Ketika Teknologi Menjadi Tuan: Kritik Martin Heidegger Terhadap Homo Digitalis di Era “Post-Truth”

oleh -229 Dilihat
banner 468x60


Oleh: Ovand Jawa

Dewasa ini, gempuran teknologi telah meyerbu masuk pikiran manusia dan telah mengakibatkan rasionalitas manusia menjadi tumpul. Manusia kehilangan otonomi berpikir yang benar dan inspiratif. Manusia sibuk dan terpenjara dalam teknologi. Cara berpikir manusia telah “dikontrol” oleh teknologi itu sendiri. Teknologi menjadi Tuan yang besar sedangkan manusia sendiri menjadi budak yang malang.

Media sosial seperti facebook, whatsapp, twitter, Instagram telah dengan luar biasa mengubah budaya masyarakat dunia. Melaluinnya, lebih jauh lagi orang dapat mempersuasi dan mengubah cara pandang orang lain. Mengajak orang menjadi baik dan buruk bias dilakukan melalui media sosial. Media sosial juga memanipulasi realitas dengan cara membentuk sesuatu yang sejatinya tidak ada tetapi dibuat seakan-akan ada, nyata dan benar serta hasilnya merupakan informasi bohong atau yang dikenal dengan istilah hoax. menyulut kebencian yang akhirnya akan mengotak-ngotak masyarakat dan tak jarang berujung menjadi ketegangan. Di era post-truth merupakan sebuah rentang masa yang menomorduakan kebenaran, lebih mengikuti selera pribadi atau didasarkan pada rasa “Sentimen” semata.

Berbicara tentang post-truth, tentunya tidak terlepas dari apa yang disebut “Homo Digitalis”. Fenomena yang terjadi di era Post-Truth kerap kali berkaitan dengan AI, sehingga agak sulit lagi untuk bersandar pada kebenaran yang integral. Selain berkaitan dengan psikologis atau secara sentimen, dampak negatif penggunaan alat digital mengaburkan kebenaran itu sendiri. Oleh karena itu, kelompok kami berusaha mengoyak “Homo Digitalis” di era post-truth ini, dengan mendasarkan argumen kami pada pemikiran Gelassenheit Martin Heidegger.

Teori sistem membedakan tiga macam sistem, yaitu: sistem mekanis (mesin), sistem organis (makhluk hidup) dan sistem semiotis (kesadaran bahasa). Media sosial memberikan kemerdekaan seluas-luasnya bagi para pengguna untuk mengekspresikan dirinya, sikapnya, pandangan hidupnya, pendapatnya, atau mungkin sekadar menumpahkan unek-uneknya. Termasuk memberikan kebebasan apakah media sosial akan digunakan secara positif atau negatif.

Kita patut prihatin dengan kondisi saat ini, cukup banyak orang yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebencian dan provokasi. Keadaan tersebut di satu sisi bisa menjadi potensi yang menguntungkan, namun di sisi lainnya bisa menjadi sebuah ancaman atau setidaknya malah memberikan dampak negatif yang mengarah pada perpecahan. Sebagaimana kita ketahui bahwa akhir-akhir ini penyebaran berita ujaran kebencian, bentuk-bentuk intoleransi dan informasi palsu (hoax) sedang marak menghiasi jagad media sosial Indonesia.

Bagaimana kita bisa keluar dari paradigma yang tumpul seperti ini? Martin Heidegger menjelaskan bahwa konsep “Gelassenheit” dapat menjadi obat bagi problem yang telah dikemukakan di atas yang berkaitan dengan post-truth. Secara etimologis gelassenheit berasal dari kata Jerman lassen berarti membiarkan atau merelakan, maka gelassenheit dapat diterjemahkan ke bahasa Indonesia “mengikhlaskan”. Sikap yang dimaksud Heidegger di sini adalah bersikap “relaks” terhadap teknologi. Ia kemudian menyebut sikap tidak melekat, tidak terjerat, atau tidak tergantung pada teknologi itu Gelassenheit zu den dingen (membiarkan hal-hal lewat). Gelassenheit mengikhlaskan, yang diartikan sebagai kita menggunakan objek-objek teknologi, seperti telepon genggam itu lepas dari diri kita sehingga ia tidak memengaruhi “jati diri kita”.

Dalam kaitan dengan Gelassenheit, Heidegger juga membedakan dua macam cara berpikir yang sangat berpengaruh bagi “Homo Digitalis” di era post-truth ini, yaitu: das rechnende denken (pemikiran kalkulatif) dan das besinnliche denken (pemikiran meditatif). Heidegger menjelaskan bahwa berpikir kalkulatif itu bukanlah berpikir. Contohnya, manusia terus mengadaptasi mekanisme impersonal ciptaannya sendiri, teknologi. Manusia tidak mampu lagi menggunakan rasionalitasnya, ia cukup mengetik pada ponselnya, semua pasti beres dengan sendirinya. Atau contoh lain, ketika berhadapan dengan berita “Hoax seperti kasus mama Cindy”, orang yang berpikir secara kalkulatif langsung membagikan berita tersebut tanpa memikirkan secara mendalam terlebih dahulu apa yang diperbuatnya.

Lebih lanjut, Heidegger juga menjelaskan bahwa berpikir secara meditatif bukanlah penolakan pada alat digital. Kita memang tergantung padanya, tetapi kita perlu memiliki “kesadaran yang utuh” untuk berhadapan dengan hal tersebut. Kesadaran seperti itu muncul dari proses berpikir meditatif. Sebagai contoh, ketika diperhadapkan dengan berita “Hoax” dll, kita terlebih dahulu memikirkan dengan tajam dan matang setiap konsekuensi yang ada. Selain itu, berpikir secara meditatif berkaitan dengan pertanyaan eksistensial, untuk apa saya melakukan tersebut? Apa manfaatnya bagi saya? Siapa saya sehingga melakukan itu? Dll. permasalahannya orang di zaman post-truth ini, menganggap berpikir meditatif tidaklah penting. Karena tidak menghantarkan orang pada suatu hal yang sangat pragmatis atau yang sangat menguntungkan.

Di era post-truth ini, Heidegger telah memberi kontribusi besar dalam kaitannya dengan pencegahan teknologi yang terjebak dalam pikiran kalkulatif. Kita menyaksikan bahwa cara berpikir kalkulatif adalah cara berpikir yang tumpul, mengabaikan dimensi rasionalitas manusia sendiri. Berpikir seperti ini telah terbingkai dalam sistim teknologi, maka, tidak mengherankan apabila manusia diidentikan dengan “Homo Digitalis”. Eksistensi manusia dianggap seperti komoditi dan bahkan terlebur dalam entitas-entitas teknologi. Konsep Gelassenheit Martin Heidegger menjaga keselarasan dan keutuhan dunia, sehingga dunia tidak begitu saja menentukan diri kita.

Melainkan, kita memiliki otonomi berpikir yang khas sebagai manusia yang utuh. Panggilan manusia di era post-truth dalam kaitannya dengan “dunia digital” adalah berusaha menemukan diri secara baru. Manusia harus bangkit dan menyadari diri agar tidak tenggelam dalam dunia digital. Manusia sesungguhnya belum berpikir secara baik dan mendalam karena ia belum menemukan jatidirinya. Oleh karena itu, sumbangan dari pemikiran Heidegger ini memiliki dampak positif untuk mengoyak “Homo Digitalis” di era Post-Truth.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.