Benarkah Semua yang Viral itu Benar? Memahami Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi di Tengah Banjir Informasi

oleh -446 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Kamaliyatus Solehah

Di era modern saat ini masyarakat hidup di tengah arus informasi yang tidak ada habisnya. Setiap hari kita sangat mudah mengakses informasi di sosial media, platform digital seperti instagram, tiktok, facebook, informasi yang disajikan begitu cepat menyebar dan sering kali masyarakat langsung percaya hanya karena berita tersebut viral dan sedang hangat dibicarakan tanpa mengecek kembali apakah itu benar atau hoaks, hal ini membuat kita perlu hati- hati dalam menyikapi informasi yang sedang beredar.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan benarkah semua yang viral itu benar? Untuk menjawabnya pentingnya meninjau persoalan ini melalui tiga pilar pengetahuan: ontologi, epistemologi, aksiologi.

Dari sudut ontologi, permasalahan utamanya terletak pada pemahaman masyarakat terhadap realitas atau kenyataannya. Maka jika ditinjau dari ontologi kita seharusnya memeriksa, melakukan analisis terhadap informasi yang sedang beredar apakah ini benar-benar ada atau tidak ada, karena tidak semua informasi yang sedang beredar merupakan kenyataan atau fakta, banyak sekali konten di sosial media hanya dibuat untuk menarik agar orang tertarik melihatnya tanpa membertimbangkan kebenarannya.

Sehingga sering kali masyarakat mudah tertipu oleh informasi tersebut dan menganggapnya benar. Ontologi mengingatkan bahwa kita harus benar-benar mengecek kembali informasi yang kita dapat apakah itu benar atau hoaks agar kita tidak mudah menyimpulkan bedasarkan apa yang kita lihat di sosial media.

Selanjutnya dari sisi epistemologi persoalan muncul bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan dan kevalidan pengetahuan. Informasi yang benar seharusnya diperoleh dari sumber-sumber yang jelas dan dapat dipercaya karena pada hakikatnya kita menginginkan informasi yang benar dan valid bukan informasi palsu/hoaks.

Namun, kenyataannya masyarakat menerima mentah-mentah informasi yang dia dapat tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Berita bohong dan tidak valid mudah tersebar karena masyarakat membagikannya secara berulang. Dengan epistemologi kita tahu pentingnya berfikir kritis agar kita tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Sementara itu aksiologi berkaitan dengan nilai dan kemanfaatan pengetahuan. Informasi seharusnya digunakan untuk tujuan yang baik dan memberikan kemaslahatan pada masyarakat, akan tetapi tidak sedikit informasi justru mendatangkan kemudaratan bagi masyarakat seperti menyebarkan kebencian, memecah belah dan mencari keuntungan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa informasi tanpa nilai moral dan kemanfaatan dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan.

Dengan demikian, di era modern saat ini memahami ontologi, epistemologi, dan aksiologi menjadi sangat penting di tengah banjirnya informasi setiap harinya. Ketiganya membantu masyarakat untuk memahami kenyataan, mengetahui kebenaran, fakta dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab agar tidak merugikan orang lain.

Tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang ramai dibicarakan membawa kemanfaatan. Dengan menerapkan tiga aspek tersebut, masyarakat dapat memilah informasi secara bijak agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan. Karena itu, sikap kritis dan bijak dalam menyikapi informasi merupakan kunci agar teknologi benar-benar membawa kemaslahatan bagi kehidupan masyarakat.

Penulis adalah Mahasiswa Hukum Tata Negara Institut Bahri Asyiq Bangkalan Madura

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.