Jubah Sang Kepala Suku

oleh -1176 Dilihat
banner 468x60

Pada zaman sekarang, hiduplah seorang kepala suku di pedalaman Jawa Tengah yang hobinya mengoleksi pakaian jubah baru. Sebenarnya, ia tak pernah mengurusi warganya, juga tak peduli dengan kewajibannya sebagai kepala suku. Kesibukannya sehari-hari hanyalah berburu jubah-jubah baru, mengoleksinya di lemari khusus, dan dia sendiri terus berganti-ganti mengenakan jubah-jubah itu tiap satu atau dua jam sekali.

Lemari antik itu berbentuk etalase kaca yang berukuran tinggi memanjang, disimpan di depan pintu pada ruang tamu kediamannya yang megah. Mendengar kegemaran kepala suku mengoleksi jubah, dua orang penipu menyusup masuk ke kediamannya, kemudian menyamar sebagai penjahit baju-baju jubah.

“Jadi, maksud kedatangan kami ke sini, ingin menawarkan jubah khusus yang memiliki kekuatan gaib, Pak Kepala Suku.” Kedua penipu itu saling memperkuat penjelasan kawannya, bahwa sang kepala suku akan mendapat banyak keuntungan dengan memiliki jubah ajaib itu.

Ketika si kepala suku semakin tertarik mendengar tawaran itu, seketika muncul pertanyaan mengenai harga jubah ajaib itu. Salah seorang penipu angkat bicara mengenai tingginya harga jubah itu, yang sebanding dengan harga tiga ekor kuda poni yang dimiliki sang kepala suku. Sedangkan harga seekor kuda poni saja di kisaran 500 juta rupiah.

“Dengan memakai baju jubah itu, Pak Kepala Suku akan dapat melihat warga yang banyak melanggar hukum dan aturan adat, lalu sebaliknya, mereka yang banyak dosa dan melanggar itu tak akan bisa melihat kesalahan Bapak,” katanya meyakinkan.

Sang kepala suku senang bukan main. Bukan cuma khalayak akan mengagumi baju ajaibnya itu, ia juga akan tahu orang-orang yang tidak beres dan banyak melanggar aturan. Tak berapa lama, transaksi pun berjalan lancar. Kedua penipu itu pamit meninggalkan kediamannya, sambil membawa dua karung penuh berisi pecahan uang seratus ribu rupiah.

Setelah mengamankan uang tersebut, kedua penipu itu mulai kerja dan kerja siang dan malam. Kepala suku mengutus kaki-tangannya untuk memeriksa ruang kerja mereka. Kedua penipu itu pura-pura sibuk di sekitar mesin jahitnya, mengukur kain-kain berwarna kuning, kemudian menjahit ini-itu agar terlihat aktif dan produktif guna mempersiapkan jubah ajaib yang dipesankan kepala suku.

Pada pemeriksaan hari terakhir, para utusan itu kaget bukan main, karena ruang kerja kedua penipu itu kosong melompong tak ada mesin jahit, bahkan tak ada gunting maupun sehelai kain kuning sama sekali. Tapi anehnya, kedua penipu itu tetap tersenyum, sambil sibuk seakan-akan masih menjahit, mengukur dan menggunting udara.

Para utusan saling berbisik-bisik tentang apa yang dikerjakan kedua penjahit itu, namun kemudian salah seorang penipu itu angkat bicara, “Ini bukan sembarang pekerjaan, Bapak-bapak. Kami sudah menjelaskan pada kepala suku kalian, bahwa setiap warga yang pernah melanggar aturan adat, tak akan bisa melihat jubah yang sedang kami kerjakan ini, apakah kalian pernah melanggar aturan?”

“Maafkan kami, Pak,” kata pemimpin rombongan itu, “barangkali kami ini bodoh dan banyak berdosa. Tentu saja kami pernah melanggar aturan adat. Karena itu, sekali lagi, maafkan jika tak seorang pun dari kami yang bisa melihat jubah yang sedang Bapak kerjakan itu.”

“Nih lihat polanya, indah sekali bukan?” kata si penipu sambil mengibas-ngibas udara. “Silakan kalian periksa motifnya, dengan warna-warna kuning yang menyala, hasil tenun yang terampil dari warga pedalaman Baduy di Banten Selatan. Kami bisa menjamin, tak ada penenun manapun di negeri ini yang sanggup menghasilkan kreasi unik dan langka ini. Silakan, kalian periksa ke sini,” tegur si penipu, sambil memamerkan udara hampa yang seolah tengah digarapnya dengan sangat hati-hati.

Jelas, mereka tak dapat melihat apa-apa, meski kemudian mereka manggut-manggut sambil berdecak kagum, supaya tidak terlampau menunjukkan bahwa mereka orang berdosa yang tak mampu melihat apa-apa. Untuk membuktikan bahwa mereka taat pada aturan adat, sang pemimpin rombongan akhirnya menceritakan segudang pujian yang ia karang sendiri. Sehingga si Kepala Suku merasa senang dan tersenyum sumringah.

Ingin merasa terpuaskan, keesokan harinya diutus rombongan lain untuk memeriksakan hasilnya. Hal yang sama pun terjadi. Rombongan itu tak seorang pun yang bisa melihat sesuatu. Tapi, mereka juga berpura-pura melihat dan mengagumi keindahan kain jubah yang sedang dijahit oleh kedua penipu itu.

Tentu saja rombongan kedua ini pun tak mau dibilang banyak berdosa, serta melanggar aturan adat. Mereka harus menunjukkan dirinya patuh dan taat pada aturan-aturan yang dibuat sang kepala suku, berdasarkan wangsit dan petuah-petuah nenek-moyang mereka.

Setelah mendengar laporan kedua pemimpin rombongan itu, kepala suku jadi penasaran juga. Namun ia khawatir, jangan-jangan malah dirinya yang tak bisa melihat apa-apa, yang berarti si kepala suku adalah pihak yang dijuluki banyak dosa dan melanggar aturan adat. Betapa pun akhirnya, ia berangkat juga serta memutuskan untuk pergi memeriksa jubah ajaibnya. Ia membawa kedua pemimpin rombongan, lengkap diiringi para pembesar yang lain pula.

“Ahay! Pak Kepala Suku datang pada waktu yang tepat. Lihat, jubah indah yang ajaib ini sudah hampir selesai. Kami jamin, Pak Kepala Suku tidak akan kecewa dengan karya dan keahlian yang kami persembahkan. Silakan periksa sendiri, Tuan,” kata salah seorang penipu, sementara kawannya mendukungnya dengan senyum merekah.

Sang Kepala Suku jelas tak melihat apa-apa. Tapi kedua pemimpin rombongan yang telah dikirim sebelumnya, segera mengulangi beribu pujian atas hasil kerja kedua penjahit itu, seperti telah mereka laporkan sebelumnya. Bahkan, pujian itu kini terdengar lebih hebat dan memukau bagi sang Kepala Suku.

Pembesar-pembesar lainnya segera manggut-manggut menyetujui ucapan kedua orang itu, lantaran tak seorang pun dari mereka yang dianggap banyak dosa dan melanggar aturan adat. Meskipun sangat jelas, bahwa di hadapan mereka hanyalah udara hampa, tak ada selembar kain, bahkan sehelai benang sekalipun.

Si kepala suku kembali ke rumah mewahnya dengan pikiran terganggu. Tapi ia tak punya keberanian untuk tidak berpura-pura. Begitu pula dengan setiap pemimpin rombongan dan segenap bawahannya. Tak seorang pun mau mengaku dengan jujur. Semuanya justru menceritakan keindahan dan kehebatan karya kedua penjahit jubah itu. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, sehubungan dengan anggaran besar yang dikeluarkan, berita mengenai jubah ajaib itu segera beredar ke tengah masyarakat.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Jubah ajaib itu dinyatakan sudah siap. Kepala suku dipersilakan masuk ruang ganti disertai para bawahan dan tokoh masyarakat yang diundang. Di luar ruangan, rakyat telah berbaris menunggu antusias ingin turut menyaksikan sang Kepala Suku mengenakan jubah ajaibnya.

“Pak Kepala Suku, coba buka seluruh pakaiannya, lalu kenakan jubah indah ini. Barangkali kulit Bapak tak merasakan apa-apa, tapi hal itu adalah bagian dari keajaiban jubah ini. Sekarang seluruh rakyat sudah menunggu di luar. Pasti mereka akan kagum menyaksikan jubah baru Pak Kepala Suku,” kata si penipu meyakinkan.

Seketika si kepala suku terperanjat kaget, setelah kedua penjahit itu memasangkan jubah dengan ekstra hati-hati, serta dibantu oleh beberapa perias pakaian. Ketika menghadap cermin, tentu sang Kepala Suku tak melihat apa-apa kecuali tubuhnya yang berdiri telanjang bulat.

Untuk menjaga kewibawaannya, segera ia menepis rasa gundahnya. Semua yang hadir di sekelilingnya tak henti-henti mengucapkan puji-pujian untuk dirinya. Mereka semua berdecak kagum, dengan sorot mata yang dipenuhi rasa waswas dan penuh keraguan.

Akhirnya, dengan langkah penuh kebesaran, sang Kepala Suku berjalan pelan-pelan keluar, diiringi para pembesar dan punggawa lainnya. Begitu melangkah keluar beberapa detik, rakyat terpaku diam sambil terperangah kaget. Tapi rombongan yang mengiringnya segera memberi aba-aba, sehingga tepuk tangan pun pecah membahana. Seketika itu, ribuan pasang mata rakyat menyaksikan kepala sukunya telanjang bulat di hadapan mereka. Mereka saling berbisik penuh keheranan. Tak seorang pun mau mengatakan yang sebenarnya, karena mereka tak mau diidentifikasi sebagai orang berdosa dan pelanggar hukum aturan adat.

Sang Kepala Suku yang semula ragu dan kikuk, kini melangkah dengan penuh wibawa, seolah-olah ia memang sedang menunjukkan pakaian jubah kebesarannya.

“Hey, lihat! Pak Kepala Suku bugil, hahaha… Pak Kepala Suku telanjang bulat, hahaha…!”

Seorang anak kecil berteriak lantang di tengah kerumunan, kemudian anak-anak kecil lainnya tertawa terkekeh-kekeh. Orang-orang tua mereka yang tadinya pura-pura bungkam seribu basa, kini tawa mereka meledak tak tertahankan. “Pak Kepala Suku telanjang bulat, Pak Kepala Suku porno, hahaha…!”

Sang Kepala Suku kaget tergopoh-gopoh memegangi kemaluannya. Ia menatap marah pada bawahan dan semua kaki-tangannya. Seorang bawahannya mencoba menenangkan Kepala Suku, “Jangan hiraukan mereka, Pak, mereka semua pendosa… mereka semua pelanggar-pelanggar adat… jangan dengarkan mereka…!”

“Hahaha…! Kepala Suku telanjang, Kepala Suku telanjang, hahaha…!”

Anak-anak kecil terus mengejar sang Kepala Suku keliling kampung, seperti mengarak orang gila telanjang bulat di tengah jalan. “Kepala Suku telanjang… Kepala Suku sableng… Kepala Suku senewen…!” (*)

Oleh: Muhamad Pauji 

Penulis adalah Pegiat organisasi Orang Indonesia (OI), menulis prosa dan esai di berbagai media luring dan daring, diantaranya kompas.id, alif.id, NU Online, nusantaranews.co, ruangsastra.com, Kabar Madura, Tangsel Pos, Kabar Banten, Satelit News dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.