Di waktu sepertiga malam, ketika aku sedang berpikir keras untuk mencapai ending dari karya terakhirku, Iblis Mefisto nongol di depan pintu untuk mengambil sesuatu yang seolah-olah menjadi hak miliknya. Aku mempersilakan duduk dan menyeduhkan kopi untuknya. Dia meminta sebatang rokok, tetapi sudah bertahun-tahun aku nyatakan telah berhenti merokok.
“Lalu, bagaimana dengan ending cerita yang kau tulis itu?” tanya si Iblis.
Aku terkesiap, menghela nafas dalam-dalam, dan jawabku kemudian, “Aku hanya akan menuruti kata hatiku, bahwa Tuhan Maha Adil.”
Si Iblis melotot tajam, sambil menggerot-gerotkan giginya. “Tapi kita telah membuat perjanjian selama beberapa tahun ini, bahwa kau akan menulis dengan ending-ending yang absurd? Dan dalam ending seperti itu, kita tak pernah mengenal Tuhan sebagai Sesuatu yang Adil.”
“Tapi aku sudah menulis sesuai panggilan hati nuraniku, demi perbaikan moral dan peradaban bangsaku selama ini.”
Si Iblis menggaruk-garuk tengkuknya, “Aku sendiri merasa kesulitan menyimak karya-karyamu, dan sebagian dari karya sastra yang kau tulis hanya aku baca sepotong-sepotong.”
“Itu urusanmu sendiri. Lalu, siapakah yang bersalah jika makhluk semacam kalian tidak menyimaknya dengan baik? Sementara, kalian sendiri yang membuat perjanjian dan menyodorkannya kepadaku agar ditandatangani?”
Iblis Mefisto berjalan mondar-mandir di belakangku, matanya melirik sekilas pada kata-kata di layar laptop, seakan menebak-nebak ending cerita yang sedang kutuliskan.
Aku mengingat sebungkus rokok yang telah kubeli beberapa hari lalu, yang biasanya kupersiapkan untuk tamu yang berkunjung ke rumah. Kusobek bungkusnya lalu kutawarkan rokok itu pada si Iblis. Ia mengamit sebatang rokok dengan raut membara. Kupantikkan api untuk menyulut rokok itu, lalu ia mengamit korek gas dari tanganku untuk menyalakannya sendiri.
Setelah menghirup rokok di mulutnya dan mengepulkan asapnya, ia berujar, “Percuma saja kau menulis tentang keadilan Tuhan, karena para pembaca milenial lebih menyukai karya-karya yang berakhir chaos dan absurd?”
“Aku hanya melakukan apa yang ada dalam nuraniku, apa yang membuat aku merasa tenang dan nyaman. Terserah apakah akan disimak oleh pembaca atau tidak, itu bukanlah urusanku.”
“Tapi tak ada media manapun yang akan sanggup membayar mahal karena jerih payahmu itu?”
“Bayaran dari media hanyalah soal rizki. Sedangkan perkara rizki bukan persoalan sedikit atau banyak, akan tetapi aku memandang hidupku sudah merasa cukup.”
“Hohoho, semua penulis mengejar kekayaan dan ketenaran, sementara kau sendiri hanya mengejar hidup cukup, begitu?” ia menghirup rokoknya dalam-dalam, dan asapnya semakin memenuhi ruangan. Sedikit asap mengepul menutupi layar laptop, namun kemudian memudar setelah aku mengibasnya pelan-pelan.
Aku melepaskan jari-jemariku dari keyboard, kemudian menoleh ke arahnya, “Mefisto, sebenarnya apa yang kau inginkan dengan kedatanganmu malam ini?”
Matanya menyorot tajam ke arahku, namun aku tak bisa menebak garis-garis pada raut mukanya, karena di usia yang menginjak 53 tahun ini, mataku sudah agak buram dan rabun. Kata-kata yang kuketik di layar laptop hanya menggunakan font size di atas huruf 12.
“Aku hanya datang untuk mengambil bakat yang sudah kuberikan beberapa tahun lalu?”
“Bakat apa?” tanyaku heran.
“Potensi dan keahlian yang kau miliki selama ini.”
Aku duduk terhenyak, merasa jengkel pada ucapan Mefisto yang sepintas aku mengingat beberapa tahun lalu, ketika ia mendatangi aku di kaki Gunung Karang Banten, saat seorang sahabat mengajakku menemui seorang kakek tua yang disebutnya “orang pintar”.
“Mefisto,” kataku sambil menerawang, “ waktu itu ada seorang teman mengajak aku ke rumah Mbah Sumadi di kaki Gunung Karang, dan aku sendiri enggak tahu siapa kakek tua renta itu?”
“Dia termasuk salah satu dari kaki tanganku,” tegas Mefisto.
“Oya? Begitukah?”
“Ya, Mbah Sumadi adalah pesuruhku yang paling setia, dan jarang ia melakukan kegagalan untuk memenuhi setiap perintahku.”
“Maksudnya, dia adalah perantara untuk memberikan bakat menulis kepadaku?”
“Bukan cuma kepada penulis sepertimu… tapi juga banyak pengusaha dan pejabat, termasuk walikota dan gubernur yang sudah memenuhi syarat-syarat yang kami tetapkan untuk mengabulkan segala keinginan dan cita-citanya.”
“Juga gubernur dan walikota yang tertangkap KPK dan dipenjarakan?”
“Itu soal lain!” bentak Mefisto, “Tugas kami hanyalah memuluskan apa-apa yang menjadi obsesi dan ambisi mereka.”
“Walaupun tidak berkah?” protesku lagi.
“Diam! Aku enggak mengerti kata-kata itu!”
Kami membisu dalam waktu yang cukup lama. Suasana hening. Kupersilakan menghirup kopi yang sudah kuhidangkan di atas meja, lalu ia meneguknya hingga habis.
“Mefisto,” kataku setelah berdehem beberapa kali, “Selama ini, apa-apa yang telah aku capai dengan bakatku hanyalah milik Allah. Apa yang kutuliskan, bagaimana ending cerita yang kusuguhkan kepada publik, siapakah orang-orang yang membaca, bahkan seberapa besar rizki yang kuperoleh, semuanya aku serahkan kepada Allah semata. Saat ini, ketika aku masih berpikir dan mengetik di depan laptop, pada hakikatnya semuanya ini hanyalah milik Allah. Bahkan, aku tak punya kuasa untuk mengobati luka di jari tanganku jika Tuhan menghendakinya sakit. Dan tidak ada makhluk manapun yang bisa melukai jari-jemariku ini, termasuk Anda, jika Tuhan tidak menghendakinya…”
“Cukup, cukup! Aku muak mendengar kata-kata seperti itu!”
“Bahkan kau sendiri tak mampu membekap mulutku, jika Tuhan menghendaki ia bicara, bukankah begitu?”
Iblis Mefisto melotot sambil menggerot-gerotkan giginya, seakan hendak menerkamku. “Selama ini kau sudah cukup banyak menulis, baik yang memakai nama pribadi maupun inisial. Sudah banyak perubahan yang dilakukan para pembaca, karena revolusi mental dan moral pada kepribadian mereka. Namun kemudian, bosku menyangsikan apa-apa yang telah kau tulis selama ini. Untuk itu, dia segera menyururuhku untuk mendatangimu malam ini, kemudian aku harus mengembalikan bakat yang kau miliki.”
“Kepada siapa?”
“Kepada bosku tentunya. Karena dialah yang memberi.”
“Kata siapa?”
“Diam!” hardiknya jengkel.
Kami saling diam, suasana senyap. Setelah menggeser posisi duduk dan menghadap ke arahnya, aku pun berkata, “Sekarang begini saja. Kalau memang saat ini waktunya telah habis, dan kau akan mengembalikan bakat yang kumiliki kepada bosmu, sampaikan salam kepadanya bahwa aku harus menyelesaikan cerpen yang terakhir sedang kutulis ini, bagaimana?”
“Kau masih menawar juga rupanya?” katanya sambil geleng-geleng kepala. “Tapi sekarang waktunya sudah habis, dan dalam sejarah kehidupan kaum Iblis, tidak ada di antara kami yang berani coba-coba menentang atasan, apakah kamu tidak paham?”
“Tidak,” kataku menggeleng, “aku tidak tahu menahu urusan kalian. Kecuali jika ada aparat yang menembak pembantunya sendiri, barulah itu urusanku untuk memprsoalkannya.”
“Kenapa?”
“Karena aku berkewajiban untuk membela satu nyawa pun dari umat manusia yang dikorbankan, terlebih dia adalah bangsaku sendiri,” tandasku.
“Karena alasan kemanusiaan? Dan itu yang kau ceritakan dalam novel Pikiran Orang Indonesia itu, iya kan?”
Omongannya tak kutanggapi serius. Aku hanya mengabarkan padanya bahwa, jika seorang manusia membunuh satu jiwa manusia lainnya, tanpa alasan yang bisa dibenarkan, berarti ia telah membunuh semua manusia, bahkan membunuh ruh Tuhan di dalam dirinya.
Ia sepertinya merasa muak mendengar uraianku, sampai kemudian kutawarkan pertimbangan, “Begini saja, kalau kau memang setia pada atasanmu untuk mengantarkan bakat yang kumiliki, sekarang tolong sedikit sabar untuk menunggu jeda dari ending yang akan kutuliskan ini.”
“Sampai kapan?”
“Kurang lebih, dua jam ke depan.”
“Baiklah kalau begitu.”
Iblis Mefisto memandangi layar laptop dengan penuh curiga. Ia seakan menyadari dirinya telah membuat kesalahan dengan mengabulkan penawaranku. Pikirnya, selalu saja ada orang baik yang membikin ulah dan masalah. Hanya orang-orang baik yang membuatnya selalu kerepotan untuk menuruti perintah atasan, serta meraih reward yang akan membuat posisinya terus meningkat.
Sudah berkali-kali ia tak pernah gagal merampas jiwa manusia, memboyongnya bersama bakat dan prestasi yang diraihnya di alam dunia. Belakangan ia telah merampas nyawa seorang konglomerat yang harus mati berkalang tanah, justru pada saat ia bermain golf di samping kediamannya yang asri nan megah. Si mayat pernah memberi wasiat kepada anak sulungnya agar memakaikan kaos kaki kesayangannya untuk ikut-serta dikuburkan. Namun, sang istri menuruti pendapat para ustad agar dimakamkan hanya dengan selembar kain kafan di tubuhnya.
Tapi kali ini, Iblis Mefisto belum membubuhkan tanda centang untuk menyelesaikan urusannya terhadapku. Namaku masih tertera di dalam daftar. Kulihat kopinya telah habis, lalu aku seduhkan satu gelas lagi dan menyuguhkan kepadanya. Kupersilakan untuk menyulut sebatang rokok yang sudah padam di tangannya. Tatapan matanya nanar dan sinis. Satu kaleng biskuit kusodorkan di hadapanya.
Setelah mencomot dua potong biskuit, si Iblis berbaring di sofa dan mulai mengutak-atik remot teve. Aku terus saja menekan keyboard tanpa henti, seperti sedang memencet berjuta-juta digit untuk mengeluarkan uang di ATM. Si Iblis menduga ending ceritanya agan bagus, sesuai dengan harapan si bos. Ia dengan sabar menunggu, sambil menekuri siaran dokumeter tentang lingkungan hidup di layar teve. Dengan kesal ia menyaksikan kinerja para lebah dan semut dalam mencari rizki, sebagaimana kekesalan yang pernah ia tumpahkan saat menonton film “The Act of Killing” karya Joshua Opperheimer.
Setelah jam setengah lima pagi, si Iblis berharap ending ceritanya sudah kelar. Badannya gemetar karena merasa takut dirinya akan diomeli si bos habis-habisan. Lima menit kemudian, aku sodorkan lima lembar print out di tangannya. Cerpen terakhir yang kutulis ini cukup bagus, dan tentu saja “bagus” menurut penilaianku. Karena aku tak pernah mau menuliskan sesuatu yang lebih buruk dari yang sudah-sudah, yang mengakibatkan aku terjerumus ke dalam pendangkalan dan kemerosotan moral.
Tidak kusangka-sangka, Mefisto merasa tergugah dan memuji tulisanku. Ia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Padahal, itu bukan cerita melankoli yang cengeng dan absurd. Endingnya pun tidak seperti kebanyakan cerita dan dongeng dalam negeri yang banyak ditulis para sastrawan era Orde Baru. Kini, senyum Mefisto terlihat sumringah, terlebih ketika aku menampakkan kepadanya sebagai seniman yang optimistis dan penuh percaya diri. Aku menawarkan padanya apakah mau diseduhkan kopi untuk gelas yang ketiga, tapi ia mengucap terimakasih.
“Sampaikan pada bosmu, bahwa selama ini aku telah banyak menulis, dan merasa bersyukur telah mendapat banyak apresiasi dari masyarakat. Terimakasih atas bakat yang dia berikan, meskipun aku tak pernah menulis sesuai dengan harapannya selama ini.”
Setelah dengan cermat ia membaca ending dari cerpen terakhirku, ia berdehem beberapa kali seraya berbisik di telingaku, bahwa ia ingin sekali menjadi manusia ketimbang menjadi makhluk iblis.
“Lho, emang kenapa? Bukankah kehidupanmu sudah nyaman selama ini?”
“Nyaman apaan? Selama ini hidupku hanya diisi dengan kerja dan kerja menuruti perintah bosku.”
Di sofa, Mefisto duduk dengan tatapan lesu dan kosong. Sejenak ia melirik layar teve, memerhatikan seekor cicak yang nemplok di dinding, lalu tiba-tiba mencaplok nyamuk yang terbang ke arahnya. “Tuh lihat, enak banget menjadi cicak. Meskipun rizkinya terbang ke sana kemari, dan ia diam di tempat. Namun pada waktunya, si rizki datang juga menghampirinya. Lalu, buat apa kuhabiskan waktuku untuk kerja dan kerja menuruti atasan, kalau kemudian aku tak bisa menikmati apa-apa yang ingin kuraih selama ini… sementara di akhir zaman, neraka sudah menanti kami….”
Dalam waktu yang cukup lama ia merenung di atas sofa. Kutinggalkan sekitar tujuh menit untuk melaksanakan salat subuh. Seusai salat, ia menyodorkan sebuah kotak, dan kubiarkan bakatku tergeletak di dalam kotak itu sambil menutupnya. “Lalu, apa yang diinginkan oleh bosmu dengan bakat-bakat yang dikembalikan itu?”
“Aku sendiri kurang tahu,” katanya dengan murung, “barangkali kalau disuruh memilih, lebih baik aku menjadi manusia saja….”
Aku mengamati kotak misterius itu, lalu menepuk-nepuknya. Aku mengangkat kotak itu dengan membaca basmalah, lalu menaruhnya di pundak Mefisto. Seketika itu, ia merasa lunglai dan tiba-tiba tersungkur ke lantai bersama dengan kotak yang terasa berat itu.
“Kenapa?” tanya saya sambil menghambur ke arahnya.
Dengan suara lesu terengah-engah, ia menjawab sambil mengangkat kedua tangannya, “Aku tak sanggup… aku tak kuat lagi… lebih baik kau ambil kembali bakatmu itu… ini bukan pekerjaan mudah dan ringan… ini berat sekali!!”
“Bisa kau sampaikan, kenapa tidak kuat? Bukankah ini pekerjaanmu sehari-hari?”
Suaranya merintih, bahkan tangannya keram tak sanggup lagi mengangkat pena dan secarik kertas yang harus kutandatangani. “Aku tahu ini pekerjaanku sehari-hari… tapi kali ini, setelah aku memikirkan ending dari cerpen terakhirmu itu, tiba-tiba aku kehilangan tenaga sama sekali… tulang-tulangku seperti remuk semuanya… aduh, ampuni aku, maafkan atas perbuatanku selama ini….”
“Bukankah pekerjaan menjemput bakat ini sudah biasa kau nikmati sehari-hari?”
“Tapi, kali ini aku tak bisa menikmatinya lagi, ampuni aku… maafkan aku…!”
Ia membuka kotak itu, menyuruh aku untuk segera mengambil isinya, lalu ia terbirit-birit meninggalkan rumakhu dengan kotak kosong di tangannya. ***
Oleh: Hafis Azhari
Penulis adalah Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten







