Sebagai mahasiswi S3 pada jurusan psikologi, sore itu seperti biasa saya mengambil jalan pintas sepulang dari kampus menuju rumah dinas. Sambil mengajar selaku dosen perguruan tinggi Untirta Banten, saya termasuk wanita pujaan yang banyak didambakan laki-laki, khususnya para dosen yang masih bujangan di kampus kami.
Sesampainya di jalanan bersemak yang ditumbuhi rumput ilalang, saya melihat dedaunan yang bersinar dan berkelap-kelip seperti dikelilingi kunang-kunang. Tiba-tiba, seberkas cahaya pucat tampak dari rerumputan, seakan bercampur warna kelabu yang dilingkupi cahaya keemasan. Tanpa sadar, saya menyibak rumput ilalang untuk mengetahui dari mana sumber cahaya tersebut. Seketika saya merasa takjub, karena tampak di hadapan saya sesosok makhluk mirip manusia yang bertangan dan berkaki, namun berkepala babi.
Tapi entah mengapa, saya bukannya jatuh pingsan melihat kenyataan itu, atau setidaknya merasa takut dan lari terbirit-birit, malah saya terpesona menyaksikan manusia kecil berkepala babi tersebut.
Cukup lama saya memerhatikan makhluk setinggi 15 sentimeter itu, sambil mengamati sorot matanya yang seakan menyala berkerlap-kerlip. Saya terpana dan terpaku, seakan tak sanggup melepaskan diri dari pandangan mata pada makhluk aneh dan ganjil tersebut. Eloknya kepala babi itu, tak pernah saya melihat sebelumnya, kecuali pada patung-patung dewa atau lukisan para pelukis tersohor.
Sejenak saya menduga, bahwa itu hanyalah kepala boneka yang dibuat dari bahan khusus, namun segera menyadari, bahwa itu benar-benar kepala manusia dalam bentuk babi. Meskipun makhluk itu tak bernyawa, namun sorot matanya seakan tak henti-hentinya berkerlap-kerlip, hingga membuat saya tertegun dan terpesona.
Seketika saya melihat manik matanya bergerak dan kelopaknya mengejap. Namun, mata itu tidak berfokus pada saya pribadi tetapi menyorot ke sekeliling bagaikan makhluk yang memiliki kecerdasan tersendiri. Saat kepala itu merundukkan pandangannya, bulu matanya mencerminkan sosok babi yang menyiratkan bayangan sendu ke seluruh rona wajah itu.
Segeralah saya menyentuh alis matanya, meski dihantui oleh rasa takut, terutama ketika merasakan alis mata itu berkedip sendiri, hingga saya bergegas untuk lari menuju rumah. Akhirnya, sepanjang hari saya membatin, tak bisa tidur, sambil memikirkan peristiwa aneh itu, jangan-jangan cuma khayalan atau halusinasi saya pribadi.
Tapi, kalau saya biarkan makhluk itu berkeliaran, saya khawatir juga adanya pihak-pihak lain yang jahil, atau berbuat jahat lantas menginjak dan membunuhnya. Sontak keesokan harinya mulai ramai jadi perbincangan publik di layar teve dan medsos, bahwa ada makhluk berbadan manusia berkepala babi yang mati di tengah jalan, seakan menandakan bahwa hari kiamat sudah di ambang pintu, dan seterusnya.
Setelah menenangkan diri, dengan penjelasan yang kurang masuk akal ini, saya mulai tertidur setelah seharian memikirkan makhluk aneh itu. Tetapi sialnya, tidur saya tak pernah nyenyak, selalu dirundung mimpi-mimpi buruk yang menyeramkan. Tetap saja, saya tak bisa mengenyahkan perasaan bahwa kepala itu hidup dan bernyawa. Dalam mimpi saya, setelah kepala babi itu terlepas dan menggelinding, tiba-tiba tubuhnya mendekat dan mengambil kembali, kemudian memasang kepalanya seperti semula.
Saya membayangkan dewa-dewa dalam kisah-kisah kuno dari negeri Cina. Kadang saya membayangkan, seandainya makhluk berkepala babi itu tunduk oleh hasrat dan kehendak saya, bahkan meniduri saya dalam keadaan telanjang, walaupun hanya sebatas kekasih yang suci dan setia. Kemudian, darinya saya membuahkan keturunan yang cantik dan molek, sampai kemudian saya terkesiap bangun, dan mengingat kembali mimpi yang membingungkan itu.
Entah, jenis kemaksiatan apa yang membuat saya berpikir porno dan mesum itu? Sementara, saya masih berbaring terjaga memikirkannya, terus-menerus dilanda perasaan aneh bahwa entah bagaimana saya benar-benar telah bersenggama dengan makhluk berkepala babi itu. Saat ketegangan mental dan hasrat yang memuncak, saya pun akhirnya memutuskan, bahwa makhluk aneh itu memang penting untuk dijadikan sahabat dan kekasih setia di kemudian hari.
***
Fajar baru muncul ketika saya melangkah pelan mendekati semak belukar, sambil menenteng tas besar. Makhluk berkepala babi itu masih berdiri tepat di mana saya meninggalkanya kemarin. Tidak ada yang berbeda kecuali daun-daun sintrong yang tumbuh liar di sekelilingnya.
Ketika saya menyapanya, ia tidak menyahut. Setelah saya membersihkan dari segala debu dan rumput kering, segera saya memasukkannya ke dalam tas, sambil memerhatikan pembuluh darahnya yang menyembul seperti kecambah. Tetapi, saya tak sempat saya mengamatinya dengan teliti, kecuali bergegas menuju rumah, agar tak seorang pun melihat saya berlarian di pagi buta itu.
Kini, gairah petualangan itu membuat saya seakan memiliki semangat baru. Kepala babi itu tidak lagi menakutkan bagi saya. Mungkin nanti akan saya ajak tidur dan berduaan sepanjang malam. Tapi, mungkinkah saya memiliki keberanian setangguh itu? Masalahnya, menghadapi tikus dan kecoa di kamar saja, takutnya setengah mati? Juga saya tak punya keberanian untuk memelihara seekor kucing apalagi anjing.
Saya pun membeli toples kaca yang agak mahal. Untuk sementara, saya menempatkan manusia berkepala babi itu ke dalam toples antik. Tapi kemudian, saya memerhatikan bahwa dia terlihat agak miring dan sulit diberdirikan. Lalu, saya membeli lem perekat agar dia tetap dalam posisi berdiri. Saya tidak merasakannya sebagai tindakan kejam, sebab wajahnya tampak tidak memperlihatkan kesakitan. Pandangannya kosong melalui matanya yang separuh terbuka, seakan-akan dalam keadaan tak sadarkan diri.
Ya, itulah kata-kata yang tepat untuk menerangkan tabiat kepala babi itu. Saya menyadari, kadang saya menganggap kepala itu sebagai boneka biasa saja. Mungkin, suatu saat nanti saya akan belikan tempat khusus yang lebih mahal, hingga para teman dan kolega bisa menyaksikannya secara langsung, bahkan dijadikan berita viral di media-media sosial.
“Oo, ini dia kepala babi yang sering kamu bicarakan itu?”
Tedy, tunangan saya kelihatan merasa kecewa berat. Karena selama ini, saya tak pernah membicarakan soal ini secara serius. Tapi minggu siang itu, ketika ia datang ke tempat saya dan melihatnya langsung, saya pun sadar, bahwa di depannya tak perlu ada rahasia lagi.
Ketika saya menjelaskan kepada Tedy perihal manusia berkepala babi, juga dari mana saya mendapatkannya, justru dia bertanya-tanya mengapa saya tidak merasa takut seperti para wanita lainnya. Tetapi, saya justru memandangnya seperti pemuda tampan yang harus menemani saya di kala tidur maupun terjaga.
Saya katakan padanya, bahwa kepala babi itu toh biasa saja, tak menyeramkan. Juga tak pernah menimbulkan ekstase. Saya hanya menciumi mulut dan hidungnya sebelum tidur. Meskipun saya sering dihantui mimpi buruk, namun lama kelamaan saya merasa nyaman ditemani manusia berkepala babi tersebut.
“Jadi, menurutmu ini benda hidup, tapi nyatanya dia diam saja?” tanya Tedy.
“Tapi ketika saya ciumi, mata dan mulutnya seperti bergerak-gerak.”
“Terus, apa yang kamu rasakan saat mencium boneka ini?”
“Terasa nyaman, seperti menciumi bayi yang mungil dan montok.”
“Tapi, bayi kan makhluk hidup? Sedangkan ini, hanya boneka, berkepala babi pula? Apakah kamu menyukai kepala babi?”
“Dulu tidak, tapi sekarang suka banget.”
“Semacam ketagihan begitu?”
“Kecanduan malah.”
“Tapi, dia sama sekali tak punya kesadaran sebagai manusia? Apakah menurutmu dia bisa berpikir dan merasa?”
Saya diam mematung. Tak mau lagi menjawab pertanyaan yang menurut saya tak masuk akal tersebut.
***
Sebagai mahasiswi S3 pada jurusan psikologi, saya merasa persahabatan dengan kepala babi sudah menjadi tabiat yang wajar dan biasa saja. Meski matanya selalu terbuka, dia tak melihat apa-apa, atau barangkali selalu awas dan waspada pada setiap gerak-gerik kaum laki-laki yang mencurigakan di sekelilingnya.
Lama kelamaan kami seakan luruh, bahkan bergairah dengan memeluk dan menciumi dirinya. Di depan Tedy tunangan saya, tak ragu-ragu saya berbicara dengan kepala babi dan selalu menciumi hidungnya. Bagi saya, sosok kepala babi itu tetap elok dan menawan, meskipun bagi banyak orang seakan jijik dan menyebalkan. Kepala babi itu ganteng dan menawan, ia bahkan lebih tampan dari lelaki manapun di dunia ini.
Saya membuatkannya pakaian, memberinya pewangi termahal, kemudian menempatkan ke dalam guci keemasan yang saya beli dari orang pintar di kota Solo, Jawa Tengah. Keindahannya begitu anggun dan lembut. Sebaliknya, Tedy tunangan saya, adalah laki-laki bajingan yang bangsat dan keringatnya bau tengik. Bagaikan ikan asin atau cumi yang sudah membusuk dan dikerubungi belatung.
Meskipun kami punya pendapat yang beda, tetap saja kami merencanakan pernikahan dengannya di sebuah hotel mewah di Denpasar, Bali, pada hari Minggu, tanggal 6 April bulan depan.
Jauh hari sebelum resepsi pernikahan, saya merengek pada Tedy agar kepala babi itu tetap dalam pangkuan saya selama perjalanan menuju pulau Bali.
“Lalu, pada saat resepsi nanti?” tanya Tedy.
“Dia tetap harus ada dalam pelukan saya…”
“Kenapa?”
“Pokoknya saya tak mungkin dipisahkan dengan kepala babi itu. Sampai kapan pun. Sampai mati sekalipun!”
Tiba-tiba saya menangis sesenggukan sambil memeluk dan menciumi kepala babi itu, dan Tedy terus menyaksikan kelakuan saya sambil berdiri terkesima dan terbengong-bengong.
Seketika itu, saya melihat seberkas sinar yang dipancarkan oleh mata babi itu. Sinar itu bercahaya menyinari seluruh ruangan, dan saya berteriak sekeras-kerasnya: “Lihat itu, Tedy! Luar biasa indah, kan? Bercahaya, kan?”
“Apanya yang indah?” tanya Tedy heran, “dan apanya yang bercahaya? Saya enggak melihat apa-apa!”
“Hey Tedy, lihat kepalamu! Sekarang kepalamu sudah berubah menjadi babi!!”
Sejak peristiwa itulah, Tedy memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami, dengan alasan bahwa ia tak mau hidup bersama perempuan yang selalu terobsesi oleh manusia berkepala babi. (*)
Oleh: Alim Witjaksono
Penulis adalah Peneliti sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan opini di berbagai media nasional luring dan daring







