Akhir tahun selalu datang sebagai jeda yang tidak sepenuhnya nyaman. Ia memaksa kita berhenti di tengah arus kesibukan, menoleh ke belakang, dan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini sengaja kita tunda. Bukan hanya soal apa yang telah dicapai, tetapi juga soal siapa kita sebenarnya setelah satu tahun berlalu. Dalam ruang hening semacam inilah ungkapan Pablo Neruda—“Aku bosan menjadi manusia”—menemukan relevansi yang tajam dan mengganggu.
Pablo Neruda, penyair besar asal Chile dan penerima Hadiah Nobel Sastra 1971, bukan sekadar sastrawan yang bermain dengan kata-kata indah. Ia adalah saksi zaman, diplomat, dan aktivis politik yang hidup di tengah pergolakan sosial Amerika Latin. Nama aslinya Ricardo Eliécer Neftalí Reyes Basoalto, tetapi ia memilih nama pena “Pablo Neruda” untuk menandai kebebasan dirinya sebagai penulis. Puisinya lahir dari perjumpaan langsung dengan cinta, penderitaan, ketidakadilan, dan pergulatan manusia modern. Ketika Neruda berkata bahwa ia bosan menjadi manusia, itu bukan keluhan sentimental, melainkan kritik keras terhadap cara manusia hidup dan memperlakukan sesamanya.
Kebosanan yang dimaksud Neruda bersifat eksistensial. Ia lahir dari kejenuhan terhadap rutinitas yang menguras jiwa, terhadap kota-kota yang menjadikan manusia bagian dari mesin produksi, dan terhadap tata sosial yang menuntut kepatuhan tetapi mengabaikan kejujuran batin. Neruda muak pada kehidupan yang berjalan rapi di permukaan, tetapi hampa di kedalaman. Ia melihat manusia sibuk mengatur hidup, namun lupa merasakannya.
Refleksi ini terasa semakin relevan ketika kita menutup tahun ini. Sepanjang dua belas bulan terakhir, kita disibukkan oleh pekerjaan, target, rapat, perdebatan, dan berbagai agenda publik. Kita bergerak cepat, berpindah dari satu urusan ke urusan lain, seolah hidup adalah daftar tugas yang harus segera diselesaikan. Namun, di balik semua aktivitas itu, banyak orang justru merasa lelah, cemas, dan terasing. Menjadi manusia terasa berat bukan karena hidup terlalu keras, melainkan karena hidup dijalani tanpa kedalaman makna.
Kita hidup di zaman konektivitas tinggi, tetapi relasi semakin rapuh. Percakapan sering kali dangkal, empati selektif, dan solidaritas mudah pudar ketika berhadapan dengan perbedaan kepentingan. Media sosial memberi ilusi kedekatan, tetapi tidak jarang memperlebar jarak batin. Kita terbiasa menampilkan versi terbaik diri di ruang publik, sambil menyembunyikan luka dan kegagalan di ruang privat. Dalam situasi seperti ini, kebosanan menjadi manusia muncul sebagai gejala kelelahan kolektif.
Neruda juga gelisah melihat bagaimana dunia modern mengukur nilai manusia. Prestasi, angka, produktivitas, dan efisiensi menjadi standar utama. Manusia dihargai sejauh ia berguna, cepat, dan menghasilkan. Mereka yang lemah, lambat, sakit, atau tidak sesuai dengan logika pasar sering dianggap beban. Logika ini tidak hanya bekerja dalam ekonomi dan politik, tetapi juga merembes ke wilayah relasi sosial dan bahkan kehidupan beragama. Yang esensial sering dikorbankan demi yang fungsional.
Dalam konteks ini, ungkapan “bosan menjadi manusia” bukanlah tanda putus asa, melainkan bentuk kesadaran kritis. Kebosanan itu muncul karena masih ada nurani yang terusik. Ia adalah penolakan terhadap kemanusiaan yang dangkal dan tidak adil. Neruda tidak menolak kemanusiaan itu sendiri; ia menolak cara hidup yang menghilangkan rasa, empati, dan keberpihakan pada yang rapuh.
Akhir tahun juga menjadi saat di mana kita melihat dengan lebih jernih luka-luka sosial yang belum sembuh. Ketimpangan ekonomi, konflik, kerusakan lingkungan, dan kekerasan struktural terus berlangsung, sering kali dianggap sebagai hal biasa. Kita terbiasa mengonsumsi berita tentang penderitaan orang lain tanpa benar-benar tergerak. Kejenuhan moral ini berbahaya, karena membuat kita kebal terhadap jeritan sesama. Dalam dunia semacam itu, kebosanan ala Neruda justru menjadi alarm kemanusiaan.
Refleksi akhir tahun mengajak kita membaca ulang kebosanan tersebut sebagai undangan untuk berubah. Menjadi manusia sejati bukan soal selalu kuat dan berhasil, melainkan berani jujur terhadap keterbatasan. Neruda mengingatkan bahwa manusia diciptakan dengan tubuh dan perasaan, bukan hanya dengan fungsi. Ketika perasaan ditekan dan tubuh dipaksa terus bekerja, kemanusiaan perlahan terkikis.
Di sini, penting untuk mengakui bahwa banyak dari kita terjebak dalam pola hidup yang tidak sepenuhnya kita pilih. Sistem ekonomi, tekanan sosial, dan tuntutan budaya membentuk cara kita hidup. Namun, refleksi akhir tahun memberi ruang untuk bertanya: di bagian mana kita masih memiliki kebebasan untuk memilih menjadi lebih manusiawi? Kebebasan untuk melambat, mendengar, dan hadir bagi sesama.
Menjadi manusia yang lebih manusiawi berarti berani merawat relasi—dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan alam. Itu berarti memberi ruang bagi kesedihan tanpa rasa malu, dan memberi waktu bagi kebahagiaan tanpa rasa bersalah. Itu berarti berpihak pada mereka yang tersingkir, meski keberpihakan itu tidak selalu menguntungkan secara sosial atau ekonomi.
Neruda, dengan seluruh kegelisahannya, tidak pernah berhenti berharap. Puisinya adalah bentuk perlawanan terhadap keputusasaan. Ia percaya bahwa kata-kata masih bisa menyentuh hati manusia, dan bahwa kesadaran masih bisa dibangkitkan. Dalam konteks refleksi akhir tahun, sikap ini penting untuk kita rawat. Kritik terhadap kemanusiaan yang rusak harus berjalan bersama harapan akan pemulihan.
Menutup tahun ini, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan hanya “apa yang telah saya capai?”, tetapi “bagaimana saya memperlakukan sesama?”, “apa yang saya lakukan ketika melihat ketidakadilan?”, dan “apakah saya masih mampu merasakan penderitaan orang lain?”. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab, tetapi justru di situlah nilai refleksi terletak.
Akhirnya, jika di penghujung tahun ini kita merasa bosan menjadi manusia, mungkin itu pertanda bahwa kita merindukan cara hidup yang lebih jujur dan berbelas kasih. Kebosanan itu bisa menjadi titik awal pembaruan. Bukan pembaruan yang bising dengan janji-janji besar, melainkan pembaruan yang sunyi: keberanian untuk hidup lebih sadar, lebih peka, dan lebih manusiawi.
Karena justru ketika kita berani mengkritik kemanusiaan yang tidak manusiawi, seperti yang dilakukan Pablo Neruda, di situlah harapan untuk menjadi manusia yang sesungguhnya tetap menyala—bahkan di tengah gelapnya dunia yang sering membuat kita lelah menjadi manusia.
Tim Redaksi







