Perihal Tsunami Aceh 

oleh -949 Dilihat
banner 468x60

Gempa bumi dan tsunami Aceh terjadi lebih dari dua dekade lalu, dan telah menewaskan lebih dari 170.000 jiwa. Bencana alam itu dinilai paling dahsyat dan mematikan pada abad ke-21 ini. Tingginya angka kematian disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat, termasuk minimnya keluarga saya dalam memahami mitigasi berikut dampak akibat bencana alam yang mematikan tersebut.

Tentu saya mengingat kejadian itu, terutama ketika pada minggu-minggu terakhir tak henti-hentinya saya dan istri bertengkar siang dan malam. Namun kemudian, hanya beberapa detik setelah peristiwa tsunami tersebut, status kami bukan lagi suami-istri, karena istri dan anak saya yang berusia sembilan tahun telah menjadi korban karena hempasan ombak laut, termasuk kedua mertua dan enam saudara saya, dari pihak istri.

Pada malam Jumat itu kami mulai bertengkar lebih awal dari biasanya. Memang di wilayah Aceh dan sekitarnya sedang ada pemadaman listrik scara bergantian. Pertengkaran dimulai karena hal-hal sepele, seperti di mana menaruh korek api dan lilin, mengapa benda-benda itu sulit ditemukan, dan siapa yang terakhir kali memakainya. Saya masih ingat bagaimana percekcokan di akhir Desember itu terus berkembang, hingga kemudian semakin mengerucut pada persoalan uang.

Kalau sudah masuk ke persoalan duit, mulut istri saya akan menjelma bagaikan magma yang semakin memompa perselisihan kami:

“Kalau istri-istri lainnya masih bisa membeli ini dan itu, tapi saya harus susah-payah mengumpulkan uang hanya karena ingin mempunyai sepotong daster…”

“Lebaran kemarin kan sudah dibelikan beberapa baju baru?”

“Apa? Baju lebaran? Hey, laki-laki, lebaran itu sudah lewat beberapa bulan lalu… sekarang model-model baju sudah baru… di mana-mana model terbaru…”

“Syukuri saja apa yang ada…”

“Yang ada itu apa? Apa pernah kamu memikirkan kepentingan istrimu ini?”

“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin…”

“Apanya yang maksimal… pokoknya, semuanya ini karena memang penghasilan kamu pas-pasan.”

“Tapi yang penting halal, kan?”

“Soal halal dan haram, itu urusan kamu… tapi yang jadi soal, sudah berapa besar pengorbanan kamu terhadap istrimu ini?”

“Sudahlah, sebenarnya yang kamu ributkan selama ini hanya soal uang, kan?”

“Tapi bagaimana manusia bisa hidup tanpa uang? Bukankah semuanya memang harus dengan uang?”

“Kok pikiran kamu sempit begitu…”

“Kamu yang sempit… kamu yang membuat saya jadi gembel begini, iya kan?”

“Sudah, diam!”

“Dasar, laki-laki enggak ada gunanya… nyesel saya kawin sama kamu….”

Sepanjang hari Jumat dan Sabtu siang itu, kami bagaikan anjing kampung yang terbelenggu oleh urusan finansial. Wilayah Aceh Barat kala itu memang dikuasai oleh kedua kubu yang saling bertikai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan para militer yang masih bercokol sejak kekuasaan militerisme Orde Baru. Sulit bagi saya untuk mencari nafkah yang layak untuk menghidupi keluarga kami. Di sana-sini muncul kecurigaan dan pertikaian antara dua kubu yang bersengketa. Sebentar-sebentar terdengar kabar adanya anggota ABRI yang mengamuk dan menembaki warga desa, tak lama kemudian muncul lagi kabar mengenai tentara yang diculik GAM dan seterusnya.

Bertahun-tahun konflik bersenjata tak ada henti-hentinya. Kehidupan kami morat-marit. Satu-satunya anak kami yang beranjak remaja, terpaksa kami beri makan dari penjualan hasil perkebunan milik mertua saya. Ketika keadaan sudah teramat mendesak, sesekali saya ikut-serta menyelundupkan senjata bagi kepentingan warga sipil Aceh. Tentu dari kalangan militer juga merasa terbelenggu oleh ancaman GAM di sana-sini, meskipun rantai belenggu mereka agak panjang ketimbang kondisi finansial keluarga kami.

Kami tak bisa berjalan-jalan di wilayah teritorial Aceh Barat, tanpa jantung berdebar karena rasa takut dan panik. Biarpun begitu, entah bagaimana kami masih dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Secara optimistis berusaha untuk meyakini bahwa keadaan keuangan kami akan menemukan jalan keluar, ditunjang oleh rasa cinta di masa muda yang kini sudah berserakan.

Sebelum melangsungkan pernikahan dulu, dalam fase kehidupan saya pernah meyakini bahwa cinta adalah segala-galanya. Cinta bagaikan makhluk hidup, dan kadang kita perlu membawanya piknik supaya dia mendapat oksigen dan sinar matahari. Tetapi, jika yang dikonsumsi hanyalah makanan supermarket yang dicampur pemanis buatan, pewarna dan pengawet, nampaknya pertumbuhan seorang anak akan mengalami kekurangan gizi.

Entah mengapa, Sabtu sore itu rasa cinta kami seakan sudah terkuras habis. Ketika masuk ke rumah, setelah bersembunyi dari militer penjaga di sekitar Desa Lhok Bubon, saya mendapati istri sedang duduk-duduk bersama mertua perempuan saya, menghadap layar televisi, namun mereka sama sekali tak mau bicara ketika saya menyapa mereka.

***

Menjelang waktu magrib, saya berpamitan mau menengok Ibu yang tinggal di daerah Simpang Ulim. Ayah saya sudah meninggal sejak tujuh tahun lalu, dan kini Ibu tinggal sendirian di rumah, hanya ditemani oleh saudara perempuan yang juga berasal dari wilayah Aceh Timur.

Malam itu saya menginap di rumah Ibu. Keadaan darurat militer, membuat lampu-lampu di jalanan padam. Rumah-rumah penduduk hanya diterangi oleh kerlap-kerlip cahaya lilin yang bergoyang karena diterpa angin malam. Hanya ada beberapa lampu keamanan yang menyala di sekitar pos-pos penjagaan militer. Ketika memasuki kampung halaman kami, motor saya matikan, kemudian saya menuntunnya sekitar 500 meter menuju rumah Ibu. Di persimpangan jalan, saya sempat berjumpa dengan kawan lama yang membisiki saya perihal beberapa gadis desa yang menghilang, juga seorang bapak-bapak ditembak oknum aparat di depan sekumpulan anak muda yang dituduh selaku pemberontak GAM.

Setengah jam lebih saya memasuki area pemadaman listrik sebelum tiba di deretan bangunan rumah tua milik keluarga Ibu. Dengan bahan bakar yang tersedia, sebenarnya saya bisa memasuki area perkampungan dengan motor dinyalakan. Akan tetapi, saya merasa khawatir dengan suasana senyap, ditambah kabar-kabar burung dari kawan lama, yang kemudian dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Beberapa puluh meter memasuki Desa Simpang Ulim, saya berjumpa dengan dua orang wanita, yang salah satunya pernah berpacaran dengan saya sewaktu duduk di bangku SMA. Kedua wanita itu tinggal di suatu rumah di sekitar Pasar Baru, dengan kunci otomatis pada pintu masuk utamanya.

“Mau mampir ke tempat saya?”

Saya mendengar banyak berita tentang mantan kekasih saya, yang konon lebih akrab dengan kesatuan militer ketimbang dengan masyarakat sipil. Beberapa kawan lama memberi kabar, bahwa tidak sedikit para gadis desa yang bekerja sebagai “pelayan” guna melayani kepentingan dan kebutuhan para militer yang berjaga. Tidak jarang juga para janda yang kemudian memilih dinikahi oleh tentara karena pertimbangan finansial.

“Jadi, sekarang kamu tinggal di mana?” Pertanyaan itu dimungkinkan ketimbang saya bertanya “kerja di mana”. Sebab, wilayah teritorial yang menjadi kekuasaan militer, memang sulit bagi kaum perempuan untuk bekerja di pabrik maupun perusahaan yang vakum.

“Saya tinggal di Pasar Baru, ayo dong mampir,” tawarnya dengan nada genit.

“Maaf, terimakasih,” tanpa tedeng aling-aling saya pun menolaknya.

“Bisa enggak kita ngobrol sebentar saja?” desaknya kemudian.

“Ngobrol apa?” tanya saya lagi.

“Ada banyak yang nanti kita bicarakan di dalam.”

Setelah saya mengetahui tempatnya, segera saya hengkang dari wilayah Pasar Baru, yang ternyata adalah komplek pemukiman bagi para wanita-wanita pekerja malam.

Sejak saat itu, saya merasa malu terhadap diri sendiri, karena ketika seorang laki-laki mengalami pertengakaran panjang dengan istrinya, seringkali ia mudah melampiaskan nafsunya untuk mencari penghiburan dari wanita lain. Kadang bukan dengan sembarang wanita, tetapi dengan wanita yang pernah dia kecewakan di masa lalunya.

***

Setelah keheningan yang mencekam, selain bunyi yang kedengarannya seperti sinyal radio yang terputus-putus, saya tengah berbincang dengan seorang sahabat lama sewaktu SMA di sebuah warung kopi, dekat rumah Ibu di kampung halaman. Kami banyak mengobrol perihal belasan tahun selama kami berpisah sejak lulus SMA. Rupanya sahabat saya itu telah menjadi duda beranak dua, yang sejak tiga tahun lalu bercerai dari istrinya. Konon, mantan istrinya itu kemudian dinikahi seorang tentara di daerah Sama Tiga, Aceh Barat.

Seketika itu, kami teringat pada teman sekelas dari SMP hingga SMA, dan beberapa di antaranya telah bergabung dengan kesatuan GAM, bahkan boleh jadi sebagai penyelundup senjata bagi kalangan sipil yang pernah menjadi profesi saya demi untuk menghidupi keluarga.

Sahabat saya itu pernah memperkenalkan saya dengan wanita tunasusila di daerah Pasar Lama di sebuah warung remang-remang. Dua orang wanita menghampiri saya, tetapi saya menyatakan “maaf”, dan hanya mengobrol sambil minum kopi dan menikmati beberapa iris pisang goreng yang tersedia di atas meja. Dua wanita itu nampaknya memiliki banyak desas-desus mengenai dunia politik, kekuasaan militerisme, hingga para selebritas kelahiran Aceh yang cenderung religius namun menyimpang dari jalan yang benar.

Tak berapa lama, ponsel sahabat saya berdering, lalu muncul seorang temannya sambil mengendarai motor. Keduanya pamit meninggalkan saya sendirian, karena mereka harus buru-buru menuju Aceh Barat, entah ada urusan apa.

Saya hanya mengobrol dengan beberapa wanita yang mangkal, sampai kemudian memanggil ojek agar mengantarkan saya pulang ke rumah Ibu. Sesampainya di perempatan jalan, saya mampir dulu ke warung kelontong, untuk membelikan Ibu beberapa roti sobek dan buah-buahan yang masih segar.

Itulah hari-hari ketika saya merasa suntuk akibat pertengkaran yang berlarut-larut dengan istri. Banyak kabar berita mengenai konflik bersenjata antara sipil dan militer di wilayah Aceh Barat, akibatnya suasana begitu mencekam dan menakutkan. Kinerja masyarakat benar-benar lumpuh selama bertahun-tahun, anak-anak tak mendapat pendidikan yang layak, perceraian merebak di mana-mana, para muda-mudi menganggur dan saling tawuran. Bahkan, para janda dan orang tua kesulitan mencari nafkah bagi kehidupan anak-anak mereka.

Yang tak kalah mengenaskan adalah kecurigaan yang berlebihan, baik dari pihak sipil maupun militer, hingga peristiwa pembunuhan dari kedua belah pihak, seakan sudah menjadi kewajaran semata.

Dalam kondisi seperti itulah suasana di wilayah Aceh Barat, ketika Sabtu sore saya berangkat ke rumah Ibu di Simpang Ulim di wilayah Aceh Timur. Tiba-tiba, pada Minggu pagi tanggal 26 Desember 2004, seorang teman mengajak menuju rumah tetangga yang memiliki genset untuk penerangan rumahnya. Sekitar jam 9.00 pagi, siaran televisi di rumah itu mulai mengabarkan dampak dari peristiwa gempa dan tsunami sejak pagi tadi. Orang-orang mati terhempas air laut bersama serakan-serakan sampah akibat bangunan-banguan roboh yang berserakan di sana sini.

Keesokannya, saya tak diperbolehkan memasuki wilayah Aceh Barat, bahkan hanya untuk menengok anak dan istri beserta keluarga. Beberapa hari kemudian, dibantu oleh tim SAR dan wartawan Kabar Madura, kami menyaksikan ribuan orang masih bergelimpangan di jalanan, rumah-rumah penduduk, pasar-pasar hingga tempat-tempat ibadah. Saya tak berhasil menemukan seorang pun dari pihak keluarga istri yang masih bisa diselamatkan. Istri dan anak saya tak diketemukan mayatnya. Hanya dua orang dari saudara-kerabatnya yang berhasil diangkat dari puing-puing reruntuhan, lalu dikuburkan dalam suaru lubang besar bersama ratusan mayat dari kalangan sipil maupun militer.

Pemandangan orang-orang yang terkena bencana seakan melubangi hati saya yang terasa sakit, akibat pertengkaran yang berlarut-larut. Namun di sisi lain, mungkin Anda akan berpendapat bahwa sebaiknya kebenaran semacam ini tak perlu dinyatakan di depan publik. Ada kebenaran yang nampaknya kurang etis untuk diungkapkan dengan kata-kata. Akan tetapi, saya memilih untuk menyatakan ini, karena efeknya yang baik bagi kehidupan rumah-tangga, sebagai cermin teladan yang memang tidak sepatutnya untuk ditiru.

Kadang saya bersimpuh di atas sejadah di waktu sepertiga malam, membayangkan kejadian alam yang menghantam kota Sodom dan Gomorah puluhan abad silam. Ketika para malaikat mengabarkan akan meluluh-lantakkan kota itu, Nabi Ibrahim kemudian memprotes karena ada saudaranya yang baik dan saleh bernama Luth di kota tersebut. Tetapi, para malaikat akhirnya mengabarkan, bahwa Luth dan pengikutnya akan terselematakan dari peristiwa penghancuran tersebut.

Sesekali saya membuka lembaran-lembaran kitab suci perihal setiap kejadian di alam semesta ini yang takkan menjadi sia-sia belaka. Segala kerusakan yang terjadi, baik di darat dan di laut, tak lain akibat ulah perbuatan dan kekhilafan manusia sendiri. Ya, setiap kejadian sekecil apapun, pasti mengandung hikmah tersendiri, jika manusia sanggup menelusuri makna yang terkandung di dalamnya. ***

Oleh: Chudori Sukra
Penukis adalah Prosaik generasi milenial dan peneliti sastra mutakhir Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, luring dan daring, di antaranya Koran Tempo, kompas.idnusantaranews.com, NU Online, alif.idespos.id, Kabar Madura, Solopos, Tangsel Pos, dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.