Cairan Pemikat di Panggung Politik

oleh -1113 Dilihat
banner 468x60

Bowo punya janji berjumpa di depan panggung kampanye, bersama kekasihnya Yanti Jamilah, artis lokal penyanyi dangdut di Kota Serang. Mereka akan bertemu sekitar Pk. 10.00, meski sejak Pk. 09.00 suasana lapangan di sekitar panggung sudah ramai dijejali para pedagang yang menggelar lapak, sahut menyahut dengan para pembeli. Bowo menyeret kakinya melintasi lapak tukang kain dan pedagang alat-alat rumah-tangga. Rencananya, ia berjumpa di sekitar bangunan berpilar tinggi, tempat dipajangnya baliho, umbul-umbul partai dan foto calon gubernur, yang akan berkontestasi di ajang pemilihan umum mendatang.

Di sana sudah ada Pak Yadi gendut yang sudah menggelar dagangannya sejak tadi pagi, di sebelahnya Bi Lela menggelar rupa-rupa penganan dan cemilan bersaset dengan aneka rupa pemanis, pengawet dan pewarna buatan. Tampak pula Pak Saiful tukang cukur dan Mbak Nunung penjual rempah-rempah, lalu ia melangkah menuju lapak tukang buku, tasbih dan ATK, kemudian menikung lagi di sekitar pilar-pilar yang diapit oleh para tukang mainan, aksesoris, buah-buahan dan sayur-mayur. Ia melintasi gerobak tukang baso dan mie ayam, es dawet dan es cincau, menuju tempat yang agak memencil tempat digelarnya lapak tukang ramuan dan obat-obatan.

Sepertinya, Bowo pernah melihat muka Mbah Agus yang berselempang anyaman tas Baduy di bahunya, lalu lelaki tua itu mengeluarkan sebotol kecil cairan berwarna biru, bertuliskan huruf-huruf dengan mesin ketik zaman baheula. Bowo memegang botol kaca yang disodorkan ke arahnya lalu membaca tulisan yang tumpang-tindih, tak sesuai dengan ejaan yang benar: “Cairan Pemikat Cap Macan Siliwangi, berkhasiat untuk Anda yang sedang dimabuk cinta. Oleskan pada bibirmu hingga ucapanmu akan didengar sang kekasih. Jika alismu dioleskan, maka tatapanmu akan membuatnya terpikat. Sementara, olesan pada kedua telapak tangan, akan membuat dia tergila-gila.”

Ia terhenyak sambil menarik napas panjang. Melihat harganya yang tidak seberapa, Bowo membeli satu botol, kemudian diam-diam menuju tempat sepi di belakang panggung untuk bersembunyi dan menyempil dari tatapan orang-orang. Ia membuka segel botol dengan mudah, lalu menuangkan cairan itu pada kedua telapak tangan, sambil melirik ke kiri dan kanan kalau-kalau ada orang yang memergoki dirinya. Satu tetes ia oleskan di sekitar alis matanya, dan dua tetes pada bibir bagian atas dan bawahnya secara merata.

Kini, Bowo kembali ke tengah kerumunan kampanye. Tampak sekelompok gadis yang mengenakan tunik warna-warni melintas di depannya, sepasang pengamen mengikuti di belakangnya, seorang lelaki paruh baya mengenakan seragam partai sedang tawar-menawar barang dengan si pelit Sanuri , bersebelahan dengan lapak Pak Umar, penjual kitab-kitab Arab dan segala kisah-kisah nabi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, sudah lebih dari setengah jam menunggu, masih juga belum ada tanda-tanda sang kekasih Yanti Jamilah akan muncul.

***

Karena merasa lapar, Bowo mendekati salah satu gerobak untuk memesan semangkuk baso dengan harga sepuluh ribu rupiah. Setelah kenyang menyantapnya, ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar uang kertas seratus ribu, kemudian menerima kembalian dari Bang Jimo si tukang baso. Setelah mengucap terima kasih dari bibirnya, tiba-tiba Bang Jimo mengerutkan keningnya dan muncul pesona yang tak terduga, hingga kedua bola matanya terpancang menatap wajah Bowo.

“Adik orang mana? Dari partai apa?” tanya Bang Jimo dengan muka genit.

“Saya dari Jombang, bukan dari partai manapu,” jawabnya singkat. Namun, jawaban dari bibirnya justru membuat Bang Jimo semaput dan terperangah, seakan sekujur tubuhnya bergetar menyaksikan ketampanan pemuda itu dalam pandangan matanya.

Tak berapa lama, ia mendekati lapak Bi Lela untuk memesan minuman serbuk saset dengan rasa anggur. Ketika ia sedang menyeruput minuman yang disodorkan Bi Lela, tampak Bang Jimo di kejauhan menatap iri dan cemburu ke arah Bi Lela yang sedang menggoda Bowo dan memberikan harga murah pada minuman yang dinikmatinya. Bi Lela juga menyodorkan dodol garut yang diberikan untuk Bowo secara cuma-cuma, hingga telapak tangannya menyentuh jari-jari Bowo secara tak sengaja.

Bang Jimo si tukang baso menatap nanar ke arah Bi Lela yang melirik-lirik genit ke wajah Bowo seraya bertanya, “Sepertinya kamu rajin merawat mukamu sampai licin dan kelimis seperti itu, Bowo? Atau belakangan kamu sering datang ke salon terkenal di daerah Simpang Tiga itu?”

“Ah, Bi Lela bisa aja… boro-boro saya ke salon, dari mana saya punya uang untuk merawat wajah ke salon. Wong kerjaan saya cuma marbot alias penjaga masjid.”

Tiba-tiba muncul Bi Marfuah menyenggol lengan Bowo hingga sendok yang sedang dipakainya, terpental ke tanah. Bi Marfuah meminta maaf dan mengambil kembali sendok yang ternoda sedikit pasir, yang kemudian dibersihkan dengan ujung bajunya. Ketika menyerahkan sendok itu, kedua pasang mata itu saling bersitatap, dan jari-jemari Bi Marfuah bersentuhan pula dengan telapak tangan Bowo. Kini, tiga pasang mata saling terpaku menyaksikan wajah Bowo. Mereka terpesona menatap pemuda Jombang yang sedang menenggak minuman sirup merah yang tengah dinikmatinya.

Tak berapa lama, muncul sepasang suami-istri menyeruak kerumunan. Keduanya bertengkar sengit karena berbeda pilihan partai. Selain itu, sang suami keranjingan bermain judi yang digelar di ujung selatan panggung kampanye. Dengan raut muka bengis, si istri mendamprat suaminya hingga bahunya menyenggol Bang Jimo si tukang baso. Ia terkesiap sejenak, memperhatikan Bang Jimo yang sedang semaput mengamati ketampanan pemuda yang sedang meminum es sirup di lapak Bi Lela.

Ketika sang suami ngeloyor pergi karena dihujani sumpah-serapah, si istri tiba-tiba terdetik hatinya menatap wajah Bowo karena bibir dan tatapan matanya yang menawan. “Siapa kau ini, hai pemuda kasep? Nabi Yusuf-kah, atau Bidadara dari surgakah?” tanya wanita itu dengan tatapan berkaca-kaca.

“Hei! Dia itu pemuda Jombang, kekasih saya!” teriak Bi Marfuah, “kamu itu punya suami, bukan janda lagi… urus tuh suamimu, masukin ke kandang banteng sana!” Bi Marfuah menarik tangan Bowo sambil meremas-remas telapaknya dengan mesra. Sumpah-serapah kian terlontar. Julukan cebong dan kampret saling bersahutan.

Tiba-tiba Bi Lela melompat meninggalkan dagangannya, lalu menarik lengan Bi Marfuah keras-keras. “Apa-apaan kamu, Marfuah? Saya ini pedagang paling berjasa buat Bowo. Kalau dia ada di gardu ronda bersama pemuda Jombang, sayalah yang paling banyak membantu mereka, tahu? Jangan merasa jadi janda kembang kamu… umurmu itu sudah hampir 60-an, mana mungkin Bowo yang gagah ini mau sama kamu? Mendingan kawin lagi sama kebo bule sana!”

“Kenapa ini, Bi Lela, Bi Marfuah, kenapa tangan saya ditarik-tarik seperti ini?” tanya Bowo terheran-heran.

Mendengar Bowo mengeluarkan suara dari mulutnya, tiba-tiba kedua pasang mata itu terpesona dan terbengong-bengong menyaksikan bibir Bowo yang sensual. Keduanya terhenyak menyaksikan alis dan mata Bowo, sambil mengeluarkan bunyi melenguh seperti dua ekor sapi kelaparan yang dilepas di padang rumput ilalang.

Tak lama kemudian, muncul Haji Rauf suami Bi Lela, langsung melerai pertengkaran itu. “Ya ampun! Ada apa ini? Kenapa kalian seperti orang kesurupan melihat pemuda kampung sendiri? Dan kamu, Lela, apa yang kamu lakukan, he? Kenapa tanganmu menggendeng dan meremas-remas tangan Bowo? Kenapa kalian semua seperti orang gila begini?” Haji Rauf segera melepas kedua tangan yang saling terpaut, kemudian mengamit lengan istrinya keras-keras.

Secara pribadi, Bowo sendiri kurang tertarik mengikuti pertengkaran dan kegaduhan rumah-tangga itu. Dia lempar pandangannya kembali ke lapak ramuan dan obat-obatan di kejauhan kemudian melangkah menjauhi panggung kampanye, seraya melirik seorang gadis cantik mengenakan kerudung ping berenda-renda, yang sepintas menatap Bowo dengan malu-malu. Namun, karena belum juga ada tanda-tanda Yanti akan muncul, ia pun akhirnya memutuskan untuk terus berkeliling.

Bowo melangkah melintasi lapak tukang cukur, di sekitar pedagang yang menggelar rupa-rupa jenis sandal dan sepatu kulit. Di sebelah lapak sayur-mayur, tiba-tiba ia menemukan sebuah aksesoris kalung berwarna keemasan. Ia meremas-remas kalung itu sejenak, kemudian muncul Nyi Masitoh dari arah utara dan langsung berteriak, “He, Bowo! Itu kalung saya yang jatuh… sejak tadi saya keliling lapangan ini mencari-cari kalung, tapi ada di tangan kamu rupanya, sini kembalikan!”

Bowo menyodorkan kalung tersebut pada telapak tangan Nyi Masitoh, seorang janda kaya yang baru melepaskan masa lajangnya setelah menikah dengan seorang politikus dan anggota DPRD. Sambil mengenakan kalung itu di lehernya, muncullah sang suami Suryadi, dan segera menggandeng tangan Nyi Masitoh menuju ke arah panggung kampanye.

Namun sayang, entah mengapa, Nyi Masitoh merasa enggan digandeng oleh suaminya sendiri. Ia memutuskan ingin pulang ke rumah, menjauhi lapangan kampanye, dan dalam pembaringannya sepanjang hari itu, ia terus melamun dan membayangkan ketampanan wajah Bowo, matanya yang aduhai dan bibirnya yang seksi dan menawan.

***

Mungkin karena kebanyakan menuangkan sambal dan cuka pada mangkuk baso Bang Jimo tadi, kini membuat perut Bowo terasa mulas. Ditambah lagi minuman murah di lapak Bi Lela yang bercampur pengawet, pewarna hingga pemanis buatan. Itu semua yang membuat Bowo tak tahankan diri untuk segera lari menuju toilet mobil, yang sengaja dipersiapkan panitia kampanye di pojok selatan dengan membayar duaribu perak.

Ada dua toilet tersedia, dan Bowo memasuki salah satunya. Tekanan pada usus besar dan anusnya sedemikian dahsyat hingga kontan ia mendaratkan bokongnya ke lubang kakus. Beban berat di sekitar perutnya kini berjatuhan, plung-plung, seiring desahan suara ngeden yang kian melegakan. Kedua telapak tangannya mencengkeram tepian jamban, dan ketika bungkal terakhir terlepas, ia meregang mengeluarkan desahan nafas dan suara lirih. Sehingga, orang-orang yang sedang melakukan aktivitas yang sama bertanya-tanya selalu, gerangan apakah yang terjadi di toilet sebelah itu?

Seusai buang air, Bowo mengamit gayung bergagang sambil menciduk air dari ember yang tersedia. Setelah cebok dengan beberapa gayung, ia pun menyiram bongkahan-bongkahan yang keluar dari duburnya. Lalu, ia beranjak meninggalkan toilet, dan karena merasa sudah menghabiskan terlalu banyak waktu, dia cepat-cepat berlari kembali ke sekitar pilar tempat baliho, umbul-umbul dan foto calon gubernur terpasang. Sayangnya, ketika tiba di tempat tujuan, dia belum juga menemukan tanda-tanda pujaan hatinya akan muncul.

Dia bersandar pada tepi pilar, kepalanya tertunduk kecewa, tapi kemudian dia meyakinkan dirinya bahwa Yanti akan segera muncul. Mustahil, gadis baik nan cantik itu akan mangkir. Ah, pasti dia akan datang, walaupun telat tak apalah.

***

Merasa masih lapar, Bowo memesan somay Bandung yang mangkal di sekitar gerobak batagor, seblak dan ketoprak. Tak berapa lama, muncul dua gadis SMU mengenakan atribut kampanye, seraya memesan dua piring somay. Mereka menyantap somay pada bangku di sebelah Bowo. Salah seorang gadis itu bernama Perwitasari, dan Bowo mengenalnya sebagai warga Jombang Cemara yang tak jauh dari kampungnya. Dia angkat kepalanya pelan-pelan dan bersemuka dengannya. Dia perhatikan bagaimana gadis cantik itu menatapnya lekat-lekat, hingga ia merasa kikuk dibuatnya.

“Hey!” sapa gadis itu.

“Eee… hey juga…”

“Kamu Bowo, kan? Saya Perwitasari, kenal saya enggak?”

“Eee… anu… iya, saya pernah lihat,” balas Bowo ragu-ragu.

Bowo melempar tatapannya bingung pada sang gadis, dan ia hanya sedikit bergeming. Tiba-tiba, ia teringat bahwa wanita di sebelahnya, yang memasuki toilet selepas buang air tadi, ternyata adalah sahabat karib Perwitasari. Tentu dia menggunakan gayung yang sama setelah dipakai Bowo untuk cebok seusai buang hajat tadi.

“Kami berdua melihat kamu jalan-jalan sendirian di tengah lapangan kampanye ini, kenapa enggak bareng pacar?”

“Ee, maaf, saya sedang menunggu teman, tapi belum juga datang.”

“Oya? Teman atau temen nih?” pancing gadis di sebelah Perwitasari sambil cekikikan.

“Boleh dong ajak-ajak kita. Oya, ngomong-ngomong, kamu simpatisan nomor satu atau nomor dua?” sambung mereka lagi.

Bowo tak menanggapi, hanya diam saja. Gadis di sebelah Perwitasari merasa kecewa, namun Perwitasari tetap terpana dan terpaku diam menatap kedua mata Bowo. Tak berapa lama, tiba-tiba muncul seorang pemuda urakan dan melompat di hadapan Bowo yang sedang menyantap somay, “Hai, Sobat,” katanya sambil menepuk-nepuk bahu Bowo, “kenalkan nama saya Wawan, penyair terkenal, sudah mendeklamasikan sajak-sajak di mana-mana, di Gedung Kesenian Jakarta, di Taman Ismail Marzuki, di pasar Malioboro, dan sudah menerbitkan kumpulan puisi-puisi mutakhir… kalau tidak percaya… datang saja ke toko-toko buku, dan lihat karya-karya saya, hahaha…!”

Bowo menyadari pemuda yang ingin disebut “penyair milenial” itu sedang mabuk, karena melangkah sempoyongan ke arahnya. Ia membiarkan penyair itu melanjutkan ocehannya, “Hai Kawan, ada satu hal yang ingin saya pertanyakan mengenai minuman merah yang kau tenggak di lapak Bi Lela si perempuan tembem tadi. Apakah itu sejenis lahang dari pedalaman Baduy? Atau sejenis minuman tuak berkhasiat yang dapat membuat kelamin sebesar tiang baliho partai? Ataukah sejenis anggur merah ratusan tahun, yang diminum para pujangga di negeri Prancis? Atau bagaimana, kawanku… tolong kasih tahu saya, kawanku… apa yang membuat kata-kata dari mulutmu begitu menakjubkan…?”

“Maaf, saya sedang menunggu seseorang,” jawab Bowo dengan dahi berkernyit, “saya kira yang saya minum tadi hanya minuman sirup biasa, dan harganya hanya tigaribu perak.”

“Ahay! Indah sekali kata-katamu itu… sedang menunggu seseorang… ah, kata-kata yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Jadi begini, kawanku, sudikah kau menjadi inspirasi bagiku… semacam sumber ilham yang menakjubkan…. Ya, ya, aku harap ini tidak mengganggumu… sudikah aku dapat mengenalmu lebih dekat… atau lebih jauh lagi… ahhh… sudikah, kawanku yang baik hati…?”

“Maaf, Bung, tapi saya bukan penyair…”

“Aaah, kata-kata yang indah sekali… baru kali ini saya mendengarnya, indah sekali rupanya… ahhh… pada kedua bola matamu, dan kedua bibirmu yang menawan, sebagaimana akar-akar pohon yang menghujam ke dasar bumi… oh kawanku… oh, kasihku, sahabatku sesama penyair dan pujangga milenial… jangan terlalu merendah diri… kau bagaikan Sutardji, Jokpin, Abdul Hadi, Jose Rizal dan Taufik Ismail, hohoho!”

Ketika pemuda itu terus berceracau di hadapan Bowo, seorang perempuan mendekat dan menepuk bahunya, yang ternyata adalah istrinya sendiri. Melihat muka perempuan itu, kontan kata-kata penyair yang sudah tersusun rapi menjadi buyar dan ambyar seketika. Tiba-tiba Wawan berteriak sengit, “Kurang apa lagi kau perempuan serakah, perempuan tamak! Semua uangku sudah habis ludes! Sejak tadi saya tunggu-tunggu selama dua jam lebih… ke mana saja kau ini… belanja apa saja di lapangan kampanye ini, perempuan tengik?!”

Bowo menghindari pertengakaran, dan melangkah menuju lapak obat-obatan Mbah Agus. Namun, ia merasa kebingungan menyaksikan banyak orang berduyun-duyun menghampiri dirinya. “Oh Bowoku… sayangku… mau ke mana kau, sayang… jangan tinggalkan daku… kemarilah sayang, kemarilah kasihku…,” ujar Bi Marfuah sambil membentangkan kedua tangannya bagai kepak sayap bidadari.

Di sampingnya telah berdiri aktivis partai Perwitasari, membantah pernyataan Bi Marfuah, “Jangan dengarkan, si janda tua bangka ini, Bowo, ke sinilah… kenapa kau tidak mengajak aku jalan-jalan mengelilingi lapangan kampanye ini… kenapa… kemarilah sang kekasih….”

“Ooh… siramilah dahagaku dengan kasihmu….” Seseorang yang mengaku-ngaku cendekiawan dan sastrawan, tiba-tiba muncul dari arah toilet sambil membawa-bawa gayung di telapak tangannya.

Dan selagi para kubu itu bergaduh-gaduh mengklaim Bowo sebagai kekasihnya, tiba-tiba Bang Jimo si tukang baso muncul dari balik panggung, mengenakan pakaian laiknya seorang waria, dengan alis mata dan gincu merah menghiasi bibirnya. Entah di tempat mana ia berdandan semolek itu, tahu-tahu berteriak nanar menghampirinya, “Oh pujaan hatiku, sayangku, kemarilah, Bowo… nikmati baso yang kuhidangkan berapa pun jumlah mangkuk yang kau butuhkan, ke sinilah sayang… ke mana saja kau….”

Empat wanita dan satu laki-laki dari arah toilet ikut menyergap Bowo dan menarik-narik lengannya keras-keras. Muncul lagi Nyi Masitoh dan Perwitasari dari arah berlawanan, namun bertumpu di satu tempat di mana hanya Bowo yang menjadi sasaran utamanya. “Sana kalian semua… pergi! Ini pacarku… ini kekasihku…! Nama pemuda ini Bowo kekasihku, kau penyair kurang ajar! Penyair celamitan! Jaga bacotmu, jangan asal nyerocos… sembarangan saja kamu ini, lihat matanya, lihat bibirnya… oh, indahnya kata-kata yang keluar dari mulutnya… oh, betapa menakjubkan syair-syair yang terlontar dari kedua bibirnya, oooh Bowoku… sayangku…!”

Sementara itu, Mbah Agus si pemilik lapak ramuan obat-obatan mulai was-was mengikuti situasi yang kelihatannya makin runyam saja. Biji matanya sibuk bolak-balik menyaksikan huru-hara di tengah lapangan, seraya mencari-cari aparat yang biasanya berjaga-jaga di sekitar acara kampanye. 

Merasa semakin kebingungan dan terpojokkan, Bowo berusaha keluar menembus kerumunan. Dia merasa beberapa tangan menggerayanginya, bahkan terus mengeluarkan suara-suara aneh dan mendesah, “Oh sayangku, kemarilah”, “Bowo, peluklah daku”, “Wahai penyairku, pujanggaku”. Dia berlari melintasi lapak demi lapak dan di belakangnya semakin terdengar gemuruh kaki orang-orang mengejarnya, bercampur-baur dengan teriakan-teriakan histeris: “Cintaku… sayangku… hanya kaulah calonku satu-satunya… hanya kaulah milikku….!”

Bowo berlari menikung di dekat lapak lapak aksesoris dan mainan anak-anak. Setiap kali dia menoleh ke belakang, kerumunan gila yang mengejarnya terasa makin besar saja. Tapak-tapak mereka semakin membahana, debu-debu berkepal-kepal mengelilingi mereka. Seketika itu, lapak demi lapak ambruk tertabrak kerumunan yang mengejar dirinya. Alat-alat rumah-tangga pecah berantakan. Kain-kain berterbangan, buah-buah dan sayur-mayur berhamburan ke sana kemari. Para juru kampanye yang siap-siap naik panggung, lari kocar-kacir, mereka ikut pula memancangkan tatapannya ke wajah Bowo. Baliho, umbul-umbul dan foto=foto calon gubernur berjumpalitan terinjak-injak massa.

Dalam persembunyiannya di balik batang pohon besar, Bowo bertanya-tanya selalu, gerangan apakah yang membuat orang-orang itu bertingkah sinting dan senewen? Barulah ketika dia menyadari lengket pada kedua telapak tangannya, dia teringat pada cairan botol Cap Macan Siliwangi hasil racikan Mbah Agus.

Dia juga teringat bagaimana kedua telapak tangan itu sudah menyentuh banyak hal di sekitar lapangan kampanye tadi: sendok, mangkuk, piring, kalung, pilar, tiang baliho, umbul-umbul, hingga gagang gayung di dalam toilet sekalipun.

***

Bowo lari terengah-engah melintasi perempatan pasar Jombang hingga berhasil keluar dari lapangan kampanye yang semrawut berantakan. Seorang gadis muda melangkah cepat-cepat menuju arah kampanye, namun kemudian terbengong-bengong menyaksikan suasana gaduh dan kalang kabut tak keruan. Dari kejauhan dia melihat sosok pemuda yang dikenalnya, dan seketika berteriak, “Mas Bowo! Mas Bowo! Mau ke mana?”

Gadis cantik itu ternyata Yanti Jamilah. Namun, Bowo terhenyak sebentar sambil merogoh kantongnya mengambil botol kecil itu dengan cepat, kemudian lari terbirit-birit meninggalkan sang kekasih.

“Hey, Mas Bowo! Katanya hari ini kita janji ketemu di panggung kampanye? Maaf, kalau saya agak telat, karena tadi ada keperluan mendadak!”

Bowo terus menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. Ia berhenti seketika di samping bangunan bertembok tinggi. Ia mengamati telapak tangannya yang masih sedikit basah, lalu mengelapnya hingga kering pada batang sebuah pohon besar. Seketika ia hempaskan botol cairan biru dari tangannya dengan perasaan kesal dan dongkol, lalu ia pun terus melangkah menjauhi sang kekasih.

Beberapa jam kemudian, muncul Nyi Marwati, seorang pengemis tua seakan-akan bangkit dan menyembul dari reruntuhan sampah dan rongsokan di sekitar panggung yang roboh. Perempuan tua renta itu tiba-tiba menemukan sebotol kecil cairan di tengah-tengah ia mengais-ngais sisa botol air mineral. Langkahnya gontai tersok-seok, bajunya compang-camping, raut mukanya hitam dan kempot menampakkan tonjolan-tonjolan tulang tengkorak di sekitar dahi dan kedua pipinya. Usianya mungkin sudah di atas 80-an tahun.

Seketika ia mengamati botol kaca itu, dan dengan tangannya yang berkudis membuka-buka tutup botol dengan susah payah. Setelah botol terbuka, ia mengendus-endus aroma dan harumnya, dan merasa bangga mengoleskan cairan itu di kedua telapak tangannya. Ia mengoleskan pula pada lehernya, pipinya, dagunya dan seluruh wajahnya yang dekil, serta kaos partai yang dikenakannya.

Setelah merasa puas, sisa cairan pada botol itu dimasukkan ke kantong plastik, kemudian pengemis tua itu melanjutkan langkahnya yang terseok-seok menuju arah barat. Di sepanjang perjalanan, ia masih mengendus-endus cairan berminyak pada kedua telapak tangannya, dan entah siapa lagi yang akan menjadi korban dari cengkeraman kedua telapak tangan nenek tua keriput, yang usianya sudah di atas 80-an itu. Mungkinkah ia dapat menarik perhatian para pengikut dan jamaah, mengingat kaos partai yang dikenakannya? (*)

Oleh: Chudori Sukra

Pegiat organisasi Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menlis prosa untuk media-media cetak dan online, di antaranya Kompas, Republika, Koran Tempo, Jurnal Toddoppuli, NU Online, kabarmadura.id, ruangsastra.com, nusantaranews.coalif.idislami.co dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.