Puasa, Lebaran dan Ziarah Kubur

oleh -1158 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfakir Ahmad Rafiuddin

Selama sebulan penuh, selayaknya umat Islam memikirkan hakikat ibadah yang telah dijalani sebagai pelatihan ruhani. Dalam puasa, terkandung aspek yang bukan menyangkut masalah agama, melainkan juga masalah kemaslahatan umat, menjaga diri, yang sejajar dengan menjaga alam dan lingkungan sekitar.

Melalui puasa Ramadhan, dan dalam suasana Idul Fitri, hendaknya kita terus berupaya untuk menggali hakikat diri, hingga Tuhan menganugerahkan pribadi-pribadi yang memiliki integritas moral yang tinggi. Dengan kesanggupan introspeksi dan bercermin diri secara kolektif, niscaya negeri ini akan melahirkan peradaban baru yang mencerahkan (madinah al-fadhilah), tempat berkumpulnya manusia-manusia yang mampu bersaing secara sehat dan manusiawi, serta bernaungnya pribadi-pribadi unggul yang berkarakter.

Suasana kegembiraan di hari raya Idul Fitri perlu pula dipahami sebagai rasa syukur, hingga manusia kembali kepada fitrahnya yang pemaaf dan penuh cinta-kasih. Demikian pula yang ditegaskan dalam Alquran, surat An-Nur, ayat 22: “Tidakkah kamu menginginkan agar Allah memaafkan kamu?”

Rupanya ayat tersebut selaras dengan pernyataan dalam Al-Kitab (Efesus 4:32): “Hendaklah kalian baik hati dan berbelaskasihan seorang terhadap yang lain.”

Kesucian hati

Umat Islam diharapkan dapat kembali pada kesucian hati, setelah dibersihkan dengan puasa Ramadhan, yang kemudian disempurnakan dengan mengeluarkan zakat fitrah sebagai bentuk rasa syukur dan berbagi kepada sesama.

Bertolak dari makna “idul” yang artinya kembali (‘id), sedangkan “fitri” adalah suci. Dengan demikian, tak boleh makna kesucian hati ini membuat para pelakunya merasa dirinya telah suci, hingga menimbulkan sikap jumawa atau sombong. Kesucian hati ini perlu dimaknai sebagai refleksi diri, introspeksi diri, sejauhmana nilai-nilai ibadah yang telah dilakukan dapat berdampak positif pada perubahan sikap dan karakter.

Oleh karena itu, kemeriahan “malam takbiran” perlu juga dimaknai sebagai ketundukan dan kepasrahan diri akan keberasan Tuhan yang menciptakan jagat makrokosmos ini. Berkumandangnya kata “Allahu Akbar” menandakan nilai-nilai ketuhanan yang Maha Besar. Sedangkan hakikat manusia hanyalah jagat mikro yang dibatasi oleh ruang dan waktu, yang kesemuanya itu mutlak dalam kendali Yang Maha Mencipta segalanya.

Selain itu, simbol dari kesucian hati diidentikkan dengan menikmati makan ketupat, yang menjadi salah satu makanan khas orang Indonesia saat merayakan Idul Fitri. Biasanya, ketupat yang berkualitas disajikan dengan opor, rendang, gulai, sambal goreng kentang, dan masakan khas lainnya.

Tradisi lebaran identik juga dengan tradisi mudik yang fenomenal, menyusul halal bihalal untuk saling bersilaturahmi antar keluarga dan saudara-kerabat. Tradisi lainnya adalah “nyekar” atau ziarah kubur. Sebagian kepercayan masyarakat Indonesia, bahwa para sanak keluarga yang telah meninggal dunia, sejatinya masih hidup seakan ikut menyemarakkan suasana lebaran.

Dalam Alquran memang tidak ada ayat yang secara eksplisit mengajarkan ziarah kubur. Apalagi pada fase tertentu, Rasulullah pernah melarang ziarah kubur, namun kemudian terdapat hadis Nabi yang memerintahkan umat Islam agar berziarah kubur (fa zuruha), yang selaras dengan perintah akan pentingnya manusia agar mengingat kematian.

Para ulama di Indonesia juga sepakat, bahwa menziarahi makam orang-orang baik dan saleh memiliki keutamaan tersendiri. Demikian juga yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, setelah diperintahkan perlunya berziarah, beliau juga memberi teladan dengan menziarahi makam mendiang para sahabatnya, khususnya yang dikuburkan di komplek pemakaman umum (baqi) di Madinah.

Lima abad sebelum itu, Nabi Isa sudah diperintahkan secara eksplisit akan pentingnya ziarah kubur (Mazmur 84:6), “Berbahagialah manusia yang berkuasa di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah.” ***

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah (Tebuireng 09), Rangkasbitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.