Kemajuan Ilmu dan Literasi di Masa Fatimiyah

oleh -1005 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

Kekayaan Dinasti Fatimiyah yang terus diwarisi kaum akademisi dan cendekiawan hingga hari ini, tak lain adalah kekayaan ilmu pengetahuan. Salah satu aktivitas menakjubkan di masa itu adalah penerbitan dan penerjemahan karya-karya sastra ke dalam bahasa Arab. Di antara karya-karya tersebut berawal dari bahasa Yunani, Persia hingga India.

Dinasti ini dipimpin oleh panglima besar yang sebenarnya seorang mantan budak Romawi dari Sisilia (Yunani), bernama Jauhar As-Shaqali. Di bawah kepemimpinannya, Al-Azhar sebagai perguruan tinggi Islam terbesar di dunia mulai didirikan di Kairo, pada tahun 970 Masehi (359 Hijriyah). Proses pembangunannya berlangsung selama enam tahun, dan mulai rampung pada tahun 976 Masehi.

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mulai berlangsung pada tahun itu juga, dengan majlis ilmu pengetahuan bermzhab Syiah. Di masa pemerintahan Ayyubiyah (pasca Fatimiyah) pergurun tinggi Al-Azhar tetap eksis berdiri, meski kemudian materi-materi pengajaran lebih bercorak Mazhab Sunni (ahlussunnah wal jamaah). Bahkan, ketika Mesir berada di bawah kekhalifahan Turki Utsmani, Al-Azhar tetap menjadi sentral pengembangan ilmu pengetahuan.

Dinasti Fatimiyah (909-1171 Masehi) dinisbatkan kepada sosok Fatimah, karena pengikutnya mengambil silsilah keturunan dari Fatimah Az-Zahra binti Muhammad. Orang-orang Fatimy disebut juga kaum Alawy, yang dihubungkan dengan keturunan Ali bin Abi Talib.

Sejarah peradaban Islam telah mencatat bahwa dinasti Fatimiyah sebagai salah satu dinasti Islam pada abad ke-10 telah membuat prestasi gemilang dalam sejarah peradaban Islam. Meneladani perkembangan Al-Azhar di Kairo, Khalifah Al-Hakim di Cordova (Baghdad) juga mendirikan lembaga pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi, yang diberi nama Darul Hikmah (1005 Masehi). Khalifah Al-Hakim mengeluarkan banyak biaya untuk memelihara perkembangan Darul Hikmah, termasuk menyediakan buku-buku katalog. Aula dan perpustakaannya dibangun di sebelah rumahnya, juga observatorium untuk mengadakan riset untuk perkembangan ilmu astronomi, astrologi, kedokteran, kimia, hingga studi filsafat.

Kita mengenal Khalifah Al-Hakim sendiri selaku pakar astronomi, dan di serambi istananya berkumpul ilmuan-ilmuan terkenal pada masa itu seperti Ali ibn Yunus (astronom) yang memperbaharui kalender, Abu al-Hasan ibn al-Hasim (ahli kedokteran, matematika, filsafat) yang menulis sebanyak 100 buah buku.Tidak hanya perpustakaan dan istana, bahkan serambi-serambi masjid pun dijadikan basis ilmu pengtahuan, di mana para cendekiawan dan kaum akademisi saling berdebat dan berdialog sesuai tingkat kepakarannya masing-masing.

Karena pesatnya ilmu pengetahuan di masa Fatimiyah, maka terus-menerus diperbanyak khazanah keilmuan melalui memperkaya buku-buku di segala bidang ilmu pengetahuan. Perpustakaan semakin diperbesar dan disatukan dengan Darul Hikmah, dan di sekitar tempat itu telah melahirkan ulama-ulama besar di antaranya Al-Kindi (filosof dan sejarawan), Al-Nu’man (pakar hukum), Al-Tamimi (fisikawan dan pakar kedokteran) hingga Ibnu Haitam (peletak dasar fisika dan optik).

Untuk melengkapi semua sarana dan prasarana demi pengembangan ilmu pengetahuan itu, Khalifah Al-Hakim pernah menggelontorlan dana sebesar 257 dinar di tahun 1005 Masehi, yang dipakai untuk perawatan perpustakaan, penerjemahan buku-buku asing, hingga menerbitkan naskah-naskah dari para penulis yang kompeten di bidangnya.

Bahkan, ketika wilayah Mesir di bawah kekuasaan Turki Utsmani (1517 Masehi) perguruan tinggi Al-Azhar tetap eksis sebagai salah satu lembaga pendidikan terbesar, yang terus diminati oleh para pelajar dan mahasiswa di seluruh dunia, termasuk Indonesia. (*)

Penulis adalah Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.