Ketika Saya Mengikuti Kelas Sastra

oleh -943 Dilihat
banner 468x60

Cerita pertama yang ditulis anak saya, Alena, yang kini melanjutkan perguruan tinggi pada jurusan sastra Indonesia, perihal kehidupan seorang wali yang menyendiri di gua selama belasan tahun, sampai kemudian ia mencapai derajat spiritual yang tinggi. Kemudian, ia memutuskan untuk turun gunung lalu melontarkan kata-kata di hadapan masyarakat kampung Jombang, “Saya ini wakil Allah… saya ini utusan Allah.”

Orang-orang baru percaya ketika ia mampu membelah tubuhnya menjadi tiga bagian. Suatu hari di waktu sore, ketika dia berceramah di daerah Serang, konon pada waktu yang sama ia pun sedang berdakwah di Cilegon serta menjadi imam pada salat magrib di daerah Tangerang. Sang tokoh mengajarkan pada masyarakat bagaimana caranya agar manusia mampu membelah dirinya. Ada di antara mereka yang berhasil tetapi lebih banyak yang gagal, hingga kemudian mencoba dan mencoba lagi.

Saya sendiri kurang tertarik menjalankan amalan-amalan tersebut, hingga membiarkan tubuh ini seperti apa adanya. Lagipula, saya belum tahu motivasinya, bagaimana jika tubuh ini membelah menjadi tiga, sementara istri saya tetap satu.

Jikapun istri saya ikut membelah dirinya dengan melaksanakan amalan yang diajarkan sang wali, saya belum begitu yakin kalau pecahan tubuh saya yang kedua dan yang ketiga akan merasakan kenikmatan yang sama di tempat tidur.

Pada ending cerita, di usianya yang ke-83 tahun, sang wali akhirnya meninggal dunia dengan husnul khatimah, dikerubungi oleh ratusan peziarah yang mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Setelah itu, tidak ada lagi kabar berita mengenai sang wali yang sedang menjadi imam maupun berceramah di tempat berbeda, kecuali ajarannya diteruskan oleh para pengikut dan muridnya yang masih mempraktekkan aliran kepercayaan yang diwariskannya.

Saya sendiri tak pernah mendengar nama dosen sastra yang mengajar di kelas Alena. Katanya, dia sangat menyukai dan memuji cerita yang ditulis mahasiswinya itu. Terutama pada bagian tubuh wali yang menjadi tiga, lalu bersama-sama berjalan di permukaan air sehingga orang-orang di atas perahu menyaksikannya secara bersamaan. Itu artinya, sosok visual itu seakan menjadi nyata karena pihak yang menyaksikannya bukan cuma satu-dua orang melainkan banyak orang. Dosennya menyatakan bahwa kisah fiktif itu seakan menjadi fakta sebagai karomah sang wali yang mendapat limpahan anugerah dari Tuhan.

Sebagai orang tua, saya sendiri ikut merasakan kebahagiaan Alena saat menceritakan soal pujian itu. Semangatnya menggebu-gebu saat ia bercerita penuh detil, seraya mengulang perkataan dosennya bagaikan seorang penceramah agama yang menerangkan kisah-kisah para nabi dan rasul. Saya sempat mengusulkan agar Alena mengakhiri ceritanya dengan pola yang berbeda, namun dia berargumen bahwa akhir cerita merupakan pilihan yang kompleks tergantung bagaimana pembaca menafsirkannya.

Pada pelajaran sastra berikutnya, Alena menulis ceritanya yang kedua. Kali ini agak riskan disampaikan di sini, karena menyangkut kehidupan sehari-hari ibunya, alias istri saya. Dia menulis bagaimana Salihara meringkuk saban hari di atas sofa sambil membaca buku-buku novel klasik atau memencet-mencet ponsel, menyaksikan gambar-gambar iklan berseliweran tak keruan.

Dia menggunakan tokoh protagonis sebagai istri yang menceritakan pada suaminya, bahwa temannya pernah mengikuti kelas menulis di lembaga kebudayaan Rumah Dunia, dan ia menikmatinya. Saya memang terlampau sibuk di kantor, sementara istri selalu menghabiskan waktu di sofa dan jarang keluar rumah. Tiapkali saya pulang di sore hari, selalu saya menjumpainya sedang meringkuk terdiam di ruang tamu. Kadang ia tidak melakukan apa-apa, hanya merenung saja. Menonton teve enggak, membaca buku enggak, tapi menangis juga kagak.

Ketika ia merasa ragu atas usulan anaknya agar mengikuti kelas menulis, akhirnya saya pun mengizinkan: “Ikut saja enggak apa-apa. Cuma seminggu dua kali ini. Kadang-kadang bocah ingusan juga enggak selamanya duduk manis di kelas, tapi sesekali dia berkemah di tengah lapangan.”

Tapi buru-buru saya sadar, telah memakai kata “bocah ingusan”, meski kata itu sudah terlontar dan tak mungkin ditarik kembali. Sampai kemudian, istri saya membalas dengan ketusl, “Baiklah kalau begitu, sekali-sekali saya mau jadi bocah ingusan.”

***

Saya mengantar istri memasuki ruangan yang terpampang di ambang pintu sebuah tulisan “Kelas Menulis Kreatif”. Kami berkenalan dengan instruktur kursus, sekitar 45 tahun yang konon pernah menerbitkan empat novel dan dua kumpulan cerpen. Sebenarnya dia kurang populer, meskipun saya pernah melihat fotonya di media nasional Kompas, saat ia diutus sebagai salah satu undangan pada acara pameran buku di Jerman (Eropa).

Saya pernah membeli salah satu kumpulan cerpen (kumcer) hasil karyanya, lalu menaruhnya di atas meja kerja. Ketika jam makan siang, sempat pula saya menyibak-nyibak halamannya, membaca beberapa cerpen yang judulnya agak menarik. Cerita-cerita dalam kumcer itu kebanyakan mengambil setting lokasi di luar negeri, di antaranya Prancis, Jerman, Inggris, Belanda hingga Amerika. Boleh jadi tempat-tempat asing itu menjadi nilai jual tersendiri yang membuat salah satu novelnya masuk dalam kategori best seller.

Menurut penjaga toko buku, karya-karya sang instruktur selalu mendapat ulasan-ulasan yang bagus, dan itu pun tentu akan menjadi daya magnet tersendiri bagi para pembaca.

Dijelaskan dalam biodata kumcernya, instruktur itu pernah punya pengalaman kerja selama delapan tahun sebagai pemandu wisata di Turki, Yunani hingga Mesir. Bahkan, konon pernah menjadi pemandu bagi rombongan jamaah Indonesia yang sedang melaksanakan ibadah umroh di Kota Mekah dan Madinah.

Di cover belakang tercantum foto sang penulis dengan senyumnya yang khas dan sumringah. Sebelum istri saya menandatangani formulir pendaftaran, instruktur itu memberi janji, bahwa setelah kursus berakhir nanti, ia akan mengirimkan beberapa cerita pendek kepada tim editornya. Meskipun, ia menambahkan dengan kata-kata jangan terlalu berharap, tapi memang saat ini banyak perusahaan penerbitan yang berlomba-lomba mencari bakat-bakat penulis baru.

***

Cerita ketiga yang ditulis Alena tentang ayahnya, yang berarti tentang kehidupan saya sendiri. Pada suatu sore, seharusnya saya menjemput istri setelah jam kursus selesai, namun sengaja saya datang satu jam sebelum kursus usai. Saya memarkir mobil di parkiran gedung, kemudian naik ke lantai tiga. Istri saya terkejut melihat saya berada di dalam kelas, duduk di sebelah ibu-ibu gendut yang sedang tekun mengikuti materi, dan usianya sekitar 50-an tahun.

Dua minggu kemudian, saya mengambil cuti panjang untuk ikut mendaftarkan diri sebagai peserta kursus dasar menulis kreatif. Saya bergabung bersama seluruh peserta (19 orang) di kelas C1 yang semua anggotanya adalah kakek-nenek berusia di atas 60-an tahun. Sebagian dari mereka konon para pekerja dan karyawan senior di perusahaan-perusahaan terkenal di Jakarta.

Seorang kakek-kakek menatap saya dengan skeptis, seolah-olah saya tidak pantas berada dalam satu kelas bersama mereka. Untung saya memilih posisi duduk yang agak berjauhan dengan kakek yang barangkali seorang manajer perusahaan tersebut. Pada pertemuan pertama, dua orang instruktur memperkenalkan diri, sambil memberi materi mendasar tentang sejarah sastra Indonesia. Pada pertemuan berikutnya langsung memasuki praktek menulis yang dipandu oleh instruktur wanita mengenakan kerudung jilbab dengan kaos yang agak ketat.

Pada pertemuan ketiga, seluruh peserta ditugaskan untuk menulis secara spontan mengenai apa-apa yang terlintas di kepala. “Silakan tulis apa saja yang terlintas di kepala bapak-bapak dan ibu-ibu.”

Sebagian dari kami mulai menulis, tapi sebagian lain bingun dan terdiam kaku. Instruktur kemudian menegur, “Tak usah banyak dipikirkan, tulis saja apa yang ada di kepala.”

Beberapa wanita lansia menulis dengan kecepatan tinggi, seperti siswa-siswi SD yang terburu-buru menyelesaikan lembar ujian sebelum guru meminta mereka untuk meletakkan pena di atas meja. Beberapa menit kemudian, akhirnya saya juga mulai menulis.

Cerita pertama yang saya tulis mengenai seekor burung dengan sayapnya yang indah, sedang terbang tinggi meliuk-liuk di angkasa. Tapi kemudian, seorang penyihir jahat mengangkat tongkatnya, kemudian mengubah burung itu menjadi manusia.

Lambat laun, si burung tak bisa membiasakan diri hidup di tengah manusia, sampai kemudian mencari-cari si penyihir agar mengubah dirinya kembali menjadi burung yang merdeka. Namun, karena si burung cukup pintar dan lihai, dalam usaha pencariannya ia sempat menikah, bahkan membangun sebuah usaha kecil yang mengimpor produk-produk plastik ke negeri Cina, Malaysia dan Singapura.

Pengetahuan selama bertahun-tahun hidup sebagai burung yang mengarungi pulau-pulau di Indonesia, perusahaan yang dibangunnya perlahan berkembang hingga akhirnya maju dengan pesat. Sementara itu, si penyihir yang merasa lelah berbuat jahat, memutuskan untuk mencari semua makhluk hidup yang pernah ia jahili dengan mantra-mantra saktinya. Ia berencana minta maaf serta mengembalikan mereka agar menjadi burung-burung merdeka di angkasa raya.

Suatu saat, penyihir itu pergi menemui seekor burung yang telah disihirnya menjadi manusia. Sekertaris si burung meminta penyihir agar menunggu sampai bosnya selesai meeting via satelit dengan para rekan kerjanya di negeri Cina. Setelah mereka berjumpa, si burung justru telah kehilangan ingatan bahwa dulunya ia pernah hidup merdeka dengan berterbangan meliuk-liuk di angkasa, hingga sanggup menembus pulau-pulau dan singgah dari satu pohon ke pepohonan lainnya.

Kini, perusahaan yang dibangun si burung telah menguasai seluruh wilayah Asia hingga separuh wilayah Afrika. Sang penyihir akhirnya melompat ke atas sapunya dan terbang pergi ke angkasa. Si burung terus maju mendulang kesuksesan di era milenial ini, sampai pada suatu hari, ketika ia sudah sangat tua, ia melihat keluar jendela dari salah satu pesawat pribadinya, lalu seketika ia teringat bahwa dulunya ia adalah seekor burung yang dapat terbang bebas dan merdeka.

Seorang sekretarisnya dengan usil menyatakan, “Untuk apa menjadi kaya-raya dan memiliki banyak perusahaan, sementara dia hanyalah burung yang tak pernah lagi bisa terbang, dan tak pernah bisa menikmati indahnya pemandangan angkasa raya secara terbuka?”

Ketika saya membacakan cerpen itu pada pertemuan berikutnya, instruktur justru menegur saya, “Lalu, bagaimana endingnya?”

Saya menarik nafas panjang, sambil menggeleng, “Saya belum punya ending,” jawab saya singkat.

Instruktur akhirnya membuka forum perdebatan di antara para peserta yang terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok berpendapat, sebaiknya sang tokoh mencari penyihir sampai ketemu, lalu minta dikembalikan dalam wujud semula sebagai burung yang merdeka.

Sementara kelompok kedua berpendapat, ia harus terus mempertahankan reputasinya sebagai pemimpin perusahaan raksasa hingga akhir hayatnya. Namun demikian, ia harus mengalihkan aset-asetnya untuk mendirikan yayasan pendidikan bagi fakir-miskin dan anak-anak yatim, agar ia terbebas dari kekuatan Iblis Mefisto yang hendak merenggut nyawanya. []

Oleh: Muhamad Pauji

Penulis adalah Pegiat organisasi kepemudaan OI (Orang Indonesia), menulis prosa dan kritik sastra di berbagai media nasional cetak dan online.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.