Pohon Ajaib 

oleh -1021 Dilihat
banner 468x60

“Ini pohon ajaib, bentuknya seperti kaktus tapi daunnya mirip dengan lidah buaya,” demikian kata Ayah sambil menyodorkan pohon itu di sebuah pot antik, hingga membuat saya dan istri penasaran.

“Tapi, kok enggak ada durinya sama sekali?” tanya istri saya, seraya mengamati pohon itu dengan tatapan bingung.

“Memang,” balas Ayah, “itu juga menjadi keunikan tersendiri.”

Pohon itu tingginya sekitar limabelas sentimeter. Bagian bawahnya besar, lalu meruncing ke atas. Sementara daun-daunnya bisa dihitung dengan jari, tetapi menempel ketat pada batangnya yang kokoh.

“Di kampung Ayah disebut pohon Tuba. Memang namanya agak aneh tetapi khasiatnya luar biasa,” imbuh Ayah.

“Khasiat apanya?” pancing saya agak sangsi.

Ibu memegang daun-daun pohon Tuba, kemudian katanya membela Ayah, “Pohon ini akan kuat walaupun dengan bantuan sedikit sinar matahari. Kalau kamu menaruhnya di samping tempat tidur, sepanjang malam itu kamu akan mengalami mimpi aneh.”

“Walah welah, maksudnya apa ini?” tanya istri saya sambil mengerlingkan matanya.

Seketika saya mendekatkan mulut ke arah istri sambil berbisik, “Tentu saja yang mereka maksud, mimpi berhubungan badan.”

“Oya?” istri saya makin keheranan dengan pipi yang merona.

Ayah melontarkan kata-kata yang agak mesum di hadapan kami, “Kalian kan sudah empat tahun menikah, tapi belum juga punya anak. Makanya, Ayah bawakan ini supaya ditaruh di kamar kalian, atau sesekali kalian taruh di samping tempat tidur. Cobalah dulu, nanti kalian akan merasakan sendiri khasiatnya.”

Mau tidak mau kami terima saja hadiah yang aneh itu, supaya tidak mengecewakan mereka. Meski kurang begitu yakin, pohon itu saya bawa menuju kamar, bahkan langsung saya taruh di samping tempat tidur kami.

Malam harinya, seperti biasa kami tidur sambil memunggungi satu sama lain. Kami sempat membahas dan bercengkerama, sambil sesekali memeriksa pohon Tuba di samping kami. Pada saat-saat seperti itu, ingin sekali saya menjadi yang pertama tidur. Kalau tidak, suara napas istri terdengar jelas seperti seorang wanita penderita TBC. Apalagi kalau dia mengaku telah mengalami mimpi yang erotis, biasanya ia mengingau sambil kakinya menendang-nendang tak karuan.

***

Untungnya, malam itu saya duluan yang terlelap tidur. Lalu, tak berapa lama saya pun benar-benar bermimpi.

Dalam mimpi itu, saya turun dari ranjang, kemudian menyalakan sepeda motor untuk menemui Lisa di kampung seberang. Dia adalah mantan pacar saya sewaktu SMA, tapi kemudian ia berjodoh dengan Farid kakak kelasnya, yang bekerja di pabrik baja PT Rakata.

Di depan pintu pagar, saya meminta izin dari suaminya untuk membawa Lisa jalan-jalan di sekitar alun-alun kota. Dengan senang hati sang suami mempersilakan istrinya diajak oleh saya, seakan-akan ia mau berbagi. Bahkan, dalam kepercayaannya, berbagi pasangan itu adalah perbuatan baik yang mendatangkan pahala.

Saya mengajak Lisa untuk mampir ke kafe, setelah itu kami nonton film Hollywood dengan tema cinta di sebuah bioskop dekat alun-alun kota. Sebelum masuk hotel, kami mampir dulu ke restoran Padang untuk menyantap makan malam dengan menu pilihan yang terasa nikmat dihidangkan oleh dua pelayan yang masih gadis. Salah seorang pelayan cantik mengerlingkan matanya, seolah sudah mengenal kami sambil berujar genit, “Kalau Mas sudah bosan sama Lisa, sekali-sekali boleh juga mengajak saya ke hotel.”

Anehnya, Lisa bukannya cemburu, malah mempersilakan gadis itu untuk saya tiduri sepuasnya, seolah-olah perbuatan itu bukanlah kemaksiatan, karena memang tidak ada kosakata “maksiat” dalam mimpi erotis ini.

Tak berapa lama, muncul lagi seorang gadis melangkah memasuki restoran lalu mengambil posisi duduk di samping kami. Ia mengenakan setelan merah muda dan tampak anggun menyerupai mahasiswi. Dengan sedikit riasan di samping lipstik, ia berkulit putih dengan pipi yang merona, tiba-tiba berkata sambil tersenyum manis, “Sama saya juga enggak apa-apa, Mas, berapa ronde pun yang Mas inginkan, akan saya layani.”

Ketiga wanita itu seakan memperebutkan saya di restoran itu, agar bermalam ke hotel mengajak mereka. Tapi anehnya, mereka bisa hidup rukun dan saling damai. Bahkan, mereka sukarela untuk saling berbagi dengan memberikan saya sebagai hadiah bagi hasrat keinginannya masing-masing.

Akhirnya, saya memutuskan, bagaimana kalau ketiganya bisa tidur dalam satu ranjang, lalu setelah kami saling membuka baju, lalu satu persatu antri untuk melayani saya. Tampaknya usulan itu diterima oleh mereka dengan senang hati. Sama sekali tak ada rasa iri dan cemburu pada wajah-wajah mereka.

Saya pun meninggalkan sepeda motor di depan restoran, lalu melangkah bersama Lisa, pelayan dan mahasiswi cantik menuju hotel berbintang lima, yang tampaknya tidak jauh dari restoran tersebut. Ketika kami berjalan saling bergandengan tangan, tiba-tiba berpapasan dengan seorang polwan yang sedang bertugas. Anehnya, si polwan cantik itu justru tersenyum renyah melihat kelakuan kami di jalanan, bahkan dia minta diajak menuju hotel untuk minta bergiliran setelah ketiga wanita tersebut. Dengan demikian, saya pun mengajak polwan cantik itu untuk tidur bareng bersama kami.

“Kenapa di kota ini tidak ada aturan?” tanya saya pada polwan cantik itu.

“Semua cita-cita manusia untuk hidup rukun dan damai sudah tercapai di kota ini. Untuk itu, kota ini dinamakan kota Firdaus,” ujar sang polwan.

“Lalu, bagaimana dengan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya?” tanya saya lagi.

“Di sini tingkat kemakmuran sudah merata di mana-mana. Bahkan, untuk membayar biaya hotel dengan segala plus-plusnya, nanti akan saya traktir buat kalian semua, bagaimana?”

“Oke, siiplah,” teriak girang ketiga wanita di sebelah saya.

“Tapi, apakah Bu Polwan belum berkeluarga?”

“Saya mendapat restu dari suami dan anak-anak saya untuk melakukan apapun yang saya sukai.”

“Sip lah, mantaap!!” teriak ketiga wanita lagi.

***

Setelah memasuki hotel, kami berempat menuju lobi dan berdiri di meja resepsi. Seorang wanita tua yang rambutnya telah menipis keluar, kemudian mencatat beberapa hal setelah mengajukan beberapa pertanyaan:

“Anda sudah menikah?” tanya perempuan tua itu.

“Sudah.”
 “Terus, istrimu yang mana di antara empat wanita ini?”

“Istri saya tidak ikut,” jawab saya singkat. “Dia sedang tidur di sebelah saya.”

“Jadi, kamu mengajak empat wanita ini ke kamar hotel, sementara istrimu sedang tidur?”

Semula saya menduga wanita tua itu kesal atau marah, tapi ternyata dia malah tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. “Tidurlah sepuasmu di hotel ini, kalau perlu perbanyak keturunan,” katanya sambil terkekeh-kekeh.

Ketika kami menuju kamar hotel di lantai 3, di dalam lift saya berpapasan dengan sepasang lelaki dan perempuan. Seketika itu, saya berteriak kaget, karena ternyata dia adalah istri saya bersama Bowo tetangga kami. Tapi anehnya, istri saya justru tersenyum gembira melihat saya menggandeng empat perempuan cantik, bahkan ia berseloroh dengan genitnya, “Boleh juga tuh… lain kali saya juga mau menggandeng empat laki-laki, enggak apa-apa kan, Mas?”

Sama sekali tak ada perasaan iri dan cemburu pada diri saya, hingga seketika itu saya menjawab spontan, “Boleh-boleh aja.”

Di dalam hotel yang luas, segala jenis anggur dan rupa-rupa makanan dan cemilan sudah tersedia dalam dua kulkas besar yang tersedia. Dua pelayan laki-laki datang menawarkan jasanya, bahwa selama di hotel itu kami boleh menikmati segala sarana dan fasilitas yang tersedia. Bahkan, tenaga sopir pun sudah disediakan untuk keperluan ke mana pun yang akan kami tuju di area kota Firdaus itu. Semuanya serba gratis. Kalaupun ada sesuatu yang harus dibayar, si polwan cantik dengan senang hati mentraktir saya, bahkan membayar segala keperluan Lisa, mahasiswi dan pelayan cantik itu.

Di tengah malam gulita yang penuh keceriaan, ketika desahan napas si polwan dan pelayan cantik yang begitu keras, tiba-tiba muncul istri saya dari balik pintu hotel yang tidak terkunci. “Wiih keren, lagi seneng-seneng, ya?”

“Iya, dong,” balas keempat wanita serempak, “kamu juga, kan?”

Terbersit dalam pikiran saya untuk melontarkan pertanyaan, sudah berapa kali istri saya pergi ke hotel bersama Bowo. Tapi, setelah menyadari bahwa hal itu hanya mimpi, maka saya urungkan pertanyaan yang menghakimi tersebut.

“Cantik juga istrimu,” kata si polwan sambil tersenyum.

“Kalian berempat justru lebih muda dan lebih cantik daripada saya,” balas istri saya.

Istri dan ketiga pasangan saya saling bercanda, berbalas pantun, bahkan berkejar-kejaran di ruang hotel yang cukup luas. Seketika itu, muncul pelayan dari balik pintu, “Air mandi panasnya sudah tersedia. Bagi Bapak-Ibu yang mau mandi duluan silakan.” Para wanita itu berebutan masuk kamar mandi, hingga mereka pun mandi bareng-bareng sambil ketawa-ketiwi dan bercanda ria.

Sebelum masuk kamar mandi, si polwan minta satu ronde lagi, dan saya pun melayaninya di tempat tidur. Entah, ada faktor apa yang bisa mensuplai energi saya yang tetap masih vit dan kuat, untuk melayani keempat wanita itu secara bergiliran.

***

Setelah saya terbangun, istri masih tertidur lelap di samping saya. Mimpi ini rasanya terlalu mirip dengan kenyataan. Malah saya mengira, jangan-jangan semua peristiwa ini adalah kenyataan. Untuk mengujinya, saya mencoba mencubit pipi saya sekeras-kerasnya, tetapi aduh! Memang terasa sakit sekali. Terbersit oleh pikiran saya untuk segera membangunkan istri karena dirundung rasa cemburu, kalau-kalau dia bisa menikmati mimpi itu berkepanjangan.

Saya menonjok lengannya keras-keras, lalu ia pun terkesiap, “Apa-apaan sih kamu? Lagi enak-enak tidur, malah dibangunin!”

“Hey, enak aja! Kamu pikir saya bakal membiarkanmu bersenang-senang sendiri? Saya juga pengen tidur lagi dan menikmati sepuas-puasnya!”

“Emangnya kamu aja yang bisa? Lihat saja nanti!”

Kembali kami saling memunggungi satu sama lain. Tak berapa lama, saya pun terlelap kembali.

Kali ini saya berdua bersama Lisa memasuki kamar hotel. Saya tak perlu membayar karena Lisa secara sukarela mentraktir segala keperluan saya. Menurutnya, dengan berbagi sesama manusia, baik moril maupun materil akan mendatangkan pahala yang berlipat-lipat ganda.

Sebelum memasuki pintu kamar, lagi-lagi saya menyaksikan istri sedang bergandengan tangan dengan Bowo tetangga saya, seraya masuk ke kamar sebelah kami. “Asyik nih ye… kali ini berduaan aja dengan Lisa? Mana ketiga cewek cantik pasanganmu itu?” tanya istri saya.

“Mereka tidak ketemu di jalan,” jawab saya.

“Kalau begitu, boleh dong bergantian dengan saya setelah Lisa nanti?”

“Boleh-boleh aja,” balas saya.

Ketika Lisa sedang ke kamar mandi, tiba-tiba menyelusup istri saya memasuki kamar hotel, dan segera melucuti pakaian dalam saya dan pakaian dalamnya sendiri. Seketika ia melompat ke ranjang dalam keadaan telanjang bulat. Sebelum kami mencapai klimaks, tiba-tiba bel pintu berbunyi seraya membangunkan kami berdua.

“Hah! Kamu?” saya berteriak. Istri saya juga berteriak dalam waktu bersamaan. “Ah, rupanya kamu, ya? Ternyata mimpi kita saling terhubung!”

Sekarang sudah pagi. Sinar matahari membanjir lewat celah gorden, menerangi pohon Tuba di kaki ranjang kami.

“Siapa di luar? Masih pagi begini!” teriak saya. Hening, tak ada jawaban.

“Kamu lihat sana,” kata istri saya.
“Kamu saja!”
“Ah, saya masih telanjang begini.”
“Saya juga.”

“Kamu lebih cepat pakai bajunya, ayo lihat sana!”

Saya pun bangkit, mengenakan baju dan celana panjang, kemudian pergi membukakan pintu depan. Yang berdiri di serambi ternyata Bowo tetangga saya. “Pak Bowo, ada apa? Tumben pagi-pagi begini?”

Tadinya saya mau mengungkit pertemuan kami di hotel, tetapi saya berusaha menahan diri. Lagipula, itu cuma mimpi. Tapi kemudian, tiba-tiba tetangga saya itu berkata, “Maaf, saya mengganggu pagi-pagi begini. Sebenarnya, saya datang ke sini mau memberi tahu adanya pohon sejenis kaktus atau lidah buaya…”

“Ya, ya,” segera saya menyela. “Kami sudah tahu, Pak, kami sudah mengerti.”

“Tapi, saya mau jelaskan dulu, sebab kalau kita menaruh pohon ini di samping tempat tidur…”

“Cukup, Pak Bowo, cukup, kami sudah paham.”

Dan saya pun menutup pintu dan membiarkan ia berdiri terpaku di ambang pintu.
Siang harinya, kami mendengar bel pintu berbunyi kembali. Kali ini, empat orang petugas kebersihan kota, tiba-tiba menyeruduk masuk ke dalam rumah. Kontan saya memprotes keras,       “Ada apa, Pak? Kok tiba-tiba masuk tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?”

Salah seorang dari mereka berceloteh, “Kami sudah umumkan melalui media daring, dan saya kira semua orang sudah diberitahu…”

“Tapi nanti dulu, apa yang bisa kami bantu, Bapak-bapak?”

“Kami dari Dinas Kebersihan Kota, mau bertanya, benarkah bahwa Anda memiliki pohon Tuba di rumah ini?”

“Ya, memang ada. Itu dari pemberian orang tua saya. Apakah pohon itu mengganggu?”

“Sudah saya duga,” sahut salah seorang yang membawa semacam alat sensor. “Coba perhatikan, ini sensor bagi siapapun yang bermimpi mesum. Alat ini tak pernah gagal, atau setidaknya jarang gagal. Nah, sekarang tolong serahkan pohon maksiat itu.”

Seketika itu, dua orang dari mereka merangsek ke kamar-kamar untuk menggeledah.

“Tapi, nanti dulu, Pak!”

Mereka seenaknya mengeloyor saja ke kamar tidur kami. Sambil membawa pohon misterius itu keluar, mereka saling tertawa cengengesan.

“Mau diapakan pohon itu, Pak?” tanya saya lagi.

“Anda belum lihat semua saluran teve pagi ini? Baiklah, akan saya beri tahu.” Salah seorang dari mereka menjelaskan panjang lebar: “Baru-baru ini, gara-gara pohon Tuba ini yang menimbulkan keresahan masyarakat di sana sini. Pohon inilah yang membuat orang-orang sulit membedakan mana fakta dan fiksi, mana khayalan dan kenyataan. Orang-orang pada seenaknya berciuman di jalanan. Para perempuan yang tadinya memakai jilbab, tahu-tahu membuka auratnya dengan hanya memakai kaos lekton dan rok mini. Para mahasiswa seenaknya merayu pramuniaga wanita di minimarket, bahkan pelayan restoran berani mengajak polwan untuk kencan di hotel-hotel. Padahal polwan itu sudah berkeluarga. Akhirnya, pemerintah pusat berkesimpulan agar segera mengambil tindakan taktis dan cepat, untuk merazia rumah-rumah yang memiliki pohon Tuba ini. Kalau tidak, keresahan masyarakat, apalagi alim ulama akan semakin menjadi-jadi…”

“Waduh,” kata saya sambil menepuk jidat, “saya enggak tahu kalau ternyata banyak orang yang punya pohon ini, Pak.”

“Ini sudah keputusan pemerintah, apa boleh buat pohon ini kami sita.”

“Jangan begitu dong, Pak,” sanggah istri saya, “kami ini kan baru satu malam punya pohon itu. Kalau sudah setahun kami miliki, lalu Bapak sita, itu namanya adil…”
“Huss!”

Para petugas kebersihan keluar sambil membawa pohon Tuba dan menghempaskannya ke dalam mobil box. Kemudian, mereka bergegas menuju rumah Bowo tetangga kami. Entah, sudah berapa lama Bowo menaruh pohon misterius itu di samping tempat tidurnya. ***

Oleh: Supadilah Iskandar
(Prosaik dan kritikus sastra, juga pengamat sastra milenial Indonesia)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.