan, saya pun membeberkan berbagai hal tentang isu-isu politik yang gak karuan, macetnya lalu lintas, banjir yang tak kunjung usai, bahkan mahalnya harga parkir mobil.

Saya menjawab dengan setengah terus-terang perihal keluarga saya, terutama lebih memfokuskan bicara tentang kedua anak saya. Mereka lebih sering diasuh oleh neneknya ketimbang orang tuanya yang super sibuk, dan entah bagaimana kopi saya tahu-tahu sudah dingin, tanpa terasa perbincangan sudah berjalan hampir satu jam, dan kereta semoga saja terlambat tiga atau empat jam lagi. Meskipun, hampir tak pernah ada jadwal kereta yang terlambat seperti halnya pesawat yang tertunda karena cuaca buruk.

Kini, kereta siap berangkat. Ekor mata saya menangkap bahwa ia memasuki gerbong ketiga, sedangkan tiket saya menunjukkan saya harus duduk di gerbong nomor dua. Sebelum berpisah tadi, Aris sempat memberitahu adanya pertunjukan musik serta pembacaan puisi dan cerpen karya para penulis milenial di Rumah Dunia Serang pada tanggal 8 bulan depan. Dia berpesan sekiranya saya bisa menghadiri acara tersebut, meskipun tak mungkin saya bisa mengajak suami melihat suatu pertunjukan musik dan puisi, karena suami saya tidak menyukai acara musik maupun pembacaan puisi.

***

Sebenarnya, saya sendiri termasuk tipikal istri yang tak banyak komplain soal kelakuan suami. Meskipun wataknya agak temperamen tapi dia cukup penyayang, terutama terhadap anak-anak kami. Dia tak pernah mengeluhkan soal makanan, meskipun saya hanya memasak mie rebus dengan telor ceplok maupun dadar. Dia juga memilih pakaiannya sendiri, dan kadang, jika saya sibuk, dia pun menyeterika kemejanya sendiri sebelum berangkat ke kantor. Secara fisik, dia juga cukup atletis, karena ke mana-mana selalu menyopiri kendaraannya sendiri, juga sering bertanding bulutangkis di lapangan kelurahan.

Tapi, karena suatu insiden kecil di rumah-tangga, pada tanggal 8 itu saya memutuskan berangkat, karena rasa kangen yang tak ketulungan pada Aris. Lelaki muda itu mengajak saya duduk berdampingan saat pertunjukan musik dan pembacaan puisi tersebut. Orang-orang begitu ramai dan ruangan sesak oleh pasangan lelaki dan perempuan, tua maupun muda. Mereka saling bercakap satu sama lain, di tengah pembacaan puisi dan cerpen buah karya para penulis milenial, termasuk karya sastra monoteisme yang digagas penulis kelahiran Banten, Hafis Azhari, Sulaiman Djaya dan Ahmadun Yosi Herfanda.

Ketika suasana agak berdesakan di depan panggung bagian barat, Aris menarik lengan saya agar menjauh dari keramaian. Lalu, pada saatnya dia mengajak ke sudut ruangan yang agak sepi, entah mengapa tiba-tiba sensasi itu naik ke sekujur tubuh. Kini, yang terpikir oleh perempuan Indonesia seperti saya, yang sudah di atas 40-an tahun, sepertinya tidak mungkin ada orang yang memperhatikan saya lagi. Orang-orang hanya tahu bahwa saya adalah seorang ibu yang telah mengeluarkan dua anak dari perut dan rahimnya.

Boleh jadi mereka menganggap saya layaknya emak-emak yang tak lagi memiliki nafsu dan hasrat untuk mencapai sesuatu, dan boleh jadi mereka hanya menganggap saya sebagai manusia tak berguna, hingga tak layak mendapatkan cinta dan perhatian khusus.

Saya menatap mata Aris di keremangan lampu gedung kedudayaan. Sang duda tampan yang beberapa tahun lalu ditinggalkan istrinya itu, memang seorang ayah yang berjiwa muda, menyukai musik alternatif yang sering dinyanyikan oleh band anak-anak muda milenial. Sehingga, ketika kami berpapasan dengan gadis-gadis belia, saya merasa dibuat minder dan khawatir, jangan-jangan Aris lebih melirik ke arah mereka yang lebih cantik dan enerjik ketimbang emak-emak gemuk seperti saya.

Ketika kami menyantap mie ayam di depan kampus Untirta, saya mencoba untuk menggodanya dengan kata-kata yang agak ngeres, kemudian ketika dia membalas godaan saya, rasanya tubuh ini seperti terbang melayang di udara. Sejak saat itu, saya tak merasa heran mengapa sosok Julaikha dan emak-emak sepantarannya, begitu terpesona pada ketampanan Nabi Yusuf, sampai-sampai mereka melukai dirinya sendiri.

Saya mengajak Aris untuk menonton di bioskop 21, sampai kemudian, sore itu kami menghabiskan waktu berduaan, menonton film gubahan sutradara Steven Spielberg yang bercerita soal kecerdasan buatan, bahwa faktor-faktor genealogi yang mempersatukan hubungan manusia, seakan hanya proyeksi buatan manusia yang dapat mengantarkan pada kebahagiaan hidup.

Di saat adegan film yang terasa menegangkan, tiba-tiba Aris memegang tangan saya, meremas-remas jari-jemari hingga seluruh tubuh saya menggelenyar. Terus terang, saya belum pernah berhubungan sebegitu dekat dengan lelaki lain, selama hampir 20 tahun berumah-tangga. Saya merasa terbawa dalam adegan film, seperti impian dan khayalan yang melambung-tinggi, namun ini benar-benar terjadi dalam kenyataan hidup, sehingga tangan saya gemetar dan bulu-bulu di sekujur tubuh serasa merinding.

Selepas tayangan film, lampu dinyalakan. Aris tertawa sedikit, dengan lembut, dan dengan cara yang menyenangkan. Wajah dan pipi saya merona, merah-padam seakan-akan sampai ke ujung kuku. Sekali lagi dia memperhatikan dan menatap wajah saya. Namun, ketika saya menunggu sesuatu yang diinginkan darinya, petugas bioskop menegur kami dengan sopan sambil menyatakan bahwa tayangan film telah usai, dan para pengunjung dimohon meninggalkan tempat.

Tak banyak yang perlu saya jelaskan mengenai indahnya hubungan kami yang mencerminkan indahnya kehidupan dunia ini. Dan barangkali dengan alasan itulah banyak orang yang akhirnya nekat memutuskan untuk berselingkuh. Setiap wanita paruh baya, dengan suami yang terlampau sibuk seakan tak ada waktu untuk memerhatikan keluarganya, tentu menghendaki sepercik sinar terang yang menghangatkan batin ini. Sorotan mata lelaki yang lugu dan apa adanya, seakan menjamin untuk membawa saya terbang lebih jauh ke pulau impian dengan penuh kebahagiaan.

Ketika telapak tangan kami saling bertaut, terasa adanya kejangan otot dan urat-urat syaraf, yang secara tiba-tiba berkontraksi oleh sebuah neuron yang sulit dimengerti. Otot-otot di sekitar dada serasa menegang, hingga membusung sedemikian kencangnya, melampaui kenikmatan alunan musik yang dengan merdu dinyanyikan Ed Shareen maupun Justin Timberlake.

***

Setelah masa pandemi Covid-19, sekitar tahun 2022 lalu, usia saya semakin bertambah menjadi 43 tahun. Suami dan anak bungsu saya terdampak oleh pandemi, dan melalui perawatan isolasi di rumah sakit, pada 2021 lalu nyawa keduanya tak tertolong lagi. Mereka dikuburkan di pemakaman umum secara protokoler, dan kami hanya diperbolehkan melihat prosesi penguburan mereka dari jarak di atas sepuluh meter. Sekarang, saya tinggal bersama anak sulung saya yang sejak masa SD dan SMP telah diasuh oleh neneknya yang kini sudah menginjak usia 70 tahun.

Terlampau banyak rahasia hidup yang sulit dibayangkan, bahkan tak mungkin dinalar oleh pikiran rasional belaka. Dalam dua tahun masa pandemi, banyak keajaiban yang membuat setiap insan harus membuka mata-hati, bahwa jika Tuhan punya kehendak, tak ada kekuatan apapun yang sanggup menghalau dan merintangi-Nya.

Dua tahun sepeninggal suami dan anak bungsu saya, terdetik oleh pikiran bahwa saya tak sanggup mnenanggung beban hidup ini seorang diri. Dalam setahun ke depan puteri sulung saya akan menikah, yang berarti dia akan tinggal bersama suaminya. Lalu, bagaimana dengan diri saya?

Seketika saya teringat kembali sosok Aris, serta mencari-cari kartu nama yang pernah diberikan di stasiun dulu. Barangkali itu semacam mukjizat yang tak terduga, di saat Tuhan melimpahkan kasih-sayangNya kepada hamba yang dicintai-Nya.

Maka tibalah di hari Minggu pagi, saya mencoba mencari alamatnya di Tangerang Selatan, namun kemudian dunia dan seisinya seakan runtuh, ketika saya bisa memastikan bahwa Aris telah hidup bersama istrinya sejak tahun 2021 lalu, dan kini telah dikaruniai satu putera lagi dari istrinya yang kedua.

Entahlah, apa yang harus saya simpulkan mengenai kejadian itu. Yang jelas, pada waktu sepetiga malam saya bersimpuh di hadapan Tuhan, sambil menangis sesenggukan, agar saya diberi kekuatan dan ketabahan untuk tetap pada keyakinan, bahwa tak ada kejadian yang sia-sia dalam penciptaan manusia dan segala makhluk ciptaan-Nya, baik di muka bumi maupun di alam semesta yang maha luas ini. ***

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis adalah pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), menulis prosa dan esai di berbagai media luring dan daring, juga peraih nominasi Sastra Litera pada 2021 lalu.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.