Pak Mamat tinggal di rumah sederhana di samping kebun sebelah kiri rumah kami. Dia seorang pengidap diabetes, jantung, bahkan pernah didiagnosa sebagai penderita TBC yang akut. Dia seorang pecandu tembakau yang biasanya dibeli dari warung tembakau di perempatan pasar Jombang. Dan mungkin kekayaan miliknya yang paling berharga adalah gitar kayu yang sering dimainkannya untuk menyanyikan lagu-lagu lama Rhoma Irama, Iwan Fals hingga Koes Plus.
Di halaman belakang rumahnya, Pak Mamat sering duduk-duduk santai bersama gitar tuanya. Kadang Bu Ningsih istrinya menemaninya di pagi hari, sambil menyodorkan pisang goreng dan segelas kopi. Seringkali saya ditawari pisang goreng jika menyempatkan diri bertandang di kediamannya, terutama pada hari Sabtu atau Minggu, bahkan hampir tiap hari di saat-saat libur sekolah.
Di sebelah kanan rumahnya terdapat halaman kebun yang cukup luas, banyak ditumbuhi pohon kapas yang telantar. Pak Mamat sendiri memanfaatkan beberapa petak tanah yang ditanami sayur-mayur, pepaya, pisang dan umbi-umbian.
Saya sendiri adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Kami semua tahu tentang kondisi kesehatan Pak Mamat, yang sudah berkali-kali mengalami kematian. Bahkan, dokter pun merasa dipermalukan karena sejak tahun-tahun lalu memvonis bahwa umur Pak Mamat tidak akan bertahan dalam waktu satu tahun. Tetapi, nyatanya dia telah bengkit berkali-kali dari ambang kematian, bahkan sesekali bergurau bersama Ayah sambil melontarkan kata-kata, bahwa urusan takdir dan ajal sudah ada yang ngatur.
Ketika keluarga kami diberi kabar tentang kondisinya yang sekarat, seluruh keluarga kami akan mengerubungi tempat tidurnya. Tak berapa lama, ia mulai menggeser selimutnya, menatap kami satu persatu, lalu keluarlah senyum tawanya. Setelah itu, saya yang termasuk anak paling kecil dan baru kelas satu SD justru dipangkunya, dibelai-belainya rambut seraya menciumi pipi saya sambil mengatakan, “Yang rajin sekolahnya, ya?”
Kumisnya yang panjang dan terjurai akan bergoyang-goyang seperti ekor cicak yang terputus dari tubuhnya. Konon, waktu mudanya dia pernah bergabung dengan organisasi Barisan Tani Indonesia (BTI) yang dilarang oleh pemerintah Orde Baru. Kemudian, setelah kekisruhan politik usai, dan ia dibebaskan dari tahanan politik, ia sempat menjadi pedagang selama beberapa tahun di pasar Rawu, Serang. Ia pernah mencoba menjadi nelayan, pelaut, bahkan tabib, namun kemudian karena berbagai kendala di dunia politik Indonesia, di hari-hari senjanya ia memilih menjadi peladang atau pekebun, sambil sesekali memancing ikan di Sungai Cibanten.
Putera satu-satunya dari hasil pernikahannya dengan Bu Ningsih, tinggal di perantauan bersama istri dan dua anaknya. Konon ia malas kerja di pabrik, dan sesekali datang ke rumah untuk meminta uang pada ibunya. Si Ibu bagaimana pun berusaha untuk dapat menjual apa saja yang dimiliki, dan kadang ia bekerja memberesi masjid atau kantor kelurahan untuk sekadar mendapat upah dari Pak Lurah, demi untuk memenuhi keinginan anak yang masih dianggapnya bocah tersebut.
***
Pak Mamat bertubuh jangkung dan kurus. Rambutnya kusut beruban. Kulitnya cokelat gelap. Matanya tajam dan agak kebiruan. Ia mengunyah dan menghisap tembakau, setelah dilintingnya dengan lapisan kulit jagung. Ia meracik sendiri tembakau yang akan dihisapnya. Kadang ia memainkan gitarnya, lalu saya dan seorang kakak saya, menyanyikan lagu Rhoma berjudul “Darah Muda”, kemudian ia bangkit untuk memainkan gitar sambil berjoget dan sesekali bergulingan di rumput tebal di halaman rumahnya. Seketika itu, Ibu segera datang untuk mencari tahu, ada keributan apa di rumah Pak Mamat sore itu.
Ia sangat baik pada kami semua, anak-anak, meski kadang merasa malu-malu jika tepergok Ayah atau Ibu, terutama saat ia berjoget kelamaan seperti orang mabuk. Ia sangat menghormati kami, karena keluarga kami sering berbagi makanan atau buah-buahan, atau sesekali Ibu memasak banyak agar sebagiannya bisa dikirim untuk Pak Mamat dan istrinya.
Mungkin usianya sudah di atas 80-an ketika saya memasuki bangku SMP, dan sesekali ia terserang stroke, namun beberapa minggu kemudian bangkit dan pulih kembali. Meski ia tak terlampau mempedulikan nasehat dokter yang dianggapnya terlalu banyak membikin aturan yang merepotkan.
Kadang ia terdiam lemas, dan membiarkan gitar tersender di tembok. Seringkali dalam posisi tiduran di kursi panjang, beralaskan bantal di kepala, sambil sesekali membuat lelucon atau menyampaikan filsafat hidup sebagai petuah, yang kadang saya sendiri belum sanggup menangkap arti dan maksudnya.
Pernah ia datang ke rumah untuk menemui Ayah, serta membicarakan soal pupuk yang baik untuk tanaman jagung. Soalnya, pada saat itu ia telah kehabisan stok untuk meracik tembakau kesukaannya, dikarenakan tukang tembakau di perempatan Jombang telah wafat di usianya yang ke-76 tahun. Warung yang sudah berjalan puluhan tahun itu tutup, dan tak seorang pun dari anggota keluarga yang mau melanjutkan usaha yang pernah dirintis sang ayah.
Pak Mamat senang mengenakan topi petani cowboy untuk melindungi kepalanya dari sengatan matahari. Sewaktu masih balita, saya selalu minta digendong, dan kadang dicium dengan janggutnya yang lucu dan bau tembakau yang sangat kuat. Kadang saya mengangkat topinya karena ingin meremas-remas rambut putihnya yang seperti bulu-bulu kucing, meski lama kelamaan rambutnya itu semakin menipis.
Pak Mamat sering memanggil saya sebagai “Bidadari Kecilku” dan saya mempercayainya. Ia membuat saya merasa cantik sejak usia empat atau lima tahun. Ketika hari libur sekolah, saya dan empat kakak saya sering menghabiskan waktu sore di sekitar rumah dan kebun Pak Mamat yang cukup luas. Kami sering membakar jagung dan singkong yang dipetik sendiri oleh Pak Mamat dan istrinya. Dulu mereka punya pesuruh yang mengurus kebun-kebunnya, tetapi sejak pesuruhnya meninggal karena Covid beberapa tahun lalu, mereka hanya menangani kebun itu berduaan. Bahkan, ia pun telah menambahkan pohon-pohon cengkeh dan tembakau di sekitar kebunnya. Pada momen seperti itu, sambil menikmati jagung bakar, Pak Mamat mulai memetik senar gitarnya, lalu kami menyanyikan lagu kesukaannya “Kemesraan”, yang pernah dinyanyikan oleh Iwan Fals.
Setahun kemudian, lagu yang sama kami nyanyikan bersama di serambi rumah kami. Kali ini, kami melantunkan lagu itu dengan nada sendu dan menyedihkan, mengingat kematian istrinya beberapa bulan lalu di usianya yang ke-78 tahun. Saat itu, saya merengkuh kepalanya yang rimbun sambil mengelus rambutnya yang sudah menipis. Mungkin usianya sudah menginjak 90-an, dan ketika puteranya memutuskan tetap tinggal di perantauan, Ayah menyuruh Pak Mamat agar tinggal bersama keluarga kami. Tetapi, ia menolak dengan alasan hobi mengurus tanam-tanaman di kebunnya. Sejak itulah, Ibu sering menengok kakek tua yang semakin renta itu, sementara usia Ibu sendiri sudah menginjak 70-an dan sering pula sakit-sakitan.
***
Pada hari Sabtu dini hari, seorang tetangga mengetuk pintu rumah. Ia memberi tahu Ayah bahwa kondisi kesehatan Pak Mamat merosot drastis. Ia berpesan, barangkali Ayah hendak menyampaikan sesuatu sebelum Pak Mamat pergi ke alam baka. Dalam soal ini, semua tetangga paham untuk segera datang ke rumah tiap kali ada masalah dengan Pak Mamat. Tetapi, mereka tak tahu menahu, bagaimana keluarga kami punya cara dan trik tersendiri untuk memulihkan kesehatan dan kesadarannya, atau setidaknya membangkitkan kembali dari masa-masa sekaratnya.
Jika dihitung-hitung, mungkin sudah puluhan kali Pak Mamat mengalami masa sekarat, karena sudah puluhan tahun menderita diabetes, jantung dan segala penyakit kronis lainnya. Kadang beberapa tetangga memperingatkan Ayah agar tidak mengajak saya dan kakak saya, serta menghindari orang tua yang sedang sekarat. Mereka belum tahu rupanya, bahwa kami sudah terbiasa menghadapi masa-masa kritis yang dialami Pak Mamat. Kadang kami merasa iba dan hampir menangis. Keadaannya yang sekarat membuat pikiran kami kacau. Dokter sedang membungkuk ke arah ranjang dan berbalik ke arah kami untuk memberi tahu, seolah-olah tidak ada harapan lagi bagi pemulihan sakitnya.
Tetapi, bagi saya pribadi, Pak Mamat tidak dalam sekarat. Apalagi ketika Ayah berkali-kali berbisik ke telinganya, “Pak Mamat, bangun, Pak, bangun… ini anak-anak ingin menyanyikan lagu Kemesraan bersama Pak Mamat….”
Seketika itu, saya mulai memeluk dadanya, mengelus jambang dan pipinya yang keriput, mendengar detak jantungnya yang semakin pulih, sampai kemudian ia membuka matanya sambil tersenyum ke arah kami. Saat itu, Ayah dan Ibu ikut tersenyum gembira, dan barangkali hanya mereka yang paham betapa saya cukup lihai dalam mengembalikan kesadarannya. Ketika pelupuk matanya terbuka, saya tahu Pak Mamat akan baik-baik saja.
Suatu kali, pernah juga saya merasa ketakutan karena matanya tidak membuka. Kemudian, saya tahu bahwa ia mengalami stroke, sehingga salah satu sisi wajahnya menjadi kaku dan susah digerakkan. Ketika ia mulai tersenyum, saya ajak bercanda dengan menggelitik pinggulnya, hingga ia pun terkekeh-kekeh, sambil berkata bahwa ia merasa geli. Sesekali ia terbatuk keras hingga seluruh tubuhnya terguncang, lalu ia tertawa kembali.
Begitu kami yakin bahwa ia mendengar candaan dan gurauan kami, maka saya pun mengambil gitar tuanya, seraya menantang apakah ia sanggup memainkannya saat itu juga. Ia hanya menggeleng dan tersenyum, sambil mengatakan bahwa dua atau tiga hari lagi mudah-mudahan mulai pulih. Dan janji itu pun dibuktikan, karena tiga hari kemudian ia kembali menghisap tembakau sambil memainkan gitarnya, dengan judul lagu “Kapan-kapan”, yang pernah dinyanyikan Koes Plus.
Sesekali salah seorang kakak saya membikin lelucon, dengan memainkan gitarnya pada saat Pak Mamat bersenda gurau bersama kami. Ia memetik gitar itu dengan cara dan gaya seperti yang dilakukan Pak Mamat. Saat itu ia merasa bangga, karena mengira ada orang yang ingin menjadi seperti dirinya. Saya tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah kakak saya, bahkan dengan rela saya menyanyikan lagu Rhoma Irama, sambil terus diiringi petikan gitar yang dimainkan kakak saya.
Tentu kami memainkannya seturut kemampuan kami, selama Pak Mamat tampak menyukainya. Kadang kami juga merasa cemas kalau-kalau ia mati saat itu juga. Kami tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang istimewa. Dan sama sekali tidak berpikir, bahwa kami sedang berupaya untuk menaklukkan ajal kematian, atau bahkan membatalkan Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya. Sama sekali tidak.
Sekiranya yang mengalami sekarat adalah orang tua atau kakek sendiri, belum tentu kami dapat melakukannya. Tetapi, apa-apa yang dapat kami bantu untuk membangkitkan Pak Mamat dari berkali-kali masa sekaratnya, tentu merupakan jalan takdir dan kasih sayang Tuhan juga.
***
Usia Pak Mamat menginjak ke-92 tahun ketika saya memasuki perguruan tinggi Universitas La Tansa di daerah Rangkasbitung, Banten. Saya hanya menjenguknya jika saya pulang dari kampus, setidaknya dalam dua minggu sekali. Pak Mamat kelihatan mulai mencukur janggutnya, meski kumisnya yang putih dibiarkan memanjang. Ia begitu tenang, rapuh, dan lembut. Satu-satunya yang masih akrab menemaninya adalah gitar tuanya, dan kadang ia memainkan lagu-lagu tentang rasa rindu, kesunyian dan kesendirian.
Ketika saya sedang menjalani kuliah pada semester kelima, saya jarang pulang karena berbagai kesibukan di kampus. Tiba-tiba, suara ponsel mengagetkan saya, karena mengabarkan kematian Pak Mamat. Saya segera menuju stasiun, dan dalam beberapa jam sudah sampai di kediaman Pak Mamat yang sederhana.
Saya merasa ganjil ketika melewati pagar kayu rumahnya. Banyak orang berkerumun, dan saya segera menerobos kerumunan dan menangkap kumis putihnya yang berjuntai menutupi bibir. Matanya tertutup rapat. Tangannya melintang di atas perut, lemah dan halus, tidak bernafas sama sekali. Begitu pun dengan detak jantungnya yang terhenti.
Saya masih ingat betapa dulu saya sering berlari dan melompat ke arah dadanya, meskipun kemudian saya tersadar bahwa kadang Pak Mamat merasa keberatan untuk menopang berat badan saya. Kini, saya alihkan pandangan mata kepada kedua orang tua saya yang tengah berduka. Saya merasa tertegun mendapati Ayah dan Ibu yang juga sudah terlihat tua dan ringkih.
Saya membungkuk dan dengan lembut membelai mata yang mengatup itu. Saya merebahkan kepala di dadanya. Saya sadar, bahwa saat ini saya tak lagi mampu untuk menggapainya sesuai tepat waktu. Tangannya sudah kaku, dan matanya tak mungkin terbuka kembali.
Tepat di usia 95 tahun Pak Mamat telah pergi, meskipun ia tak pernah benar-benar pergi sebelumnya. Keluarga kami sangat mencintainya. Meski ia hanya seorang pendatang di desa kami, dan kami tak memiliki pertalian darah sama sekali. Kedua orang tua saya menahan air mata yang terus mengalir. Bagi kami, Pak Mamat bagaikan kepingan porselen langka dan mulus, yang selalu dijaga supaya tidak pecah, meski pada akhirnya jatuh juga.
Tetapi, apa pun dan seberapa hebat pun ikhtiar dan usaha manusia, pada akhirnya Tuhan Maha Berkehendak, dan kita selaku hamba harus berpasrah dan berserah diri kepada-Nya. Ayah mengabarkan bahwa Pak Mamat tidak memberi wasiat apa pun menjelang kematiannya. Hanya empat kata yang diucapkan dari mulutnya: “Kita semua milik Tuhan.”
Kami memandangi wajah tua itu dalam waktu yang cukup lama. Dahinya yang keriput, menyiratkan betapa kuat dan sabarnya ia mempertahankan kehidupan selama sembilan dekade lebih. Suatu kehidupan yang tanpa ia rencanakan sebelumnya. Tiba-tiba ia hadir dan menjelma di permukaan bumi, dengan segala duka cita dan bahagianya. Sampai akhirnya, tetap harus berpasrah dan berpulang ke pangkuan Sang Ilahi Yang Maha Pengampun atas segala dosa dan kesalahan hamba-hamba-Nya. (*)
Oleh: Indah Noviariesta
Penulis adalah Penggiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), prosaik generasi milenial, juga pernah meraih nominasi penulisan cerpen nasional terbaik, yang diselenggarakan oleh Litera (2021)







