Orang Gila di Serambi Masjid

oleh -688 Dilihat
banner 468x60

Ngapain juga Bang Junet berlarian tak keruan di sepanjang perempatan Desa Nameng sejak sore tadi. Besoknya dia akan melakukan hal yang sama di tempat yang sama, dan pada waktu yang selalu tepat sekitar jam empat hingga lima sore. Padahal, tak pernah ada orang berlarian di tempat itu, di samping karena padatnya kendaraan, juga cukup ramai lalu-lalang para karyawan yang pulang dari pabrik.

Anehnya, pada suatu sore di hari Jumat, tiba-tiba muncul beberapa orang yang ikut berlarian di belakang Bang Junet. Jalanan dan lorong-lorong tiba-tiba menjadi ramai. Padahal Jumat, menurut kepercayaan banyak orang adalah hari keramat. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di hari Jumat identik dengan kesialan atau hari naas. Kebanyakan petani menunda pekerjaan hingga hari Sabtu tiba. Tetapi menurut Bang Junet, dan orang-orang yang mengikutinya, berharap bahwa dengan berlari di sore hari dapat membuang bala dan kesialan.

Sesampainya di lapangan bola, Bang Junet berlari kencang ke tengah lapangan, hingga orang-orang pun mengikutinya. Seketika itu, dia berteriak lantang: “Ya Allah… berilah aku rezeki yang melimpah… Kaulah Maha Pemberi rezeki…!”

            Dengan tangan menadah dan muka menengadah, sebagian orang terkesima, namun sebagian lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Kepalanya lonjong seperti buah semangka, matanya menghitam dan menonjol bulat seperti mata burung hantu. Suaranya keras dan parau layaknya mesin kereta api. Bang Junet tak pernah tersenyum. Ketika ia bahagia, tak pernah ia tertawa hingga terpingkal-pingkal. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seakan menjadi bensin yang dapat menyulut api kemarahannya. Ayahnya pernah mengirimnya agar menuntut ilmu di pesantren, meski ia sendiri tak paham apa yang disebutnya sebagai “menuntut ilmu”.

Setelah ia dikeluarkan dari pesantren karena sering berkelahi, ia pun kembali ke Desa Nameng, tempat ia kemudian menjadi khatib dan imam masjid. Suatu waktu, ia keliru membaca surah “Al-Kafirun” saat menjadi imam. Seorang makmum memperingatkan, namun ia menghardik sang makmum dengan julukan “si Murtad”. Ia pun menyerah menjadi imam dan berhenti pergi ke masjid. Bahkan, suatu hari ia memutuskan untuk berhenti salat. Ia mulai bermain kartu di gardu ronda, atau sesekali bermain catur meskipun tak pernah dimenangkannya.

Ketika Pak Salim membuka kios sayur-mayur di perempatan desa, ia pernah menawarkan Bang Junet untuk menjaganya di sore hari. Namun, hal itu hanya berlangsung selama enam hari saja. Pak Salim mengusirnya ketika ia mendapati besi magnet yang menempel pada timbangannya, lalu Bang Junet berdalih bahwa magnet itu seakan kiriman dari Malaikat Mikail agar rezekinya berjalan lancar. “Sontoloyo kamu, Junet!” pekik Pak Salim sambil melemparkan besi magnet itu ke keranjang sampah.

***

Kini, ia menjadi pengangguran lagi, menggelandang lagi, meski tidak sedikit orang desa, terutama anak-anak yang kerap mendengar petuah dan wejangannya, sambil duduk bersila mengelilinginya. Ketika ia marah dan wajahnya mulai memerah, anak-anak justru semakin menjahilinya hingga kemarahannya semakin menjadi-jadi. Mereka akan terus tertawa hingga kerumunan itu akhirnya bubar menjelang matahari terbenam.

Pada kenyataannya, di balik bicaranya yang kasar, Bang Junet merupakan orang yang cukup pemalu. Ia lebih memilih melewatkan beberapa hari tanpa rokok daripada meminta kepada masyarakat desa. Ia selalu membawa jarum dan benang untuk menjahit sarungnya kalau-kalau ada yang bolong. Ketika pakaiannya kotor, ia akan pergi mejauh dari orang-orang untuk mencucinya di toilet masjid. Ia akan membiarkan dirinya telanjang hingga pakaiannya kering. Jika sarungnya yang kotor, ia hanya mengenakan kaos dan celana kolor, lalu menjauhi orang-orang yang sedang salat untuk tidur-tiduran di gardu ronda.

Bang Junet bukan seperti jago maling ayam yang kadang sibuk beroperasi di kala musim paceklik. Sama sekali ia bukan pencuri kawakan yang suka beroperasi di desa seberang untuk mencuri ternak kerbau atau kambing di tengah malam. Masyarakat desa Nameng tergolong masyarakat pekerja untuk keperluan sandang-pangan bagi keluarganya. Seperti kebanyakan desa di sekitarnya, di sana tentu ada pencuri kecil-kecilan yang mengendap-endap di kebun hanya untuk mencabut kacang tanah atau setangkal jagung.

Para perempuan yang senggang, janda-janda dan kaum tua yang sedang sekarat. Singkatnya, mereka tergolong orang-orang saleh dan taat beribadah. Kita akan dapat menemukan mereka berkumpul di masjid tatkala seorang kiai memberikan materi pengajian tiap malam Rabu. Kita pun tidak pernah melihat seorang dari mereka yang membatalkan puasanya di bulan Ramadan.

Ada hukum dan prinsip-prinsip dasar yang harus dipatuhi oleh masyarakat, termasuk dalam pengabdian seorang hamba di hadapan Tuhannya. Tentu kita akan tertawa ketika ada orang yang ujug-ujug mengaku Imam Mahdi yang kelak akan diutus Tuhan di akhir zaman. Sementara, pengakuan itu datang dari pihak yang kapasitasnya telah diketahui banyak orang.

Kepala Bang Junet tampak mengkilat, dan rambut keritingnya yang dipotong pendek berkilau oleh keringat. Mata Bang Junet memancar seperti bara api, sementara tatapan sengit dan kemarahan yang tajam menutupi wajahnya. Kadang, ia meratap sambil menengadah: “Apa salah saya, ya Allah, mengapa Engkau memilih saya dari ratusan juta penduduk negeri ini? Saya dikeluarkan dari pesantren, menjual rumah dan ditinggalkan istri seorang diri? Bisakah Engkau jelaskan apa salah saya? Kenapa sampai hati menghukum saya, dan bukannya menghanguskan kepala Donald Trump presiden Amerika, atau bahkan menenggelamkan bangsa Israel seperti tenggelamnya kaum Nabi Nuh? Mengapa harus saya, ya Allaaah!”

Mata Bang Junet melotot ketika mengucapkan kalimat terakhir itu, seakan-akan ia mampu menghujat Tuhan dengan fasihnya. Mulutnya tampak berbusa dan dibasahi keringat, sementara suaranya dipenuhi oleh kebencian yang mendendam. Masyarakat terdiam kaku, seakan kata-kata Bang Junet dapat menimbulkan marabahaya bagi seluruh alam. Dosa yang dilakukan satu orang seakan dapat menanggung beban seluruh masyarakat. Untuk itu, beberapa tetua warga mencoba meredam kemarahan Bang Junet dan mengistirahatkan mulutnya. Untuk sementara, Bang Junet memalingkan wajah dari langit dan mengarahkan pandangan kepada khalayak yang sinis menatapnya.

***

Kemarahan Bang Junet kini ditumpahkan kepada Ustaz Sodik yang kerap memperingatkannya agar berlaku sabar. “Tapi, mengapa saya harus bersabar, wahai Ustaz Tengik? Apakah Anda takut kehilangan rumah, istri, dan perabot rumah Anda? Sekarang saya tak memiliki apapun, lantas apa yang harus saya takuti, jika Allah akan mengutus Malaikat Izrail untuk mencabut nyawa sekalipun!”

Sore itu, ia berlari-lari kembali di perempatan lalu menyampaikan ceramahnya di tengah lapangan bola. Ustaz Sodik berunding dengan beberapa tetua agar mengirimkan pemuda yang kuat, memelintir kepalanya, serta menjatuhkannya ke tanah.

“Mengapa Anda membawa-bawa jamaah, Junet? Bukankah mereka akan tersesat seperti Anda sendiri yang mempunyai pandangan miring yang menyesatkan?”

Sontak Bang Junet segera menyambar, “Bagiku agamaku dan bagimu agamamu, Ustaz Tengik! Apakah Anda takut jamaah Anda berhijrah menjadi umatku, sementara mereka akan mengikuti jejak langkahku memasuki api neraka di akhirat nanti?”

“Kenapa Anda tidak kerja saja, kalau memang menginginkan rezeki yang melimpah?” tanya sang Ustaz lagi.

“Pekerjaan saya di sini, Ustaz Tengik… saya menganggur karena saya enggak mau jadi budak-budak presiden Amerika dan World Bank!”

Pada titik ini, Ustaz Sodik memerintahkan pemuda suruhannya untuk memasuki lapangan bola dengan tongkat pemukul di tangannya. Seketika itu, Bang Junet lari terbirit-birit meninggalkan lapangan, sambil membetulkan gulungan sarungnya yang selalu kedodoran.

Keesokan harinya, ia muncul lagi dan berlari lagi. Berkali-kali Ustaz Sodik mengutus sang pemuda hingga kewalahan sendiri harus memberikan upah kepada utusannya. Sementara, tugasnya hanya menakut-nakuti Bang Junet agar meninggalkan lapangan bola hingga kerumunan menjadi bubar.  Tatkala Bang Junet mulai menggugat pemuda itu, apakah ia punya hak untuk melarang-larang orang berceramah di tengah lapangan, akhirnya si pemuda merasa kapok dan jera juga.

Kini, situasi menjadi agak terkendali. Bang Junet tetap berlarian menuju lapangan, meski ia tak lagi mengeluarkan suaranya. Beberapa ibu-ibu menyodorkan nasi beserta lauk-pauk di piring, kemudian Bang Junet akan membawanya ke serambi masjid seraya menyantapnya. Setelah itu, ia terbiasa minum melalui keran tempat pengambilan air wudlu, meski orang-orang merasa heran mengapa ia tak pernah mengeluhkan sakit perut atau penyakit lainnya. Salah seorang warga memberikan padanya sebungkus rokok, lalu ia pun menyulut rokok setelah makan, serta menghisapnya dalam-dalam.

Suatu ketika, dua pelajar SMU datang menghampirinya selepas salat Jumat. Lalu memberinya selinting ganja dan mencobakannya ke mulut Bang Junet. Dari kejauhan kedua pelajar itu mengamati gerak-gerik Bang Junet yang sedang menikmati seleranya, bahkan menganggap itulah rokok terbaik yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

“Wah, inilah rokok termahal di dunia,” gumamnya kemudian, “Allah Maha Pengasih telah menganugerahkan rokok yang tiada tara kenikmatannya, hehehe….”

Ia sangat merindukan pelajar SMU itu, serta berharap agar keduanya datang kembali dan memberinya satu pak ganja, lalu mendoakan mereka agar diberi keselamatan dunia dan akhirat.

Bang Junet tetap tinggal di desa Nameng. Sebagaimana presiden Republik Indonesia, kadang orang membencinya tetapi juga memuji dan menyanjungnya di lain waktu. Jika baju dan sarungnya usang, akan ada orang yang memberinya sarung baru. Kalau dia lapar, akan ada ibu-ibu yang menyodorkan piring dan nampan berisi makanan.

Selama ini, ia tidur di serambi masjid, dan sesekali menyapu halaman masjid yang dipenuhi daun-daun pohon yang berguguran.

Setidaknya ia adalah warga yang berhak dilindungi oleh negara, serta mendapat pengamanan yang layak. Bukan diperlakukan sebagai musuh atau sebagai komoditas politik untuk melanggengkan kekuasaan kosmopolit yang terus-menerus berupaya untuk membodohi dan mengelabui warga negaranya. []

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Cerpenis generasi milenial, juga pengamat sastra mutakhir Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.