Rasialis 

oleh -858 Dilihat
Minimalist Style Characters Designs Vector Art Illustration. A cute boy is surrounded and watched by many strange, large eyes. This is a three-quarter rear view, with a black outline and flat colors, in a minimalist style.
banner 468x60

Di trotoar pasar Jalan Malioboro, Yogyakarta, ketika saya sedang duduk-duduk di salah satu bangku yang berjejer, tiba-tiba muncul seorang keturunan Cina menyebalkan, yang tampaknya berbeda dengan kebanyakan orang Cina. Saya sempat melirik sinis ke arahnya. Matanya agak sipit seperti orang Jepang, tetapi dari samping kiri kelihatan seperti seorang warga keturunan Korea Utara.

Mungkin usianya di kisaran 50 atau 55 tahun. Sore itu, ia mengambil duduk di sebelah saya, sambil mengucap “permisi” dengan logat yang agak kaku dan canggung. Saya mengamati kulit wajahnya yang agak kuning langsat, tidak terlalu putih, bahkan agak kecokelatan seperti sawo matang. Sementara, rambutnya ikal tersisir rapi, tetapi berwarna agak pirang dan kelabu.

Ia memanggil seorang pelayan yang sedang memegang daftar menu di salah satu gerai makanan, lalu memesan sambil menunjuk dua nomor pada menu yang disodorkan. Saya agak curiga dan penasaran, makanan jenis apa yang sedang ia pesan. Mungkin saja ia memesan masakan Cina seperti La Mian atau Jiaozi, beserta minuman khasnya seperti Baijiu atau Mai Dong. Tetapi anehnya, dia hanya memesan mie ayam dan teh botol, lalu menyantapnya dengan santai setelah berbasa-basi menawarkannya kepada saya.

“Silakan, terimakasih,” balas saya singkat.

Dalam bayangan saya, orang Cina biasanya makan dengan hati-hati dan pelan dengan gaya yang menjengkelkan. Ia memakai sumpit seperti kebanyakan orang Jepang dan Korea, menikmati makanan sedikit demi sedikit seperti gerakan yang mengikuti arah jarum jam. Tetapi, lelaki satu ini agak lain. Setelah menikmati separuh porsi mie ayam dengan sumpit, ia beralih mengenakan sendok untuk menyeruput kuahnya sambil menyiduk sawi dan daging ayam hingga tuntas. Setelah meminum teh botol dan merasa kenyang, ia mengambil rokok dari kantong bajunya, lalu menawarkan kembali hingga kontan saya tolak seketika.

Dari bungkusnya rokok itu tak begitu saya kenal, namun ia tersenyum sambil menyulut sebatang, dengan senyuman yang menimbulkan teka-teki dan mencurigakan.

Tak berapa lama, pelayan mendekatinya sambil membereskan mangkuk dan membawanya ke belakang gerai. Ia membayar dan menolak kembalian sambil sedikit berbasa-basi pada pelayan wanita, dengan memakai bahasa Indonesia yang cukup lancar, disertai logat Jawa yang agak medok, meskipun saya yakin bahwa dia bukanlah orang Jawa maupun Madura.

Tiba-tiba ia mengeluarkan dua hape dari kantong celananya, lalu memencet salah satu nomor hape dan menelepon seorang temannya yang entah di mana. Beberapa kalimat ia bercakap-cakap, dan saya mendengar logatnya memang agak medok, seperti orang Bali, tetapi saya yakin bahwa dia bukanlah orang Bali.

Saya curiga melirik ke arah hape yang satu lagi, tetapi katanya ia jarang memakai hape yang lama, setelah membeli yang baru dengan beragam aplikasi yang lebih lengkap. “Apakah Mas mau membeli hape saya ini?” tiba-tiba ia menawarkan.

Saya menatap sinis ke arahnya. “Bapak ini penjual hape, atau siapa?” tanya saya ketus.

“Bukan,” balasnya menggelang, “saya hanya ingin menjual hape yang tak terpakai, barangkali saja Mas berminat?”

Saya sempat menduga, bahwa orang itu semacam imigran gelap dari Cina yang menyelundup masuk ke negeri ini, hanya untuk menjual barang-barang ilegal, seperti hape, kamera, laptop, kaset dan seterusnya, dan orang-orang seperti kami hanya menjadi korban dari kecurangan mereka yang telah menjual barang atau kaset-kaset bajakan yang merugikan produk-produk dalam negeri.

“Saya hanya menjual hape yang tak terpakai, itu saja,” ujarnya singkat.

“Tapi siapa yang mau membeli hape bekas seperti itu?” tanya saya sangsi.

“Ini model tahun lalu, Mas, jadi nggak terlalu lama, dan walaupun pernah saya pakai selama satu tahun terakhir, barang ini masih cukup bagus,” ia melepas hape dari genggamannya, dan mempersilakan saya untuk melihatnya.

Saya sempat memeriksa hape tersebut, dan hampir semua aplikasi di dalamnya menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris, lalu kata saya pelan, “Kenapa Bapak nggak kasih saja ke istri di rumah, kalau memang tak terpakai?”

“Istri saya sudah saya belikan dengan merek terbaru, bahkan lebih mahal daripada yang saya punya ini. Kadang saya lebih mementingkan keperluan istri saya karena keluarga dan saudaranya lebih banyak daripada saya.”

“Berarti Bapak sendiri tinggal di mana?” tanya saya curiga.

“Kok tinggal di mana?” tegasnya. “Emang di mana lagi selain di Yogyakarta ini? Saya merasa nyaman tinggal di sini bersama istri, sementara anak saya sudah tinggal bersama suaminya di Jakarta, karena baru nikah setahun yang lalu.”

Saya mengembalikan hape miliknya, meskipun ditawarkan dengan harga yang sangat murah. Sejak minggu lalu, sebenarnya saya berencana mengganti hape saya yang agak rusak, dan seringkali tak bisa mengisi ketika dicolokkan ke listrik untuk mengecas baterai. Tetapi, karena saya menaruh curiga pada orang-orang Cina, yang dikhawatirkan membohongi dan mengelabui saya, maka terpaksa saya tolak tawarannya. Meskipun, ia ingin menjual hape tersebut dengan harga yang sangat terjangkau.

Sesampai di rumah, ketika saya ceritakan perihal lelaki aneh itu kepada istri saya, kontan istri saya bertanya, “Emangnya kamu tahu dari mana kalau dia orang Cina?”

Saya tersenyum sinis, sambil menatap curiga pada istri saya. “Tentu saja, saya lebih tahu daripada kamu,” tegas saya.

“Emang sudah kamu tanyakan kalau dia orang Cina?” pancingnya lagi.

“Dari mukanya… saya sudah tebak,” kata saya ragu.

“Jadi, muka dia kaya orang Cina? Lalu, apa bedanya dengan orang Korea, Myanmar, Singapura, Malaysia dan lain-lain?”

“Tapi, saya tahu kalau dia dari Cina,” ketus saya.

“Jadi, kamu sudah sering ketemu dan ngobrol dengan orang Cina?”

“Ya, nggak sih… tapi saya bisa membaca bahwa dia orang Cina.”

“Artinya, dia sendiri bilang bahwa dia orang Cina, atau keturunan Tionghoa, begitu?”

“Ya… nggak sih… tapi dia itu kelihatannya licik dan pembohong….”

“Dari mana kamu bisa menebak kalau orang itu jujur dan bicara terus terang?”

“Bukankah kemarin beberapa pejabat dari keturunan Tionghoa terkena kasus korupsi…”

“Beberapa orang Cina memang ada, tetapi para pejabat pribumi justru puluhan bahkan ratusan yang terkena kasus korupsi, baik dari Jawa, Sunda, Medan, Makasar dan lain-lain…”

“Tapi, apakah mereka orang beragama?”

“Tentu saja kebanyakan ber-KTP Islam, tetapi mereka adalah orang-orang yang tak beriman…”

“Apakah mereka tak percaya Tuhan?”

“Sebagian tentu orang yang memiliki iman, tetapi mereka orang yang lemah imannya, karena itu mereka dungu dan bodoh, karena tak mampu mengukur risiko.”

“Tetapi laki-laki yang duduk di bangku di Jalan Malioboro itu adalah orang Cina, dan kebanyakan orang Cina bukan seorang muslim.”

“Kenapa kamu memastikan seperti itu, apakah sudah kamu tanyakan apa agamanya?”

“Waduh, saya nggak berani bertanya soal agama…”

“Ya sudah kalau begitu… bahkan untuk menanyakan apakah dia Cina atau bukan, kamu nggak punya nyali… kok malah berani-beraninya memastikan bahwa dia adalah orang Cina…”

“Sudahlah, pokoknya saya lebih tahu daripada kamu… Saya ini sudah banyak pengalaman….”

Malam itu, sebelum beranjak ke tempat tidur, kami bertengkar lagi. Istri saya selalu saja membuat saya merasa gundah, jengkel dan naik pitam akhir-akhir ini. Dia pernah mengatakan kalau saya ini bermental inlander, intoleran, dan tak punya akal sehat.

Dia sering memperingatkan saya agar hati-hati bicara, jangan asal tuduh orang lain, karena nantinya akan kembali kepada diri saya sendiri.

Kadang saya balik meneriaki dirinya yang selalu mengabaikan logika dan berpikir tak rasional. Saya pun pernah membanting buku dari tangannya, yang ternyata adalah sebuah novel karangan seorang warga Banten, berjudul Pikiran Orang Indonesia.

Beberapa waktu lalu, ketika Israel mengalami konflik dengan Iran, istri saya selalu membela kemenangan Iran, yang kemudian didukung oleh Cina dan Korea Utara.

“Bagaimana pun Israel dibantu oleh adidaya Amerika,” kata saya, “mereka itu adalah negara-negara kuat dan berkuasa… di dunia ini, orang akan dikatakan naif kalau berpendapat bahwa yang lemah dan kecil akan mengalahkan yang besar dan kuat….”

Malam itu, saya membiarkan istri saya tidur sendirian di kamar tengah, sedangkan saya merasa jengkel berpindah ke kamar depan. Sepanjang malam, pikiran saya disibukkan oleh kenangan pertemuan dengan orang Cina di Jalan Malioboro itu.

Saya tidur sendirian dalam posisi telentang, dengan tatapan mata menerawang ke atas. Sayup-sayup dari siaran teve yang belum saya matikan, terdengar berita bahwa Iran berhasil membombardir wilayah Tel Aviv, dikarenakan kekejaman Zionisme dan militer Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Beberapa militer Israel yang masih bocah berusia belasan tahun, menangis sesenggukan, memohon ampun pada Iran dan Ali Khamenei agar jangan menjatuhkan rudal-rudal ke wilayah Israel.

Seketika itu, sebuah plafon dari atap kamar, tiba-tiba terlepas ambruk, dan jatuh menghantam muka dan dada saya, hingga kontan saya pun pingsan di tempat tidur.

Ketika siuman, posisi saya sudah berada di rumah sakit, dengan seluruh wajah, lengan dan dada kiri yang sudah dipenuhi perban. Istri saya bercerita, ketika plafon atap menghantam tubuh saya sekitar Pk. 03.00 dini hari, ia berteriak meminta bantuan tetangga untuk segera melarikan saya ke rumah sakit.

Sejak beberapa minggu lalu, sebagian kanan atap plafon itu agak terkelupas, dan sebenarnya saya sudah berencana untuk membetulkan atap rumah, tetapi belum sempat karena beberapa kesibukan.

Barangkali benar apa-apa yang menjadi pendirian istri saya selama ini, bahwa tak selamanya persoalan hidup diukur dengan pertimbangan logika dan rasionalitas, sebab fenomena jatuhnya rudal-rudal Iran yang membombardir wilayah Israel, berjarak ribuan kilometer dari wilayah Indonesia. Tetapi, kenapa diri saya seakan termasuk salah satu yang menjadi korbannya?

Kini, saya terbujur lemah sebagai pasien Rumah Sakit, seperti halnya para pasien warga Palestina di Jalur Gaza, yang pernah diperlakukan semena-mena oleh Zionisme Israel. (*)

Oleh: Muhamad Muckhlisin

Penulis adalah Pengajar sastra di pedalaman Banten Selatan, penulis prosa dan esai, juga pemenang pertama lomba cerpen nasional pada 2017 lalu

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.