Sepeninggal Ayah, saya membaca suatu keanehan yang dialami Indra, adik saya satu-satunya yang berusia sekitar limabelas tahun. Ketika saya atau Ibu kehilangan sesuatu, Indra dengan mudah dapat mengendus keberadaan barang atau benda apa pun yang kami cari, dan tampaknya kemampuannya itu terus meningkat dari waktu ke waktu.
Ketika tetangga meminjam pompa untuk memompa ban sepeda anaknya yang kempes, segera kami memanggil Indra untuk dimintakan bantuannya. Sesaat ia terdiam sejenak, matanya memicing dan hidungnya kembang kempis, kemudian jari telunjuknya terangkat, dan ia melangkah seturut dengan petunjuk jari tangannya, hingga benda itu pun segera diketemukan.
Ketika ia duduk di kelas satu SMU, ia pun banyak membantu teman dan guru yang kehilangan sesuatu. Jika benda yang dicarinya itu dekat, maka jari telunjuknya akan membimbingnya agar melangkah ke arah benda tersebut. Tetapi, jika letak benda itu jauh, ia akan menghela nafasnya dengan tatapan menerawang, lalu telunjuknya menunjukkan suatu arah yang sesuai dengan posisi keberadaan benda tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari di rumah, saya dan Ibu terbiasa meminta bantuannya untuk menemukan letak sisir, kunci motor, sepatu, kacamata Ibu, pisau dapur, bahkan hingga benda sekecil bolpoin atau gunting kuku sekalipun. Beberapa waktu lalu, ketika tetangga kanan kami mencari-cari kunci mobil, lalu memberi tahu bentuk dan warnanya, hanya dalam hitungan menit setelah ia mengendus, kemudian mengikuti jari telunjuknya yang agak bergetar. Seketika itu, kunci mobil segera diketemukan dari selokan depan rumah, yang sepertinya pernah disatukan dengan mainan anak balitanya yang baru berusia tiga tahun.
***
Tentu saja macam-macam tanggapan orang mengenai kemampuan dan keahlian Indra. Sebagian teman sekolahnya ada yang nyinyir dan menyangsikan dia, meski sebagian lain menganggapnya memiliki kelebihan dan karomah tersendiri. Beberapa teman kerap memintakan bantuannya, lalu menghadirkan Indra ke rumahnya. Berbagai keluhan tentang barang dan benda yang hilang, meski beberapa kejadian gagal lantaran soal waktunya atau keterdesakannya.
Namun, jika benda tersebut baru hilang beberapa jam lalu, atau satu-dua hari lalu, ketika si pemilik merasa terdesak keperluannya, tampaknya segera membawa pengaruh positif bagi insting dan firasatnya, terutama jika benda tersebut tak jauh dari lokasi dan posisi pencariannya.
Adapun mereka yang menyangsikan Indra tentu akan bersikap skeptis. Kadang ia diperlakukan semena-mena oleh temannya yang mengelabui dirinya dengan sengaja menghilangkan barang, lalu mengujinya. Namun, melihat ekspresi sang teman yang tampaknya biasa saja, dan tak membutuhkan pertolongan yang mendesak, Indra hanya mengangkat bahu dan mengatakan “tidak tahu”.
Pada momen itu, beberapa teman lainnya dipanggil demi untuk meyakinkan mereka, bahwa si Indra hanya tukang ngibul dan tak memiliki keahlian apa pun. Namun, ketika seorang guru memintakan bantuan agar dicarikan bolpoin yang hilang di sekitar halaman sekolah, sebagian temannya mengikuti langkah Indra yang agak mengendap-endap, dengan cuping hidung yang bergerak-gerak, lalu sekitar tiga menit kemudian mereka menyaksikan telunjuknya ke arah bolpoin yang terselip di sekitar pot-pot bunga di taman halaman sekolah.
“Mungkin saja,” seru seorang temannya yang skeptis.
“Mungkin saja apanya?” tanya yang lainnya.
“Mungkin saja Indra mengambil bolpoin Pak Guru, supaya kita mengira itu hilang. Lalu, ketika Pak Guru merasa kehilangan dan mencari bolpoin itu, dia mulai beraksi seolah pahlawan kesiangan yang berhasil menemukan bolpoin itu di sekitar pot bunga, iya nggak?”
“Ya, boleh jadi… mungkin saja….”
***
Sebagai kakak, saya pernah bertanya tentang apa-apa yang dirasakannya saat membantu orang menemukan sesuatu. Namun, Indra hanya menggelang dan mengangkat bahunya. Ia sendiri merasa tidak ngerti, karena ketika ia mulai memejamkan matanya membayangkan benda yang dicarinya, tiba-tiba jari tangannya tersentak ke atas, seperti ada seseorang yang menariknya. Lalu, jari telunjuknya terarah menuju benda yang akan dicarinya. Baginya, suatu benda yang posisinya di atas tigaratus hingga limaratus meter, ia memerlukan konsentrasi penuh ketimbang yang jaraknya hanya beberapa puluh meter saja.
Terlebih ketika siang itu, Bu Siti diantar ke warung kelontong Nyi Hindun oleh beberapa ibu pengajian, karena ketika ia menjemput anaknya yang baru duduk di kelas satu SD, tahu-tahu sebagian teman sekolahnya menyatakan, bahwa Sodik sudah pulang sejak jam 10.30 tadi.
Menurut Bu Siti, anak itu mengidap alergi dan perlu minum obat sebelum kembali keluar untuk bermain bersama teman-temannya. Padahal, siang itu sudah menunjukkan jam dua lebih seperempat. Tentu saja Bu Siti kalang kabut ditemani beberapa ibu pengajian, sambil duduk-duduk menangis di depan warung kelontong Nyi Hindun.
Sementara itu, Nyi Hindun juga memiliki pisau antik berbentuk keris keemasan, yang konon juga dapat memberitahu arah suatu benda yang sedang dicarinya. Pisau keemasan itu warisan peninggalan kakeknya yang dari Solo, disimpan dalam wadah kaca yang diselipkan di dalam lemari pakaiannya.
Kadang, ketika kumpul-kumpul arisan, Nyi Hindun suka memamerkan pisau antik itu, mengeluarkannya pelan-pelan, lalu dipakainya untuk memotong bolu atau kue lapis yang akan dibagikan untuk para ibu yang hadir.
Hari itu, ketika sangat dibutuhkan, Nyi Hindun kontan mengeluarkan pisau antik itu dari wadahnya, melekatkan kedua telapak tangannya pada benda itu, lalu mengedip-ngedipkan pelupuk matanya seperti berdoa: “Bismillahirrahmanirrahim… wahai Nadhir (seolah benda itu memiliki nama), tunjukkan di mana Sodik berada… di mana anak itu….”
Pisau keemasan itu tak menanggapinya sama sekali. Lalu, ia menaruh pisau itu pelan-pelan di atas meja, berkonsentrasi penuh dalam waktu yang cukup lama. Sambil memejamkan mata, ia berdoa sekali lagi dan lagi, namun pisau itu tak bergeming dan tak menunjukkan arah tertentu. Ia tetap diam di tempatnya semula.
***
Tak lama kemudian, beberapa ibu saling berbisik mengenai kemampuan Indra, adik saya. Padahal, waktu sudah menunjukkan Pk.16.00 sore, dan dia sudah bersiap-siap mengikuti les bahasa Inggris bersama teman-teman sekolahnya. Akhirnya, saya yang biasanya memboncengi Indra berangkat les, sore itu saya belokkan motor menuju warung kelontong Nyi Hindun, dan kontan bertanya pada Bu Siti yang sedang menangis ditemani ibu-ibu lainnya.
Bu Siti terpengaruh juga oleh beberapa gunjingan mengenai anak-anak yang diculik. Ia akan menjeri-jerit histeris ketika seorang ibu mengabarkan berita di medsos mengenai anak-anak yang organ tubuhnya diambil untuk diperjualbelikan dan seterusnya dan sebagainya.
Wanita itu bergetar ketika mulai menceritakan kehilangan anaknya sejak Pk. 10.30 tadi pagi. Suaranya terputus-putus seakan dikaburkan oleh tangisnya.
Indra mulai memejamkan mata, hidungnya seakan mengendus aroma keberadaan sang anak. Ia meminta foto Sodik, dan Bu Siti langsung mengambilnya dari rumah yang tak begitu jauh dari warung kelontong. Seketika, ia memandangi wajah Sodik yang sedang berdiri bersama teman-teman wisuda TK. Namun kemudian, Indra merasa kesulitan lantaran biasanya ia hanya menemukan benda atau barang yang hilang.
Lalu, Nyi Hindun segera menanyakan Bu Siti, yang langsung dijawab seketika, bahwa anaknya mengenakan batik berwarna biru, celana merah, sepatu hitam dan kaos kaki putih.
Indra mulai merasakan udara serta sentakan di sekitar telapak tangan dan bahunya. Mulutnya mulai bergumam, meski tatapan matanya masih memicing, “Sepertinya masih di sekitar desa ini, walaupun posisinya agak jauh,” katanya dengan pandangan menerawang.
Telunjuknya mengarah ke selatan, kemudian ia melangkah sejauh duapuluh meter ke arah selatan. Tak berapa lama, ia berputar haluan, meminta saya menyalakan motor lalu saya pun memboncengi dia menuju arah selatan.
Sekitar satu kilometer jaraknya, di tengah kerumunan orang di sekitar lapangan bola balai desa, seorang bocah kecil berbaju batik biru, sedang menyaksikan final sepakbola antar kelurahan.
Hanya ada beberapa bocah di situ, dan itu pun mesti ditemani ayahnya, atau kakaknya, untuk ikut-serta menyaksikan pertandingan sepakbola. Tetapi Sodik, justru hanya sendirian di antara kerumunan warga desa.
Setelah ditanyakan, Sodik hanya menjawab, bahwa sepulang sekolah tadi, ia melihat sekumpulan orang dewasa yang mau menyaksikan final sepakbola, lalu dia pun ikut melangkah menuju arah selatan untuk mengikuti kerumunan tersebut.
Seketika saya mengamit lengan bocah itu, seraya menegaskan, bahwa ia sedang dicari-cari ibunya yang sejak siang tadi menangis mencari keberadaannya. Akhirnya, bocah itu saya naikkan ke atas motor, sambil diapit oleh Indra di belakang.
Sesampainya di warung kelontong Nyi Hindun, seketika tangis Bu Siti meledak sambil memeluk sang anak erat-erat. Ia mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada kami, terutama kepada Indra yang dapat mengendus seluk-beluk keberadaannya sore itu. ***
Oleh: Supadilah Iskandar
Penulis adalah pengamat dan peneliti sastra mutakhir Indonesia, juga menulis prosa dan esai di berbagai media nasional luring dan daring







